Connect with us

Film

Film ‘Anak Hoki’, Kisah Inspirasi Remaja Ahok Bersama Tiga Sahabat

Published

on

Para pemain utama film Anak Hoki. Dari kiri: Lolox, Christ Lauren, Kenny Austin dan Nadine Waworuntu.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Satu lagi kisah mantan politisi dan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (BTP)yang biasa disapa Ahok saat remaja divisualkan ke layar lebar. Kali ini berjudul Anak Hoki, yang akan tayang di layar bioskop Tanah Air mulai Kamis (21/2) mendatang.

Film garapan sutradara Ginanti Rona ini digarap fiksi, yang terinspirasi dari sosok Basuki Tjahaja Purnama semasa remaja.

“Diharapkan menjadi  representasi generasi muda agar jangan pernah menyerah dalam mengejar mimpi, tanpa melupakan nilai-nilai luhur,” ujar sutradara Ginanti, saat jumpa pers di bioskop Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (18/2).

Produsernya, Harry Tjahaja Purnama  membenarkan bahwa  Anak Hoki sungguh berbeda dengan film yang terlebih dulu tayang berjudul A Man Called Ahok, yang juga menceritakan tokoh yang sama.

Produser Anak Hoki, Harry Tjaja Purnama memberi keterangan dalam screening film ‘Anak Hoki’.

Anak Hoki menceritakan tentang keluarga Ahok dan teman-temannya. Ini merupakan film keluarga, dimana problem keluarga bisa diselesaikan dalam film ini,” ujar Harry yang merupakan adik kandung BTP.

“Film ini dimulai dengan narasi yang mengatakan bahwa di dunia ini, harta yang paling berharga adalah keluarga. Ketika ada masalah maka keluargalah pertama yang akan membantunya. Moga-moga film ini jadi inspirasi buat semua,” ujar Harry saat screening film Anak Hoki di bioskop Epicentrum, Jakarta, Senin (18/2).

Harry dan Ginanti Rona memilih aktor Kenny Austin memerankan sosok Ahok semasa sekolah hingga kuliah bersama 3 sahabatnya. Mereka adalah Eva (Nadine Waworuntu) Daniel (Lolox), dan Bayu (Chris Laurent).

Film ini juga menampilkan Maia Estianty, Tamara Geraldine,  Leroy Osmany, Tina Toon, Fero Walandouw, Edric Tjandra.

Kenny Austin

Kenny Austin membenarkan, film Anak Hoki sama sekali tak mengangkat isu politik.

“Cerita ini nggak ada unsur politik sama sekali. Easy banget, terus seru, happy. Ada sedikit drama keluarganya. Kami hanya mengambil latar belakang karakternya Pak Ahok, dari cara bicaranya, geraknya, cara berpakaian, dandanan, rambut,” Kenny Austin.

Film ini sekaligus menjadi debut pertama bagi Nadine Waworuntu yang memerankan sosok Eva  yang berasal dari keluarga broken home.

“Sosok Eva yang aku perankan berbeda 180 derajat dengan aku. Tantangannya aku harus memasukkan karakter eva ke dalam kehidupanku yang ekspresif, sementara Eva orangnya tidak banyak omong dan cuek,” jelas Nadine, putri dari pasangan Ruth Sahanaya dan Jefrey Waworuntu.

Pendek kata, Anak Hoki tetap santai untuk dinikmati, dibumbui oleh adegan berdialog  kocak oleh kehadiran Tamara Geraldine, yang memerankan sosok ibunya Daniel yang kocak.

Film produksi oleh Unlimited dan Revolution Pictures ini berdurasi 90 menit hadir sebagai tontonan menghibur yang tersaji dengan rapi. Tidak muluk-muluk tentang berisikan kehebatan Ahok di masa mudanya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

‘Nana’, Film Panjang Garapan Kamila Andini Bersama Produser Gita Fara dan Happy Salma

Published

on

By

Kamila Andini selaku sutradara film panjang ‘Nana’

Kabarhiburan.com – Fourcolours Films menyatakan siap memulai produksi film panjang berjudul Nana, karya Kamila Andini.

Nana diangkat dari bagian novel Jais Darga Namaku, karya Ahda Imran, merupakan proyek film yang sudah direncanakan sejak 2018 oleh Fourcolours Film.

Film ini merupakan kisah nyata tentang perjalanan hidup seorang perempuan yang hidup di daerah Jawa Barat pada dekade 1960-an. Ia melarikan dari gerombolan yang ingin menjadikannya istri dan membuatnya kehilangan ayah.

Dalam pelariannya, Nana bersama seorang menak Sunda menjalani hidupnya yang baru, hingga bersahabat dengan salah satu perempuan simpanan suaminya.

Sutradaranya, Kamila Andini sangat bersemangat untuk menyajikan pengalaman pertamanya membuat film period ini kepada penikmat film Indonesia.

“Nana adalah kisah perempuan yang menjadi korban sebuah era perang, politik, pemberontakan dan kehidupan sosial patriarki, yang ingin mencari arti kebebasannya sendiri,” ujar Kamila Andini, seperti dalam keterangannya, Selasa (2/3).

Gita Fara selaku produser mengatakan bahwa Kamila Andini selalu punya cara yang menarik untuk menyuarakan persfektif perempuan.

“Melalui film ini, saya yakin masih sangat relate dengan konteks yang dirasakan dan diperjuangkan oleh perempuan-perempuan masa kini,” ujar Gita Fara yang juga produser film The Mirror Never Lies dan Sekala Niskala, bersama Kamila Andini.

Menariknya, Nana diproduksi Fourcolours Films dengan produser Gita Fara, bekerja sama dengan Titimangsa Foundation. Happy Salma selaku pendiri sekaligus direktur Titimangsa, akan berperan sebagai Nana, sekaligus sebagai produser pendamping.

Happy Salma menduga, ini pertama kalinya ada film panjang yang berbahasa Sunda di sepanjang film. Lalu semua unsur penting akan kekayaan Sunda termasuk alam, musik, bahkan sastranya.

“Saya merasa sangat bangga dan bahagia bisa terlibat dalam karya yang sangat personal ini,” ungkap Happy Salma, usai bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Dalam proses produksi film Nana, dikabarkan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Jawa Barat, mulai dari fasilitasi lokasi hingga pelaksanaan protokol kesehatan selama proses produksi.

Selain Happy Salma, film Nana didukung oleh Laura Basuki, Ibnu Jamil dan Arswendi Nasution. Mereka akan memulai proses syuting pada awal Maret 2021 dan recana tayang pada tahun 2022 mendatang. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. Fourcolours Films)

Continue Reading

Film

Nyanyikan Lagu ‘Ada’ pada Serial ‘Jadi Ngaji’, Algyle Gaungkan Pentingnya Persahabatan

Published

on

By

Algyle membawakan lagu ‘Ada’ pada serial ‘Jadi Ngaji’. (Foto Istimewa)

Kabarhiburan.com – Bagi penonton serial bergenre religi Jadi Ngaji, yang tayang di Over The Top, GoPlay, tentu sudah tidak asing dengan lagu-lagu temanya. Salah satu lagu berjudul Ada.

Lagu Ada dinyanyikan oleh pemuda multitalenta, Algyle, yang piawai memainkan sejumlah alat musik, seperti gitar, piano dan saksofon.

Algyle memiliki vokal yang unik, membuat pihak Arseri Creative House merasa lagu Ada, yang menyuarakan pentingnya persahabatan dan sifat saling mendukung, sangat cocok dibawakan oleh Algyle,

Lagu Ada bercerita tentang rasa syukur terhadap hubungan yang dipersatukan dalam ikatan persahabatan adalah berkah dan kenikmatan yang tidak ternilai harganya. Syairnya juga menekankan pada makna menghargai perbedaan dalam persahabatan.

Komposernya, Khalishah Isyana, mengatakan bahwa lagu Ada diciptakan untuk menjadi lagu road trip yang menemani perjalanan bersama sahabat-sahabat tersayang. Sebagaimana persahabatan adalah hubungan, yang juga merupakan perjalanan, mengalami turun dan naik pada prosesnya.

Sementara itu, bagi Muthia Zahra Feriani selaku penulis lirik, mendedikasikan lirik tersebut untuk sahabat dan semua orang yang menghargai persahabatan dengan kehadiran yang utuh dan kesetiaan yang menyeluruh.

Friendship bukan hanya dinikmati untuk mereka yang ada di umur yang sama, tapi lebih dalam dari itu, persahabatan adalah hubungan antar sesama yang pada intinya menekankan pada kebaikan bagi satu sama lain,” ujar Muthia Zahra, dalam keterangan resmi, Jumat (26/2).

Lagu ini bisa didengarkan di Spotify, Apple Music, Joox, Youtube Music, dan digital streaming platform lainnya, mulai tanggal 26 Februari 2021.

Serial Jadi Ngaji mengisahkan perjalanan para karakter dalam menemukan esensi Ibadah yang sesungguhnya, dari yang pada awalnya terpaksa mengaji untuk memenuhi agenda pribadi masing-masing.

Berbekal pengalaman sebagai pecandu gim, Lukman, sang tokoh utama, berupaya mencari metode belajar mengaji yang efektif bagi murid-murid Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), lewat berbagai permainan dan interaksi seru lainnya. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Inspiratif! Novel ‘Si Doel Anak Jakarta’ Akan Dijadikan Webseries

Published

on

By

Kepala BNPT Komjen Pol. Boy Rafli Amar diapit oleh Achmad Fahrodji dan Aditya Yusma Perdana. (Dok. Istimewa)

Kabarhiburan.com – Novel Si Doel Anak Jakarta versi original, karya Aman Datuk Madjoindo terbitan Balai Pustaka pada tahun 1932, kelak akan dapat dinikmati dalam format webseries.

Webseries yang digarap oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut, akan mengusung pesan kesalehan, jiwa sosial, dan toleransi anak-anak Betawi.

Sebelum sampai kesana, BNPT melakukan Konferensi Pers virtual bertema Pentingnya Pendidikan Toleransi Melalui Sastra Klasik dalam Media Milenial ‘Si Doel Anak Jakarta’ karya Aman Datuk Madjoindo, berlangsung di Gedung Balai Pustaka Jakarta, Senin (22/2).

Komjen Pol Boy Rafli Amar selaku Kepala BNPT mengatakan bahwa karya asli dari kakeknya ini diangkat menjadi sebuah webseries, didasarkan pada semangat pembangunan nasionalisme. Selain juga menghibur dan memberikan sumbangan pemikiran.

“Tentu ada kaitan dalam membangun akhlak, semangat toleransi dan nasionalisme. Ini harus dapat menjadi perhatian yang bisa dilakukan,” kata Boy Rafli.

Ia menambahkan, karakter Si Doel Anak Jakarta yang bertoleransi dan belajar agama agar menjadi akhlak yang baik dan meraih masa depan yang baik pula.

“Ini kita kemas dan tonjolkan. Itulah pesan yang ingin kita kirim kepada publik. Kita ingin publik menempuh contoh-contoh terbaik yang pernah ditunjukkan dari pemikiran Si Doel ini,” ungkap Boy Rafli.

“Tentu dengan karya film, masyarakat akan lebih mudah melihat, kemudian menangkap pesan itu. Tetapi di situ ada unsur hiburan dan mengedukasi publik. Sebenarnya, itu harapan dari BNPT,” katanya.

Sementara itu, Achmad Fachrodji selaku Direktur Utama PT. Balai Pustaka mengatakan bahwa Aman Datuk Madjoindo adalah sastrawan legendaris Indonesia yang melawan penjajahan melalui tulisan.

Memulai karir sebagai penulis sejak tahun 1920, Aman Datuk Madjoindo pro kemerdekaan RI. Ketika banyak novel dari karya para sastrawan lainnya yang tidak diizinkan terbit. Sebaliknya, novel-novel karya Aman Datuk Madjoindo lulus sensor dari kolonial Belanda, karena mengangkat genre anak-anak yang tidak menjadi perhatian kolonial Belanda.”

Aman Datuk Madjoindo sangat mencintai Indonesia. Terbukti, penerbit di Malaysia pada saat itu sangat tergiur untuk menerbitkan buku-buku yang beliau tulis dengan menawarkan imbalan yang cukup besar, tapi ditolaknya.

“Aman Datuk Madjoindo lebih memilih Balai Pustaka, penerbit dari Tanah Airnya sendiri,” jelas Achmad Fachrodji yang menganjurkan agar casting webseries Si Doel Anak Jakarta dilakukan di Balai Pustaka.

Aditya Yusma Perdana selaku Produser webseries Si Doel Anak Jakarta membenarkan, sudah sewajarnya karya sastra klasik dari Aman Datuk Madjoindo terus dilestarikan.

Baginya, banyak hal positif yang bisa dipetik dari karya Si Doel Anak Jakarta, di tengah ingar bingar informasi di era digital saat ini.

“Karya-karya beliau menjadi tamu kehormatan di mancanegara, pun juga sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita melihat banyak karya beliau yang difilmkan dan sinetron, serta menjadi literasi di beberapa universitas terkemuka,” jelas Aditya Yusma Perdana.

Aditya Yusman Perdana juga mengatakan Si Doel Anak Jakarta merupakan salah satu contoh kasus transformasi untuk melepaskan stereotip lama yang melekat pada masyarakat Betawi. Salah satunya adalah ketidakmampuan secara pendidikan maupun secara ekonomi.

Si Doel Anak Jakarta ini mampu mengubah stigma tersebut lewat kepandaian dalam mengaji dan berakhlak. Kesalehan sosial tersebut menjadikan anak tersebut sukses dalam hidupnya, karirnya dan sukses pula dalam cintanya,” jelas Aditya Yusman Perdana.

Ia pun berharap webseries Si Doel Anak Jakarta menjadi film anak-anak yang berkualitas dan menjadi tontonan sekaligus tuntunan.

“Tontonan yang pasti menghibur,serta  tuntunan yang memberikan edukasi tentang toleransi dan budaya mencegah tumbuhnya bibit-bibit kekerasan yang mengarah pada terorisme dan sebagainya,” katanya. (Muhammad Fadhli)

Continue Reading
Advertisement

Trending