Connect with us

Film

Agar Pop Culture Indonesia Mendunia, Erick Thohir: Kuncinya Harus Kreatif

Published

on

Nobar film ‘Gatot Kaca’, Erick thohir didampingi didampingi Eko Patrio, Pasha Ungu dan Dessy Ratnasari.

Kabarhiburan.com – Menteri BUMN, Erick Thohir mengapresiasi maraknya film-film nasional yang berkisah tentang budaya Indonesia, harus mendapat dukungan masyarakat. Ini harus mendapat dukungan dari masyarakat.

Dukungan pecinta film tak hanya menikmati alur cerita film, tapi juga menyukai lagu atau soundtrack film, turunan kisah film, serta merchandise akan makin menghidupkan pop culture di tanah air.

Demikian disampaikan Erick Thohir, usai menonton tayangan perdana film berjudul Satria Dewa “Gatot Kaca” di Studio Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Senin (6/6) malam.

Erick menyaksikan film superhero asli Indonesia itu bersama sutradara, Hanung Bramantyo dan para aktor seperti, Ricky Nazar, Omar Daniel, Yayan Ruhiyan dan Yatti Surachman. Erick juga didampingi Eko Patrio, Pasha Ungu dan Dessy Ratnasari.

“Kita harus dukung industri film nasional yang berpotensi luar biasa. Tak hanya dari cerita film yang bagus, tapi masyarakat bisa pula menikmati lagu, turunan cerita, dan merchandise,” kata Erick.

“Inilah multiplatform story telling yang tidak akan putus. Apresiasi masyarakat harus terus kita rangsang agar melalui industri hiburan, salah satunya film nasional, kita bisa menjadi pop culture country,” ujarnya.

Erick juga menyebutkan bahwa Korea atau negara lain mampu menjadi negara pop culture karena sukses mengangkat industri hiburan lokal ke panggung internasional, maka Indonesia juga bisa melakukannya. Apalagi Indonesia sudah memiliki pasar tersendiri dengan jumlah penduduk yang mencapai 275 juta.

”Kita punya pasar yang besar dan jika meledak di dalam negeri, maka hal itu akan berpengaruh ke seluruh dunia. Kuncinya, harus kreatif,” katanya.

“BUMN siap memberikan dukungan. Kita memiliki PFN (Produksi Film Negara) atau juga Telkom dan Telkomsel sebagai aggregator untuk mendukung konten lokal agar terus berkembang,” ujar Erick Thohir menambahkan.

Konsep multiplatform story telling untuk membangun industri film nasional terus didorong agar sebuah film tak hanya disukai dari sisi tontonan semata.

“Film harus mampu menciptakan tren sebagai kekuatan sehingga daya tarik dan nilai jualnya tidak akan terputus,” pintanya.

Sebelumnya, film ‘Kadet 1947’ juga diproduksi dengan konsep yang sama. Ceritanya terintegrasi dengan turunan ide kreatif lain sehingga dari film tersebut muncul tren fashion, produk kreatif lainnya yang turut memajukan UMKM lokal, dan juga soundtrack berjudul, ‘Bakti’. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Webinar FFWI 2022: Buku Best Seller, Film Box Office?

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Industri film di Indonesia kembali bersemi, baik dari jumlah penonton maupun kualitasnya. Dari sekian banyak judul film yang dirilis, tidak sedikit film yang skenarionya diadaptasi dari novel dengan embel-embel best seller.

Hasilnya, film-film adaptasi ternyata mampu mengundang sangat banyak penonton ke bioskop. Sebut saja, ‘Dilan 1990’ menjadi salah satu film box office dengan 6,3 juta penonton, disusul yang terbaru, ‘KKN di Desa Penari’ kini menembus 9 juta penonton.

Buku Best Seller, Film Box Office juga dipilih Panitia FFWI 2022 sebagai tema dalam webinar kedua, yang berlangsung Selasa 7 Juni 2022.

Sekitar 50 wartawan dan pekerja film menyimak penjelasan nara sumber kompeten. Di sana ada moderator Noorca M Massardi dari Lembaga Sensor Film, sutradara Hanung Hanung Bramantyo, Novelis Asma Nadia dan penulis skenario Jujur Prananto.

Hadir pula Wina Armada selaku Ketua Pelaksana FFWI 2022, dan Eddy Suwardi Dit PMM Kemendikud Ristek.

Bagi Hanung Bramantyo, mengangkat cerita novel dengan embel-embel best seller ke layar film punya tantangan tersendiri, karena problem utama dalam pembuatan film adaptasi karya novel ke film. Sebetulnya tidak hanya pada kreativitas film maker, tetapi juga pada mindset penonton.

“Jika penonton sudah punya kesadaran bahwa film adalah sebuah karya baru dari novel, maka sebuah film mengadaptasi novel apapun hasilnya, tidak akan jadi persoalan lagi,” ujar sutradara sutradara sukses memfilmkan novel laris ke film, seperti ‘Ayat Ayat Cinta’, ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Bumi Manusia’, ini.

Ia mengatakan, novel ditulis oleh satu orang dan mempunyai ruang dan waktu yang luas. Sedangkan film digerakkan oleh banyak orang. Sangat tidak mungkin dikerjakan oleh seorang diri, sehebat apapun sutradaranya.

Sudah begitu, novel bisa dibaca kapan saja dan mau berhenti dulu, makan atau minum dulu. Sebaliknya film punya keterbatasan waktu tayang. Untuk film nasional rata rata durasi putarnya satu setengah jam atau dua jam.

“Jadi, tidak semua yang ada di novel itu bisa dijadikan dalam keterbatasan ruang dan waktu itu,” ujar Hanung menjelaskan tantangannya sebagai sutradara memfilmkan novel.

Penulis novel Asma Nadia juga membenarkan bahwa film dan novel adalah dua kreatifitas yang berbeda. Di sinilah pentingnya komunikasi yang baik antara penulis novel, sutradara, penulis skenario dan produser.

”Penulis novel tidak boleh egois, bahwa cerita film harus seratus persen sama. Di pihak lain sutradara, produser atau penulis skenario tidak merusak benang merah cerita,” kata Asma Nadia, yang novelnya seperti ‘Assalammualaikum Beijing’ dan ‘Jilbab Traveller’ sukses difilmkan.

Sementara Jujur Prananto menyebutkan tidak semua yang tertulis di novel akan bisa semuanya difilmkan.

“Di sinilah penting komunikasi. Tapi, kalau ada penulis novel yang ngotot, baiknya saya sebagai penulis skenario memilih mundur,” ungkap Jujur Prananto peraih Piala Citra Festival Film Indonesia.

Jujur Prananto mengaku akan menolak saja menuliskan skenarionya kalau merasa sulit menemukan konflik dan ketegangan dari filmnya nanti.

“Sebaliknya, beberaps novel sudah bernuansa filmis. Suasana dan strukturnya oke banget. Jadi saya enggak sulit memindahkannya ke skenario,” kata Jujur, penulis skenario ‘Ada Apa dengan Cinta’. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

‘Angling Dharma Season 2’ Siap Tayang, Afdhal Yusman Naik Kelas

Published

on

By

Kabarhiburan.comAngling Dharma Season 2 bakal tayang di Maxstream, mulai 1 Juni 2022 mendatang.

Salah satu cerita yang sudah melagenda dan diketahui banyak orang, dengan ciri khas Naga Begola yang selalu menemani di setiap perjalanan Angling Dharma untuk menyebarkan kebaikan.

Menurut keterangan yang diterima, Angling Dharma versi terkini diperankan oleh Afdhal Yusman, yang dulu sempat memerankan Angling Kusuma, anak dari Angling Dharma di masa Anto Wijaya sebagai Angling Dharma.

Sejurus dengan perkembangan zaman, Angling Dharma terbaru ini sedikit berbeda dari tahun tahun sebelumnya.

Kali ini dikemas kian menarik, milenial dan trendy. Baik dari segi costum, pemain maupun ceritanya, namun tidak lepas dari benang merah cerita yang sudah ada.

Harapannya, Angling Dharma yang diproduksi oleh rumah produksi Vigor Cinema ini dapat diterima masyarakat dan mendapatkan tempat di hati penontonnya.

Selain Afdhal Yusman, ‘Angling Dharma Season 2’ juga dibintangi oleh Choky, Rico Verald, Ferly putra, Ovy Duo Serigala, Dian Sidik, Gege Fransisca, Arnold Leonard, Diana Dee, Sandy SS, Kasiviati dan Mardion. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Catat Jadwal Film ‘Ngeri Ngeri Sedap’, Tayang di Bioskop 2 Juni 2022

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Industri perfilman kembali menciptakan momentum kebangkitannya pada tahun 2022, setelah dua tahun terpuruk dibekap pandemi Covid-19. Saatnya bagi film Ngeri Ngeri Sedap tayang di bioskop, mulai Kamis, 2 Juni 2022 mendatang.

Sebelum sampai ke sana, rumah produksi Imajinari bekerjasama dengan Kathanika Studio telah merilis poster karakter empat kakak beradik, yakni Domu, Sarma, Gabe dan Sahat. Selain masih ada karakter Mak Domu dan Bapak Domu.

Film Ngeri Ngeri Sedap mengangkat sebuah kisah drama keluarga yang hangat. Konflik dan intrik yang dihadirkan, tak jauh-jauh dari anak-anak yang pergi merantau dan orang tua yang rindu pada anak-anaknya.

Produsernya, Dipa Andika menyebutkan film ini memang dibuat untuk menghadirkan kembali perasaan hangatnya, jika kita kembali berkumpul dengan keluarga.

Ia meyakini cerita film ini akan menyentuh penontonnya, mengingat pembuatan cerita Ngeri Ngeri Sedap, sudah sejak 2016 lalu. Saat itu, Bene Dion sudah memiliki ide ceritanya, kemudian skrip selesai dibuat pada 2019.

Selanjutnya Imajinari bersama Kathanika Studio mewujudkan film Ngeri Ngeri Sedap pada 2021, hingga siap tayang seperti sekarang.

Ceritanya menarik bisa mengingatkan tentang pentingnya keluarga untuk semua orang yang menonton film ini.

“Dalam hidup banyak yang bisa mengubah kita, tapi pada akhirnya kita kembali ke keluarga, karena itu jangan lupa untuk nonton Ngeri Ngeri Sedap,” pinta Dipa Andika.

Tak cuma soal penggarapan cerita yang matang, tetapi kultur Batak yang diangkat dan lokasi syuting yang dipilih juga meyakinkan Ricky Wijaya selaku Executive Producer dari Kathanika Studio, untuk mewujudkan film ini.

“Ceritanya bagus banget, relate ke semua orang dan keluarga. Waktu saya tanya syuting di mana, ternyata di Danau Toba, oh langsung jadi (untuk bekerja sama),” ungkap Ricky Wijaya.

Flm ini akan menonjolkan permasalahan keluarga yang cukup kompleks, dimana setiap anak, memiliki masalahnya sendiri. Sebut saja Domu, si anak sulung yang diperankan oleh Boris Bokir, diharapkan bisa membanggakan orang tuanya sebagai penerus marga, ternyata bukan hal yang mudah untuk dijalani.

“Ini cerita yang sangat dekat, apalagi saya memang Batak. Saya tidak alergi dengan fakta, dan mungkin film ini bisa mengajarkan keluarga batak di luar sana untuk tidak alergi dengan fakta. Ada loh yang seperti ini, ada,” ungkap Boris Bokir.

Untuk menguatkan sajian cerita, maka mayoritas pemain adalah orang asli Batak. Salah satunya, Tika Panggabean yang berperan sebagai Mak Domu, digambarkan sebagai ibu yang merindukan anak-anaknya yang sudah dewasa dan memilih jalan hidupnya masing-masing.

“Semoga teman-teman yang menonton bisa suka.  Harapan saya di setiap kita ada yang namanya ‘once family, forever family’. Keluarga adalah fondasi utama, kalaupun ada konflik, ya sekali keluarga tetap keluarga,” tutur Tika Panggabean.

Selain Boris Bokir dan Tika Panggabean, film Ngeri Ngeri Sedap juga menghadirkan Gita Bhebhita, Lolox, Indra Jegel, Arswendi Bening Swara, dan Indah Permatasari.

Selain merupakan film drama keluarga yang dibalut dengan komedi segar nan menghibur, film ini juga menyajikan keindahan alam Danau Toba, Sumatera Utara. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending