Connect with us

Event

300 Selebritis Satu Komitmen di ‘Konser Amal Satu Indonesia’

Published

on

Agnez Mo membuka Konser Amal Satu Indonesia dengan lagu ‘Be Brave’.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Semangat gotong royong dari berbagai kalangan menjadi satu kekuatan dalam menghadapi wabah yang sedang melanda Tanah Air untuk tetap optimis dan mampu bangkit.

Demikian kesimpulan yang dirasakan pemirsa dan masyarakat sepanjang berlangsungnya  Konser Amal Satu Indonesia. Sebuah konser akbar yang menghadirkan 300 Selebrities dan disiarkan secara live di tiga layar sekaligus, SCTV, Indosiar dan O Channel, pada Minggu (10/5) sore hingga malam.

Konser tersebut merupakan wujud penghargaan tinggi EMTEK Group terhadap para pahlawan bangsa dalam memerangi Covid-19. Mulai dari Presiden RI, BNPB, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Tim medis, TNI, Polri, hingga seluruh masyarakat yang mematuhi anjuran pemerintah.

Melongok RSPI Sulianti Saroso

Menariknya, Konser Amal Satu Indonesia melibatkan para selebritis yang tampil sukarela alias gratis. Berlangsung mulai pukul 16.00 sampai 20.00 WIB, Minggu (10/5) lewat live streaming di aplikasi video.

Pembawa acara Indy Barends dan Indra Bekti mengajak pemirsa mengunjungi Wisma Atlet yang menjadi RS Darurat Corona, dilanjutkan oleh aksi para selebriti demi membangkitkan semangat berbagi kepada tim medis dan masyarakat terdampak pandemi.

Memasuki paruh waktu pukul 20.00 WIB, ganti Irfan Hakim hadir bersama Senandung Nacita dan Sheila Purnama. Mereka memandu acara Konser Amal Satu Indonesia yang dibuka dengan lagu Negeriku.

Lagu kebangsaan ini dikumandangkan para vokalis band terpopuler di Tanah Air, diantaranya  Ariel Noah, Pasha Ungu, Tantri Kotak, Giring Ganesha, Charly Setia Band, disusul oleh penampilan Agnez Mo menyanyikan lagu Be Brave.

Rossa melantunkan sebuah lagu bagi tim medis yang berjuang melawan covid-19

Suasana berganti dengan kehadiran penyanyi Rossa, mengajak pemirsa dan masyarakat untuk melihat dari dekat perjuangan dan pengorbanan tim medis di berbagai titik penanganan wabah corona. Mulai dari keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD), hingga harus terpisah dari orang-orang terkasih.

Rossa pun sempat menyapa langsung tim medis di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Selanjutnya Rossa bersama ratusan selebritis Tanah Air, mengajak pemirsa dan masyarakat agar menyalur donasi melalui rekening Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih, untuk meringankan beban Tim medis.

Masih tentang RSPI Sulianti Saroso, Agnez Mo membuka perbincangan melalui sambungan video conference dengan Dirut RSPI Sulianti Saroso, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH. Dari perbincangan dapat digambarkan sejauh mana perjuangan tim medis dalam menangani pasien covid-19. Terungkap pula, gugurnya salah satu tenaga medis dalam tugas.

“Indonesia bangga memiliki tim medis terbaik. Mereka adalah pahlawan bangsa yang berada di garda terdepan. Banyak hal yang patut untuk kita syukuri, salah satunya adalah memiliki banyak waktu dengan orang-orang terkasih,” ujar Agnez Mo.

Tebar Semangat Tetap Bersatu

Semua selebritis dalam konser ini sepakat menebarkan semangat positif kepada masyarakat Indonesia agar tetap bersatu, seperti yang ditampilkan Rhoma Irama berkolaborasi dengan penyanyi alumnus ajang pencarian bakat Indosiar, seperti D’Academy, LIDA dan Bintang Pantura. Mereka menyanyikan lagu berjudul Virus Corona, ciptaan Rhoma Irama.

Rhoma Irama berkolaborasi dengan para alumnus ajang pencarian bakat Indosiar, menyanyikan lagu ciptaannya, ‘Virus Corona’.

Sementara komika Ernest Prakasa, Raditya Dika, Abdel, Bintang Emon SUCA, Mo Sidik, Uus dan komika ternama lainnya, turut menghimbau masyarakat agar di rumah saja dan tidak mudik, demi menekan laju penyebaran Covid-19.

Tidak ketinggalan Golden Voices terdiri dari Titiek Puspa, Hetty Koes Endang, Iis Sugianto, Dessy Ratnasari dan Joy Tobing. Mereka tampil kompak membawakan lagu Arti Kehidupan karya Doel Sumbang.

Jelang penghujung konser, sportscaster dan para atlet berkolaborasi membawakan lagu Garuda Di Dadaku, penggugah semangat untuk tetap bersatu. Dilanjutkan para tenaga medis yang turut menyumbang suaranya bersama Agnez Mo menyanyikan lagu We Are The World.

Selama durasi penayangan Konser Amal Satu Indonesia, EMTEK Group berhasil menghimpun donasi dari pemirsa sebesar Rp 2.804.786.624.

Jumlah tersebut belum termasuk perolehan dana dari pihak sponsor pendukung Konser Amal Satu Indonesia, sebesar Rp 6.350.000.000.

“Seluruh hasil donasi dari pemirsa, pihak sponsor dan keuntungan yang terkumpul dari konser amal ini akan diserahkan kepada Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih, untuk penanggulangan pandemi COVID-19,” ujar Sutanto Hartono selaku Managing Director EMTEK Group, dalam siaran pers, Senin (11/5).

Managing Director EMTEK Group, Sutanto Hartono Serahkan donasi dari pihak sponsor kepada Ketua YPA Peduli Kasih, Imam Sudjarwo untuk disalurkan kepada warga terdampak covid-19.

Sebelumnya, EMTEK Peduli Corona melalui Yayasan Pundi Amal (YPA) Peduli Kasih yang   berlangsung sejak Maret silam, juga mampu mengumpulkan donasi dari pemirsa SCTV dan Indosiar, pengguna Bukalapak dan pembaca Liputan6.com, senilai Rp 12.515.173.734.

Donasi tersebut telah disalurkan dalam bentuk Alat Pelindung Diri (APD), alat kesehatan, dan sembako ke seluruh penjuru tanah air.

“Target Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih selanjutnya memiliki program #SejutaMaskerDanSembako untuk masyarakat yang terdampak COVID-19,” jelas Imam Sudjarwo, selaku Ketua Umum YPA Peduli kasih sekaligus Dirut Indosiar.

Lewat Konser Amal Satu Indonesia, EMTEK Grup memperlihatkan betapa semangat gotong royong dari berbagai kalangan menjadi satu kekuatan untuk menghadapi wabah yang sedang melanda negeri ini untuk tetap optimis dan bangkit kembali. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto-foto: Dok. SCTV)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event

Royalty Musik, Membangun Iklim Kesadaran Hukum Bagi Para Musisi

Published

on

By

Yovie Widianto

Kabarhiburan.com – Presiden Joko Widodo menandatangani PP 56 pada 30 Maret 2021, tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik. PP yang dimaksudkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Faktanya di lapangan, masih bertolak belakang dengan peraturan yang telah diundangkan. Alhasil, ruwet sengkarut tata kelola royalti Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik di Indonesia, belum terurai sebagaimana mestinya.

Seperti terungkap dalam zoom meeting yang digagas Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (Kophi) pada Kamis (2/12) malam. Sengkarut tata kelola royalti itu belum menunjukkan titik terang. Masih sangat kelam, dan masih jauh dari benderang.

Terlalu sulit mengurai persoalannya, bukan semata telah menahun permasalahannya, tapi keterlibatan musisi sebagai bagian aktif dari persoalan ini juga sangat rendah sekali, utuk tidak mengatakan cenderung mengambil posisi apatis. Alhasil, sebagaimana dikatakan Denny MR, selaku pemandu acara, persoalannya sangat berlapis-lapis. Sampai pada taraf sangat sulit sekali mengurainya.

Persoalan pat-gulipat PT LAS selaku pihak ketiga yang ditunjuk LMKN tanpa proses tender, dan tudingan salah satu komisioner LKMN ternyata juga memiliki saham di PT LAS, belum purna. Atau sengaja tidak diselesaikan, bahkan setelah publik mengetahui bobrok dan akal-akalan mereka, kini ada persoalan baru.

Seperti Posan Tobing, selaku musisi menggugat label Warner ke pengadilan, menyusul Musica Studio’s mengajukan gugatan UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tuntutannya, agar royalti produser dinaikkan dari 50 tahun menjadi 70 tahun.

Atau, dalam bahasa Candra Darusman, Musica Studio menginginkan penghilangan pasal 18 dan 30, untuk diganti menjadi Kesepakatan Industri. Turunannya hak kepemilikan master lagu, yang tadinya hanya selama 25 tahun akan kembali menjadi milik musisi, akan bertambah menjadi 70 tahun. Setelah itu, baru kembali ke penciptanya.

Dalam bahasa Cholil Mahmud, vokalis dan gitaris band Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi, sengkarut persoalan royalti harus direspon musisi dengan mengubah cara berpikirnya. Meski pagi-pagi sekali, Cholil Mahmud yang sekarang bermukim di New York AS, mengatakan pendapatnya mewakili dirinya sendiri, bukan musisi secara umum.

“Musisi mesti mempunyai perubahan sikap, sehingga dikotomi musisi mainstream dan sidestream hilang, tidak ada lagi. Karena kita sekarang hidup di era borderless,” kata anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) itu, sembari menambahkan, meski sepemahamannya, musisi sidestream biasanya yang memiliki sendiri master lagunya, dan memiliki sistem hubungan yang berbeda dengan pihak label, jika misalnya dibandingkan dengan musisi mainstream. Saat jaman terlalu berlari seperti sekarang, dengan segala digitalisasinya.

“Mau tidak mau musisi sidestream menjadi bagian dari industri, atau satu kolam dengan musisi mainstream. Karenanya, semua musisi harus mempunyai kesadaran hak-hak yang melekat pada dirinya. Dari hak cipta dan hak terkait yang muncul dari karyanya, termasuk hak mekanikal,” katanya.

Meski dia juga mengakui, banyak musisi yang tidak tahu, ihwal hak cipta dan hak terkait. Atau banyak diantaranya sangat tidak concern tentang persoalan ini.

“Makanya persoalan ini harus dibicarakan terus menerus, agar berdampak pada musisi itu sendiri,” katanya.

Karenanya Cholil Mahmud mengakui sangat membutuhkan bantuan media, untuk terus menyuarakan hal ini. Karena pada saat bersamaan tidak banyak media yang membicarakan, dan menulis persoalan ini dengan baik, karena persoalan royalti memang sangat rumit.

“Kalau media menulis dengan baik (persoalan royalti), akan sangat membantu sekali musisi,” katanya. Sehingga kerumitan seperti conflick of interest antara LMKN dan PT LAS, karena komisioner LMKN menjadi pemilik saham PT LAS, bisa dicegah via suara publik yang disuarakan media. Juga persoalan perseteruan royalti lainnya.

Senada, Candra Darusman mengatakan, meski masih mengaku prematur pendapatnya ihwal persoalan gugatan Musica ke MK, karena dia belum menyelesaikan membaca dan mendalami 58 halaman gugatan Musica Studio ke MK via Otto Hasibuan & Associates, tapi dasarnya ada upaya penghilangan pasal 18 tentang pencipta, dan pasal 30 tentang pelaku atau penyanyi.

“Menghilangkan pasal 18 dan 30 diganti kesepakatan industri. Maknanya, master lagu bisa dihidupkan lagi kalau ada kesepakatan industri antar para pihak. Kalau kesepakatan tidak tercapai, ya ngga jadi apa-apa,” katanya. Meski Candra Darusman juga akhirnya menemu simpulan, gugatan Musica ke MK juga bisa dimaknai sebagai upaya menggairahkan kembali industri musik, agar master master lama bisa dimanfaatkan lagi.

“Saat kali pertama membaca berita gugatan itu, darah saya mendidih. Setelah saya baca, ternyata ada unsur menggairahkan,” katanya sembari menekankan, persoalan gugatan ini jangan sampai membuat kita semua, juga publik, melupakan permasalah LMKN dan pihak terkait, menjadi terbengkalai.

Keprihatinan Mendalam

Candra Darusman bersama Federasi Serikat Musik Indonesia (Fesmi) memang sedang mensiasati persoalan gugatan ini dengan sangat hati-hati. Terutama mendalami dugaan upaya penghilangan pasal 18 dan 30, serta sedang menyusun dokumen, karena melibatkan concerned party.

Atau pihak terkait yang menjadi subjek dugaan atau laporan Pelanggaran berdasarkan Kebijakan tertentu.

Ihwal gugatan kepemilikan master 50 tahun menjadi 70 tahun, atau 25 tahun menjadi 70 tahun, juga disikapi dengan keprihatinan mendalam oleh Yovie Widianto. Karena di satu pihak, sebagai pencipta lagu hits, yang banyak bertebaran dalam khazanah musik Indonesia. Yovie Widianto dari lubuk hati terdalam juga menginginkan pembagian royalti yang adil dari para pihak, atau pencipta dan label.

“Sebagai komposer, kita berbisnis dengan baik-baik dengan semua label rekaman. Meski banyak temen saya yang mengatakan, harusnya saya ‘dapat’ lebih. Karena itu, (persoalan gugatan ini) mendapatkan perhatian saya, sebagai komposer, saya hanya mengatakan, yuk kembali ke hari nurani,” kata Yovie, meski di saat bersamaan dia menyadari dunia bisnis, pasti berpikir untung dan rugi. Makanya dia berharap agar lekas tercapai kesepakatan win win solution.

“25 tahun itu, sudah lama. Tapi ini kok 70 tahun hak master baru kembali. Katakanlah kita mulai terjun di industri ini umur 25 tahun, kalau 70 tahun, kan uda ngga ada (meninggal dunia),” katanya masgul.

Untungnya Yovie Widianto mengaku bukan sebagai pribadi yang mudah terprovokasi. Dan sangat meyakini bahwa rejeki tidak ada yang tertukar. Karenanya, ketika banyak kawan-kawannya — sekali lagi — mengatakan seharusnya dia mendapatkan lebih atas royalti lagunya, dia menyikapi dengan biasa saja.

“Tapi saya tetap berharap seperti teman-teman saya di Korea, Jepang dan lainnya, agar hak saya terpenuhi dengan semestinya,” katanya, sembari berharap ada klausul jika hendak menghidupkan kembali master di masa lalu, bagusnya ada pembicaraan ulang dengan penciptanya. Siapapun itu. Sembari menyorongkan azas transparansi, dan akuntabilitas.

“Saya tetap berharap tetap ada yang baik ke depan di industri musik. Dengan transparansi tetap bisa cuan, kok,” katanya.

Pendampingan Hukum

Diana Silfiani, selaku legal consultant sejumlah musisi di Indonesia mengakui, awareness musisi ihwal royalti memang sangat minim. Atau agak kurang mengoptimalisasi revenue. Turunannya, revenue-nya tidak maksimal. Seperti pemahaman tentang pola kerja LMKN untuk performing berdasarkan square (ukuran) tempat tampil, juga belum diketahui semua musisi.

Karenanya sebagai penasehat hukum, Silfiani mengaku miris atas gugatan Musica ke MK. “Miris. Musisi dan pencipta lagu akan dibawa ke mana? Diam saja, atau bagaimana? Makanya, saya sering heran mengetahui banyak musisi hendak melakukan perikatan apapun, tapi tidak didampingi legal consultant,” katanya.

Dalam semua perikatan, kata Silfiani, harusnya ada pendampingan hukum. “Karena membaca dan memahami perjanjian itu, teknis sekali,” katanya menambahkan.

Karenanya, Silfiani berterima kasih, sejumlah pewarta sudi turut membicarakan persoalan royalti ini. Harapannya, musisi lekas berhimpun dan bergerak, untuk menyelematkan periuk nasinya sendiri, sebelum terlalu lama terlelap tidur, dan terlambat semuanya.

Fenomena sangat lambannya musisi merespon persoalan royalti, juga dirasakan sejumlah pewarta musik. Selain Denny MR, yang sudah lelah mengingatkan musisi untuk bergerak, merumuskan pemikiran, dan memperjuangkan hak-haknya, Irish Blackmore juga mengatakan hal serupa.

“Kalau kita pakai teori terbalik, dalam persoalan ini. Kenapa wartawan yang malah bergerak untuk menghadirkan pertemuan ini, (juga sejumlah pertemuan lainnya yang digagas Lesehan Musik / Lesmus). Musisinya? malah adem ayem,” kata Irish yang juga Ketua PWI Jaya Seksi Musik dan Film, protes.

“Kita belum menemukan gregetnya teman-teman musisi. Yang peduli, cuma nama itu-itu saja. Pertemuan ini terjadi kan, hanya bagian dari tanggung jawab moral kami. Inilah yang kami sayangkan. Harusnya, kawan-kawan musisi bergerak memperjuangkan nasibnya sendiri,” kata Irish menyayangkan.

Lebih lanjut, Irish Blackmore mengatakan, sejatinya pewarta hanya ingin mempersiapkan dan memberikan panggung kepada para musisi. Sebelum akhirnya terus mendukungnya dari segala sisi.

“Tapi apa yang terjadi, yang mau diberikan panggung, enggak nongol-nongol, bahkan seolah-olah masalah ini dibiarkan seperti benang kusut,” katanya.

Kalau musisi terus berdiam diri, menanggapi persoalan itu, maka Irish Blackmore meyakini, goal persoalan ini tidak akan pernah terwujud, yakni memartabatkan musisi pada tempat semestinya.

Peran wartawan hanya sebatas sebagai pendorong diamini sepenuhnya oleh Denny MR. “Mungkin awareness musisi sangat kecil, makanya kita cari solusi agar kawan-kawan (lekas) keluar kandang,” kata Denny MR yang dibenarkan Cholil Mahmud.

Sebagai salah satu pilar demokrasi, kata Cholil Mahmud, peran wartawan memang cenderung tidak terlihat. “Semoga kawan-kawan wartawan tidak lelah mencermati persoalan royalti ini. Sampai ketemu alasan kenapa musisinya tidak mau bergerak. Dan musisi mempunyai keberanian menempuh jalur hukum,” katanya.

Berperkara di pengadilan, di negara hukum seperti Indonesia, menurut Cholil Mahmud adalah keniscayaan, jadi tidak ada yang istimewa. Makanya, tidak ada cara yang lain, selain musisi harus berani.

Meski Candra Darusman tetap mewanti-wanti, bergerak tetap harus. Tapi harus lewat perhitungan terperi. “Saya rasa kita harus bergerak dengan sistematis dan terukur. Dengan mempersiapkan argumen dan pendalaman. Tidak bisa asal bunyi,” kata Candra Darusman.

Chandra Darusman juga sangat tahu, klausul yang digunakan Musica via ke MK adalah, ada 60 negara di dunia yang memberikan hak fiksasi kepada produser selama 70 tahun. Tapi itu bukan berarti menjadi pembenar hal yang sama bisa diterapkan di Indonesia.

Pada akhirnya, dalam zoom meeting yang difasilitasi Kang Iyu dan Arey Arifin itu, seharusnya jika ada persoalan abuse (suatu tindakan dimana ketika seseorang, dengan sengaja menyalahgunakan, memanfaatkan, memperlakukan orang lain secara tidak pantas dan tidak wajar tanpa memikirkan perasaan dan diri orang tersebut), sebagaimana dikatakan Diana Silfiani, bisa dihadapi di muka hukum.

“Bagaimana membangun iklim kesadaran (hukum) kepada kawan-kawan musisi? Tergantung individu masing-masing. Kalau relevan dengan dirinya sendiri, (biasanya) dia akan bergerak membuat gerakan yang relevan juga,” kata Silfiani. (Tumpak S)

Continue Reading

Event

Ayo Ramaikan World Expo Osaka 2025!

Published

on

By

Kobukuro

Kabarhiburan.com – Kota Osaka bersiap jadi tuan rumah World Expo Osaka 2025, yang akan digelar pada 13 April sampai 13 Oktober 2025.

Perhelatan bertemakan Designing Future Society for Our Lives, ini gaungnya sudah dimulai sejak jauh-jauh hari. Salah satunya, pada acara bertajuk Nakanoshima Winter Party – Road to EXPO 2025, yang berlangsung di Kota Osaka, Minggu (28/11).

Pada acara tersebut, Kenji Wakamiya, selaku Menteri yang bertanggung jawab atas pameran internasional,  mengatakan dalam pidatonya, “Apa yang akan terjadi di masa depan selama 50 tahun tergantung pada World Expo Osaka 2025″.

Nakanoshima Winter Party – Road to EXPO 2025 dihadiri 4.500 orang dengan membawa bukti vaksinasi. Hirofumi Yoshimura selaku Gubernur Prefektur Osaka dan Ichiro Matsui selaku Walikota Osaka membuat deklarasi pembukaan dan menyerukan kegembiraan kota Osaka menuju World Expo Osaka 2025.

Acara ini dimeriahkan oleh komedian popular Jepang yakni Milk Boy, SO.ON Project (Idol group), Charlotte (influencer comedian) yang memiliki 1.35 juta followers luar negeri di social medianya. Ada juga OSK Nippon Revue Company yang tahun depan akan merayakan 100 tahunnya.

Charlotte

Setelah pertunjukan, Hiroyuki Ishige, selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Pameran Internasional Jepang, mengatakan bahwa sekarang adalah puncak dari persiapan World Expo Osaka 2025.

“Ini adalah waktu yang paling sulit bagi kami. Saat ini kami sedang mengumpulkan uang dan SDM. Walaupun World Expo Osaka 2025 penyelenggaraannya memakan waktu, kami sangat berusaha untuk melakukan yang terbaik,” jelas Hiroyuki Ishige.

Sementara itu, Menteri Wakamiya mengatakan, pihaknya berencana untuk melibatkan 150 negara, tetapi karena pengaruh bencana Corona, saat ini baru 60 negara yang mendaftar.

“Kami harus mengumpulkan 90 negara lagi. Jadi, kami harap yang hadir di sini dapat membantu untuk mempromosikan World Expo Osaka 2025 di social media kalian,” pintanya.

Mengenai pavillion yang mengusung tema “Reborn”, Walikota Osaka, Matsui mengatakan, ingin membuat pavilion yang bisa membuat semua menikmati hidup lebih muda 10 tahun dan menikmati pengalaman perawatan medis preventif.

“Serta kami ingin membuat paviliun yang dapat merepresentasikan kesehatan dari Osaka dan Dunia” ucapnya.

Nakanoshima Winter Party – Road to EXPO 2025 diakhiri dengan acara live performance yang sangat meriah dari artis Kobukuro yang merupakan Duta World Expo Osaka 2025. (TS)

Continue Reading

Event

Doni Salmanan Kolaborasi Boedy JVS Luncurkan Vapor D’MOON

Published

on

By

Doni Salamanan dan Budiyanto meluncurkan D’MOON.

Kabarhiburan.com – Sosok Doni Salmanan asal Bandung, seorang YouTuber sekaligus trader muda di Indonesia. Beberapa kali namanya menjadi buah bibir di jagad maya, terutama lewat aksi donasi Rp 1 M kepada Reza Arap baru-baru ini.

Saat ini reputasi Doni tak hanya akrab dengan kesan dermawan, namun netizens juga memandangnya sebagai sosok yang visioner dalam bisnis. Doni Salmanan baru saja memperluas ranah bisnisnya.

Doni berkolaborasi dengan Budiyanto (Boedy JVS), pendiri sekaligus Chief Executive Officer dari Jakarta Vapor Shop (JVS) Group. Keduanya menghadirkan D`MOON, brand vapor (e-liquid).

Ketertarikan Doni Salmanan pada bisnis ini, terlebih D’MOON merupakan brand vapor yang mengusung energy optimistic, kesan misterius dan dream big spirits. D’MOON juga menjadi taste-works kedua yang dinaungi JVS Brew, anak usaha yang baru diresmikan JVS Group.

Doni Salmanan mengaku bahwa keputusannya bermitra dengan dengan Boedy JVS sebagai langkah terbesarnya di tahun 2021. Boedy JVS adalah simbol bisnis vapor terbesar di Indonesia.

“Rencana mewujudkan D`MOON sudah diinisasi sejak September 2021, akhirnya terwujud pada Jumat, 26 November 2021,” ujar Doni Salmanan, dalam keterangannya, Kamis (2/12).

Doni Salmanan dan Boedy JVS memperkenalkan D`MOON melalui sesi seremonial bertajuk “D`MOON Fest: Ready to D`Moon”, di hadapan ratusan pengunjung yang menghadiri venue Nara Park (kawasan Rancabentang, Ciumbuleuit, Bandung).

Nara Park disulap menjadi festival venue yang sarat hadiah menarik. Ratusan pengunjung yang terdiri dari perwakilan distributor, influencers, vapestores, komunitas vape dan masyarakat umum, dimanjakan oleh aneka carnival games, beanbag seats, penampilan musik dan sesi bagi-bagi hadiah.

Sesi peluncuran D`MOON divisualisasi lewat tayangan vidio animasi seorang astronot yang mendarat di bulan. Vidio animasi tiga dimensi ini diproduksi khusus oleh ICONIC Entertainment, produsen multimedia yang juga dinaungi JVS Group.

Perhelatan “D`MOON Fest: Ready to D`Moon” memang ditujukan untuk membawa kesan ‘humble party’ ala Doni Salmanan dan Boedy JVS, ke dalam kemasan offline festival (live-event).

Dari acara ini, pengunjung bisa membawa pulang banyak hadiah, mulai dari sampel liquid, official hampers boxset, gift-bags, sampai give away berupa uang tunai dan dua unit sepeda motor. (Tumpak S. Foto-foto: JVS Group)

Continue Reading
Advertisement

Trending