Connect with us

Musik

Aksan Sjuman dan Raul Renanda Luncurkan Piano Mewah Kelas Dunia

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Musisi Aksan Sjuman tak hanya terampil dalam bermusik. Dia juga piawai dalam membuat alat musik piano.

Kepiawaiannya diceritakan bersama arsitek Raul Renanda saat meluncurkan piano seri SR1928-The Awakening, baru-baru ini.

SR1928-The Awakening adalah Concert Grand Acoustic Piano kelas dunia yang dibuat secara handmade dengan manufaktur Saniharto Eggalhardjo.

“Piano seri SR1928-The Awakening adalah piano dengan kualitas profesional dibuat untuk market yang terbatas dan mewah (niche-luxury) dengan spesifikasi setara dengan piano terbaik di dunia,” kata Aksan yang ditemui Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (27/11).

Aksan menjelaskan, yang membedakan piano garapannya  dengan yang lainnya, adalah ukurannya yang merupakan grand piano terbesar.

“Pada umumnya piano berkisar 270 cm ke atas, yang dihitung dari ujung tuts piano ke besi belakang penyangga senar piano. Piano kami menggunakan sistem yang berukuran 275 cm,” terang Aksan.

Seperti namanya, ‘concert grand’, piano ini digunakan pada gedung-gedung kesenian berskala besar atau untuk konser piano solo, menciptakan suara yang dapat didengar oleh pemain musik pengiring dan pemirsa.

Pada piano SR1928 The Awakening ini, semua sistem komponen yang berhubungan dengan suara menggunakan komponen piano terbaik di dunia.

“Komponen sistem piano sangat banyak namun ada beberapa yang dapat kami banggakan,” kata Aksan bangga.

Diantara keunggulan itu adalah sistem mekanik pemukul senar menggunakan Epoxy Carbon Fiber, yang merupakan teknologi baru dalam sistem mekanik sebuah grand piano.

Untuk senar-nya  menggunakan teknologi Nickel Plated Finish yang tahan korosi dan memberikan efek warna ‘silver’.

“Dan yang sangat jarang digunakan dalam sebuah piano kelas konser adalah sistem piano yang dapat bermain sendiri dan dikontrol secara ‘wireless’ oleh perangkat tablet (iPad),” kata Aksan.

Untuk menggarap bentuk desain, Aksan menyerahkan pada arsitek Raul Renanda.

Raul Renanda mengatakan,  piano ini berbahan kayu jenis Spruce yang merupakan kayu terbaik untuk dapat menghasilkan resonansi suara yang digunakan ratusan tahun di Eropa untuk alat musik seperti Cello dan Biola.

Sedangkan desain piano terinspirasi oleh bentukan kapal layar yang merupakan simbolisasi perjalanan migrasi awal manusia yang menempati kepulauan di Nusantara pada zaman purba dan lintas perdangan antarpulau di Indonesia.

Soal nama piano SR1928 The Awakening, SR tentunya adalah gabungan nama akhir dari Aksan dan Raul, sedangkan 1928 adalah tahun diadakan Kongres Pemuda 2 yang melahirkan Sumpah Pemuda dan pertama kali diperkenalkan lagu Indonesia Raya.

“The Awakening terinspirasi dari momen Kebangkitan Nasional Indonesia dan menjadikan inspirasi kami untuk ‘berjuang’ mewujudkan mimpi bahwa kini sudah saatnya kita berani untuk memproduksi karya kita dengan fokus untuk menjadi yang terbaik di dunia,” kata Aksan.

Untuk menguji kemampuan piano ini,  di tempat yang sama, Aksan menggelar konser bersama Jakarta City Philharmonic pada Rabu  (27/11) lalu. (Rachmawati AB/KH).

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Wulan (Banten) Ungkit Masa Lalu Nassar

Published

on

By

Wulan (Banten) dengan lagu ‘Birunya Rindu’ membawanya ke puncak Top 12 Grup 1.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Babak TOP 12 LIDA 2020 memberi dua kali kesempatan untuk membuktikan kemampuan menyanyi, yakni Konser LIDA 2020 Top 12 Show dan Konser LIDA 2020 Top 12 Result Show.

Mereka juga ditantang untuk berduet dengan bintang-bintang Indosiar yang telah lebih dulu melambung namanya dari ajang pencarian bakat Indosiar.

Dua tantangan ini, Wulan (Banten) manfaatkan sebaik mungkin hingga akhirnya berbuah manis. Seperti diketahui, pada Konser Show Top 12, yang berlangsung Minggu (29/3), Wulan (Banten) berduet dengan Ical DA membawakan lagu Oleh-oleh yang dipopulerkan Rita Sugarto.

Hasil perolehan nilai sementara, Wulan harus puas di posisi terakhir. Sementara para pesaingnya di Grup 1 Top 12, seperti Hamid (Nusa Tenggara Timur, Diyah (Jawa Timur) dan Dini (Sumatera Utara) dinilai lebih unggul.

Situasi tidak mengenakkan ini, rupanya Wulan (Banten) jadikan sebagai pelecut semangat untuk tampil lebih baik pada Konser LIDA 2020 Top 12 Result Show, yang berlangsung Senin (30/3).

Hasilnya, sungguh membanggakan. Wulan tampil mengharubiru panggung LIDA 2020 lewat lagu  Birunya Rindu yang dipopulerkan Ikke Nurjanah. Seluruh Dewan Juri serentak memberikan standing ovation, bahkan Nassar sampai menitikkan air mata.

Rupanya penampilan Wulan telah mengingatkan Nassar pada masa lalunya yang sempat menerima polling pemirsa terrendah.

“Melihat penampilan kamu membuat saya teringat pada perjuangan saya dulu saat menerima polling terrendah. Kamu pun terlihat penuh harap untuk berada di kompetisi ini seterusnya. Saya berdoa, semoga Allah kasih kamu rezeki yang lebih baik supaya kamu semakin sukses,” pinta Nassar sambil mengusap air mata.

Lagu ‘Mati Lampu’ dengan aransemen berbeda, justru membuat Diyah (Jawa Timur) tertimpa kritik.

Konser Top 12 Grup 1 Result Show dibuka oleh Diyah (Jawa Timur). Ia tampil maksimal membawakan lagu Mati Lampu, yang dipopulerkan Rita Sugiarto dengan aransemen musik yang berbeda. Sayang, penampilan Diyah (Jawa Timur) dinilai tidak sebagus sebelumnya, sehingga dihujani kritik.

“Kesalahan seperti ini sebaiknya tidak dilakukan di babak yang sudah semakin kritis ini. Semoga kejadian ini bisa dijadikan pelajaran supaya penampilan berikutnya dapat lebih baik lagi. Semangat terus Diyah!”, tutur Lesti DA.

Masih menyanyikan lagu yang dipopulerkan Rita Sugiarto berjudul Makan Darah, Dini (Sumatera Utara) justru tampil menghibur lewat aksi centilnya. Pujian pun datang dari Reza DA.

“Dini patut berbangga karena diberikan kemampuan menyanyi sangat baik. Malam ini saya sangat terhibur dengan penampilan Dini. Saya masih ingin melihat Dini di babak selanjutnya,” puji Reza DA.

Si Centil, Dini dari Sumatera Utara melaju ke babak Top 9.

Sementara Hamid (Nusa Tenggara Timur) menghadirkan salah satu lagu hits Mansyur S, berjudul Zubaedah, menjadi lagu penutup kompetisi.

Hasilnya, sungguh mengecewakan. Hamid hanya mampu meraih polling di posisi terbawah atau sedikit lebih baik dari Diyah (Jawa Timur). Sementara Wulan (Banten) berada di puncak disusul Dini (Sumatera Utara).

Dewan Juri sepakat untuk menyelamatkan Diyah (Jawa Timur) dan dinyatakan berhak melaju ke babak Top 9. Itu artinya Hamid (Nusa Tenggara Timur harus rela tersenggol dari panggung LIDA 2020. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

Melly Goeslaw Rilis Single ‘Siap Terluka’ dari Cerita Sinetron

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Penyanyi dan pencipta lagu hits Melly Goeslaw kembali melepas single terbarunya berjudul Siap Terluka.

Lagu ini merupakan soundtrack dari sinetron berjudul Istri Kedua.

Dalam siaran pers yang diterima pada Selasa (31/3), Melly menyebutkan bahwa lagu tersebut terinspirasi dari alur cerita sinetron Istri Kedua garapan rumah produksi Sinemart.

Melly menjelaskan bahwa lagu Siap Terluka bercerita tentang seorang perempuan yang tetap mencintai kekasihnya, meski pria tersebut sudah memiliki perempuan lain.

“Lagu ini menceritakan tentang besarnya cinta seorang laki-laki, meskipun tahu bahwa lelaki tersebut telah mendua,” kata Melly.

“Tapi karena cintanya terlalu besar, wanita ini tetap ingin bersama lelaki ini, walaupun harus siap terluka,” imbuhnya.

Sebelumnya, Melly telah menciptakan lagu-lagu hits dari berbagai cerita film dan sinetron. Sebut saja, Ayat-ayat Cinta dan Ada Apa dengan Cinta?, untuk film berjudul sama. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Musik

‘Gelora Asmara’ dari Pasangan BIANCADIMAS

Published

on

By

Pasangan suami istri Dimas Wibisana dan Bianca Nelwan, yang lebih dikenal dengan grup duo BIANCADIMAS, kembali merilis single terbaru, berjudul Gelora Asmara.

Lewat single yang dirilis pada 27 Maret 2020 ini, mereka mengekspresikan sebuah kebersamaan dengan nuansa asmara yang begitu kental. Lirik tulusnya cinta dipadu dengan aransemen yang segar.

Gelora Asmara masih didominasi petikan gitar elektrik Dimas. Hanya saja, bebunyian drum elektrik elektrik synthesizer 90-an, membuat single ini berbeda dari single BIANCADIMAS sebelumnya. Sebut saja, single Cerita Kita dan Samudra Arjuna.

Gelora Asmara bernuansa santai dan lirik yang manis, menceritakan upaya meyakinkan orang yang dicinta bahwa cintanya tulus.

Untuk proses rekaman, Bianca dan Dimas dibantu oleh musisi Dimas Pradipta, selaku mixing dan mastering engineer dan dilakukan di rumah mereka.

Sebelum menggarap single Gelora Asmara, BIANCADIMAS telah menggarap sejumlah proyek musik bagi musisi kenamaan Tanah Air, seperti Fiersa Besari, Ghaitsa Kenang, Hanggini, Luthfi Aulia, Rahmania Astrini, Reza Rahadian, Trisouls, serta Ungu dan Citra Scholastika.

Dimas menjadi penata musik dan produser untuk soundtrack film Imperfect, menulis lagu Aku Tanpamu yang dibawakan Maizura untuk tema film Bebas.

Single Gelora Asmara sudah dapat Anda dinikmati dalam format audio, melalui beragam layanan musik streaming dan video musik dalam kanal YouTube BIANCADIMAS. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending