Connect with us

News 11

Curahan Hati Istri dan Anak dari Iwan Cendekia Liman yang Ditahan di Rutan Salemba

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Baru tiga hari sejak diunggah sudah  dibaca 747 kali.  Sebuah  video berdurasi 60 detik yang diunggah di laman netizenvoiceofindonesia, menampilkan sosok bocah perempuan yang terpaksa menahan kerinduan pada ayahnya, Iwan Cendekia Liman yang tengah menjalani masa tahanan di Rutan Salemba sejak Mei 2017.

Nama saya Angeline dan usia saya 12 tahun. Saya putri dari  Iwan Liman. Saya sudah tidak bertemu papa saya selama setahun. Saya sangat kangen papa dan kita perlu keadilan. Saya tahu papa saya tidak bersalah.

Ditemani  ibunya, Siau Ing dan Bryan adiknya, Angeline yang kini duduk di kelas 6 Sekolah Dasar di Surabaya tersebut, kembali melukiskan kerinduannya pada sang ayah. Ia mengaku sedih tidak boleh bertemu papanya, mengingat usianya masih bocah.

“Papi saya enggak salah, kenapa kok ditahan? Ini tidak sesuai dengan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang saya pelajari di sekolah,” ujar  Angeline dengan suara lantang. “Saya yakin, Papi saya enggak bersalah, ” kata Angeline sekali lagi, saat ditemui di Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (12/5).

Keyakinan  yang demikian membuat Angeline, kini enggan menanggapi reaksi teman-temannya seputar kasus yang menimpa ayahnya. “Sekarang, kalau masih ada teman yang bicara tentang papa. Saya biarin aja,” katanya.

Jauh-jauh hari sebelum video tersebut diunggah, Angeline maupun  adiknya Bryan sempat  menjadi sasaran empuk hujatan teman-temannya di sekolah. “Di sekolah banyak teman yang nanyain tentang papa. Saya jawab di Singapura, tapi ada teman yang cerita bahwa Papa saya di penjara.

Saya sedih, apalagi Mama saya. Saban hari dia menangis. Kalau ditanya kenapa menangis, dia bilang sakit kepala, kalau enggak sakit perut.

Sempat Berbohong

Dibenarkan oleh Siau Ing, mengaku sempat  berbohong kepada kedua anaknya seputar kejadian yang menimpa  suaminya.

“Semula saya rahasiakan dari mereka dengan mengatakan bahwa papanya sedang kerja di Singapura. Namun berbohong kepada anak-anak tidak ada gunanya.

Apalagi kasus tersebut selalu ramai diperbincangkan  di banyak media Surabaya. Bahkan kedua anak saya mengetahui  kalau papanya sudah di penjara, justru dari teman-temannya lewat hujatan di sekolahnya, ‘Papamu di penjara ya’,” ujar Siau Ing.

Menurut Siau Ing, teman-teman anaknya mendapat kabar tersebut  dari orang tua masing-masing, bahkan ada orang tua yang melarang anaknya berteman dengan Angeline karena papanya di penjara.

“Aneka hujatan mendera anak saya selama beberapa bulan. Sejurus dengan waktu, surut karena mereka sudah capek sendiri karena anak saya tidak lagi menanggapi,” ujar Siau Ing yang menambahkan bahwa  Iwan Liman sehari-hari bekerja sebagai konsultan keuangan, selain usaha jual beli properti.

Sementara tentang kasus yang menimpa Iwan, secara singkat Siau Ing mengatakan bahwa sosok pelapor yang bernama Rezky Herbiyono merupakan sahabat Iwan Liman sejak lama.

“Dia sering bertandang ke rumah, bahkan kedua anak saya menyebutnya uncle,” ujar wanita yang sudah membentuk rumah tangga bersama Iwan sejak tahun 2002 ini.

Menyangkut persoalan hukum yang membelit suaminya, Siau Ing menceritakan secara singkat.

“Intinya, si pelapor punya utang ke Iwan. Jadi Iwan suami saya dikurung supaya Iwan enggak bisa menagih utang tadi. “Kepada majelis hakim dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat,  pelapor sudah mengaku punya utang kepada Iwan yang nilainya di atas Rp10 Miliar,” ujar Siau Ing.

Dari pengakuan Rezky di persidangan, meyakinkan Siau Ing  bahwa sebetulnya Iwan tidak bersalah dan  didukung oleh bukti-bukti yang sah. “Tetapi  kok malah Iwan yang dikurung.  Ini ada apa?” jerit Siau Ing mempertanyakan

Siau Ing bertekad akan terus berusaha mencari keadilan yang hakiki. “Kalau memang enggak salah, jangan seperti ini. Iwan adalah suami dan ayah yang baik, sekaligus tulang punggung keluarga yang sudah satu tahun tidak bekerja,” jerit Siau Ing sambil mengusap kelopak matanya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Humaniora Foundation Rutin Bantu Kaum Dhuafa

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
Syukuran ulang tahun Humaniora Foundation saban tahunnya, ditandai dengan acara berbuka puasa bersama, pemberian santunan bagi anak yatim, kaum dhua’fa, dan janda lanjut usia berprofesi sebagai pemulung. “Namun, karena ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan mencegah penyebaran virus Covid 19, acaranya dilakukan terbatas, jelas Eddie Karsito, selaku pendiri lembaga nirlaba, Humaniora Foundation.

Meski demikian, lanjut Eddie tetap ada pemberian santunan. Selama tiga pekan terakhir, melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, “Kami menyalurkan bantuan untuk masyarakat yang terimbas wabah Covid 19,” terang Eddie dengan senyum yang khasnya itu.

Sumbangan dibagikan khususnya untuk para pemulung, janda lanjut usia, serta para pekerja keras di sektor non-formal. Antara lain, kuli bangunan, pekerja galian tanah, petugas kebersihan angkut sampah, pembantu rumah tangga (PRT), pedagang keliling, pengamen, serta profesi lainnya

Sejak didirikan, ungkap Eddie, Humaniora Foundation tidak memiliki sumber pendanaan dan donatur tetap. Namun bantuan terus mengalir dari masyarakat tanpa diminta, baik sumbangan uang tunai, maupun kebutuhan pokok.

“Selama pandemi Covid 19, lebih dari 25 juta rupiah nilai sumbangan telah disalurkan Humaniora Foundation,” tukasnya. Nilai tersebut, cerita Eddie merupakan akumulasi sumbangan masyarakat, baik sumbangan berbentuk uang tunai, sembako, makanan, minuman, dan alat kesehatan berbentuk masker, dan lain-lain.

“Pelayanan ini adalah anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita. Alhamdulillah, meskipun kita tidak layak (dhoif : lemah) — tidak ada donatur tetap, tetapi Tuhan melayakkan (menolong) kita, untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya,” ujar relawan yang pernah mendapat penghargaan sebagai Pendiri Yayasan Pendukung Karir dan Prestasi “Pembangunan Award 2013” dari Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia ini.

Para volunteer yang terlibat di kerja sosial ini, kata Eddie, sebagian besar adalah anggota, dan pengurus Sanggar Humaniora. Sebagian lainnya adalah para artis yang tergabung di Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH).

_*“Semua relawan kami tidak ada yang menerima upah. Apapun bentuk bantuan dari masyarakat kami sepakat tidak boleh menikmatinya. Bantuan selalu dibagi habis untuk masyarakat yang lebih membutuhkan,” tutup Eddie Karsito. (Zar/ KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending