Connect with us

Musik

‘Bunga untuk Mira’, Opera Musikal Hadirkan Cerita Rakyat dengan Kemasan Modern

Published

on

Aktris Shae, pemeran utama dalam opera musikal ‘Bunga untuk Mira’.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Namanya cukup singkat, Mira. Seorang penari kontemporer terkenal, yang selalu ingin jadi pusat perhatian. Apalagi, orang-orang di sekitarnya selalu mendukung ambisinya. Sebut saja, ibunya, penata riasnya, bahkan manajernya.

Tahun ini, Mira menargetkan untuk merebut perhatian Andre, seorang promotor ternama sekaligus pemilik gedung teater. Selain ambisi tersebut, Mira terlebih dulu memanipulasi Puti, saudara tirinya.

Kebalikan dari Mira, Puti adalah seorang botanis yang berhati lembut. Puti yang sedang mempersiapkan produk kosmetika berbahan herbal, akhirnya menerima bantuan Mira.

Demikian bingkai cerita yang akan ditawarkan pementasan opera berjudul Bunga Untuk Mira, yang digelar malam ini, Sabtu (22/12) dan Minggu (23/12).

Penulis cerita sekaligus sutradaranya,  Mia Johannes atau biasa disapa Mhyajo, berupaya menyajikan ambisi, cinta, konflik dan kematian.

Pagelaran berdurasi lebih dari 90 menit ini digarap modern, terlihat dari penataan visual panggung oleh Alexander Triyono dan penataan cahaya oleh Iwan Hutapea yang detil.

Keduanya mendukung sisi orkestrasi yang digarap Indra Perkasa. Selain ada Nabil Husein sebagai penata suara dan penata musik Mondo Gascaro.

Sebagian pendukung opera musikal, yang hadir dalam jumpa pers, Jumat (21/12).

Kehadiran mereka di balik panggung telah mendukung harapan Mhya yang menawarkan konsep pertunjukan baru. Yakni pementasan teater ala broadway yang memadukan tari dan musikal.

Mhyajo mengemas cerita Bunga untuk Mira, terinspirasi oleh cerita Nusantara, Bawang Merah dan Bawang Putih. Kemudian mengemasnya secara bebas dalam imajinasi fiksi ilmiah.

“Saya mengganti nama dua tokoh utama Bawah Merah menjadi Mira, dan Bawang Putih menjadi Puti agar bisa diterima banyak orang. Saya juga mengaitkan benang merah kisah yang sama dengan cerita aslinya,” ungkap Mhyajo, yang ditemui di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jum’at (21/12).

Baginya, mementaskan tetater ala broadway merupakan sebuah tantangan luar biasa. Terutama, bagaimana menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi milenial untuk datang menyaksikan pertunjukannya.

“Oleh karena itu kami mengemas teater musikal ini secara modern, untuk menarik minat generasi milenial,” kata Mhyajo yang didampingi oleh para pemain, tim artistik, musik, penata tari dan produser.

Acara potong tumpeng menjelang pertunjukan musikal ‘Bunga untuk Mira’, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Untuk itu Mhyajo memerlukan kelengkapan dan tim yang terpadu dalam kerjasama. Mhya bersyukur banyak professional. Beruntung Mhyajo, tidak perlu membayar mereka secara professional.

“Kalau harus membayar mereka, tentu saya enggak sanggup. Untungnya mereka mau membantu saya dengan sukarela,” ungkap Mhyajo.

Pergelaran Bunga Untuk Mira akan berlangsung live orchestra, begitu pula dengan nyanyian dari pemain. Mhya menghadirkan tradisi musikal Broadway, dan membebaskan para pemusik untuk memberikan sentuhan apapun.

“Biarlah mereka bermain dengan imajinasi mereka. Mereka bole memberi sentuhan modern, pop, dan sampai dark. Saya menyebutnya, jazz fantasi,” kata Mhyajo.

Pementasan musikal ini akan menampilkan penyanyi Shae, Daniel Adnan, Johan Yanuar dan pemain harpa Maya Hasan.

Hanya saja, Maya Hasan dalam pementasan ini bukan sebagai pemain harpa, melainkan sebagai ibu berkarakter antagonis.

“Bagi saya teater sebenarnya bukan pengalaman baru. Saya pernah bergabung dengan teaternya Mas Slamet Rahardjo. Pementasan kali ini adalah semacam nostalgia sekaligus tantangan untuk tampil lagi dalam media yang berbeda,” ujar Maya Hasan. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Duta Provinsi Jambi, Jawa Barat dan Maluku Utara Tampil di ‘Konser Menuju Puncak’

Published

on

By

Meli (Jawa Barat) menduduki tempat teratas di antara 3 grand finalis LIDA 2020.

Kabarhiburan.com – Indosiar akan menggelar Konser Menuju Puncak LIDA 2020, pada hari Sabtu, 26 September 2020 LIVE pukul 20.00 WIB.

Konser tersebut menampilkan tiga Duta Provinsi sebagai Grand Finalis yakni Meli (Jawa Barat), Hari (Jambi) dan Gunawan (Maluku Utara).

Untuk itu, pemirsa dapat mengirimkan dukungan sebanyak-banyaknya melalui SMS dengan format LIDA (spasi) Nama Duta Provinsi kirim ke 97288.

Ketiganya memastikan diri akan memperebutkan hadiah total senilai Rp 1 Miliar dan piala bergilir bagi provinsi kebanggannya, setelah mengalahkan 67 duta lainnya dari 34 provinsi di Indonesia. Termasuk memutus langkah Wulan (Banten) pada babak Top 4 Result Show, Kamis (24/9) malam.

Konser Top 4 tersebut dipandu oleh Ramzi, Irfan Hakim, Gilang Dirga, Rizky Billar, Rara LIDA, dan Jirayut DAA. Keempat Duta Provinsi menerima tantangan berduet dengan Dewan Juri, yakni Soimah, Dewi Perssik, Inul Daratista, dan Nassar.

Wulan (kiri) tersisih di Konser TOP 4 LIDA 2020

Kompetisi dibuka oleh penampilan Wulan berduet dengan Inul Daratista, menyanyikan lagu Madu Tuba sukses membuat seluruh Dewan Juri memberikan standing ovation.

“Wulan, penampilan kamu dengan Mbak Inul sukses, keren banget. Kamu tidak terlihat minder, sehingga dapat saling mengimbangi. Semoga warga Banten mengirimkan dukungan SMS untuk kamu sebanyak-banyaknya,” pinta Soimah.

Duet apik juga disuguhkan Gunawan dan Soimah yang menampilkan mashup lagu berjudul Baca dan Jagad Anyar Kang Dumadi. Seluruh Dewan Juri pun memberikan standing ovation bagi Gunawan dan Soimah.

Suasana konser Top 4 LIDA 2020 Result Show semakin meriah oleh kehadiran lagu Mari Berdendang, persembahan Hari dan Dewi Perssik.

Hari (Jambi) terbilang istimewa, lantaran berduet dengan dua dewan juri, yakni dengan Dewi Perssik dan Lesti DA.

Seluruh Dewan Juri memuji duet tersebut. Bahkan Lesti DA mengajak Hari berduet menyanyikan lagu yang sama, juga sukses membuat cemburu Rizky Billar.

Tentu saja, Meli tidak mau kalah dari ketiga pesaingnya. Gadis dari ranah Sunda ini pun berupaya tampil maksimal saat berduet dengan Nassar, menyanyikan lagu Gejolak Asmara. Hasilnya, Meli sukses mencuri hati seluruh hati Dewan Juri.

Keempat Duta Provinsi telah berupaya tampil dengan maksimal, namun dukungan yang dikirimkan pemirsa melalui SMS menjadi penentu nasib mereka di panggung LIDA 2020.

Perolehan akhir polling LIDA 2020 menempatkan Meli di posisi teratas, disusul oleh Hari dan Gunawan. Sementara Wulan (Banten) berada di posisi terendah. Itu artinya, Wulan gagal melaju ke babak Grand Final LIDA 2020. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto-Foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

Cerita Nadiya Rawil Tentang Orang Ketiga di Single ‘Satu di Antara Berjuta’

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Betapa tidak nyaman menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan asmara. Pesan tersebut dihadirkan penyanyi pendatang baru Nadiya Rawil lewat single perdananya berjudul Satu di Antara Berjuta.

Lagu ini bercerita tentang orang yang menyadari bahwa posisinya sebagai orang ketiga, tidak baik untuk dirinya, sosok yang dia cintai, maupun bagi kekasih sosok tersebut. Sampai akhirnya, memutuskan untuk mengalah dengan menjauh dari orang yang dia cintai.

“Hal ini sedikit relate dengan percintaan beberapa orang, meski aku belum pernah mengalami. Aku tahu ada orang yang pernah mengalami hal ini dan sulit untuk menceritakannya ke orang lain karena sangat complicated,” jelas Nadiya Rawil dalam rilis yang dibagikan, Jumat (25/9).

Lagu Satu di Antara Berjuta mengusung musik yang megah, lengkap dengan permainan piano dan strings.

Nadiya Rawil menjelaskan bahwa proses rekaman lagu yang berlangsung lancar selama 6 jam. Aransemennya pun terinspirasi musik Korea favoritnya.

“Aku pengin musik yang classy, dan di saat yang sama, mengiris hati,” ucap Nadiya Rawil, yang pernah berkolaborasi dengan penyanyi Adera dalam lagu Dengarkan Hatiku.

Video musik Satu di Antara Berjuta digarap sutradara Angga Gadut, yang menghadirkan aktor Jerome Kurnia sebagai lawan main Nadiya Rawil. Video musik tersebut sudah bisa disaksikan di akun YouTube Trinity Optima Production.

Simhala Avadana atau Mhala selaku A&R Trinity Optima Production berharap, lagu Satu di Antara Berjuta menjadi pintu gerbang bagi Nadiya memasuki belantika musik Indonesia.

Lagu ini sudah tersedia di digital streaming platform seperti Apple Music, Spotify, Joox, Deezer, LangitMusik, YouTube Music, dan Resso. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Musik

16 Tahun Berkarya, Band KotaK Hadirkan Album ‘Identitas’ dan Single ‘Di Atas Cinta’

Published

on

By

Personil band KotaK: Chua, Tantri dan Cella.

Kabarhiburan.com – Sambut hari ulang tahun ke-16 pada 27 September 2020 mendatang, grup band KotaK  menghadiahkan sebuah kado spesial bagi pecinta musik di Tanah Air, berupa album terbaru berjudul Indentitas.

Album tersebut sudah dapat dinikmati di seluruh platform digital, mulai hari ini, Jumat (25/9). Sebagai hadiah istimewa, band yang digawangi Cella (gitar), Chua (bass) dan Tantri (vokal) menggarap album Identitas secara berbeda dari album-album sebelumnya.

Perbedaan utamanya dari segi penggarapan. Seluruh proses pembuatan lagu dalam album Identitas tidak lagi melibatkan pihak manapun. Situasi ini, kemudian mereka sebut sebagai Do It Yourself (DIY).

Cella membenarkan bahwa sudah saatnya KotaK menjadi produser album sendiri, tanpa melibatkan orang lain.

“Digarap secara ‘sersan’ alias serius tapi santai. Betul-betul dipikirin sesuai Identitas,” ujar personil senior band Kotak dalam jumpa pers virtual, Jumat (25/9).

“Sudah saatnya kami buktikan siap berkarya sesuai dengan identitas kami, makanya nama albumnya Identitas,” ujar Chua.

Sudah begitu, kebanyakan lagu di album Identitas digarap di Yogyakarta, dimana Cella bermukim, sementara Chua dan Tantri tinggal di Jakarta. Domisili yang berjauhan ikut menyumbang proses penggarapan album Identitas menjadi lebih lama.

Bagi Tantri, Identitas menjadi album yang paling berkesan karena bisa mengeksplorasi semua aspek sesuai keinginan mereka bertiga.

“Kita sayang banget sama album ini karena mengolah dari awal, eksplorasinya dalam banget,” ujar Tantri, tentang album yang berisi 10 lagu terbaru tersebut.

Salah satunya, berjudul Di Atas Cinta, juga dirilis bersamaan waktunya dengan pelepasan album Identitas.

“Single ini menjadi penguat bagi semua lagu-lagu bertema cinta dari KotaK,” ujar penulis liriknya, Tantri, yang menyebut lagu Di Atas Cinta sebagai cerminan dirinya sebagai orang tua.

Dalam prosesnya, Tantri mengakui kalau lagu ini sangat sentimentil, sehingga dia sempat menitikkan air mata ketika menulisnya.

“Lagu ini membuat saya membayangkan perjuangan orang tua yang mengurusnya sejak masih kecil. Kayak flashback dosaku banyak banget sama orang tua,” imbuh Cella.

Selain lagu Di Atas Cinta, album Identitas juga diisi dengan lagu Hoax, Manusia Manusiawi (feat. Cak Nun), dan Teman Palsu. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending