Connect with us

Budaya

Dunia Baru Trie Utami yang Lebih Menantang dan Menyenangkan

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Setelah malang melintang di dunia musik selama puluhan tahun, kini vokalis senior Trie Utami punya mainan baru, yakni dunia teater.

Dikatakan baru, karena terhitung baru dua kali ia tampil di panggung teater. Salah satunya dalam monolog musikal Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng, yang akan digelar di Theater Salihara, Pejaten, Jakarta Selatan pada 26 – 27 April 2019 mendatang.

Pagelaran di bawah naungan ArtSwara Production ini mengangkat kisah cinta yang tragis  sosok Srintil, seorang penari ronggeng asal Dukuh Paruk, Banyumas. Srintil sendiri merupakan tokoh dari novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari.

Dalam pagelaran tersebut Trie Utami akan merasakan sensasi memerankan 7 karakter berbeda. Sesuatu yang belum pernah dilakukan selama menekuni dunia tarik suara. Tak heran, Trie Utami mengamini bahwa  seni teater memiliki tantangan tersendiri.

“Dunia teater memang dunia baru bagi saya, setelah puluhan tahun malang melintang di dunia musik. Ini jadi tantangan karena saya akan bermain sendiri dan memerankan 7 karakter berbeda,”  ungkap Trie Utami saat jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Selasa (26/3).

Demi sukses memerankan 7 karakter berbeda, Trie Utami mengaku  harus banyak-banyak belajar tentang karakter-karakter diinginkan. Semua ini memberinya kepuasan yang menyenangkan.

“Ini akan jadi sensasi berbeda karena saya diajari untuk memerankan banyak karakter dalam pagelaran ini. Dari situ saya harus bangun dan perankan. Semua itu menarik banget buat saya,” jelas wanita yang akrab disapa Iie ini. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Bertrand ‘Si Lilin Kecil’ Seni Pedalangan dari Gunung Kidul

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Rangkaian kegiatan Duta Seni Pelajar Nusantara (DSPN) 2019 yang berlangsung di Jakarta, sejak Kamis (25/7) resmi berakhir pada malam ini (28/7).

Dalam kegiatan yang diikuti ratusan pelajar dari 6 provinsi tersebut,  terdapat sosok remaja bernama Erlangga Bertrand Pasandharu, yang akrab dipanggil Bertrand. Ia merupakan peserta DSPN 2019  kontingen Provinsi DIY.

Bertrand mengaku beruntung bisa terpilih sebagai salah satu dari 15 peserta kontingen DIY di DSPN 2019. Mereka pun sukses gemilang menampilkan sendratari berjudul Nyai Ahmad Dahlan di Panggung Terbuka Pantai Ancol, Jakarta, Jumat (26/7) malam.

Sukses Bertrand dan kawan-kawan tidak muncul begitu saja. Khususnya, Bertrand yang masih duduk di bangku kelas 3 IPS pada SMA Negeri 2 Playen, Gunung Kidul, DIY. Di luar kegiatan sekolah, Bertrand tidak bisa lepas dari wayang. Sejak masih Sekolah Dasar sudah tercatat sebagai Dalang Cilik.

Kedua orangtuanya, pasangan Slamet Wahyudi dan Endarinu di Dusun Ngawu, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Gunung Kidul, DIY, rupanya telah memperkenalkan wayang kepada Bertrand ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak.

“Sejak saat itu saya langsung merasa suka wayang. Memasuki SD, saya didaftarkan ke Sanggar Pangalasan. Di sana diajari dialog cerita pewayangan untuk dihafalkan di rumah,” ujar Bertrand, di sela-sela kegiatan DSPN 2019 di Ancol, Jakarta Utara, Jumat (26/7).

Dalang Pembuka

Bertrand semakin serius belajar wayang dan dalang. Bahkan sudah menancapkan cita-citanya kelak menjadi dalang terkenal, meski  diakuinya tidaklah mudah untuk mempelajarinya.

Bertrand (paling kiri) bersama kontingan DIY dalam DSPN 2019 di Panggung Terbuka, Ancol, Jakarta, Jumat (26/7) malam.

“Ada tahapan-tahapannya. Dimulai dari sering menonton pertunjukan wayang dan membaca buku, ” jelas Bertrand yang mengaku bakatnya menurun dari kakeknya, Sandiyo, yang berofesi sebagai dalang.

Bakat tersebut langsung bersinar. Terbukti, Bertrand langsung dipercaya untuk tampil sebagai dalang pembuka dalam sebuah pertunjukan wayang. Padahal, ketika itu Bertrand baru tiga kali ikut pertemuan di sanggarnya.

Seiring dengan waktu, Bertrand sering diminta untuk tampil pada pagelaran wayang padat, antara 1 – 3 jam untuk satu lakon. Tekun pula ia mengikuti festival dalang di berbagai kota, seperti Jakarta, Semarang, Bangka. Semua itu mendatangkan banyak pengalaman tentang dunia pedalangan.

Pengagum Ki Dalang Hadi Sugito ini mengaku bahwa dunia pedalangan seakan tiada habisnya untuk dipelajari.

“Yang paling sulit di wayang adalah gerakannya. Namanya sabetan, saat lakon perang. Ini sulit, sehingga harus dipelajari terus menerus,” ujar Bertrand yang telah menampilkan puluhan lakon wayang. Sebut saja, Perang Begal, Petruk Dadi Ratu, Sumatri Sukrasono, Satria Piningit dan masih banyak lagi.

“Sumantri Sukrasono merupakan salah satu lakonyang menarik, menceritakan pengorbanan seorang adik yang cacat untuk menggolkan keinginan kakaknya untuk menjadi adipati,” ujar remaja yang memilih tokoh Arjuna sebagai favoritnya.

“Pertunjukan wayang saya belum sampai semalaman. Baru sampai 2-3 jam. Itu saja perlu menghafal dialog sedikitnya sebulan,” ujarnya merendah.

Anjuran Bapak

Menikmati kesibukan di dunia wayang dan dalang, tidak membuat Bertrand begitu saja melupakan pelajaran di sekolahnya maupun pergaulan dengan sesama remaja.

Sejak jauh-jauh hari Bertrand menaruh harap kelak bisa kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

“Ini sesuai dengan anjuran Bapak. Saya belajar wayang kalau pelajaran sekolah sedang senggang,” kilahnya.

Soal pergaulan dengan sesama remaja? “Kebetulan di sanggar juga komunitas anak-anak muda. Kami sering kumpul  dan jalan-jalan ke tempat pembuatan wayang atau nonton wayang sama-sama,” pungkas  Bertrand. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Duta Seni Pelajar Nusantara 2019 Cermin Pancasila Pelajar Indonesia

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta –Ratusan pelajar SMP dan SMA dari 6 provinsi mengikuti kegiatan ‘Duta Seni Pelajar Nusantara (DSPN) 2019’ di Jakarta pada 25 hingga 28 Juli 2019.

Para pelajar berasal dari Provinsi Lampung, DIY Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten dan tuan rumah DKI Jakarta.

Di atas panggung terbuka di pantai Ancol, masing-masing kontingen menampilkan kesenian khas masing-masing daerah. Kegiatan di konsep dalam bentuk festival, dengan mengedepankan kebersamaan.

Melalui kegiatan DSPN 2019, mereka bersama-sama menunjukkan bahwa kaum milenial dan pelajar tetap mencintai kesenian daerah di era globalisasi penuh teknologi belakangan ini. Selain memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menjalin silaturahmi dengan pelajar lainnya melalui sarana berkesenian.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi DKI Jakarta, Eddy Junaedi, berharap  agar setiap pelajar yang hadir dapat menjadi duta-duta seni pelajar, yang dapat terus menjaga seni asli Indonesia guna memperkuat identitas bangsa Indonesia dan ini menjadi wujud generasi yang cinta tanah air dan bangsa.

“Kami berharap melalui kegiatan ini para pelajar yang merupakan ujung tombak bangsa ikut menjaga, melestarikan dan mencintai seni tradisi yang ada di provinsi masing-masing agar seni ini terus diminati kalangan remaja “ujar Eddy Junaedi, disela-sela festival kesenian di panggung terbuka, Ancol, Jakarta, Jumat (26/7).

Eddy menambahkan, kegiatan ini bertujuan menjaga harmoninasi dan kolaborasi antar pelajar dan antar provinsi dalam kerjasama budaya.

“Diharapkan dari kegiatan ini ditemukan bakat-bakat dan talenta terbaik , yang nantinya akan membawa nama baik daerah dan Indonesia dalam event kesenian dunia,” imbuhnya.

Sejak pertama kali diselenggarakan pertama kali di Bali pada tahun 2000, DSPN  merupakan kesepakatan antara provinsi Jawa-Bali dalam menjaga kesenian tradisi di kalangan remaja.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan pelajar-pelajar tingkat SMA dan sederajat dari setiap provinsi yang memiliki bakat tertentu dalam bidang seni, khusunya seni tradisional Indonesia.

Selama penyelenggaraan DSPN 2019, para pelajar akan mengikuti rangkaian kegiatan. Salah satunya mengunjungi tempat bersejarah di Jakarta, seperti Monumen Nasional dan Tugu Proklamasi, serta mencoba moda transportasi baru MRT.

Tentunya masing-masing provinsi akan menampilkan keterampilannya. Untuk info lengkapnya bisa dilihat di https://dutasenipelajar2019.com.

Setelah acara ini selesai, diharapkan para delegasi tidak lagi membawa titel provinsi saja, tetapi membawa identitas sebagai anak-anak Indonesia yang satu dan sesuai dengan Pancasila. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Trans 1000 Jakarta dan PIGIJO Dukung Gebyar Festival Budaya Betawi Cipedak

Published

on

By

Tari Kinang Kilaras turut meramaikan Gebyar Festival Betawi Cipeda, Minggu (16/6).

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tari Kinang Kilaras yang menggambarkan betapa bahagianya wanita Betawi dibawakan oleh lima penari elok, ikut memberi suasana gembira pada perhelatan Gebyar Festival Budaya Betawi, Cipedak, Jakarta Selatan, Minggu (16/6).

Suasana gembira ini terlihat di wajah segenap warga RW 09 Kelurahan Cipedak, Jakarta Selatan. Mereka menyambut penobatan wilayah ini sebagai Kampung Alpukat oleh Walikota Jakarta Selatan, Marullah Matali.

Gebyar festival kali ini berlangsung selama dua hari, sejak Sabtu (15/6) hingga Minggu (16/6). Selama itu pula, warga antusias memamerkan kekayaan budaya Betawi yang sudah terkenal itu. Mulai dari aneka pantun jenaka, musik Gambang Kromong hingga parade andong.

Mereka juga memamerkan aneka kuliner Betawi seperti bir pletok, kerak telor, kembang goyang dan kuliner lainnya yang digelar di sepanjang Jalan Srengseng Sawah.

Perhelatan ini didukung oleh Trans 1000 Jakarta bersama PIGIJO. Keduanya bahkan tengah giat mengangkat potensi pariwisata Kepulauan Seribu.

Claudia Ingkriwang  (tengah)

Claudia Ingkriwang selaku Direktur Pengembangan Pariwisata Trans 1000 Jakarta, menegaskan bahwa Gebyar Festival Budaya Betawi Cipedak menjadi salah satu kegiatan untuk melestarikan kecintaan terhadap budaya Betawi.

Seperti diketahui, budaya Betawi merupakan salah satu daya tarik pariwisata di Jakarta telah menginspirasi Trans 1000 Jakarta dan PIGIJO dan menyatakan siap mendukung upaya Pemprov DKI Jakarta mewujudkan Kepulauan Seribu sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.

Trans 1000 Jakarta dan PIGIJO, bahkan sudah merencanakan penyelenggaraan Gebyar Festival Budaya Betawi yang akan berlangsung di Kepulauan Seribu.

“Kami sedang menyiapkan tranportasi berupa kapal penyeberangan modern, nyaman dan terjangkau yang akan meluncur pada Juli mendatang,” ujar Claudia di sela-sela acara Gebyar Festival Budaya Betawi, Cipedak, Minggu (16/6).

Sebanyak tiga unit kapal Trans 1000 berkapasitas 130 -150 penumpang yang siap mengantar wisatawan mengunjungi enam pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Untung Jawa, Pramuka, Pari, Tidung, Harapan, Kelapa dan Pulau Sembilan,” ujar Claudia.

“Dalam waktu dekat kami segera merealisasikan,” janji Claudia Ingkriwang, didampingi Nasdi (investor), Nana Suryana (Direktur Trans 1000 Jakarta) dan Aga (Direktur Bisnis Development). (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending