Connect with us

Film

Ayo Nonton Film Nasional di Bioskop

Published

on

Kabarhiburan.com – Bioskop menutup semua aktivitasnya sejak awal pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Masyarakat tidak dapat lagi mengakses fasilitas menonton film di bioskop, sebagai ujung tombak utama perputaran bisnis film di Indonesia. Di sisi lain, nyaris seluruh produksi film pun terhenti sehingga aktor, aktris dan kru film kehilangan mata pencaharian.

Demikian, antara lain disampaikan Djonny Syafruddin, pengusaha bioskop sekaligus Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI).

“Bagi kami pandemi merupakan pukulan berat. Berhenti dan secara ekonomi, ya kerugian kami sangat besar,” ujar Djonny, selaku panelis di acara Kampanye Nonton Film Nasional, dalam rangka Milad DFI Ke-8, di bioskop CGV Grand Indonesia, Jakarta (8/12).

Acara yang diinisiasi Komunitas Demi Film Indonesia (DFI) tersebut juga menghadirkan  produser film, Ody Mulya Hidayat, aktris Putri Ayudia, Pengelola bioskop Cinepolis Albert, Candra Wibowo dari PFN dan Nujum dari Direktorat Musik, Film, dan Media, Kemendikbud RI, serta sejumlah pengelola bioskop dan puluhan kaum milenial yang hobi nonton film nasional.

Setelah lebih dari setahun ditutup, pada Oktober 2021 aktivitas bioskop secara bertahap kembali dibuka. Bioskop yang tadinya meredup, lambat laun bisa dinikmati masyarakat, khususnya generasi muda.

Situasi ini diharapkan mampu mengembalikan antusias penonton seperti sedia kala, untuk kembali menikmati film nasional di gedung bioskop.

“Maka program ‘Ayo Nonton Film Nasional di Bioskop’ ini sangat tepat. Kami, pemerintah mendukung kampanye yang diinisiasi oleh DFI ini,” jelas Nujum.

Senada dengan Direktorat Musik, Film, dan Media Kemendikbud Ristek RI, Ody Mulya juga menaruh harapannya agar dibukanya kembali bioskop akan menggerakkan ekonomi di bidang film yang lumpuh selama pandemi.

”Semoga pertanda baik ini akan membuat film Indonesia akan semakin baik. Apalagi bulan Desember bagi produser adalah saat panen penonton film,” jelas Ody dari Max Picture yang sukses dengan film berjudul Dilan.

Bagi Putri Ayudia, kampanye menonton film ini harus terus digalakkan. Bahkan dengan spontan, pelakon di film Yo Wis Ben, ini mengajak yang hadir untuk membanjiri medsos dengan ‘Ayo Nonton Film Nasional di Bioskop’.

Semangat tersebut juga membuat Albert Chandra Wibowo perwakilan pengelola bisokop Cinepolis gembira. Kampanye yang dihadiri kaum milenial yang mayoritas memenuhi gedung bioskop selama ini.

Penyelenggaraan ‘Kampanye Ayo Nonton Film Nasional di Bioskop’ diharapkan akan berlanjut di waktu dan tempat yang berbeda.

Yan Wijaya dan Arul Muchsen dari DFI merasa senang, karena apa yang dilakukannya mendapat respon positif dari produser dan pengelola bioskop. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Kopiko Kembali Warnai Drama Korea: ‘Today’s Webtoon’, ‘Adamas’ dan ‘Little Women’

Published

on

By

Kopiko tampil di berbagai drama Korea (foto: Ist)

Kabarhiburan.com – Kopiko kembali membuat heboh pecinta drama Korea di dunia. Permen kopi asal Indonesia tersebut kini muncul di tiga drama Korea terbaru sekaligus.

Ketiga drama Korea dimaksud adalah ‘Today’s Webtoon’, ‘Adamas’ dan ‘Little Women’, sedang tayang dan menampilkan Kopiko. Bahkan kabarnya, tahun ini masih ada 15 drama Korea yang ikut menampilkan Kopiko.

Sebelumnya, Kopiko muncul di berbagai drama Korea favorit sepanjang 2021, mulai dari ‘Vicenzo’, ‘Hometown Cha Cha Cha’, ‘Mine’ hingga ‘Yumi Cells’.

Rasanya tidak berlebihan, kalau mendapat julukan Kopiko Drama (K-Drama) melihat kemunculan Kopiko di berbagai drama Korea. Netizen pun dibuat tidak sabar menantikan peran Kopiko pada drama Korea yang lain.

Dalam ‘Today’s Webton’, On Ma-eum yang diperankan oleh Kim Se-Jeong mengantuk saat lembur di kantor. Dia pun menikmati Kopiko lalu membagikannya kepada rekan kerjanya, Gun Jun-yeong (Nam Yoon Soo), lalu menikmatinya bersama. Apakah Kopiko akan jadi ‘cupid’ untuk kisah cinta mereka?

Sementara di ‘Adamas’, Kopiko menjadi permen favorit Song Soo Hyun, yang selalu sedia dikantongnya. Kopiko menjadi andalannya manakala kantuk menyerangnya, saat menyusun strategi untuk mengungkap misteri pembunuhan.

Demikian pula di ‘Little Woman’. Kopiko siap menemani Oh In-Kyung agar bisa fokus bekerja keras, meski sering mendapat perlakukan buruk dari sunbaenim-nya (senior).

Gebrakan Kopiko untuk melebarkan pasar melalui drama Korea, memang tidak main-main. Kopiko memerlukan investasi hingga Rp 5 Miliar untuk tampil per episode.

Hasilnya, selalu selalu sukses membuat bangga, sekaligus membuat penasaran menantikan langkah Kopiko berikutnya.

Kopiko yang terbuat dari biji kopi terbaik dari pegunungan vulkanik Indonesia, sudah dinikmati dan disukai oleh miliaran konsumen di lebih dari 100 negara di seluruh dunia. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

FFWI 2022 Memaknai Nasionalisme Lewat Film Indonesia

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Sejatinya film telah berkembang menjadi media seni yang mampu mentransformasikan nilai-nilai kemanusiaan, religi, pendidikan, hingga nasionalisme yang bisa menjadi tuntunan sekaligus tontonan untuk dinikmati khalayak.

Demikian antara lain disampaikan Edi Suwardi, selaku Ketua Tim Pokja Alif Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM) Kemendikbud Ristek RI, dalam diskusi webinar yang digelar panitia Festival Film Wartawan Indonesia, (FFWI) XII, Jumat, 16 September 2022.

Wartawan senior sekaligus anggota LSF, Rita Sri Hastuti, yang memandu acara ini juga menghadirkan Zinggara Hidayat, penulis buku ‘Jejak Usmar Ismail’ dan Denni Siregar produser film ‘Sayap Sayap Patah’.

Dalam pandangan Edi Suwardi, film bertema nasionalisme biasanya memuat pesan baik, seperti rela berkorban, menjunjung tinggi persatuan, mau saling bekerja sama, mau saling menghormati dan menghargai perbedaan, sekaligus selalu bangga menjadi warga negara Indonesia.

Demikian pula, Zinggara Hidayat menegaskan bahwa nasionalisme dalam film tidak diartikan kaku, seperti halnya film perang kemerdekaan melawan penjajah di masa lalu. Zaman telah berubah, maka pengertian nasionalisme pun mengalami pergeseran.

“Nasionalisme itu bisa terlihat dari termuatnya dimensi kutural dengan cara yang soft. Ini memerlukan penulis skenario yang cerdas. Idenya harus luar biasa, di dalamnya ada improvisasi,” kata Zinggara.

Ia mencontohkan nasionalisme di masa lampu ada di film ‘Tiga Dara’ karya Usmar Ismail dari  naskah karya M. Alwi Dahlan. Di sana memperlihatkan gaya dansa-dansi, beragam warna musik, fashion dari kebaya hingga baju modern, makanan cemilan, bahkan juga motor skuter yang dipakai oleh pemain. Dimensi kulturalnya masuk semua.

“Sementara itu menampilkan nasionalisme di zaman kini bisa dimunculkan dalam berbagai hal. Selain soal budaya, fashion, jenis makanan tertentu, bisa pula memperlihatkan daerah tertentu dengan lebih detail,” jelas Zinggara.

Ketua Panitia FFWI XII Wina Armada Sukardi dalam sambutannya mengatakan film ‘Sayap Sayap Patah’ dibintangi Ariel Tatum dan Nicholas Saputra telah menjadi fenomena baru. Film yang dianggap memuat rasa nasionalisme itu telah mematahkan mitos, bahwa film yang berunsur nasionalisme ternyata disukai penonton.

“Dari sisi finansial, kalau dihitung lebih dari 2 juta yang menonton ‘Sayap-Sayap Patah’, berarti produser bisa mengantongi Rp 40 miliar. Kita ikut gembira,” ujar Wina Armada.

Film ‘Sayap Sayap Patah’ oleh produser Denny Siregar bersama sutradara Rudi Soedjarwo, dengan naskah ditulis oleh trio Alim Sudio, Monty Tiwa dan Eric Tiwa mampu menerjemahkan makna nasionalisme ke dalam film dengan kemasan drama romantis. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Film Animasi Islami ‘The Journey’ Siap Tayang di TVRI

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Memasuki pekan pertama September 2022, pecinta animasi di Tanah Air akan dihibur oleh film ‘The Jouney’.

Film animasi bernuansa Islami yang berdurasi 100 menit, ini merupakan hasil kolaborasi Internasional antara Manga Production Arab Saudi dengan Toei Animation Jepang.

Setelah tayang perdana di Jepang pada pertengahan 2021 silam, giliran Perum PFN (Produksi Film Negara) menayangkan The Journey di Indonesia. Dimulai dari bioskop CGV Jakarta pada Kamis 1 September silam, yang diikuti oleh kanal OTT seperti Maxstream, Kanal budaya dan TVRI.

Dr Essam Bukhary selaku Executive Producer Manga Productions mengatakan bahwa ‘The Journey’ mencerminkan standar tinggi para profesional berbakat dan berpengalaman dari Jepang dan Arab Saudi.

“Ini akan menjadi batu loncatan dari banyak proyek lain bagi Manga Productions yang bersaing dengan kualitas standar internasional dengan berkolaborasi dengan filmmaker Asia lainnya,” ujar Essam.

The Journey’ mengisahkan perjalanan hidup Aws, seorang pembuat tembikar di Mekah yang mengangkat senjata untuk melindungi kotanya dari penjajah yang dipimpin oleh Jenderal Abraha. Aws dan teman-temannya bertekad untuk mencegah agar tidak diperbudak dan kota mereka dihancurkan.

Jalan cerita yang diangkat dari salah satu surat dalam Al Qur’an, inilah yang menjadi daya tarik Perum PFN menyebarkan pesan moral bagi masyarakat, terutama anak anak. Selain itu juga film ini mengandung pesan tentang toleransi dalam bermasyarakat.

“Melalui kampanye kali ini, harapannya kami dapat menekan isu intoleran, sekaligus mengedukasi masyarakat. Yang utamanya bagi para generasi muda tentang toleransi, diversitas da saling menghargai,” kata Direktur Utama Perum PFN, Dwi Heriyanto B.

Penayangan film ‘The Journey’ di Indonesia, juga membuka pintu kolaborasi global antara filmmaker Indonesia, Asia dan Timur Tengah yang nantinya akan dijembatani oleh ACBS.

Kerjasama ini menjadi pintu kolaborasi awal yang akan diikuti dengan pertukaran konten kreatif lainnya berupa produksi dan distribusi film antara Indonesia dengan negara asia lainnya dan Timur Tengah melalui Manga Productions.

“Alasan lain mengapa Perum PFN memilih bentuk kerjasama ini, dikarenakan untuk mensukseskan misi Indonesia dalam membentuk dan membangun bangsa yang berahlak,” pungkas Dwi Heriyanto. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending