Connect with us

Film

Dari Talkshow KJSI Episode 7: Kualitas Akting Bintang Horor

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Jelang perhelatan Jakarta Horror Screen Festival 2020, Komunitas Jurnalis Sinema Indonesia (KJSI) menggelar serangkaian talkshow. Pekan ini sudah memasuki episode 7 bertema Kualitas Akting Bintang Horor.

Acara yang digelar di kedai kopi Lali Bojo, Duren Sawit, Jakarta, Kamis (16/7), menghadirkan para narasumber, seperti sutradara Surya Lawu, Dimas Juan (casting director), Maya Yuniar, pemain film Mangga Muda, Kuntilanak Ciliwung, serta pendatang baru Surya R. Kusumah.

Menariknya, para narasumber ini memiliki pandangan berbeda tentang seni peran bagi para pelakon dalam film horor. Bahkan ada yang mengatakan bahwa seseorang yang berperan dalam film tak perlu totalitas berakting.

Mereka membahas bahwa seorang pelakon harus berperan sebagai karakter menakutkan dan mengerikan, perlu kekuatan dan totalitas akting.

Film horor memang punya kelas tersendiri untuk menyengatkan atmosfir hiburannya kepada penonton.

Seperti halnya pengakuan Maya Yuniar yang sempat memerankan Kuntilanak dalam film horor kerjasama produksi Malaysia – Indonesia, Maya diharuskan mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya.

“Enggak gampang memerankan kuntilanak,” ujar Maya dalam talkshow episode 7, Jakarta Horror Screen Festival 2020.

Untuk itu, Maya harus menyulap diri secara penjiwaan untuk memahami karakter dan cerita, menyerap dan kemudian mengeksekusi di depan kamera.

“Enggak gampang lo berperan jadi kuntilanak. Biar jadi hantu, tapi totalitas juga dibutuhkan, jadi gak sekadar aku dibungkus dengan make up dan kostum kain kafan putih. Secara penjiwaan juga sangat diharuskan, bagaimana menjaga stabilitas peran dari scene to scene harus stabil juga,” jelas Maya yang dibenarkan sutradara Surya Lawu.

Surya Lawu mengatakan bahwa dalam dunia akting perlu memperhatikan detail eksternal dan internalnya.

“Faktor ini sangat penting diperhatikan oleh si pemain. Jadi pemain jangan pasrah dengan lakon yang dimainkan tanpa memperhatikan internalnya, yakni penjiwaan,” jelas Surya Lawu.

“Saya masih sering lihat pemain film horor kita yang kurang waspada pada persoalan ruh karakternya. Akibatnya, kualitas akting yang ditampilkan jadi seadanya, karena tidak total mengeksplor kemampuan aktingnya,” kenang Surya Lawu.

Dua pernyataan diatas semestinya juga menjadi perhatian para sineas dalam mengolah dan mebangun karakter film horor. Tujuannya, agar karakter yang dibawakan tidak menjadi hambar.

Dimas Juan yang sudah malang melintang sebagai casting director, juga punya pemahaman serupa.

Dimas sering terbentur pada persoalan ruh karakter yang dimainkan oleh calon pemeran.

“Banyak yang ‘kepleset’, saat datang casting untuk ikut audisi dengan rasa percaya diri yang tinggi karena merasa punya jam terbang. Saat saya kasih scrip pendek, lalu record cam. Ehh, jauh banget dari harapan,” jelasnya.

Dimas memang punya naluri sendiri dengan kiatnya mengeksekusi seorang calon bintang untuk memerankan tokoh atau karakter utama dalam film horor.

“Pada akhirnya, saya sadar juga betapa susahnya mencari pemain dengan kualitas olah akting, meski sudah memiliki segudang jam terbang,” imbuhnya.

Dimas menambahkan pentingnya para pemain dan aktor untuk memahami konflik dalam cerita agar bisa bertemu dengan ruh karakter yang ia mainkan.

“Jadi, bukan sekedar baca naskah, nyimak, tapi miskin penjiwaan,” pungkasnya.

Sementara itu, Surya R Kusumah menceritakan pengalamannya memainkan dua karakter, baik dan jahat secara bersamaan dalam film Trah 7, produksi Diana Limbong Kreatif.

Surya menceritakan level kerumitan memerankan dua karakter sekaligus sebagai si baik dan si jahat.

“Film Trah 7 bagi aku tantangan terhebat sepanjang karir mudaku ini. Sekalinya dapat peran mesti eksplor habis habisan. Baru saya sadar bahwa akting itu juga menuntut kualitasnya. Jadi kalau kemampuan kita segitu ajah, yah segitu pula kualitasnya, ” pungkasnya.

Film horor belakangan menjadi trend produksi yang sarat komersil, ketika banyak studio memproduksi film-film genre horor, maka saat itu pula masyarakat berbagi seleranya untuk mencoba bersahabat genre yang dulunya dianggap kasta bawah ini.

Tapi persoalannya, film horor tak hanya menghibur dengan treatment menakutkan penonton, tapi juga kualitas secara keseluruhan juga sangat penting untuk dikemas.

Bahkan, untuk soal seni peran para pelakonnya dituntut kemampuan internal tadi. Coba perhatikan mediang Suzanna, tak satupun aktor yang mampu menggantikan kemampuan internal aktingnya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Catat Jadwalnya, Aplikasi MAXstream Hadirkan Serial Berkualitas, ‘Sajadah Panjang’

Published

on

By

Para pemain serial ‘Sajadah Panjang’ (Foto: Tangkapan layar saat jumpa pers virtual)

Kabarhiburan.com – Telkomsel resmi meluncurkan serial orisinal berkualitas bertema drama keluarga berjudul Sajadah Panjang, akan tayang di aplikasi MAXstream.

Menariknya, serial berdurasi 13 episode ini ditayangkan bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idul Fitri 1442 H, pada setiap  Senin dan Kamis, mulai Kamis (6/5).

Serial ini menampilkan para aktor dan aktris, mulai dari Donny Alamsyah, Cut Mini, Arbani Yasiz, Hasyakyla Utami, Raffi Sanjaya, Annisa Kaila, Ence Bagus, hingga Kiky Saputri.

GM Digital Content Creator Telkomsel Aris Sudewo mengatakan bahwa serial Sajadah Panjang merupakan hasil kolaborasi antara Telkomsel, PT Oh My Goodness (OMG) dan band Yovie & Nuno.

“Akhirnya serial ini bisa dinikmati oleh insan keluarga Indonesia,” ujar Aris pada saat jumpa pers virtual pada Rabu (5/5) sore.

Aris menambahkan, kehadiran serial Sajadah Panjang akan menambah keragaman konten aplikasi original MAXstream.

Saat ini, aplikasi besutan Telkomsel itu menghasilkan berbagai konten original mulai dari genre komedi hingga horor.

“Kehadiran serial ini membuat konten MAXstream semakin beragam untuk semua segmen,” jelasnya.

Aris juga berharap serial ini dapat menjadi tontonan dan tuntunan yang menemani ibadah puasa di bulan Ramadan serta Idulfitri 1442 H.

Cut Mini memainkan karakter Aida.

Sajadah Panjang mengisahkan tentang rumah tangga penuh cinta pasangan Andhika (Donny Alamsyah) Aida (Cut Mini) serta tiga anaknya, Arya (Arbani Yasiz), Adinda (Hasyakila) dan Ariel (Rafi Sanjaya).

Kebahagiaan mereka berubah sejak Andhika memutuskan berhenti sebagai juru masak di kapal pesiar dan memulai bisnis. Terungkap pula fakta tentang istri kedua Andhika yang baru saja meninggal bernama Kartika.

Bersama Kartika, Andhika dikaruniai anak bernama Aisyah (Annisa Kaila). Sebagai bapak yang bertanggung jawab, ia bersikeras membawa Aisyah masuk ke dalam keluarga Aida dan anak-anaknya.

Bagaimana reaksi Aida? Apakah keluarga ini dapat bertahan utuh dengan prahara yang datang? Temukan jawabannya dalam serial Sajadah Panjang.

Seperti diketahui, MAXstream sejak 2018 mampu menghasilkan lebih dari 670 judul film dan serial orisinal.

Telkomsel juga berkolaborasi dengan lebih dari 25 professional generate content untuk menyuguhkan beragam tayangan #sinemaspektakuler dan hiburan digital demi mendukung industri kreatif Indonesia. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Film “Tjoet Nja’ Dhien” Kembali Tayang di Bioskop

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Film terbaik pada Festival Film Indonesia 1988, Tjoet Nja’ Dhien, bakal kembali diputar di sejumlah bioskop di Tanah Air.

Penayangan dimulai tanggal 20 Mei 2021 di Jakarta, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Selanjutnya di berbagai kota, seperti Surabaya, Semarang, Makassar, Medan dan kota lainnya.

Kepastian penayangan ulang film legendaris tersebut dibenarkan oleh pemeran utamanya, Christine Hakim, pada Senin (3/5).

Menurut Christine, film yang diedarkan 33 tahun silam tersebut, kini sudah mengalami restorasi menyeluruh di Belanda.  Format pita celuloid sudah ditransformasi ke DCP, sehingga gambar lebih bersih dan detail warna juga semakin tajam.

Hanya saja, durasi yang sebelumnya 130 menit harus dipangkas menjadi 106 menit, karena berbagai pertimbangan teknis.

Christine Hakim mengemukakan latar belakang kembalinya film ini ditayangkan kembali. Pertama, untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda yang belum pernah menyaksikan film ini di layar lebar, dapat menikmati film ini.

”Khususnya kaum melinial,” kata Christine, yang menambahkan bahwa pesan dalam dalam film ini, juga masih terkoneksi dengan kehidupan masa kini.

Yang tidak kalah penting adalah pemutaran kembali Tjoet Nya’ Dhien merupakan  bukti wujud nyata untuk memenuhi anjuran pemerintah agar kita kembali menonton film  di bioskop.

“Dan sebaiknya nontonnya film Indonesia!,” pinta aktris peraih 9 Piala Citra dan juri di berbagai ajang film internasional.

Pemutaran ulang Tjoet Nya’ Dhien juga diharapkan untuk memberikan mendorong agar masyarakat memperoleh film Indonesia yang layak tayang di bikoskop.

Eros Djarot selaku sutradara Tjoet Nya’ Dhien, mengemukakan banyak aspek dari kehadiran kembali film ini.

”Tetapi dari kacamata praktis, kita memberikan sajian film yang mudah-mudahan  dapat jadi tontonan dan tuntunan,” ujar Eros.

Film “Tjoet Nya’ Dhien” dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1988 menyabet delapan (8) Piala Citra, masing-masing untuk unsur Film Terbaik, Sutradara Terbaik  (Eros Djarot), Pemeran Wanita Terbaik (Christine Hakim), Skenario Terbaik (Eros Djarot), Cerita Asli Terbaik ( Eros Djarot), Tata Sinematografi Terbaik  (George Kamarullah), Tata Artistik Terbaik (Benny Benhardi),  dan Tata Musik Terbaik (Idris Sardi).

Selain oleh Christine Hakim dan Slamet Rahardjo, film Tjoet Nya’ Dhien juga menghadirkan aktor-aktor terkenal, seperti Piet Burnama, Rudy Wowor, Rosihan Anwar, Ibrahim Kadir, dan masih banyak lagi.

Ketika memerankan tokoh Tjoet Nya’ Dhien, Christine masih berusia 31 tahun. Kini, Tjoet Nya’ Dhien is back. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Yura Yunita Rilis Film Pendek ‘Tenang’ Dibintangi Ringgo Agus dan Nirina Zubir

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Bersamaan dengan dirilisnya lagu Tenang, Yura Yunita juga mempersembahkan sebuah film berdurasi 7 menit dengan judul sama, garapan sutradara muda bertalenta, Yandy Laurens.

Film pendek yang dibintangi, antara lain aktor Ringgo Agus, Nirina Zubir dan Kiki Narendra, menceritakan seseorang menghadapi kehilangan hal-hal yang mungkin tidak akan pernah bisa kembali lagi. Kemudian menerima sekecil apapun yang dimiliki.

Yandy Laurens sendiri dikenal sebagai sutradara dan salah satu penulis film Keluarga Cemara (2018).

“Punya kesempatan buat short film, jadi diingatkan kembali bahwa memori sangat berharga. tidak hanya untuk kenangan nanti, namun juga saat proses penciptaan memori demi memori itu sendiri. Kita menikmatinya dengan amat sungguh sekarang,” ujar Yandy Laurens dalam keterangan tertulisnya.

Film pendek Tenang, sudah bisa dinikmati melalui kanal YouTube Yura Yunita, sejak Jumat 16 April 2021.

“Tidak ada satupun orang yang persis sama dalam memaknai kehilangan. Begitu pun saya ketika menyelami peran ini, rasa kehilangan yang saya rasakan belum tentu sama dengan rasa kehilangan yang orang punya,” ujar Ringgo Agus.

“Bahkan, ketika film ini sudah tiba di tangan penontonnya, reaksi yang muncul juga beragam. Perjalanan kehilangan selalu punya arti sendiri bagi setiap orang,” kata Ringgo menambahkan.

Berbeda dengan Nirina Zubir yang mengaku jatuh hati pada lagunya. Barulah jatuh hati pada konsep ceritanya, namun tidak menyangka begitu dalam maknanya.

“Baru ‘kena’ banget pas lihat hasil akhirnya, tapi kami tidak pernah ragu dengan Yandy. Dia selalu punya rasa yang ‘dalam’ terhadap keluarga,” ucap Nirina Zubir. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending