Connect with us

Film

‘Film 6,9 Detik’ Angkat Kisah Nyata Atlet Emas Panjat Tebing Indonesia

Published

on

Aries Susanti Rahayu.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Nama Aries Susanti Rahayu sontak jadi buah bibir dunia, usai meraih 2 medali emas pada pesta olahraga Asian Games 2018 untuk cabang olahraga Panjat Tebing Wanita, Kategori  kecepatan.

Tidak hanya itu, catatan waktu 6,9 detik yang pernah diukir sebelumnya, juga memecahkan rekor dunia. Prestasi tersebut membuat Ayu, panggilan akrabnya, sering dijuluki ‘spiderwoman’. Kabar terbaru, Ayu kini menduduki peringkat empat dunia!

Di balik prestasinya yang mentereng, gadis yang biasa dipanggil dengan nama Ayu ini datang dari keluarga sederhana di sebuah desa di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ayu harus mengalami jatuh dan bangun melalui jalan berliku sebelum meraih cita-cita tertinggi.

Perjalanan hidup Ayu yang demikian langsung mengusik sutradara Lola Amaria. Bekerja sama dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia, Lola mengabadikan kisah nyata Ayu ke dalam film layar lebar berjudul 6,9 Detik.

Sutradara Lola Amaria (kanan) mempercayakan Aries Susanti Rahayu sebagai pemeran utama film ‘6,9 Detik’.

Film ini akan tayang di layar bioskop Tanah Air, mulai Kamis (26/9) mendatang. Lola berharap, semangat Ayu yang tidak gampang menyerah dapat dijadikan teladan bagi generasi milenial masa kini.

“Kisah hidup dan prestasi Aries Susanti Rahayu sangat menginspirasi. Itu alasan mengapa saya tertarik mengangkat kisah hidupnya ke film,” jelas Lola Amaria dalam jumpa pers di bioskop Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (18/9).

Lola Amaria Production dan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) mengisahkan Aries Susantu Rahayu dalam 3 masa, yakni Ayu kecil, Ayu remaja dan Ayu dewasa.

Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan membuat Ayu kecil sering direndahkan dan terpaksa ditinggal orangtuanya yang bekerja ke Arab Saudi. Ayu mulai mengenal olahraga panjat tebing sejak duduk di bangku SMP.

Adapun pemeran Ayu dewasa, Lola percayakan langsung kepada Aries Susanti Rahayu, sebagai pemain utama dalam film ini dibantu oleh sejumlah atlet Panjat Tebing Indonesia.

“Ingin lebih mempertahankan natural jalan cerita. Bisa dibayangkan, apabila diperankan oleh aktris terkenal, pasti butuh waktu yang lebih lama untuk mendalami karakter,” ujar Lola. Untuk alasan yang sama pula, Lola menggunakan dialog dalam bahasa Jawa.

Kepercayaan yang diberikan Lola sempat membuat Ayu ragu. Alasannya, tidak pernah membayangkan bisa akting di depan kamera.

“Saya bisanya, kan cuma manjat. Hasilnya, ya begitu. Banyak yang diulang. Sering berlatih dan mengasah kemampuan, akhirnya bisa juga,” ujar Ayu berusia 24 tahun ini dengan logat Jawa yang kental.

Ayu menambahkan, jalan cerita di film sama persis dengan kehidupan nyata. Termasuk  keinginan untuk selalu menang, tak mudah putus asa dan terus berjuang.

“Sama persis dengan kehidupan saya. Walaupun saya berasal dari kampung, kurang perhatian dari ibu (saat itu bekerja di Arab Saudi), tapi bisa meraih cita-cita. Semoga film ini bisa menginspirasi,” anjur Ayu tentang pengalaman pertamanya sebagai bintang utama dalam sebuah film.

Selain Aries Susanti Rahayu, film 6,9 Detik juga dibintangi oleh sederet aktor dan aktris ternama. Sebut saja, Aryo Wahab, Mariam Supraba, Rangga Djoened dan masih banyak lagi.

“Aku bangga dan berterima kasih kepada semua yang telah mewujudkan film 6,9 Detik ini,” ucap Ayu yang hadir bersama kedua orangtuanya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

‘Nana’, Film Panjang Garapan Kamila Andini Bersama Produser Gita Fara dan Happy Salma

Published

on

By

Kamila Andini selaku sutradara film panjang ‘Nana’

Kabarhiburan.com – Fourcolours Films menyatakan siap memulai produksi film panjang berjudul Nana, karya Kamila Andini.

Nana diangkat dari bagian novel Jais Darga Namaku, karya Ahda Imran, merupakan proyek film yang sudah direncanakan sejak 2018 oleh Fourcolours Film.

Film ini merupakan kisah nyata tentang perjalanan hidup seorang perempuan yang hidup di daerah Jawa Barat pada dekade 1960-an. Ia melarikan dari gerombolan yang ingin menjadikannya istri dan membuatnya kehilangan ayah.

Dalam pelariannya, Nana bersama seorang menak Sunda menjalani hidupnya yang baru, hingga bersahabat dengan salah satu perempuan simpanan suaminya.

Sutradaranya, Kamila Andini sangat bersemangat untuk menyajikan pengalaman pertamanya membuat film period ini kepada penikmat film Indonesia.

“Nana adalah kisah perempuan yang menjadi korban sebuah era perang, politik, pemberontakan dan kehidupan sosial patriarki, yang ingin mencari arti kebebasannya sendiri,” ujar Kamila Andini, seperti dalam keterangannya, Selasa (2/3).

Gita Fara selaku produser mengatakan bahwa Kamila Andini selalu punya cara yang menarik untuk menyuarakan persfektif perempuan.

“Melalui film ini, saya yakin masih sangat relate dengan konteks yang dirasakan dan diperjuangkan oleh perempuan-perempuan masa kini,” ujar Gita Fara yang juga produser film The Mirror Never Lies dan Sekala Niskala, bersama Kamila Andini.

Menariknya, Nana diproduksi Fourcolours Films dengan produser Gita Fara, bekerja sama dengan Titimangsa Foundation. Happy Salma selaku pendiri sekaligus direktur Titimangsa, akan berperan sebagai Nana, sekaligus sebagai produser pendamping.

Happy Salma menduga, ini pertama kalinya ada film panjang yang berbahasa Sunda di sepanjang film. Lalu semua unsur penting akan kekayaan Sunda termasuk alam, musik, bahkan sastranya.

“Saya merasa sangat bangga dan bahagia bisa terlibat dalam karya yang sangat personal ini,” ungkap Happy Salma, usai bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Dalam proses produksi film Nana, dikabarkan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Jawa Barat, mulai dari fasilitasi lokasi hingga pelaksanaan protokol kesehatan selama proses produksi.

Selain Happy Salma, film Nana didukung oleh Laura Basuki, Ibnu Jamil dan Arswendi Nasution. Mereka akan memulai proses syuting pada awal Maret 2021 dan recana tayang pada tahun 2022 mendatang. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. Fourcolours Films)

Continue Reading

Film

Nyanyikan Lagu ‘Ada’ pada Serial ‘Jadi Ngaji’, Algyle Gaungkan Pentingnya Persahabatan

Published

on

By

Algyle membawakan lagu ‘Ada’ pada serial ‘Jadi Ngaji’. (Foto Istimewa)

Kabarhiburan.com – Bagi penonton serial bergenre religi Jadi Ngaji, yang tayang di Over The Top, GoPlay, tentu sudah tidak asing dengan lagu-lagu temanya. Salah satu lagu berjudul Ada.

Lagu Ada dinyanyikan oleh pemuda multitalenta, Algyle, yang piawai memainkan sejumlah alat musik, seperti gitar, piano dan saksofon.

Algyle memiliki vokal yang unik, membuat pihak Arseri Creative House merasa lagu Ada, yang menyuarakan pentingnya persahabatan dan sifat saling mendukung, sangat cocok dibawakan oleh Algyle,

Lagu Ada bercerita tentang rasa syukur terhadap hubungan yang dipersatukan dalam ikatan persahabatan adalah berkah dan kenikmatan yang tidak ternilai harganya. Syairnya juga menekankan pada makna menghargai perbedaan dalam persahabatan.

Komposernya, Khalishah Isyana, mengatakan bahwa lagu Ada diciptakan untuk menjadi lagu road trip yang menemani perjalanan bersama sahabat-sahabat tersayang. Sebagaimana persahabatan adalah hubungan, yang juga merupakan perjalanan, mengalami turun dan naik pada prosesnya.

Sementara itu, bagi Muthia Zahra Feriani selaku penulis lirik, mendedikasikan lirik tersebut untuk sahabat dan semua orang yang menghargai persahabatan dengan kehadiran yang utuh dan kesetiaan yang menyeluruh.

Friendship bukan hanya dinikmati untuk mereka yang ada di umur yang sama, tapi lebih dalam dari itu, persahabatan adalah hubungan antar sesama yang pada intinya menekankan pada kebaikan bagi satu sama lain,” ujar Muthia Zahra, dalam keterangan resmi, Jumat (26/2).

Lagu ini bisa didengarkan di Spotify, Apple Music, Joox, Youtube Music, dan digital streaming platform lainnya, mulai tanggal 26 Februari 2021.

Serial Jadi Ngaji mengisahkan perjalanan para karakter dalam menemukan esensi Ibadah yang sesungguhnya, dari yang pada awalnya terpaksa mengaji untuk memenuhi agenda pribadi masing-masing.

Berbekal pengalaman sebagai pecandu gim, Lukman, sang tokoh utama, berupaya mencari metode belajar mengaji yang efektif bagi murid-murid Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), lewat berbagai permainan dan interaksi seru lainnya. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Inspiratif! Novel ‘Si Doel Anak Jakarta’ Akan Dijadikan Webseries

Published

on

By

Kepala BNPT Komjen Pol. Boy Rafli Amar diapit oleh Achmad Fahrodji dan Aditya Yusma Perdana. (Dok. Istimewa)

Kabarhiburan.com – Novel Si Doel Anak Jakarta versi original, karya Aman Datuk Madjoindo terbitan Balai Pustaka pada tahun 1932, kelak akan dapat dinikmati dalam format webseries.

Webseries yang digarap oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut, akan mengusung pesan kesalehan, jiwa sosial, dan toleransi anak-anak Betawi.

Sebelum sampai kesana, BNPT melakukan Konferensi Pers virtual bertema Pentingnya Pendidikan Toleransi Melalui Sastra Klasik dalam Media Milenial ‘Si Doel Anak Jakarta’ karya Aman Datuk Madjoindo, berlangsung di Gedung Balai Pustaka Jakarta, Senin (22/2).

Komjen Pol Boy Rafli Amar selaku Kepala BNPT mengatakan bahwa karya asli dari kakeknya ini diangkat menjadi sebuah webseries, didasarkan pada semangat pembangunan nasionalisme. Selain juga menghibur dan memberikan sumbangan pemikiran.

“Tentu ada kaitan dalam membangun akhlak, semangat toleransi dan nasionalisme. Ini harus dapat menjadi perhatian yang bisa dilakukan,” kata Boy Rafli.

Ia menambahkan, karakter Si Doel Anak Jakarta yang bertoleransi dan belajar agama agar menjadi akhlak yang baik dan meraih masa depan yang baik pula.

“Ini kita kemas dan tonjolkan. Itulah pesan yang ingin kita kirim kepada publik. Kita ingin publik menempuh contoh-contoh terbaik yang pernah ditunjukkan dari pemikiran Si Doel ini,” ungkap Boy Rafli.

“Tentu dengan karya film, masyarakat akan lebih mudah melihat, kemudian menangkap pesan itu. Tetapi di situ ada unsur hiburan dan mengedukasi publik. Sebenarnya, itu harapan dari BNPT,” katanya.

Sementara itu, Achmad Fachrodji selaku Direktur Utama PT. Balai Pustaka mengatakan bahwa Aman Datuk Madjoindo adalah sastrawan legendaris Indonesia yang melawan penjajahan melalui tulisan.

Memulai karir sebagai penulis sejak tahun 1920, Aman Datuk Madjoindo pro kemerdekaan RI. Ketika banyak novel dari karya para sastrawan lainnya yang tidak diizinkan terbit. Sebaliknya, novel-novel karya Aman Datuk Madjoindo lulus sensor dari kolonial Belanda, karena mengangkat genre anak-anak yang tidak menjadi perhatian kolonial Belanda.”

Aman Datuk Madjoindo sangat mencintai Indonesia. Terbukti, penerbit di Malaysia pada saat itu sangat tergiur untuk menerbitkan buku-buku yang beliau tulis dengan menawarkan imbalan yang cukup besar, tapi ditolaknya.

“Aman Datuk Madjoindo lebih memilih Balai Pustaka, penerbit dari Tanah Airnya sendiri,” jelas Achmad Fachrodji yang menganjurkan agar casting webseries Si Doel Anak Jakarta dilakukan di Balai Pustaka.

Aditya Yusma Perdana selaku Produser webseries Si Doel Anak Jakarta membenarkan, sudah sewajarnya karya sastra klasik dari Aman Datuk Madjoindo terus dilestarikan.

Baginya, banyak hal positif yang bisa dipetik dari karya Si Doel Anak Jakarta, di tengah ingar bingar informasi di era digital saat ini.

“Karya-karya beliau menjadi tamu kehormatan di mancanegara, pun juga sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita melihat banyak karya beliau yang difilmkan dan sinetron, serta menjadi literasi di beberapa universitas terkemuka,” jelas Aditya Yusma Perdana.

Aditya Yusman Perdana juga mengatakan Si Doel Anak Jakarta merupakan salah satu contoh kasus transformasi untuk melepaskan stereotip lama yang melekat pada masyarakat Betawi. Salah satunya adalah ketidakmampuan secara pendidikan maupun secara ekonomi.

Si Doel Anak Jakarta ini mampu mengubah stigma tersebut lewat kepandaian dalam mengaji dan berakhlak. Kesalehan sosial tersebut menjadikan anak tersebut sukses dalam hidupnya, karirnya dan sukses pula dalam cintanya,” jelas Aditya Yusman Perdana.

Ia pun berharap webseries Si Doel Anak Jakarta menjadi film anak-anak yang berkualitas dan menjadi tontonan sekaligus tuntunan.

“Tontonan yang pasti menghibur,serta  tuntunan yang memberikan edukasi tentang toleransi dan budaya mencegah tumbuhnya bibit-bibit kekerasan yang mengarah pada terorisme dan sebagainya,” katanya. (Muhammad Fadhli)

Continue Reading
Advertisement

Trending