Connect with us

Film

Film Eiffel I’m in Love 2, Konflik Batin Gadis yang Telat Nikah

Published

on

 

Kabarhiburan.com, Jakarta – Jadwal edar di bioskop baru mulai 14 Februari 2018 mendatang,  jauh-jauh hari Soraya Intercine Film sudah merilis trailer film Eiffel I’m in Love 2. Dalam tayangan berdurasi selama 2 menit itu tergambar konflik yang dihadapi Tita (Shandy Aulia) berusia 27 tahun yang belum menikah, sementara teman-teman sebayanya sudah membina rumah tangga.

Dalam film pertama, Tita dan Adit (Samuel Rizal) adalah dua remaja yang dekat karena persahabatan orang tua mereka. Perlahan namun pasti, Tita dan Adit  saling jatuh cinta. Mereka pun bertunangan tetapi menjalani hubungan jarak jauh Jakarta – Paris.

12 tahun kemudian, hubungan mereka masih awet dani tetap dipisah oleh jarak. Menurut produser Sunil Soraya, hubungan cinta semacam inilah yang dipaparkan di dalam Eiffel I’m in Love 2. “Ceritanya tentang gadis 27 tahun sudah memiliki tunangan namun belum menikah. Banyak hal seperti itu terjadi. Topik itu yang kami angkat,” ungkap Sunil yang ditemui di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/12) sore.

Dalam trailernya, digambarkan pertemuan Tita dengan teman-teman lama yang sudah berkeluarga. Mereka heran Tita masih betah berpacaran dengan Adit yang berada di Paris. Tita tampak lega saat orangtua memutuskan untuk tinggal sementara di Prancis. Tita gembira bisa bertemu Adit dan berharap segera dilamar.

Sunil yakin kisah yang sama juga dialami oleh banyak orang. Pernikahan teman sebaya, apalagi yang sudah memiliki anak seringkali menjadi tekanan bagi  orang yang masih lajang meski sudah memiliki tunangan. “”Kegelisahan itu, saya pikir semua orang bisa merasakan sendiri. Apalagi perempuan sudah umur 25 tahun. Saya rasa itu cukup umum. Setiap orang akan alami dan tahu hal itu,” jelas Sunil.

Selain Shandy dan Samuel,  Eiffel I’m Love 2 juga melibatkan Tommy Kurniawan, Helmy Yahya, Saphira Indah, Hilda Arifin dan Shakira Alatas. Naskah cerita ditulis oleh Donna Rosamayna dan diarahkan oleh sutradara Rizal Mantovani.

Dalam memerankan Tita, Shandy mengatakan ada perbedaan yang akan tampak. “Sekarang karena sudah ada dasar karakter dari film sebelumnya, saya tinggal mengembangkan dan memberi sedikit perubahan. Perubahan itu karena Tita, kan sekarang sudah lebih dewasa dalam pergaulan maupun hubungan keluarga,” jelas Shandy.

Senada dengan Shandy,  Samuel  mengatakan karakternya mengalami pendewasaan. “Ada sedikit pendewasaan karakter tapi tetap terjaga, Adit tetap cuek dan dingin,” tutur Samuel. Kedua tokoh ini tetap menjaga bagian-bagian penting dari karakter masing-masing agar masih tampak seperti Tita dan Adit yang lama.

Film pertama  (tayang tahun 2003)  juga dibintangi oleh Shandy dan Samuel, merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Rachmania Arunita sekaligus menulis naskah cerita. Nasri Cheppy menjadi sutradara. Sementara Melly Goeslaw dan Anto Hoed menjadi penata musik untuk kedua film. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Kevin Julio dan Yunita Siregar Jadi Pasangan Pemerhati Lingkungan dalam ‘Cerita Kita’

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Aktor Kevin Julio bersama Yunita Siregar dan Dian Sidik akan membintangi Cerita Kita. Sebuah drama series tentang edukasi pengelolaan lingkungan hidup, yang diangkat dari cerita  keseharian.

Menariknya, SCTV akan menghadirkan Cerita Kita di ruang keluarga Indonesia, setiap Minggu pukul 12.30 WIB, mulai 13 Juni 2021 mendatang. Usai menonton, segenap penonton pun diajak join dalam diskusi menarik lewat instagram SCTV.

Selain SCTV, penayangan drama series itu merupakan buah kerja sama dari berbagai pihak, yakni Kementerian Komunikasi dan Informasi RI, Kedutaan Norwegia, BBC  serta rumah produksi Screenplay.

Sebelum penayangannya, SCTV terlebih dulu memutar teaser Cerita Kita, dalam jumpa pers virtual, Kamis (10/6). Acara ini dihadiri oleh segenap pendukung mini series berdurasi 60 menit per episode tersebut.

Kevin Julio memperkenalkan karakternya sebagai sosok pemuda bernama Bodo Sejahtera, seorang anak harapan ibunya yang merantau ke Jakarta untuk sesuatu.

Kenyataannya, di Jakarta sedang dilanda musibah banjir, sehingga Bodo kembali lagi ke kampung asal. Di kampung, Bodo terlibat masalah soal isu lingkungan.

“Bodo ini simbol generasi muda yang sebenarnya punya suara untuk melakukan perubahan bersama-sama,” ujar Kevin Julio yang sudah membintangi puluhan sinetron, film dan FTV.

Di desa, Bodo bertemu dengan Tuji, anak Kepala Desa, yang diperankan oleh Yunita Siregar. Tuji adalah gadis terpelajar dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup.

“Akhirnya ketemu dengan Bodo yang memiliki visi misinya sama. Mereka sepakat untuk bikin sesuatu untuk lingkungan hidup yang lebih baik,” jelas pemain sinetron Hati yang Luka.

Selain Kevin Julio dan Yunita Siregar masih ada Dian Sidik yang memerankan karakter Salah, sosok lelaki yang trendy, tampan, energik dan penuh passion.

“Dia bisa mengejar apa saja keinginannya, termasuk dalam urusan asmara,” ujar Dian Sidik, yang mengaku bahagia mendapat andil dalam series bertema lingkungan.

“Gak melulu percintaan. Kepedulian kita terhadap lingkungan jauh lebih penting, yang semakin kesini banyak yang tidak peduli,” katanya.

Tak sekadar membawakan karakter yang diperankan, Kevin Julio mengaku mendapat  banyakpelajaran berharga, usai menjalani syuting Cerita Kita.

“Salah satu yang paling mengganggu pikiran saya adalah air. Saya baru tahu, baru dapat pengetahuan tentang air bahwa di tahun 2040 kita akan kehabisan air. Saya kepikiran sampai sekarang. Saya kan belum nikah, ya. Gimana nanti anak saya, kan kasihan,” ungkap Kevin.

Sutradara Vemmy Sagita meyampaikan antusis senada. Vemmy bahkan sempat menduga Cerita Kita merupakan sinetron biasa.

“Banyak banget yang bisa saya ambil sebagai pelajaran, yang sebelumnya kita enggak tahu apa-apa. Akhirnya jadi sangat spesial,” ungkap Vemmy yang mengaku suka pada ide edukasi yang dibumbui entertainment yang sangat menghibur.

Vemmy ditantang untuk memvisualkan cerita lingkungan ke dalam gambar dengan cara sangat sederhana dan mudah diterapkan kepada semua orang.

“Tidak akan pernah bosan dan merasa digurui dengan menonton cinta kita. Entertain banget,” pungkas Vemmy. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Prihatin Pada Ekosistem Perfilman Nasional, Lola Amaria: Film Asing Masih Tuan Rumah di Indonesia

Published

on

By

Lola Amaria

Kabarhiburan.com – Bagaimana caranya membuat film Indonesia agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Demikian pertanyaan yang mengemuka dalam Sosialisasi BSM Kebangkitan Perfilman dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19, secara virtual di Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Menurut produser film, sutradara, artis dan penggiat perfilman Indonesia, Lola Amaria, pertanyaan sederhana tersebut, memerlukan jawaban yang tidak sederhana. Karena, meski pertanyaan itu acap diulang-ulang, tapi sampai sekarang, pada praktiknya film Indonesia tetap belum mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

Yang terjadi, justru sebaliknya. Film impor atau film asing (Hollywood) yang justru menjadi tuan di Indonesia. Karena proteksi atas film nasional dan perlakuan yang diterima film produksi anak negeri, dalam peredarannya ditentukan di pemilik jaringan bioskop secara sepihak.

Yang tentu saja, menjadi rahasia umum, lebih mementingkan film impor yang notabene didatangkannya ke Indonesia, via bendera usahanya miliknya yang lain. Dan oleh karenanya, secara alamiah, jaringan bioskop miliknya, akan lebih mengutamakan peredaran filmnya sendiri. Demi mengembalikan modal dan alasan lainnya, dari pada film Nsional yang hanya “menumpang tayang” di jaringan bioskop miliknya.

“Bagaimana bisa menjadi tuan rumah, jika satu (1) bioskop ada lima (5) layar. Dan empat (4) layar itu, digunakan untuk memutar film asing dan hanya satu (1) layar untuk memutar film Indonesia. Itu namanya film asing menjadi tuan rumah di negeri Indonesia,” kata Lola Amaria dalam sesi Q n A di virtual meeting yang diinisiasi Lembaga Sensor Film (LSF).

Lola menambahkan, bioskop hanya pro pada film yang menguntungkan mereka. Karena sistem yang dibangun pemilik jaringan bioskop sudah berjalan seperti itu, dari lama.

“Atau film yang berbujet promo sangat besar. Apalah kita-kita ini, yang bikin film aja bujetnya kecil,” kata Lola sembari menekankan di masa pandemi yang membekap dunia ini, bukan hanya bioskop yang terkena dampak signifikan. Sektor yang lain, seperti pariwisata, penerbangan, perhotelan, media, juga sektor lainnya juga mengalami pukulan telak yang serupa.

Masih menurut Lola Amaria, media tonton karya kreatif seperti film, bukan hanya ada di bioskop. Ada Over The Top (OTT) dan media digital lainnya, karenanya dia tetap meminta ekosistem perfilman harus mampu dan mulai mencari alternatif penayangan film di luar bioskop yang sangat hegemonis.

Dalam acara yang juga menghadirkan Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia (GPBSI) Djonny Syahruddin, dan narasumber lainnya itu, tema Kebangkitan Perfilman dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19, juga dikritik oleh Lola Amaria.

“Harusnya bertema Kebangkitan Perfilman Indonesia dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19. Karena yang paling pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah ekosistem pendukung utama perfilman Indonesia, yaitu orang-orang kreatif seperti kami, sebagai backbone perfilman Indonesia,” tekan Lola Amaria. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

BNNK Jakarta Timur Gaungkan Bahaya Narkoba Melalui Film ‘75 KM Timur’

Published

on

By

Kepala BNNP DKI Jakarta Brigjend Tagam Sinaga, menyerahkan penghargaan kepada personil 693 Band, yang membawakan soundtrack film 75 KM Timur.

Kabarhiburan.com – Lokasi Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Indonesia di kawasan Lido, Bogor, yang berjarak 75 Kilometer dari Jakarta Timur, diangkat menjadi judul film 75 KM Timur.

Sebuah film pendek berdurasi 38 menit, bercerita tentang ancaman, bahaya dan rehabilitasi narkoba.

Melalui film ini, Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Jakarta Timur bermaksud  mengedukasi masyarakat luas tentang ancaman dan bahaya penyalahgunaan narkoba.

BNNK Jakarta Timur tidak sendirian. Mereka menggandeng Radio Muara dan para sineas muda di Jakarta Timur dalam menggarap film 75 KM Timur.

Kepala BNNK Jakarta Timur, Hendrajid Putut Widagdo mengatakan film 75 KM Timur didekasikan kepada masyarakat tentang bahaya nasrkoba dan pentingnya rehabilitasi bagi korban narkoba.

“Salah satu yang mendasar dalam penanganan narkoba adalah soal rehabilitasi yang belum banyak diketahui masyarakat. Pesan tersebut tersampaikan dalam film ini,” ujar Hendrajid Putut Widagdo selaku  Kepala BNNK Jakarta Timur di acara pemutaran perdana film 75 KM Timur, di Bioskop Buaran, Jakarta Timur.

“Nantinya film ini menjadi bahan sosialisasi BNNK Jakarta Timur ke tengah – tengah masyarakat maupun ke berbagai instansi,” tambahnya.

Menariknya, pemutaran perdana film ini dihadiri oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta, Brigjend Pol. Tagam Sinaga beserta jajarannya.

Film 75 KM Timur digarap oleh sutradara Arya BK dan produser Anton Siagian. Mereka memilih 9 pemain dan melakukan syuting selama 2 bulan.

Arya BK mengatakan film ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan isinya merupakan rangkuman kisah nyata dari kehidupan para pecandu narkoba.

“Semoga film ini dapat diterima dan disiarkan oleh televisi Nasional sehingga dapat ditonton oleh masyarakat secara luas,” pinta Arya BK.

Film 75 KM Timur mengajak agar masyarakat tidak menjauhi mereka yang terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkotika.

Sebaliknya, mereka memerlukan perhatian, perawatan hingga pengobatan agar bisa pulih kembali, berinteraksi sosial serta dapat menghadapi kehidupan yang lebih cerah.

Film 75 KM Timur juga dipersembahkan untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih bersih. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending