Connect with us

News 11

Angela Lee: Hutang Belum Terbayar, Suaminya Ajak Bunuh Diri

Published

on

Bermula dari keinginan mengembangkan bisnis tas mewah. Artis dan presenter Angela Lee tergiur tawaran pinjaman berbunga fantastis, ia pun kewalahan membayarnya. Akibatnya, ia  diintimidasi dan dilaporkan ke polisi karena dianggap membawa kabur uang beberapa pihak untuk membayar hutangnya, membuatnya depresi dan  sempat mau bunuh diri.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Selain menekuni karirnya sebagai artis, diam diam Angela Lee (30) juga menekuni bisnis tas mewah, tergiur keuntungan yang lumayan, sekitar 5-10 persen. Saat bisnis tas sedang sedang ramai, Angela tergiur untuk memperbesar usaha. Gayung bersambut, Angela menerima  tawaran pinjaman uang meski dengan bunga tinggi.

“Sebenarnya sudah beberapa tahun aku jual beli tas tanpa modal orang lain. Saat ada yang melihat (usahanya) ramai, ada yang kasih pinjaman uang dengan bunga sebulan 20 persen. Laku enggak laku, harus bayar bunga 20 persen,” kata Angela, di kantor pengacara Henry Indraguna, di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Angela mengaku telah teledor,  tidak berpikir panjang tentang  dampak dari besaran beban bunga pinjaman tersebut. Ditambah lagi,  dalam menjalankan bisnisnya, Angela mengaku tak memiliki pembukuan yang teratur dan rapi mengenai bisnisnya tersebut.

“Barang-barang yang laku maupun tidak, sama sekali tidak tercatat dengan baik. Memang aku salah, ada yang belum dan sudah laku. Yang belum aku nombokin. Utang muncul karena itu,” kata Angela.

Akibat beban bunga yang tinggi membuat Angela kewalahan untuk mencari uang pembayar cicilan. Belum lagi desakan para rentenir yang mulai meneror, membuat Angela menggunakan jurus ‘gali lubang tutup lubang’.

Di antaranya, menjual rumah dan mobil, bahkan  meminjam uang ke berbagai pihak demi melunasi pokok utang serta bunganya. “Setelah  enggak tahu ke mana. Aku pinjam sana-sini, gali lubang dan tutup lubang,” ujar Angela.

Sempat Mau Bunuh Diri

Berbagai tekanan psikis membuat Angela limbung dan mengaku sempat mau  bunuh diri. Ide bunuh diri dicetuskan oleh sang suami, namun batal dilaksanakan berkat upaya kakak kandung Angela.

“Suami memang ngajak. Dia, aku dan anak kami  untuk bunuh diri bareng-bareng, biar enggak ngerasain utang lagi. Tetapi, aku juga yang masih bingung dan takut buat bunuh diri. Rencana bunuh gagal karena dihalangi kakak aku di rumah,” kata Angela yang keberatan menyebut sosok suaminya.

Setelah ajakan pertama gagal, kembali sang suami mengajaknya bunuh diri. Kali ini Angel menolak dengan tegas dan berusaha kabur dari rumah.

“Aku sempat  diajakin bunuh diri lagi sama suami, tapi aku  menolak ajakan bunuh diri itu. Aku bilang, ‘Kamu aja yang bunuh diri. Kalau enggak mau, kamu diam di rumah, biar aku yang menyelesaikan utang-utang aku’,” ujar Angela menirukan suaminya.

Semua penderitaannya sudah pernah Angela Lee ungkapkan di laman  instagram miliknya,  @angelalee87, Selasa 17 Oktober silam. Sekalian Angela juga menjawab tuduhan sebagian orang, yang menganggap dirinya membawa kabur uang beberapa pihak untuk membayar utangnya.

Kini Angela  meminta bantuan hukum kepada pengacara Henry Indraguna.

Mendatangi Komnas HAM

Henry menjelaskan, awalnya Angela meminjam uang kepada seseorang berinisial ‘R’ sebesar Rp45 miliar, dengan bunga 4-7 persen per pekan. “Tetapi, Angel sudah mengembalikannya sebesar Rp43 miliar dengan 600 kali transaksi,” kata Henry sambil menunjukkan lembaran bukti pembayaran, di kantornya, Senin 6 November 2017.

Akibat belum lunas, ‘R’  mendesak Angela untuk melunasi utangnya dengan memaksa Angela  berutang ke pihak lain, demi menutupi hutang yang belum terbayar. Angel pun membuka hutang baru dengan meminjam uang kepada ‘S sebesar Rp115 miliar.

Henry menjelaskan bahwa utang Rp115 miliar tersebut sebenarnya sudah dilunasi sekitar Rp103 miliar, berikut uang administrasi sebesar Rp176 juta dan bunga sebesar Rp4 miliar. “Sudah dibayar nyicil sebanyak 126 transaksi. Tetapi, ‘S’ kok, masih melaporkan Angel ke Polres Sleman, DIY atas dugaan penipuan dan penggelapan,” kata Henry.

Sudah begitu Angela masih  harus menyerahkan rumah dan mobil harta kepada S, serta sejumlah kerugian lain yang tak terhitung baik secara materil dan psikis melalui sejumlah tekanan hingga membuat Angela depresi.

“Angela dipaksa untuk menyerahkan rumahnya atau diambil secara paksa. Rumah diserahkan dan dibuat nota penjualan sebesar Rp1,4 miliar. Setelah itu, mobilnya diambil paksa juga, itu sebesar Rp246 juta. Bahkan, uang endorse dia sebagai artis itu ditungguiin, begitu masuk langsung diambil,” ujar Henry.

Hanya saja, begitu perkara yang seharusnya ranah perdata justru dilaporkan menggunakan delik pidana oleh ‘S’ ke Polres Sleman, Angela menggandeng pun Henry Indraguna mendatangi Komnas HAM.

“Menurut hemat kami perkara ini adalah perkara perdata, tetapi entah kenapa  dibawa ke ranah pidana. Makanya kami minta perlindungan hukum ke Komnas HAM,” ujar Henry. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Humaniora Foundation Rutin Bantu Kaum Dhuafa

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
Syukuran ulang tahun Humaniora Foundation saban tahunnya, ditandai dengan acara berbuka puasa bersama, pemberian santunan bagi anak yatim, kaum dhua’fa, dan janda lanjut usia berprofesi sebagai pemulung. “Namun, karena ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan mencegah penyebaran virus Covid 19, acaranya dilakukan terbatas, jelas Eddie Karsito, selaku pendiri lembaga nirlaba, Humaniora Foundation.

Meski demikian, lanjut Eddie tetap ada pemberian santunan. Selama tiga pekan terakhir, melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, “Kami menyalurkan bantuan untuk masyarakat yang terimbas wabah Covid 19,” terang Eddie dengan senyum yang khasnya itu.

Sumbangan dibagikan khususnya untuk para pemulung, janda lanjut usia, serta para pekerja keras di sektor non-formal. Antara lain, kuli bangunan, pekerja galian tanah, petugas kebersihan angkut sampah, pembantu rumah tangga (PRT), pedagang keliling, pengamen, serta profesi lainnya

Sejak didirikan, ungkap Eddie, Humaniora Foundation tidak memiliki sumber pendanaan dan donatur tetap. Namun bantuan terus mengalir dari masyarakat tanpa diminta, baik sumbangan uang tunai, maupun kebutuhan pokok.

“Selama pandemi Covid 19, lebih dari 25 juta rupiah nilai sumbangan telah disalurkan Humaniora Foundation,” tukasnya. Nilai tersebut, cerita Eddie merupakan akumulasi sumbangan masyarakat, baik sumbangan berbentuk uang tunai, sembako, makanan, minuman, dan alat kesehatan berbentuk masker, dan lain-lain.

“Pelayanan ini adalah anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita. Alhamdulillah, meskipun kita tidak layak (dhoif : lemah) — tidak ada donatur tetap, tetapi Tuhan melayakkan (menolong) kita, untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya,” ujar relawan yang pernah mendapat penghargaan sebagai Pendiri Yayasan Pendukung Karir dan Prestasi “Pembangunan Award 2013” dari Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia ini.

Para volunteer yang terlibat di kerja sosial ini, kata Eddie, sebagian besar adalah anggota, dan pengurus Sanggar Humaniora. Sebagian lainnya adalah para artis yang tergabung di Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH).

_*“Semua relawan kami tidak ada yang menerima upah. Apapun bentuk bantuan dari masyarakat kami sepakat tidak boleh menikmatinya. Bantuan selalu dibagi habis untuk masyarakat yang lebih membutuhkan,” tutup Eddie Karsito. (Zar/ KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending