Connect with us

Budaya

Agar Tidak Hanya Jadi Tontonan, Pemerintah Harus Lebih Serius Melestarikan Wayang

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Media massa Indonesia dinilai kurang berpihak terhadap perkembangan seni budaya Indonesia. Mereka cenderung mendukung seni modern. Bahkan mereka lebih suka memberitakan kebudayaan luar negeri, daripada kebudayaan sendiri.

Keprihatinan ini disampaikan dalang Gaura Mancacaritadipura,  salah seorang  delegasi Indonesia yang diutus Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI) dalam sidang  7th General Assembly  yang berlangsung di Markas UNESCO Paris, Rabu (6/6) silam.

Ia membandingkan antara  betapa besarnya minat masyarakat internasional menghargai Wayang, sehingga diakui sebagai warisan budaya dunia. Berbanding terbalik dengan minimnya atensi orang Indonesia terhadap seni budaya Wayang.

Gaura menambahkan, interaksi melalui media massa  memungkinkan masyarakat mendapat pencerahan dan menyerap beranekaragam nilai-nilai. Salah satu sumber kearifan nilai-nilai tersebut ada pada Wayang.

“Menghayati nilai-nilai Wayang sebenarnya kita terus berproses menjadi orang Indonesia seutuhnya, lantaran nilai-nilai tuntunan dalam Wayang mencakup semua nilai-nilai luhur yang ada di Nusantara. Nilai-nilai ini tentu cukup baik dimasyarakatkan melalui media,” anjur  dalang Warga Negara Indonesia, asal Australia ini.

Wayang memuat kekuatan amot, among dan amemangkat.  Memiliki kemampuan menerima pengaruh dari luar untuk disaring dan diolah guna memperkuat budaya Wayang, sehingga dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang terbuka mengantisipasi perkembangan zaman.

“Masyarakat kita pernah mengalami orientasi budaya populer, seperti budaya K-Pop namun hanya sebentar, lantaran  budaya instan tidak ada isinya. Berbeda dengan budaya Wayang yang sudah ada sebelum abad ke-12 dan masih bertahan hingga kini,” ujar Gaura.

Gaura ingin agar Pemerintah berperan  lebih konkret. Berharap Pemerintah lebih serius dan konsekuen mengurusi masalah warisan budaya tak benda ini.

“Dalam sidang ini mereka (wakil Pemerintah) hadir, tapi hanya satu orang. Mereka tahu kita (delegasi SENAWANGI) datang, tapi sebatas mengetahui. Support mereka baru sebatas moril,” ungkap Gaura.

Agar nilai-nilai diluhung dalam Wayang bisa terus disampaikan dan diinternalisasikan ke penonton, Gaura menekankan pentingnya transmisi budaya Wayang untuk dikenalkan kepada generasi muda. Membuat pelatihan Dalang, Karawitan, Sinden, termasuk mendorong seni pengrajin Wayang, dan membuka peluang pergelaran Wayang.

“Kami sudah tua. Jika tidak dicetak yang muda-muda, lama-kelamaan generasi yang memiliki kompetensi seni Wayang akan habis,” ujarnya.

Gaura menyebut SENAWANGI memiliki peran penting dalam melestarikan Wayang, seperti melakukan jejaring komunikasi dengan UNESCO dan dengan berbagai NGO yang sudah terakreditasi.

Melakukan penelitian dan pengembangan pewayangan, menerbitkan buku Wayang, menyelenggarakan Festival Wayang Indonesia, Teater Wayang Indonesia, menyusun Pusat Data Wayang Indonesia (PDWI), dan mengusulkan kepada Pemerintah, agar ada Hari Wayang Indonesia.

“Buku-buku menjadi penting sebagai referensi agar Wayang tidak hanya jadi tontonan, tapi jalan hidup. Nilai-nilai filsafat itu disampaikan melalui kepustakaan. Dari perspektif  buku inilah Wayang harus diangkat, dikedepankan agar Wayang jangan hanya dilihat dari sisi hiburan (performance), tapi juga tatanan dan tuntunan,” ujar Gaura.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Menikmati Paduan Budaya Tionghoa-Betawi di Pergelaran Pecinan Batavia 2019

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Ribuan warga Jakarta berduyun-duyun memadati arena Taman Fatahillah, di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta, Sabtu (16/11). Mereka menikmati seluruh rangkaian acara Pergelaran Pecinan Batavia 2019 yang berlangsung sejak pagi hingga malam.

Seperti namanya, acara gratis yang dihelat oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta ini, sejak pagi sudah menyajikan jajanan aneka kuliner khas Betawi yang ada unsur Tionghoa. Sebut saja, asinan, dodol, manisan, icip-icip jajanan es selendang mayang, dongkal, kerak telor dan masih banyak lagi.

Festival ini juga menampilkan keunikan seni dan budaya Tionghoa dan Betawi, yang sudah tidak asing lagi. Mulai dari pertujukan silat Betawi, Barongsai, Liong Barong, gambang kromong, serta pameran ketangkasan beradu gasing.

Seluruh rangkaian Pergelaran Pecinan Batavia 2019  ditutup oleh tarian kolosal bertema Langgam Hati dari Tirai Bambu.

Deputi Gubernur bidang Budaya dan Pariwisata DKI Jakarta, Dadang Solihin mengatakan bahwa Langgam Hati dari Tirai Bambu mengangkat cerita dua etnik, yaitu Tionghoa dan Betawi sebagai sarana mewujudkan kebersamaan dan keragaman pada bingkai persatuan.

“Kisah ini merupakan sejarah yang panjang dan cukup lama, bahkan makin ditinggalkan oleh masyarakat,” ujar Dadang Solihin, dalam sambutannya pada Pergelaran Pecinan Batavia 2019, Sabtu (16/11) malam.

Agar tidak musnah dan hilang, pihak Dinas Pariwisata DKI Jakarta berupaya melakukan implementasi sebagai bagian kelestarian budaya Jakarta.

Untuk merekontruksikan kembali sejarah yang dimaksud, kini disajikan dalam bentuk tarian kolosal yang sebagai pertunjukan yang memiliki makna publikasi sejarah, menjadikan wawasan dan pengetahuaj bagi masyarakat luas.

“Selain membuat dokumentasi Pecinan Betawi yang lebih lengkap dan akurat, yang dapat dijadikan sebagai wawasan, sejarah maupun pustaka,” pungkas Dadang Solihin. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Entete-1 Raih Pesonanya, Miliki Potensinya

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sebuah pagelaran budaya tradisional akan kembali hadir di tengah hiruk pikuknya Jakarta, berjudul Konser Gelar Budaya Tahunan Nusa Tenggara Timur 2019.

Acara yang digelar untuk pertama kali ini berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, mulai pukul 16.00 sampai 23.00 WIB, pada Jumat 22 November 2019 mendatang.

Panitia memilih konsep variety show yang mengusung serangkaian kegiatan seni, budaya, musik, fashion show, talk show, kuliner dan forum bisnis. Dirangkum dalam tema besar: entete-1 Raih Pesonanya, Miliki Potensinya.

Tujuannya, untuk lebih memantapkan pesona Nusa Tenggara Timur lewat kekayaan wisata, seni dan budaya. Selain menggali potensi kekayaan alam guna mengundang banyak lebih banyak lagi pengusaha lokal maupun manca negara untuk berinvestasi di Nusa Tenggara Timur.

“Kami merancang konsep kegiatan, sehubungan dengan niat  membantu Pemerintah Provinsi dalam mengembangkan Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ujar ketua panitianya, TA Rusland di Jakarta, Rabu (2/10).

TA Rusland (kiri) dan Stef Beda, selaku Ketua dan Sekretaris Panitia Gelar Budaya Tahunan nusa tenggara timur 2019

Gelar Budaya Tahunan Nusa Tenggara Timur 2019  menghadirkan keragaman budaya lokal dan pameran dagang yang menampilkan ciri khas masing-masing kabupaten di stand yang disediakan gratis.

“Kami sudah merencanakan pula, untuk memamerkan kain tenun ikat sepanjang 68 meter tanpa sambungan. Kain ikat ini berhiaskan lambang negara RI. Kalau dibentangkan bagus sekali, lho,” ujar Rusland.

Rusland menambahkan, potensi Nusa Tenggara Timur sungguh luar biasa. Hanya saja masyarakatnya lebih banyak bergerak sendiri-sendiri selama ini.

“Mereka enggak salah, karena belum memahami. Makanya saya menawarkan semacam integrated marketing communication, yaitu bagaimana menjual semua potensi  Nusa Tenggara Timur dalam satu wadah. Dalam ajang pertama ini, kami coba semaksimal yang bisa dilakukan,” jelas Rusland.

Kami mengakomodir hal-hal yang sederhana, supaya tidak terkesan glamour namun berisi. Mudah-mudahan kegiatan yang sama bisa dilakukan setiap tahun. Tahun ini kami adakan di Jakarta. Selanjutnya bisa diadakan di Nusa Tenggara Timur,” harap Rusland.

Lima Kabupaten

Gelar budaya tidaklah lengkap bila tidak diiringi panggung hiburan musik dan budaya. Selain menampilkan aneka traian tradisional, panitia sudah menyiapkan pertunjukan musik yang dibawakan grup Kalabala Voice. Mereka akan membawakan lagu Flobamora ala Gregorian.

Para panitia pelaksana Gelar Budaya Tahunan nusa Tenggara timur 2019.

Selain Kalabala Voice, acara ini juga akan menghadirkan penyanyi senior Obi Mesakh, Wens Kopong yang merupakan putra daerah NTT. Selain menampilkan Rita Nasution, Dian Piesesha, Widyawaty Sophiaan, David Koeswoyo  dan Trio Visca.

“Disini kami memadukan penyanyi senior dan penyanyi milenial asal Nusa Tenggara Timur dan artis ibukota,” ujar Rini Asmara, salah seorang panitia.

Kegiatan yang disponsori Bank BNI ini berangkat dari gagasan keratif para seniman muda di Pulau Adonara, Flores Timur dalam sebuah gelar budaya yang akan mempresentasikan pesona pariwisata dan potensi kekayaan alam di lima Kabupaten-Kota di Nusa Tenggara Timur.

Lima Kabupaten-Kota yang dimaksud adalah Kabupaten Flores Timur, Manggarai, Sikka, Timor Tengah dan Kabupaten Sumba.

“Kami memulai dari 5 Kabupaten-Kota ini terlebih dulu. Rencananya akan berkelanjutan pada Kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur di masa yang akan datang,” jelas Stefanus Beda, selaku sekretaris panitia. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Haji Oding Sebagai Ketua Bamus Betawi yang Baru

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – H. Zainudin alias Haji Oding dikukuhkan sebagai ketua Badan Musyawarah (Bamus) Betawi periode 2019 – 2023.

Ia dilantik oleh Majelis Adat Betawi dalam acara pelantikan yang berlangsung di Padepokan Silat TMII, Cipayung Jakarta Timur‎, Minggu, (25/8) silam.

Dalam pidato perdananya,  Haji  Oding menegaskan bahwa sebagai masyarakat adat ibukota dan putra asli daerah, Bamus Betawi sangat berkepentingan untuk menjaga peradaban adat istiadat dan budaya orang Betawi.

“Ruh orang Betawi di situ. Kalau ruh peradaban ini hilang maka kaum Betawi tidak akan seperti sekarang ini,” ujar Haji Oding.

“Kita berterima kasih kepada gubernur sebelumnya, yang telah meletakkan dasar yang kuat dan memenuhi orang Betawi untuk menjadikan orang Betawi sebagai putra asli daerah dan budayanya diakui sebagai ciri khas ibukota,” pungkasnya.

Sekretaris Majelis Adat Betawi, KH Lutfi Hakim menambahkan bahwa Bamus Betawi merupakan wadah perjuangan dan pergerakkan bagi seluruh ormas Betawi yang ada.

Tujuannya  untuk menberdayakan masyarakat Betawi, melestarikan dan mengembangkan adat istiadat dan budaya.

“Utamanya mengawal pelaksanaan perda nomor 4 tahun 2015 tentang pelestarian kebudayaan Betawi,” ujar Lutfi dalam sambutannya. (Rachmawati AB/KH).

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending