Connect with us

Film

Film ‘13 The Haunted’, Tantangan Raffi Ahmad dan Rudi Soedjarwo Berkolaborasi Dengan Anak Muda Milenial

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Raffi Ahmad semakin menikmati eksistensinya sebagai orang di belakang layar, sebagai produser film. Belum lama menghadirkan film horor The Secret Suster Ngesot Urban Legend dan Dimsum Martabak, ayah dari Rafatar ini kembali lagi dengan film  horor terbaru,   13 The Haunted.

Raffi  menggandeng sutradara senior Rudi Soedjarwo, lalu mengajak sederet bintang muda dan senior dalam film produksi RA Pictures ini. Sebut saja,  Al Ghazali, Mikha Tambayong, Steffi Zamora, Marsha Aruan, Endy Arfian, Atta ‘Halilintar’, Mumuk Gomez, Achmad Megantara, Valerie Thomas, Jeremy Thomas, Tia Ivanka, Fauzi Baadilah, dan Chef Juna.

Raffi mengaku, bukan pekerjaan yang mudah untuk mengumpulkan Mikha Tambayong dan kawan-kawan di lokasi syuting. Banyak hal yang harus diatasi, terutama dari sisi jadwal syuting hingga soal biaya.

“Sempat hopeless lantaran schedule mereka bukan main padat. Saya juga sempat ribut sama partner saya, soal dana yang membengkak. Akhirnya bersyukur sama Allah bisa berjalan,” ujar  Raffi usai Gala Premiere film 13 The Haunted di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/7).

Berbeda dari Raffi,  bagi sutradara Rudi Soedjarwo  menggabungkan pemain muda dan senior justru menghadirkan inspirasi baru, yakni lahirkan beragam karakter justru membuat adegan film semakin bagus.

Rudi pun mengajak para pemainnya kolaborasi, bukan kompromi. Ia sebisa mungkin membimbing, bukan dengan keras memerintah.

“Dengan kolaborasi mereka sangat membuka diri dan rendah hati. Sebaliknya, kalau kompromi berarti ada yang makan hati atau merasa disakiti,” katanya.

Baginya, anak muda generasi milenial datang ke lokasi syuting sudah dibarengi niat yang lebih dari sekedar belajar main film. Hal itu membuat pekerjaan Rudi menjadi semakin mudah dalam mengarahkan.

“Mereka sudah memberikan yang terbaik, meski sebenarnya mereka masih punya ruang besar yang jauh  lebih baik lagi. Perjalanan karir mereka  masih panjang. Kita masih berharap, mereka ke depan akan semakin maju dan berkembang,” jelas sutradara film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dan Garuda di Dadaku 2 (2011).

Film ini menceritakan tentang tujuh anak muda zaman milenial yang tak percaya dengan dunia mistis, namun penasaran ingin mengetahuinya. Tergabung dalam grup vlogger bernama The Borju mereka bersaing dengan kelompok The Jackal untuk mengejar popularitas.

Mereka ingin membuat short reality show tentang hantu demi mengejar popularitas. Tidak perduli, meski harus mendatangi sebuah resort di Pulau Ayunan. Resort yang sekilas tampaknya indah, ternyata menyembunyikan sebuah misteri. Mereka dipertemukan dengan kejadian-kejadian yang menyeramkan.

Seperti harapan sang sutradara,  Al Ghazali  dan teman-temannya di kelompok The Borju terhanyut dalam ekspresi ketakutan, tersaji dengan apik dalam 13 The Haunted.

Penasaran? Saksikan film 13 The Haunted yang akan tayang serentak di layar Bioskop Tanah Air, mulai besok Kamis (26/7).  (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Kehadiran Perempuan di Film Horor

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Film horor menjadi sangat populer karena mampu menebar teror dan membuat penonton ketakutan. Menariknya, kehadiran perempuan bukan sekadar agar terlihat seksi, melainkan sebagai sosok hantu di film horor. Tak jarang pula karakter sang hantu perempuan mampu memancing simpati.

Demikian antara lain yang mengemuka dalam talk show Jakarta Horror Screen Festival 2020 bertema Film Horor dan Perempuan di studio Zona Merah, Jakarta Selatan, Jumat (25/9) sore.

Talkshow edisi podcast tersebut yang dipandu oleh Teguh Yuswanto dan Bismar Yogara tersebut, menghadirkan produser Muhammad Bagiono, pemain film dan model Laila Vitria dan presenter olah raga Farah Fang.

Bagiono membenarkan bahwa perempuan dalam industri film masih menjadi barang laku, termasuk di film horor,” ujar produser film Get Lost dan Bukan Jodoh Biasa.

Ia menambahkan bahwa  film-film horor sudah tidak lagi menempatkan perempuan hanya sebagai pemanis seperti belasan tahun silam. Dimana banyak film horor yang menjadikan perempuan sebagai pesona komersil alias mengeksploitasi seksualitas dan sensualitas.

“Hasilnya sudah ketebak toh, bukan lagi film cerita horor tapi lebih kepada absurdisme industrinya,” ujar Bagiono yang menambahkan bahwa film horor enggak mesti jualan sensualitas dan seksualitas. Sebaliknya, semakin kreatif menggali cerita lokal di tengah masyarakat.

“Sudah banyak rumah produksi semakin serius menggarap genre horor dengan meninggalkan selera dan kuaitas using,” jelas produder yang tengah menggarap film terbarunya, Ratu Kuntilanak.

Senada dengan Bagiono, Farah Fang membenarkan perfilman nasional sudah berbenah.

”Ketika industri itu merasa jenuh dan jalan di tempat, maka para pelakunya harus keluar dari zona nyaman mereka, dengan melakukan terobosan mutakhir,” ujar Farah Fang yang mencontohkan industry film Hollywood.

“Disana selalu saja melakukan banyak terobosan agar dapat bertahan rajanya industri film dunia,” tambahnya.

Memang sih, tidak ada parameter yang pasti, bahwa film horor yang mengeksploitasi perempuan dengan sensualitas serta di bungkus bumbu seks, maka akan banyak penontonnya.

Saat ini penonton kita lebih wisely karena seiring kemajuan teknologi semua juga berubah, termasuk adab para pelaku industrinya sendiri.

”Sudah banyak film-film horor nasional melibatkan aktris untuk memerankan karakter yang sangat bagus, tanpa sensualitas. Tinggal bagaimana menyatukan selera gambar, cerita, kualitas akting dan penyutradaraan yang baik serta promosi yang jempolan. Hal ini akan disambut para penikmat film horor nasional,” kata Farah Fang yang didampingi oleh Laila Vitria.

Laila membenarkan, sudah bukan masanya lagi genre horor dikemas dengan kualitas murahan.

”Saat ini para produser dituntut kreatif menciptakan film yang bagus agar bisa diterima oleh selera pasar yang sudah berubah. Bukan lagi sekadar membuat film horor dengan bumbu sensualitas perempuan belaka,” kata Laila Vitria. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Serial Animasi BIMA S, Kisah Petualangan Satria yang Sarat Pesan Moral

Published

on

By

Kabarhiburan.com – MNC Animation siap suguhkan sebuah serial animasi terbaru, berjudul BIMA S. Sebuah serial bergenre aksi dan petualangan akan tayang di layar RCTI, mulai 4 Oktober 2020 mendatang.

Selanjutnya, BIMA S akan menjadi tontonan yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga pada setiap Minggu pukul 10.00 WIB.

Tayangan ini merupakan hasil adaptasi dari BIMA Satria Garuda Series yang pernah tayang di RCTI. Tak hanya formatnya diubah menjadi 3D, BIMA S pun menggelar jalan cerita yang lebih menarik dan kekinian.

BIMA S mengisahkan tentang Satria, seorang remaja yang spontan, pemberani, dan senang bereksplorasi. Satria juga mampu bertransformasi menjadi sosok BIMA S yang memiliki kekuatan dan senjata-senjata dahsyat.

BIMA S bersama para sahabatnya, Prof. T, Aurora, Ve, dan Nadra-Rama harus bertualang lintas galaksi, melawan monster-monster dan mengumpulkan kekuatan 7 matrix ajaib untuk menghentikan Infernus sang musuh besar yang berambisi untuk menguasai semesta.

Liliana Tanoesoedibjo selaku CEO MNC Animation mengatakan, BIMA S menyuguhkan aksi pertarungan seru, serta sarat dengan pesan moral, seperti nilai kepercayaan, persahabatan, perjuangan dan pengorbanan.

Serial BIMA S juga dilengkapi dengan aksi komedi segar yang menjadikan BIMA S sebagai tontonan yang menarik dan menghibur keluarga Indonesia.

“Animasi BIMA S sudah ditunggu oleh fanbase superhero Indonesia, khususnya para penggemar BIMA,” ujar Liliana.

Animasi BIMA S adalah IP (Intelectual Property) dari MNC Animation yang diharapkan menjadi kebanggaan animasi lokal Indonesia.

“Dengan tayangnya BIMA S, akan menjadi pelopor animasi superhero Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional,” imbuh Liliana. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Percofia Pictures Resmi Berdiri, Bawa Angin Segar di Tengah Pandemi

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Selama berbulan-bulan dinaungi pandemi covid-19, menyebabkan industri kreativitas, seperti dunia perfilman, di Tanah Air masih lesu. Sebagian besar sineas menjauh dari lokasi syuting lantaran pintu bioskop masih ditutup.

Situasi menyedihkan tersebut tidak membuat jajaran managemen PT Percofia Nusaphala berputus asa. Sebaliknya, mereka justru mengembangkan sayapnya dengan mendirikan Percofia Pictures, sebuah rumah produksi baru di bidang dunia hiburan.

Boy Horizontal selaku Direktur Pengembangan Usaha dan Marketing Percofia Pictures menyebut rumah produksi ini merupakan mimpi yang terwujud, lewat Pak Ardi selaku Direktur Utama.

“Wabah Covid 19 bukan halangan buat kami berkreativitas untuk melahirkan karya-karya terbaik. Cintailah proses bukan protes. Orang pintar butuh proses bukan protes,” ungkap Boy, dalam acara syukuran peresmian Percofia Pictures di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu 12/9).

Tarmizi Abka selaku Direktur Operasional mengaku optimis Percofia Pictures mampu memberikan karya terbaik bagi industri kreatif tanah air.

Dalam genggamannya sudah ada beberapa proyek yang siap disajikan bagi pecinta film Indonesia. Sebut saja, film Mimpi Matahari, film 10 Biografi orang ternama Indonesia, kuis, termasuk support content untuk acara televisi swasta Nasional.

“Saya pun berharap bisa berkolaborasi dengan banyak pelaku industri kreatif, seperti conten creator, youtuber dan produser untuk menciptakan karya di luar industry film layar lebar,” jelas  Tarmizi.

Ia menambahkan bahwa dunia digital berupa internet dan media sosial telah mengantarkan kemudahan bagi semua orang terkoneksi melalui smartphone.

“Kalau bioskop sudah enggak bisa menampung film, kita putar aja di Netflik, Maxxstream, YouTube dan lainnya,” kata Tarmizi yang akan memproduksi ulang filmnya, Kalam-kalam Langit (2016). (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending