Connect with us

Film

Cerita Aura Kasih Tentang Wartawan Kriminal

Published

on

 

Kabarhiburan.com, Jakarta – Model dan aktris Aura Kasih kembali membintangi film horor, berjudul berjudul Pintu Merah, yang akan tayang di bioskop mulai Kamis (18/7) mendatang.

Dalam film garapan Kanta Indah Film tersebut, Aura Kasih memerankan sosok wartawan yang meliput berita kriminal.

“Saya berperan sebagai Aya Lestari, seorang jurnalis atau wartawan yang terobsesi sekali dengan berita kriminal,” ujar istri Eryck Amaral ini beberapa waktu lalu.

Film ini menceritakan betapa idelis dan ambisiusnya Aya (25), seorang wartawati muda. Dia melakukan observasi untuk menulis artikel tentang kasus pembunuhan baru-baru ini, menyusul penemuan mayat, korban pembunuhan di hutan mimpi.

Namun, temuan mayat tersebut bukan sekadar korban pembunuhan biasa. Masih kabut misteri di dalamnya, yang menyeret Aya masuk semakin jauh ke dalam kengerian kasus pembunuhan ini.

Di bawah arahan sutradara Noviandra Santosa, ibu satu anak ini harus melakukan adegan yang benar-benar menguras tenaganya.

“Ada beberapa scene, gua harus berlumpur-lumpuran dan super kotor di tubuh gua, selama satu minggu lebih dan memakai baju kotor yang sama. Aktingnya juga capek banget ya, karena aku harus lari-larian. Itu olahraga banget,” kenang Aura Kasih.

Meski demikian, Aura Kasih masih antusias melakoni perannya yang menantang saat syuting, lantaran ceritanya hanya menggambarkan kejadian dalam satu malam.

“Film ini beda sama film horor lainnya, karena terjadi dalam satu hari ya, setting waktunya,” jelas Aura Kasih yang menambahkan bahwa Pintu Merah merupakan film horor dengan latar tempat rumah sakit.

“Ceritanya tentang pembunuhan misterius yang sejak lama tidak terungkap siapa pembunuhnya. Karena banyak pembunuh misterius. Yang pasti, ceritanya akan banyak kejutannya,” pungkas Aura Kasih berpromosi.

Selain Aura Kasih, Pintu Merah juga menghadirkan aktor dan aktris kenamaan lainnya. Sebut saja Miller Khan, Cornelio Sunny, Monica Oemardi dan masih banyak lagi. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Alasan Titi Kamal Enggan Ajak Anak Saat Syuting Film ‘Makmum’

Published

on

By

Titi Kamal ditemui di Bioskop Metropole, Menteng, Jakarta.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sukses meraih beragam penghargaan diberbagai festival film, dan penonton yang banyak di laman YouTube, telah menginspirasi produser Deeraj Kalwani untuk mengadaptasi film pendek bergenre horor, Makmum menjadi film layar.

Deeraj bekerja sama dengan sutradara Riza Pahlevi membuat film ini dengan judul sama. itu akan dibuat film layar lebar berjudul sama.

“Awalnya dia (Riza) ragu-ragu, tetapi setelah beberapa kali kami bertemu. Riza setuju untuk mengembangkan cerita dari durasi tujuh menit film pendek menjadi 91 menit film layar lebar,” ujar Deeraj Kalwani di Jakarta, Senin (15/7).

Bagi Riza Pahlevi merasakan tantangan tersendiri dalam mengembangkan cerita dalam film pendek ke dalam film panjang. Dalam versi layar lebar, Makmum akan disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu.

“Kami yang langsung menulis skripnya. Benar-benar membuat bagaimana di film pendek ini ruhnya tetap ada di film panjang, namun bisa dinikmati walau enggak nonton film pendeknya,” ujar Riza Pahlevi.

Film Makmum bercerita tentang pengalaman penghuni asrama yang tidak bisa beribadah dengan khusyuk saat sedang salat, ketika mendengar suara takbir yang mengikuti di belakang mereka.

Bagi Titi Kamal, Makmum menjadi film perdana dalam karirnya. Ia memainkan karakter Rini yang bertugas memandikan jenazah. “Jadi perannya lebih misterius,” jelas  Titi Kamal, disela-sela acara ‘Official Trailer ‘Makmum’ di bioskop Metropolle,  Menteng, Jakarta, Senin (15/7).

Salah satu adegan Titi Kamal di film Makmum (MD Pictures)

Film yang diproduksi Blue Waters dan Dee Company ini melakukan syuting di sebuah rumah sakit yang memiliki bangunan tua, menurut Titi Kamal sangat menunjang untuk pemgambilan gambar film horor.

“Lokasi syutingnya di rumah sakit Ciherang, sering dijadikan tempat uji nyali stasiun televisi swasta. Pokoknya tempatnya horor dan angker,” jelas ibu dari dua anak ini.

Suasana yang demikian membuat Titi Kamal enggan mengajak buah hatinya ke lokasi syuting.

“Sebelumnya, saya suka bawa anak, tapi tidak untuk film ini.  Takut tejadi hal yang tak diinginkan,” ucap ibu dari Juna dan Key ini.

Selain Titi Kamal, film Makmum juga menghadirkan para aktor dan aktris Tissa Bianni, Reny Yuliana, Bianca Hello, Adila Fitri dan Ali Syakieb. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Pukulan ‘The Exocet’ Ellyas Pical Diangkat ke Layar Lebar

Published

on

By

Jefri Nichol akan berperan sebagai Ellyas Pical dalam film ‘The Exocet’ yang siap produksi.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tanggal 3 Mei 1985 dicatat sebagai hari penting bagi dunia olah raga tinju Tanah Air. Pada saat itu, untuk pertama kali petinju Indonesia, Ellyas Pical, merebut gelar juara dunia versi IBF untuk kelas Bantam Yunior.

Gelar juara diraih setelah Ellyas Pical berhasil memukul KO (Knock Out) lawannya, Chun Ju Do asal Korea. Kemenangan yang berlangsung di hadapan ribuan penonton di Jakarta tersebut menjadi kebanggan untuk negeri ini.

Kisah sukses petinju asal Saparua, Maluku Tengah ini, diangkat menjadi sebuah film berjudul The Exocet. Ceritanya ditulis oleh Ertanto Robby sekaligus sebagai sutradara.

The Exocet adalah nama rudal Perancis yang populer di awal tahun 1980 karena kecepatannya, nama itu pula yang disematkan media asing bagi Ellyas Pical atas kekuatan dan kecepatan pukulannya.

Sempat tertunda selama 8 tahun, akhirnya The Exocet dinyatakan siap produksi oleh Pratama Pradana Picture kerja sama Time International Film and Summerland. Film ini akan menjalani syuting di Saparua, Jakarta dan Korea.

Dalam jumpa pers yang dihadiri Ellyas Pical di Hotel Sultan, Jakarta, Ertanto Robby mengatakan, The Exocet akan menceritakan realita perjalanan Ellyas Pical sampai ke jenjang juara dunia.

“Banyak momen yang terjadi sejak 1983 hingga 1985, sebelum Elly sampai masuk ring tinju IBF,” jelas sutradara muda ini, Senin (15/7).

“Film ini akan membangkitkan romantisme dan menghidupkan jejak tinju Indonesia yang saat itu sebagai juara dunia,” harap Ertanto Robby saat memperkenalkan para pendukung filmnya. Diantaranya, ada Jefri Nichol yang berperan sebagai Ellyas Pical.

Sutaradara Ertanto Robby (paling kanan) bersama seluruh pendukung film ‘The Exocet’ dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (15/7).

Jauh-jauh hari Jefri sudah mengenal sosok Ellyas Pical lewat cerita ayahnya, Jhon Henri. Mulai dari kehebatan pukulan hingga piala yang pernah diraih Ellyas Pical. Cerita tersebut menggugah Jefri, sempat berkeinginan menjadi petinju.

“Dalam film ini, saya menjalani latihan yang sama seperti petinju professional untuk bisa mendapatkan karakter Ellyas Pical,” ujar pemain film Jailangkung dan Dear Nathan ini.

Selain Jefri Nichol, Ertanto Robby juga memilih Lukman Sardi sebagai ayah Elly, Chicco Jerikho sebagai Simson Tambunan, Vino G. Bastian sebagai Boy Bolang, Ridho Hafiedz penemu bakat Ellyas Pical dan Amanda Soekasah sebagai Mama Ana. Hadir pula Olga Lidya, Laura Basuki dan Jeremy Thomas. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Sambut Festival Film Kemanusiaan dan Kebudayaan, Natasha Dematra Rilis Film Dokumenter, ‘Menari: An Indonesian Dance Legacy’

Published

on

By

Natasha Dematra (kiri) didampingi Cheryl Halpern, usai pemutaran perdana film dokumenter, ‘Menari: An Indonesian Dance Legacy’.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sutradara muda peraih lebih dari 100 penghargaan dunia, Natasha Dematra (21), bekerja sama dengan sineas senior peraih Emmy Awards, Cheryl Halpern, akhirnya merilis karya terbaru berupa film dokumenter yang diberi judul Menari: An Indonesian Dance Legacy.

Natasha mengatakan, pembuatan film yang berlangsung di Bali, Jogjakarta, Jakarta dan Cirebon tersebut berlangsung selama setahun. Sekaligus merupakan penggarapan film yang sungguh berbeda berbeda dari karya Natasha sebelumnya.

“Terutama sih, pada revisi skrip butuh bolak balik Jakarta – Amerika. Kami ingin hasilnya sempurna, karena film ini akan dibawa keliling dunia,” pungkas putri Founder dan Director World Humanitarian Awards, Damien Dematra.

“Film ini berbeda dari film garapan saya sebelumnya. Hasilnya, terlebih saya kirim kepada Cheryl Halpern untuk revisi. Selanjutnya, saya perbaiki kekurangan yang dianggap perlu,” ujar Natasha didampingi Cheryl Halpern yang ditemui di bioskop Planet Hollywood, Jakarta, Selasa (9/7).

Seperti judulnya, film ini mengetengahkan secara lengkap tentang bagaimana sebuah tari tradisional dilahirkan. Mulai dari sejarah, karakteristik gerak, filosofi, ornamen hiasan busana dan tata rias, hingga rupa-rupa sesaji yang mewakili kedaerahan.

Yang tidak kalah menarik, dalam film berdurasi lebih dari 20 menit ini juga memuat wawancara dengan narasumber yang mumpuni. Mereka adalah para seniman yang tidak saja menjaga tapi sekaligus pelestari. Hidup mereka adalah tari dan pengabdian.

Dari empat tarian klasik yang disajikan dalam film ini, salah satunya adalah tari klasik Bedhaya Semang. Tarian ini adalah salah satu tarian pusaka dari Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,  hasil karya dari Sri Sultan Hamengku Buwono I tahun 1759.

Tari Bedhaya Semang dalam pelembagaannya merupakan tarian sakral dengan usia yang sangat tua. Tarian ini penuh dengan muatan simbolik filosofis yang tinggi, sebagai seni pertunjukan penting di dua keraton Mataram, Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat.

Tarian yang dibawakan oleh sembilan penari perempuan ini adalah reaktualisasi hubungan suci nan mistis antara Sultan Agung dari Mataram dengan Ratu Kidul sebagai penguasa laut selatan atau Samudera Indonesia

Merujuk pada Babad Nitik, Bedhaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan kata Semang diberikan oleh Sultan Agung.

Silatnas Raja Sultan Nusantara

“Terus terang, saya kepincut dengan tarian tradisional atau klasik yang ada di Indonesia, bermula ketika saya berkunjung ke Jogja dan Bali. Entah kenapa tatkala menyaksikan timbul getaran, seolah ada unsur magis untuk saya mengenal lebih dekat dan memvisualkannya,” kenang Cheryl.

Kembali ke Amerika Serikat, Cheryl bergegas membuat skrip, kemudian mengontak sineas muda Natasha Dematra dan dipilih sebagai sutradara,” ujar Cheryl Halpern.

Peluncuran perdana film dokumenter Menari: An Indonesian Dance Legacy ini menjadi puncak acara Festival Film Kemanusiaan & Kebudayaan.

Hadir dalam acara tersebut, para raja dan sultan, anggota Silatnas Raja Sultan Nusantara serta para undangan lainnya.

Damien Dematra selaku  Founder dan Director World Humanitarian Awards menggaungkan  tentang pentingnya setiap individu disadarkan tentang nilai-nilai toleransi dalam membangun kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Acara ini sekaligus memberi penekanan bagi perayaan Hari Dunia untuk Keanekaragaman Budaya, serta Dialog dan Pembangunan (World Day for Cultural Diversity for Dialogue and Development),” ujar Damien Dematra.

Sebelumnya, Damien memutar film documenter berjudul Remembering: The Story of Maurits Kiek. Film dokumenter ini mengambil tema pahlawan Belanda Maurits Kiek yang berjuang bagi kemanusiaan, saat ia melihat adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh Nazi, dimasa kependudukan Jerman selama Perang Dunia II.

Selanjutnya,  diumumkan pula film terbaik festival internasional Asia Pacific International Filmmaker & Awards (APIFA). Para pemenang datang dari mancanegara.

Mereka adalah Miya Wang (The Other Sade of the World), Chen Tianyi Dan Yuan Fan (Miss Petunia), serta Malcolm Tan (The Instde). (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending