Connect with us

Film

DNA Production Sajikan Dua FTV Sarat Pesan Moral dari Negeri Ginseng

Published

on

CEO DNA Production, Rina Novita, didampingi Baby Tsabina.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Pecinta sinetron dan FTV Tanah Air, bersiaplah untuk menyaksikan dua judul FTV berlatar keindahan kota Andong, di provinsi Gyengsangbuk-do, Korea Selatan.

Rumah produksi DNA Production telah menyiapkan  Me and Enyak Go to Korea dan Cantikku Hanya Untuk Oppa yang akan tayang di layar RCTI pada Oktober mendatang.

Rina Novita selaku CEO DNA Production sengaja memilih kota Andong demi membuka mata masyarakat Indonesia bahwa keindahan Korea Selatan bukan hanya di kota Seoul. Ide cerita FTV ini sekaligus untuk mempererat persahabatan antara Indonesia dan Korea Selatan.

“Korea Selatan selalu terkesan Seoul, padahal masih banyak wilayah lainnya di sana yang menyajikan tradisi maupun keindahan yang tidak kalah menarik,” ujar Rina Novita yang ditemui di panggung  Korea Travel Fair 2019, di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (6/9).

Dua FTV tersebut ingin membagikan pesan moral dan pendidikan yang berharga bagi masyarakat. Rina berharap, semoga kedua FTV ini dapat mewakili keingintahuan masyarakat Indonesia tentang Korea Selatan.

Cantikku Hanya Untuk Oppa menceritakan cewek millenial diperankan oleh Nadya Arina. Ia bermaksud untuk mempercantik wajahnya melalui tindakan operasi plastik. Dalam FTV ini, Nadya beradu akting dengan Brandon Salim.

“Ternyata cantik itu bukan sekadar wajah yang cantik, tetapi ketulusan hati jauh lebih penting,” ujar Rina yang juga menjabat sebagai Ketua Persahabatan Indonesia Korea.

Sedangkan Me and Enyak Go to Korea menceritakan suka duka seorang ibu dan anaknya selama terdampar di kota Andong.

FTV ini dibintangi oleh Debby Sahertian, Baby Tsabina dan aktor senior Young Jin Kwon dari Korea Selatan.

“Senang banget bisa syuting ke Korea sekaligus kerja, jalan-jalan. Pas banget aku saat itu juga lagi di Korea,” kenang Beby Tsabina tentang pengalaman pertamanya melakukan syuting di Korea Selatan.  (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Keajaiban Itu Selalu Ada, Film ‘Kartu Pos Wini’ Angkat Kisah Anak Penderita Kanker

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Penyakit kanker merupakan salah satu penyakit yang memiskinkan dan tidak jarang mematikan penderitanya. Kisah pilu para penderita kanker pun sudah banyak difilmkan, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Sutradara Tarmizi Abka bersama Sinemata Productions, mencoba menawarkan kisah yang berbeda melalui film Kartu Pos Wini.

Sinemata mengadaptasi cerita penderita kanker yang sempat termuat di media digital Kanya ID berjudul sama, karya novelet Ruwi Meita.

Novelet asal Yogyakarta tersebut mengangkat cerita apik, tentang bocah penyandang kanker leukemia yang putus harapan, lalu menjadikan kartu pos sebagai satu-satunya teman berbagi cerita.

Cerita tersebut masih dibumbui romansa cowok dan cewek yang mengandalkan komunikasi lewat surat selama 18 tahun, meski tanpa kata cinta diantara mereka.

Segenap cerita yang sarat nilai kemanusiaan tersebut, langsung menarik minat sutradara Tarmizi Abka untuk menggarap Kartu Pos Wini.

“Saya tertarik karena ceritanya soal kemanusiaan yang tinggi,” ujar Tarmizi Abka saat perilisan teaser film Kartu Pos Wini, di Bioskop Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (11/11).

Acara tersebut juga menghadirkan Keiko Ananta, anak yang memerankan sosok Wini. Ia mengaku senang diajak ikut dalam film ini.

“Aku senang banget, ceritanya bagus banget. Teman-teman, nanti nonton ya filmnya,” pinta Keiko.

Produser Sinemata sekaligus penulis skenario, Aris Muda, menyebutkan bawa Kartu Pos Wini seakan mewakili problem masyarakat, yakni problem keinginan atau harapan yang sering dipatahkan oleh keadaan. Nyatanya keajaiban itu selalu ada.

“Makanya, kami ingin menggambarkan kanker, bukan dari sisi kesedihan dan air mata. Kami enggak menjual air mata,” jelas mantan wartawan.

Sisi menarik film Kartu Pos Wini adalah keinginan Sinemata Production, untuk menjadikan film ini semacam literasi bagi keluarga dan kerabat, tentang bagaimana memperlakukan penderita kanker.

Keinginan tersebut digapai melalui kolaborasi Sinemata Production dan Yayasan Kanker Indonesia dalam memproduksi Kartu Pos Wini.

Itu sebabnya, Sinemata merencanakan agar Kartu Pos Wini dirilis di bioskop dari jauh-jauh hari, yakni bertepatan dengan Peringatan Hari Kanker Sedunia, pada 4 Februari 2022 mendatang. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

5 Fakta Menarik Tentang Film ‘Merindu Cahaya de Amstel’

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Suradara Hadrah Daeng Ratu siap merilis film terbarunya, berjudul Merindu Cahaya de Amstel, yang dikeluarkan oleh Unimited Production.

Merindu Cahaya de Amstel menampilkan kisah dimana setiap orang punya kerinduan untuk menemukan cahaya dalam dirinya.

“Setiap orang punya masa lalu, yang menurutnya tidak baik. Dia akan selalu berusaha untuk menemukan cahaya dalam dirinya. Pada prosesnya, dia akan menemukan cahaya dan Tuhan dalam dirinya,” ungkap Hadrah Daeng Ratu dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (5/11).

Berikut fakta menarik film Merindu Cahaya de Amstel akan tayang pada awal 2022 mendatang:

Fakta Pertama, Merindu Cahaya de Amstel mengusung genre romantis komedi dengan bumbu mellow, diadaptasi dari kisah nyata yang sempat ditulis dalam bentuk novel dan dirilis di Wattpad. Ceritanya ditulis oleh Arumi E.

Fakta kedua, film ini mengungkap kisah seorang bule Belanda yang memilih untuk mualaf. Sebelum memeluk agama Islam, gadis keturunan Belanda tersebut menikmati hidupnya yang terus menerus menuruti hawa nafsu duniawi, hingga suatu saat merasa terpuruk dalam kegelapan.

Ia lalu mencari cahaya untuk meneyelamatkan dirinya. Itulah Marien Veenhoven, yang kemudian mengganti namanya menjadi Khadija Veenhoven saat berpindah keyakinan.

Fakta Ketiga, Dalam perjalanan menjadi muslimah, Khadija Veenhoven bertemu dengan seorang fotografer sekaligus jurnalis, Nicholas Van Djick dan Kamala, seorang mahasiswa asal Jogja yang kuliah  Jurusan Tari di Belanda.  Pertemuan tersebut kemudian membentuk persahabatan.

Seiring dengan waktu, Kamala yang awalnya sangat awam tentang Islam, akhirnya memilih untuk belajar kepada Khadija Veenhoven. Hanya saja, persahabatan mereka retak ketika Kamala mengetahui dirinya jatuh cinta pada Nicholas Van Djick.

Karakter Khadija Veenhoven diperankan oleh Amanda Rawles. Kemudian Bryan Domani memerankan Nicholas Van Djick, lalu Kamala ditampilkan oleh Rachel Amanda.

Fakta Keempat. Alhasil, ketiga tokoh sentral dalam film ini terlibat dalam kisah cinta segitiga yang rumit, selain mereka juga berbeda pendapat soal keyakinan, pasalnya Nicholas Van Djick adalah seorang agnostic.

“Lebih tepatnya, Nicholas tidak memeluk agama apapun. Dia agnostic,” ungkap Bryan Domani menjawab pertanyaan wartawan.

Selain Amanda Rawles, Rachel Amanda dan Bryan Domani, film ini juga didukung oleh para bintang seperti Ridwan Remin, Oki Setiana Dewi, Rita Nurmaliza dan Maudy Koesnaedi.

Keempat sosok tersebut menjadi alat untuk menampilkan pribadi dan pola pikir tokoh utama.

Ridwan Remin menjadi teman Kamala, Nicholas Van Djick dan Khadija Veenhoven. Sementara Maudy Koesnaedi merupakan ibu Kamala, lalu Rita Nurmaliza memerankan karakter Sarah yang dekat dengan Kamala.

Fakta kelima, film Merindu Cahaya de Amstel selesai diproduksi pada dua tahun silam. Unlimited Production memilih untuk menunda tayang demi mematuhi protokol kesehatan, menyusul pandemi Covid-19 masih merajai setiap kota di Indonesia. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’, Film Indonesia Paling Beringas Tahun Ini

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Usai berkeliling dunia, film ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’, menemui penontonnya di Indonesia pada Desember 2021 mendatang.

Palari Films melalui akun Instagram resminya mengumumkan bahwa film garapan sutradara Edwin tersebut akan tayang di Indonesia pada 2 Desember 2021.

“Catat tanggalnya: 2 Desember 2021. Ajo Kawir, Iteung, Budi Baik, dkk mohon doa restu dan siap membayar tuntas rindu,” tulis Palari Films, dikutip Selasa (2/11)

‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’, mengambil latar waktu pada akhir 1980 sampai 1990-an. Berkisah tentang Ajo Kawir, seorang jagoan yang tidak takut mati. Hasrat besarnya untuk bertarung didorong oleh sebuah rahasia, ia impoten.

Ini masalah serius di kalangan masyarakat yang dikontrol oleh machismo dan patriaki. Ketika berhadapan dengan seorang petarung perempuan tangguh bernama Iteung, Ajo babak belur, lalu jatuh cinta.

Peraih Golden Leopard di Locarno Film Festival

Film yang dibintangi Marthino Lio dan Ladya Cheryl ini menyambangi Toronto International Film Festival. Selanjutnya ke berbagai festival film di Hamburg, Busan, London, Zagreb, Austria, Valladoid, Tokyo, Sao Paulo Kairo dan masih banyak lagi.

Selama perjalanan tersebut, ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ menerima sejumlah pujian dari berbagai media asing dan Indonesia.

Salah satunya, dari kanal YouTube Cinecrib yang berkesempatan menonton film tersebut di Toronto International Film Festival. Cinecrib mendeklarasikan film ini sebagai “Film Indonesia paling beringas tahun ini”.

Puncaknya, pada perjalanan ke Swiss, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, mencatat prestasi membanggakan industri perfilman Indonesia, yakni memenangkan hadiah utama pada Golden Leopard di Locarno Film Festival.

Sebelum sampai di Indonesia, film ini masih didaulat sebagai pembuka Singapore International Film Festival pada 25 November 2021 mendatang. Di sana, Edwin akan mengadakan sesi diskusi bersama sutradara Singapura, Yeo Siew Hua, yang pernah memenangkan Golden Leopard.

Untuk Informasi selanjutnya, diperbaharui melalui Instagram.com/sepertidendamfilm. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending