Connect with us

Film

Buku Harianku, Film Petualangan Anak Tayang Februari 2020

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Film berjudul Buku Harianku rencananya akan tayang di gedung bioskop Tanah Air pada 12 Maret mendatang.

Sebelum sampai kesana, rumah produksi Bro’s Studio dan Blue Sheep Entertainment memperkenalkan trailer dan poster film Buku harianku, di bioskop CGV, FX Sudirman, Jakarta, Selasa (4/2).

Sutradaranya, Angling Sagaran mengatakan bahwa film Buku Harianku merupakan wujud dari impiannya sejak lama untuk menyutradarai film bergenre anak.

“Pertama kali membaca naskah film ini, saya langsung tertarik. Saya merasa tersentuh dengan ceritanya. Ditambah lagi film ini juga memasukkan unsur musikal. Sudah menjadi impian saya sejak lama menyutradarai film yang di dalamnya mengandung unsur music,” ujar Angling yang sebelumnya anak band.

Angling memperkaya filmnya dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh pemeran utama, Kila Putri Alam (10).

Setiap lagu yang dihadirkan diperkaya dengan koreografi yang menarik. Salah satu lagu berjudul Burung Parkit, telah Kila rilis pada akhir 2019 melalui label Bro’s Music.

Produser Bobby Bossa dari Bro’s Studio berharap akan menambah hiburan keluarga untuk ditonton bersama, sekaligus memperkaya perfilman Indonesia.

“Salah satu motivasi kami yang mendorong kami membuat film ini adalah untuk menambah hiburan yang baik untuk anak, ditambah pula dengan lagu-lagu anak yang memang cocok untuk usia mereka,” Bobby Bossa.

Selain Kila Putri Alam, film ini juga menghadirkan keluarga Dwi Sasono alias @thesasonosfam yang terdiri dari Dwi Sasono (memerankan tokoh Arya Winoyo), Widi Mulia (Riska
Handayani), dan Widuri Putri Sasono (Rintik). Mereka untuk pertama kali main bersama dalam satu film.

Naskah Buku Harianku ditulis oleh Alim Sudio, menceritakan Kila, bocah berusia 8 tahun yang senang mencurahkan isi hatinya ke dalam tulisan di buku harian.

Untuk menghabiskan masa liburan sekolah, Kila dititipkan oleh ibunya ke rumah kakeknya, Prapto di Desa Goalpara, Sukabumi.

Di desa yang asri tersebut, Kila bertemu kembali dengan kawan lamanya, Rintik, yang diproteksi oleh ibunya karena menyandang disabilitas. Meski demikian, Rintik menjadi teman baik bagi Kila.

Keceriaan Kila semakin bertambah karena mendapatkan teman-teman baru yang sebaya di desa tersebut. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain, bernyanyi riang, bahkan ikut latihan baris-berbaris dengan komando Kakek Prapto yang seorang pensiunan tentara.

Kila juga ikut membantu warga desa untuk keluar dari jeratan perangkap seorang pengusaha properti.(Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Debut Akting Di Film Horor Ivanna, Hiroaki Kato Rela Potong Rambut

Published

on

By

Hiroaki Kato

Kabarhiburan.com – Musisi asal Jepang, Hiroaki Kato melakukan debut akting di film horor berjudul ‘Ivanna’, yang tayang di bioskop Tanah Air mulai Kamis, 14 Juli 2022 mendatang.

Pada film ini Hiroaki Kato berperan sebagai Matsuya, seorang prajurit Jepang yang memiliki peran penting dalam teror hantu perempuan Belanda.

“Karena saya pertama kali main film, jadi semua proses itu pengalaman baru buat aku. Reading, workshop, sampai menemukan Matsuya itu kayak gimana. Semua tantangan,” ujar Hiro usai saat Gala Premiere film Ivanna di bioskop Epicentrrum, Senin, 11 Juli 2022.

Pengalaman syuting tersebut begitu membekas di benak Hiroaki Kato karena berlangsung di masa pandemi Covid-19.

“Protokolnya sangat ketat, enggak bisa keluar dari hotel. Kita bolak balik hotel dan lokasi syuting. Lumayan stres juga harus ada di kamar terus,” kenang suami Arina “Mocca” ini.

Demi mendalami karakter sebagai prajurit Jepang, Hiro tidak segan segan memangkas rambutnya yang sejak lama menjadi ciri khas penampilannya.

“Aku potong 45 sentimeter rambutnya. Aku 15 tahun manjangin rambut, tapi jadi botak sampe empat mili demi Matsuya,” tuturnya.

Selain Hiroaki Kato, film ‘Ivanna’ juga dibintangi oleh sejumlah bintang muda ternama. Di antaranya Caitlin Helderman, Jovarel Callum, Junior Roberts, Shandy William, dan Sonia Alyssa.

Film ‘Ivanna’ menceritakan tentang Ambar yang mendapatkan teror ketika merayakan lebaran di Bandung. Teror itu datang dari hantu perempuan Belanda bernama Ivanna, yang merupakan korban ketidakadilan pada masa transisi penjajahan Belanda dan Jepang.

Sutradaranya, Kimo Stamboel mengadaptasi cerita tersebut dari novel berjudul Ivanna Van Dijk karya Risa Saraswati.

Selain Hiroaki Kato, ‘Ivanna’ juga dibintangi oleh sejumlah bintang muda ternama. Mereka adalah Caitlin Helderman, Jovarel Callum, Junior Roberts, Shandy William dan Sonia Alyssa. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Film ‘Between Us’ Ajak Penonton Nikmati Keindahan Alam di Toraja

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Keindahan ‘negeri di atas awan’ di Kampung Lolai di Toraja yang eksotis, dengan barisan rumah adat Toraja yang disebut Longkonan Lempe, di Sulawesi Selatan, dipilih menjadi lokasi pembuatan film ‘Between Us’.

Film bergenre drama keluarga ini diproduksi rumah produksi Idnesian dan Bamboe Films akan tayang di bioskop Tanah Air, mulai 21 Juli 2022 mendatang.

Menariknya, sutradara Andreuw Parinussa memilih aktris dan penyanyi Maizura dan aktor Rizky De Keizer yang tengah digandrungi anak muda belakangan ini.

Sebagai pemeran utama, Maizura menceritakan karakternya sebagai Tara, sosok mahasiswi yang kalau bicara selalu blak-blakan dan tegas.

“Ditambah, ada kemiripan Tara dengan saya, yakni tomboy  dan lumayan perasa,” ujar Maizura usai Preview Film ‘Between Us’ di Bioskop Setia Budi, Jakarta Selatan, Kamis (7/7/2022).

Gadis kelahiran Makassar ini turut mengapresiasi kebangkitan perfilman Indonesia dengan karya yang semakin bagus dan cerita yang lebih berwarna.

“Saya yakin masa depan perfilman Indonesia akan terus meningkat kualitasnya dengan tidak mengurangi nilai norma yang Indonesia miliki,” pinta aktris peraih penghargaan Aktris Pendatang Baru Terpilih di Piala Maya 2020.

Sepanjang perjalanan cerita film yang mengungkap konflik anak dan ayah itu, mata penonton akan disegarkan oleh keindahan alam Toraja, Makassar dan Palopo. Selain itu film Between Us juga ingin mengangkat nilai budaya, kearifan lokal serta pendidikan keluarga.

“Pesan yang kental di sini adalah jangan serta merta membenci ayah karena tidak selalu laki-laki yang meninggalkan rumah akan salah. Ibu juga bisa salah,” ujar produser menceritakan proses syuting ‘Between Us’ yang berlangsung selama 3 bulan.

Dia menjelaskan hal yang paling menantang adalah melakukan pengambilan gambar di Lolai Tongkonan Lempe, ada kalanya kurang bagus landscape-nya kalau sudah siang hari.

Perjalanan yang sulit menuju Kampung Lolai dengan membawa peralatan, membuat para kru harus bekerja keras membawanya dan menjadi salah satu cerita yang tidak pernah terlupakan.

Pendek kata, meski judulnya berbahasa Inggris, namun produsernya menjanjikan bahwa film ini sangat kental dengan potensi lokal yang layak diketahui dunia.

“Diharapkan film ‘Between Us’ dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, khususnya orang Bugis yang tersebar di seantero Nusantara,” pintanya. (Tumpak).

Continue Reading

Film

Webinar FFWI 2022: Buku Best Seller, Film Box Office?

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Industri film di Indonesia kembali bersemi, baik dari jumlah penonton maupun kualitasnya. Dari sekian banyak judul film yang dirilis, tidak sedikit film yang skenarionya diadaptasi dari novel dengan embel-embel best seller.

Hasilnya, film-film adaptasi ternyata mampu mengundang sangat banyak penonton ke bioskop. Sebut saja, ‘Dilan 1990’ menjadi salah satu film box office dengan 6,3 juta penonton, disusul yang terbaru, ‘KKN di Desa Penari’ kini menembus 9 juta penonton.

Buku Best Seller, Film Box Office juga dipilih Panitia FFWI 2022 sebagai tema dalam webinar kedua, yang berlangsung Selasa 7 Juni 2022.

Sekitar 50 wartawan dan pekerja film menyimak penjelasan nara sumber kompeten. Di sana ada moderator Noorca M Massardi dari Lembaga Sensor Film, sutradara Hanung Hanung Bramantyo, Novelis Asma Nadia dan penulis skenario Jujur Prananto.

Hadir pula Wina Armada selaku Ketua Pelaksana FFWI 2022, dan Eddy Suwardi Dit PMM Kemendikud Ristek.

Bagi Hanung Bramantyo, mengangkat cerita novel dengan embel-embel best seller ke layar film punya tantangan tersendiri, karena problem utama dalam pembuatan film adaptasi karya novel ke film. Sebetulnya tidak hanya pada kreativitas film maker, tetapi juga pada mindset penonton.

“Jika penonton sudah punya kesadaran bahwa film adalah sebuah karya baru dari novel, maka sebuah film mengadaptasi novel apapun hasilnya, tidak akan jadi persoalan lagi,” ujar sutradara sutradara sukses memfilmkan novel laris ke film, seperti ‘Ayat Ayat Cinta’, ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Bumi Manusia’, ini.

Ia mengatakan, novel ditulis oleh satu orang dan mempunyai ruang dan waktu yang luas. Sedangkan film digerakkan oleh banyak orang. Sangat tidak mungkin dikerjakan oleh seorang diri, sehebat apapun sutradaranya.

Sudah begitu, novel bisa dibaca kapan saja dan mau berhenti dulu, makan atau minum dulu. Sebaliknya film punya keterbatasan waktu tayang. Untuk film nasional rata rata durasi putarnya satu setengah jam atau dua jam.

“Jadi, tidak semua yang ada di novel itu bisa dijadikan dalam keterbatasan ruang dan waktu itu,” ujar Hanung menjelaskan tantangannya sebagai sutradara memfilmkan novel.

Penulis novel Asma Nadia juga membenarkan bahwa film dan novel adalah dua kreatifitas yang berbeda. Di sinilah pentingnya komunikasi yang baik antara penulis novel, sutradara, penulis skenario dan produser.

”Penulis novel tidak boleh egois, bahwa cerita film harus seratus persen sama. Di pihak lain sutradara, produser atau penulis skenario tidak merusak benang merah cerita,” kata Asma Nadia, yang novelnya seperti ‘Assalammualaikum Beijing’ dan ‘Jilbab Traveller’ sukses difilmkan.

Sementara Jujur Prananto menyebutkan tidak semua yang tertulis di novel akan bisa semuanya difilmkan.

“Di sinilah penting komunikasi. Tapi, kalau ada penulis novel yang ngotot, baiknya saya sebagai penulis skenario memilih mundur,” ungkap Jujur Prananto peraih Piala Citra Festival Film Indonesia.

Jujur Prananto mengaku akan menolak saja menuliskan skenarionya kalau merasa sulit menemukan konflik dan ketegangan dari filmnya nanti.

“Sebaliknya, beberaps novel sudah bernuansa filmis. Suasana dan strukturnya oke banget. Jadi saya enggak sulit memindahkannya ke skenario,” kata Jujur, penulis skenario ‘Ada Apa dengan Cinta’. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending