Connect with us

Film

Film ‘Dua Garis Biru’ Rebut 4 Piala Maya

Published

on

Maizura bermain dalam film ‘Bebas’ meraih Piala Maya 2020 untuk kategori Aktris Pendatang Baru Terpilih

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tahun 2020 menjadi penyelenggaraan kedelapan Piala Maya. Ajang tahunan ini diprakarsai oleh akun Twitter@FILM_Indonesia, merupakan apresiasi nyata dari dunia maya untuk film-film Indonesia.

Nominasi dan para pemenangnya dipilih oleh komite pemilih, yang konsisten memperhatikan perkembangan film Indonesia sepanjang tahun. Mereka merangkainya ke dalam 28 kategori Terpilih.

Film Dua Garis Biru garapan sutradara Gina S. Noer dinyatakan sebagai Film Bioskop Terpilih.

Film yang dibintangi oleh Angga Yunanada dan Adhisty Zara, meraih empat penghargaan sekaligus, yakni: Film Bioskop Terpilih, Penyutradaraan Berbakat Film Panjang Karya Perdana, Aktris Pendukung Terpilih dan Penulisan Skenario Asli Terpilih.

Berikut daftar pemenang Piala Maya 8 yang dirangkum oleh Kabarhiburan.com dari acara Malam Puncak Piala Maya Semesta 8, di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Sabtu (8/2).

Film Cerita Panjang/ Film Bioskop Terpilih: Dua Garis Biru.

Penyutradaraan Terpilih:  Garin Nugroho (Kucumbu Tubuh Indahku).

Penyutradaraan Berbakat Film Panjang Karya Perdana (Piala Iqbal Rais): Gina S. Noer (Dua Garis Biru).

Aktris Utama Terpilih:  Raihaanun (27 Steps of May).

Aktor Utama Terpilih:  Lukman Sardi (27 Steps of May).

Aktris Pendukung Terpilih:  Cut Tari (Dua Garis Biru).

Aktor Pendukung Terpilih:  Baskara Mahendra (Bebas).

Aktris Pendatang Baru Terpilih (Piala Tuti Indra Malaon): Maizura (Bebas).

Aktor Pendatang Baru Terpilih: Muhammad Khan (Kucumbu Tubuh Indahku).

Penampilan Singkat Nan Berkesan (Piala Arifin C. Noer): – Dea Panendra (Bebas).

Aktor/Aktris Cilik/Remaja Terpilih: Muzakki Ramdhan (Gundala).

Penulisan Skenario Asli Terpilih: Gina S. Noer (Dua Garis Biru).

Penulisan Skenario Adaptasi Terpilih:  Ernest Prakasa dan Meira Anastasia (Imperfect).

Film Animasi Pendek Terpilih:  Nussa: Bundaku karya Chrisnawan Martantio.

Film Cerita Pendek Terpilih:  Lamun Sumelang karya Ludy Oji Prastama.

Film Independen non-Bioskop Reguler Terpilih:  Humba Dreams karya Riri Riza.

Film Dokumenter Pendek Terpilih:  Minor karya Vena Besta Klaudina dan Takziyatun Nufus.

Tata Kamera Terpilih:  Yadi Sugandi (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini).

Tata Rias Wajah dan Rambut Terpilih:  Talia Subandrio (Imperfect).

Tata Kostum Terpilih:  Retno Ratih Damayanti (Bumi Manusia).

Lagu Tema Terpilih:  Glenn Fredly dengan judul lagu Kembali ke Awal karya Glenn Fredly (Twivortiare).

Video Klip Musik Terpilih:  Isyana Sarasvati dengan judul Sikap Duniawi, sutradara Jordan Marzuki.

Tata Musik Terpilih: Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle (Gundala).

Penyuntingan Gambar Terpilih: – Sentot Sahid dan Reynaldi Christanto (Bumi Manusia).

Tata Efek Khusus Terpilih:  Qartl (Foxtrot Six).

Desain Poster Terpilih:  Alvin Hariz (Love for Sale 2).

Tata Suara Terpilih:  Khikmawan Santoso, Mohamad Ikhsan, dan Anhar Moha (Gundala).

Tata Artistik Terpilih:  Frans XR Paat (Perempuan Tanah Jahanam).

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Viral, Film Pendek ‘Crazy Fast Indonesian’ Karya Anak Bangsa

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Kabar gembira datang dari dunia perfilman Indonesia dengan hadirnya sebuah film pendek bertajuk Crazy Fast Indonesian.

Menurut banyak orang film ini memiliki kelas sebagai film layar lebar, diluncurkan secara eksklusif di akun Instagram sang pembuat film, yakni Charock, baru-baru ini.

Hingga saat ini, tak kurang dari 53 ribu orang yang menyaksikan film tersebut di instastory Charock_crk.

Menurut Charock, penggarapan film ini diselesaikan dalam waktu 1 bulan, yakni 2 minggu pembuatan konsep, 1 minggu syuting, dan 1 minggu editing. Terkait biaya, Charock masih mengunakan dana pribadinya.

“Dalam film ini saya mengangkat isu Indonesian Pride dan Karya Anak Bangsa. Saya ingin film pendek ini dapat menjadi wadah untuk menunjukan pencapaian industri modifikasi di Indonesia,” ujar Charock saat ditemui di Jakarta, Jumat (13/11).

Seperti diketahui, dalam episode pertama Crazy Fast Indonesian, dimunculkan sebuah mobil Porche Cayman yang telah dimodifikasi dengan Body Kit, hasil karya para modifikator andal Tanah Air. Semua sudah diluncurkan pada ajang Indonesia Modification Expo beberapa waktu lalu. Kini, paket Body Kit telah resmi dijual secara global di seluruh dunia.

Menariknya, film ini pun menyuguhkan alur cerita berikut efek efek yang dapat disejajarkan dengan kelas layar lebar. Termasuk tampilnya para bintang, seperti Selebgram Steffy Zamora, Elina Joerg, serta sosok crazy rich Surabaya, Melvin Tenggara yang muncul di akhir cerita.

Charock menjelaskan, di masa yang akan datang tidak hanya mengangkat mengenai dunia modifikasi, selain dapat menjadi promosi pariwisata yang baik.

Ia sudah merencanakan bahwa melalui film pendek ini akan diperkenalkan kekayaan kuliner, tempat wisata, serta budaya lokal di lokasi syuting di episode mendatang. Tentunya dengan sajian yang menarik dan tetap berbau otomotif.

“Saya cukup kaget dengan respons positif dari berbagai pihak. Awalnya, saya hanya melihat bahwa genre otomotif belum terlalu tergarap maksimal di dunia perfilman Indonesia, terutama terkait modifikasi mobil. Ternyata atensi yang saya dapatkan sangat positif,  bahkan sudah ada beberapa tokoh otomotif dan perfilman yang mengontak saya,” katanya.

Para netizen pun rupanya dibuat kagum dengan film garapan Charock melalui CRK Pictures dan Premiere Works ini.

Seperti yang disampaikan akun @Humam_akbar yang menuliskan dirinya sudah tidak sabar menunggu kelanjutannya. Bahkan berharap ada versi bioskopnya.

Demikian pula akun @penz_fendi, yang mengatakan film ini memiliki alur cerita yang begitu bagus. Apalagi, angle pengambilan gambar dan suara yang membuat berdebar.

Ia lalu mengajak netizen lainnya untuk mendukung film ini, karena merupakan pembuktian karya anak bangsa dapat bersaing di dunia internasional.

“Akan ada kejutan menarik di episode 2. Yang pastinya akan lebih seru dan tak terbayangkan. Dtunggu saja ya, kemunculannya,” pinta Charcok. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Cara Baru Menonton Film Horor di Masa Pandemi Covid-19

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Berbulan-bulan sudah pandemi Covid-10 membatasi masyarakat bepergian. Saat ini, sekadar nonton bareng keluarga atau teman di bioskop saja menjadi kemeriahan yang tidak terjangkau.

Situasi ini membuat acara nonton film via smartphone maupun laptop atau PC, telah memanjakan kita tanpa harus keluar rumah menjadi alternatif yang sayang kalau tidak dipilih. Ini bisa jadi kemeriahan sesaat, yang mungkin jadi wajah baru industri hiburan.

Cukup download aplikasi streaming nonton film berbayar terlebih dulu, setelah itu bisa nonton film apa saja sepuasnya. Film horor juga ada.

Jakarta Horror Screen Festival (JHSF) 2020 mencoba membahas ‘Nonton Film Horor Streaming saat Pandemi Covid-19’ dalam talkshow episode 11, di studio Zonmer, Jakarta, pada Jumat (2/10).

Dipandu oleh Bismar Yogara dan Teguh Yuswanto, yang juga creative director JHSF, menghadirkan produser film Muhammad Bagiono, aktris Happy Anggita dan Viola Harahap serta aktor Roni Dozer dan DJ Kiki Noorza.

Mereka kompak mengaku tetap merawat hobi nonton film, melalui aplikasi berbayar pilihannya.

”Selama pandemi aku sih suka nonton film horor di rumah. Sukanya sih.. hmm.. kadang kalau lagi gak takut aja. Ha ha ha,” cerita Viola Harahap.

Jawaban senada juga disampaikan Kiki Noorza. Kiki yang menyukai film horor, selalu menikmatinya di kala santai di rumah.

”Hanya saja, menurutku, masih bagusan hantunya film horor Indonesia,” imbuhnya.

Lebih jauh Happy Anggyta mengatakan bahwa acara nonton di rumah, lebih terasa atmosfer maupun ketegangannya.

”Kalalu nonton film horor asing sering kali hantunya tidak diperlihatkan. Beda dengan nonton film horor Indonesia, hantunya seakan-akan ada di sebelah kita. Ha ha ha,” ujar Happy sambil tertawa.

Baginya, film horor yang diangkat dari kisah nyata, biasanya serem banget,” imbuh Happy Anggyta.

Produser film Bukan Jodoh Biasa dan  Get Lost, Muhammad Bagiono  mengatakan bahwa film horor Indonesia kian bagus dan menggembirakan, baik kualitas maupun kualitasnya.

Ia mengatakan bahwa menonton film lewat aplikasi VOD (Video on Demand) dan OTT (Over The Top) menjadi wajah baru industri hiburan, untuk mengenal karya sineas dan filmmaker dari banyak negara.

“Apalagi untuk film horor memberi banyak varian dan ide cerita. Ini akan sangat memancing para pelaku industri film di Tanah Air untuk terus mengayuh produktivitasnya,” jelas Bagiono.

Mengakhiri obrolan santai tersebut, Roni Dozer berbagi cerita pengalamannya main dalam film horor Jelangkung. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Kehadiran Perempuan di Film Horor

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Film horor menjadi sangat populer karena mampu menebar teror dan membuat penonton ketakutan. Menariknya, kehadiran perempuan bukan sekadar agar terlihat seksi, melainkan sebagai sosok hantu di film horor. Tak jarang pula karakter sang hantu perempuan mampu memancing simpati.

Demikian antara lain yang mengemuka dalam talk show Jakarta Horror Screen Festival 2020 bertema Film Horor dan Perempuan di studio Zona Merah, Jakarta Selatan, Jumat (25/9) sore.

Talkshow edisi podcast tersebut yang dipandu oleh Teguh Yuswanto dan Bismar Yogara tersebut, menghadirkan produser Muhammad Bagiono, pemain film dan model Laila Vitria dan presenter olah raga Farah Fang.

Bagiono membenarkan bahwa perempuan dalam industri film masih menjadi barang laku, termasuk di film horor,” ujar produser film Get Lost dan Bukan Jodoh Biasa.

Ia menambahkan bahwa  film-film horor sudah tidak lagi menempatkan perempuan hanya sebagai pemanis seperti belasan tahun silam. Dimana banyak film horor yang menjadikan perempuan sebagai pesona komersil alias mengeksploitasi seksualitas dan sensualitas.

“Hasilnya sudah ketebak toh, bukan lagi film cerita horor tapi lebih kepada absurdisme industrinya,” ujar Bagiono yang menambahkan bahwa film horor enggak mesti jualan sensualitas dan seksualitas. Sebaliknya, semakin kreatif menggali cerita lokal di tengah masyarakat.

“Sudah banyak rumah produksi semakin serius menggarap genre horor dengan meninggalkan selera dan kuaitas using,” jelas produder yang tengah menggarap film terbarunya, Ratu Kuntilanak.

Senada dengan Bagiono, Farah Fang membenarkan perfilman nasional sudah berbenah.

”Ketika industri itu merasa jenuh dan jalan di tempat, maka para pelakunya harus keluar dari zona nyaman mereka, dengan melakukan terobosan mutakhir,” ujar Farah Fang yang mencontohkan industry film Hollywood.

“Disana selalu saja melakukan banyak terobosan agar dapat bertahan rajanya industri film dunia,” tambahnya.

Memang sih, tidak ada parameter yang pasti, bahwa film horor yang mengeksploitasi perempuan dengan sensualitas serta di bungkus bumbu seks, maka akan banyak penontonnya.

Saat ini penonton kita lebih wisely karena seiring kemajuan teknologi semua juga berubah, termasuk adab para pelaku industrinya sendiri.

”Sudah banyak film-film horor nasional melibatkan aktris untuk memerankan karakter yang sangat bagus, tanpa sensualitas. Tinggal bagaimana menyatukan selera gambar, cerita, kualitas akting dan penyutradaraan yang baik serta promosi yang jempolan. Hal ini akan disambut para penikmat film horor nasional,” kata Farah Fang yang didampingi oleh Laila Vitria.

Laila membenarkan, sudah bukan masanya lagi genre horor dikemas dengan kualitas murahan.

”Saat ini para produser dituntut kreatif menciptakan film yang bagus agar bisa diterima oleh selera pasar yang sudah berubah. Bukan lagi sekadar membuat film horor dengan bumbu sensualitas perempuan belaka,” kata Laila Vitria. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending