Connect with us

Film

Film ‘Horas Amang’, Sarat Pesan Moral yang Wajib Ditonton Keluarga Indonesia

Published

on

Sutradara Steve RR Wantania memberi keterangan kepada wartawan disaksikan seluruh pendukung film Horas Amang: Tiga Bulan Untuk Selamanya, yang tayang, mulai Kamis (26/9) mendatang.

Kabarhiburan.com – Semasa kecilnya Pardamean pernah nyaris tenggelam saat mandi di Danau Toba. Beruntung, muncul anak perempuan bernama Artha, yang jago berenang bergegas memberi pertolongan kepada Pardamean.

Selain mengucapkan terima kasih, Pardamean sempat mengucapkan janji, kelak setelah dewasa bakal  menikahi Artha.

Siapa sangka, Artha (diperankan Vanessa Marpaung) nekad mendatangi rumah Pardamean (Dendi Tambunan) di pemukiman bernama Kampung Toba di Jakarta. Ia langsung menagih janji yang dicapkan Pardamean, 12 tahun silam di tepian Danau Toba.

Kehadiran Artha, tentu saja membuat Pardamean kelimpungan mengatasi amukan keluarganya. Sebut saja, ayahnya seorang duda yang dipanggil Amang (diperankan Cok Simbara); abangnya, Maruli (diperankan Tanta Ginting); kakaknya, Tarida (diperankan Novita Dewi) dan Namboru.

Ulah Pardamean semakin menambah berat beban pikiran Amang di hari tuanya. Amang melihat masing-masing anaknya lebih terbuai kepada jabatan, karir dan uang. Semua sibuk, membuat Amang merasa kesepian.

Terbukti, saat Amang ingin menjamu saat dirinya merayakan ulang tahun, tidak satu anak pun yang hadir. Begitu pula keinginannya agar pernikahan Maruli dilaksanakan secara adat Batak, juga tidak terpenuhi.

Puncaknya, ketiga anaknya malah bersekongkol memaksa Amang agar menjualkan saja rumah mereka. Selanjutnya uang penjualan rumah ingin dibagi rata.

Keinginan anak-anaknya langsung membuat Amang marah besar. Rasa kecewa Amang dilampiaskan dengan berjanji tidak akan memberi harta warisan kepada anak-anaknya.

Yang membuat ketiga anaknya  kaget setengah mati adalah surat dokter yang ditunjukkan Amang. Di sana dituliskan bahwa tubuhnya sudah digerogoti kanker ganas sejak lama. Hasil pemeriksaan dokter menyebut bahwa usia Amang hanya bersisa tiga bulan lagi.

Apa yang akan dilakukan Amang di hari-hari terakhirnya, untuk mengubah pola hidup ketiga anaknya?

Demikian sinopsis film Horas Amang: Tiga Bulan Untuk Selamanya, yang tayang di layar bioskop Tanah Air, mulai Kamis (26/9) mendatang.

Bersifat Universal

Cerita Horas Amang ditulis oleh Ibas Aragi ini, sukses dipentaskan Teater Legiun (2016). Sukses tersebut menginspirasi Rumah produksi Prama Gatra Film dan Rumah Semut Film untuk menyajikan alternatif tontonan film drama keluarga yang menghibur pecinta film Nasional.

Seperti judulnya, dalam bahasa Batak. Horas Amang berlatar Tanah Batak di tepian Danau Toba yang indah. Sutradara Steve RR. Wantania dan Irham Acho Bachtiar mengukuhkan cerita terasa natural melalui dialog berbahasa Batak dan bahasa Indonesia dialek Sumatera Utara.

Situasi ini semakin dikukuhkan oleh soundtrack film berupa musik tradisional Batak dan lagu Anak Na Burju ciptaan Bunthora Situmorang serta lagu Holan Ho ciptaan Novita Dewi.

Produsernya Asye Berti Saulina Siregar mengatakan bahwa film berdurasi 135 menit ini  memang kental dengan latar budaya batak. Namun persoalan yang diangkat dalam cerita bersifat universal, yang dialami oleh orang tua manapun.

“Film ini saya persembahkan kepada siapa saja yang masih memiliki orang tua. Film ini sarat dengan pesan moral yang luar biasa. Jangan sampai dilewatkan,” ujar Asye berpromosi usai screening press film Horas Amang di bioskop Epicentrum, Senin (23/9).

Selain Cok Simbara, Vanessa, Dendi Tambunan, Novita Dewi dan Tanta Ginting, film Horas Amang juga menghadirkan Piet Pagau, Jack Marpaung, Indra Pacique, Jufriaman Saragih dan Manda Cello. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Viral, Film Pendek ‘Crazy Fast Indonesian’ Karya Anak Bangsa

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Kabar gembira datang dari dunia perfilman Indonesia dengan hadirnya sebuah film pendek bertajuk Crazy Fast Indonesian.

Menurut banyak orang film ini memiliki kelas sebagai film layar lebar, diluncurkan secara eksklusif di akun Instagram sang pembuat film, yakni Charock, baru-baru ini.

Hingga saat ini, tak kurang dari 53 ribu orang yang menyaksikan film tersebut di instastory Charock_crk.

Menurut Charock, penggarapan film ini diselesaikan dalam waktu 1 bulan, yakni 2 minggu pembuatan konsep, 1 minggu syuting, dan 1 minggu editing. Terkait biaya, Charock masih mengunakan dana pribadinya.

“Dalam film ini saya mengangkat isu Indonesian Pride dan Karya Anak Bangsa. Saya ingin film pendek ini dapat menjadi wadah untuk menunjukan pencapaian industri modifikasi di Indonesia,” ujar Charock saat ditemui di Jakarta, Jumat (13/11).

Seperti diketahui, dalam episode pertama Crazy Fast Indonesian, dimunculkan sebuah mobil Porche Cayman yang telah dimodifikasi dengan Body Kit, hasil karya para modifikator andal Tanah Air. Semua sudah diluncurkan pada ajang Indonesia Modification Expo beberapa waktu lalu. Kini, paket Body Kit telah resmi dijual secara global di seluruh dunia.

Menariknya, film ini pun menyuguhkan alur cerita berikut efek efek yang dapat disejajarkan dengan kelas layar lebar. Termasuk tampilnya para bintang, seperti Selebgram Steffy Zamora, Elina Joerg, serta sosok crazy rich Surabaya, Melvin Tenggara yang muncul di akhir cerita.

Charock menjelaskan, di masa yang akan datang tidak hanya mengangkat mengenai dunia modifikasi, selain dapat menjadi promosi pariwisata yang baik.

Ia sudah merencanakan bahwa melalui film pendek ini akan diperkenalkan kekayaan kuliner, tempat wisata, serta budaya lokal di lokasi syuting di episode mendatang. Tentunya dengan sajian yang menarik dan tetap berbau otomotif.

“Saya cukup kaget dengan respons positif dari berbagai pihak. Awalnya, saya hanya melihat bahwa genre otomotif belum terlalu tergarap maksimal di dunia perfilman Indonesia, terutama terkait modifikasi mobil. Ternyata atensi yang saya dapatkan sangat positif,  bahkan sudah ada beberapa tokoh otomotif dan perfilman yang mengontak saya,” katanya.

Para netizen pun rupanya dibuat kagum dengan film garapan Charock melalui CRK Pictures dan Premiere Works ini.

Seperti yang disampaikan akun @Humam_akbar yang menuliskan dirinya sudah tidak sabar menunggu kelanjutannya. Bahkan berharap ada versi bioskopnya.

Demikian pula akun @penz_fendi, yang mengatakan film ini memiliki alur cerita yang begitu bagus. Apalagi, angle pengambilan gambar dan suara yang membuat berdebar.

Ia lalu mengajak netizen lainnya untuk mendukung film ini, karena merupakan pembuktian karya anak bangsa dapat bersaing di dunia internasional.

“Akan ada kejutan menarik di episode 2. Yang pastinya akan lebih seru dan tak terbayangkan. Dtunggu saja ya, kemunculannya,” pinta Charcok. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Cara Baru Menonton Film Horor di Masa Pandemi Covid-19

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Berbulan-bulan sudah pandemi Covid-10 membatasi masyarakat bepergian. Saat ini, sekadar nonton bareng keluarga atau teman di bioskop saja menjadi kemeriahan yang tidak terjangkau.

Situasi ini membuat acara nonton film via smartphone maupun laptop atau PC, telah memanjakan kita tanpa harus keluar rumah menjadi alternatif yang sayang kalau tidak dipilih. Ini bisa jadi kemeriahan sesaat, yang mungkin jadi wajah baru industri hiburan.

Cukup download aplikasi streaming nonton film berbayar terlebih dulu, setelah itu bisa nonton film apa saja sepuasnya. Film horor juga ada.

Jakarta Horror Screen Festival (JHSF) 2020 mencoba membahas ‘Nonton Film Horor Streaming saat Pandemi Covid-19’ dalam talkshow episode 11, di studio Zonmer, Jakarta, pada Jumat (2/10).

Dipandu oleh Bismar Yogara dan Teguh Yuswanto, yang juga creative director JHSF, menghadirkan produser film Muhammad Bagiono, aktris Happy Anggita dan Viola Harahap serta aktor Roni Dozer dan DJ Kiki Noorza.

Mereka kompak mengaku tetap merawat hobi nonton film, melalui aplikasi berbayar pilihannya.

”Selama pandemi aku sih suka nonton film horor di rumah. Sukanya sih.. hmm.. kadang kalau lagi gak takut aja. Ha ha ha,” cerita Viola Harahap.

Jawaban senada juga disampaikan Kiki Noorza. Kiki yang menyukai film horor, selalu menikmatinya di kala santai di rumah.

”Hanya saja, menurutku, masih bagusan hantunya film horor Indonesia,” imbuhnya.

Lebih jauh Happy Anggyta mengatakan bahwa acara nonton di rumah, lebih terasa atmosfer maupun ketegangannya.

”Kalalu nonton film horor asing sering kali hantunya tidak diperlihatkan. Beda dengan nonton film horor Indonesia, hantunya seakan-akan ada di sebelah kita. Ha ha ha,” ujar Happy sambil tertawa.

Baginya, film horor yang diangkat dari kisah nyata, biasanya serem banget,” imbuh Happy Anggyta.

Produser film Bukan Jodoh Biasa dan  Get Lost, Muhammad Bagiono  mengatakan bahwa film horor Indonesia kian bagus dan menggembirakan, baik kualitas maupun kualitasnya.

Ia mengatakan bahwa menonton film lewat aplikasi VOD (Video on Demand) dan OTT (Over The Top) menjadi wajah baru industri hiburan, untuk mengenal karya sineas dan filmmaker dari banyak negara.

“Apalagi untuk film horor memberi banyak varian dan ide cerita. Ini akan sangat memancing para pelaku industri film di Tanah Air untuk terus mengayuh produktivitasnya,” jelas Bagiono.

Mengakhiri obrolan santai tersebut, Roni Dozer berbagi cerita pengalamannya main dalam film horor Jelangkung. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Kehadiran Perempuan di Film Horor

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Film horor menjadi sangat populer karena mampu menebar teror dan membuat penonton ketakutan. Menariknya, kehadiran perempuan bukan sekadar agar terlihat seksi, melainkan sebagai sosok hantu di film horor. Tak jarang pula karakter sang hantu perempuan mampu memancing simpati.

Demikian antara lain yang mengemuka dalam talk show Jakarta Horror Screen Festival 2020 bertema Film Horor dan Perempuan di studio Zona Merah, Jakarta Selatan, Jumat (25/9) sore.

Talkshow edisi podcast tersebut yang dipandu oleh Teguh Yuswanto dan Bismar Yogara tersebut, menghadirkan produser Muhammad Bagiono, pemain film dan model Laila Vitria dan presenter olah raga Farah Fang.

Bagiono membenarkan bahwa perempuan dalam industri film masih menjadi barang laku, termasuk di film horor,” ujar produser film Get Lost dan Bukan Jodoh Biasa.

Ia menambahkan bahwa  film-film horor sudah tidak lagi menempatkan perempuan hanya sebagai pemanis seperti belasan tahun silam. Dimana banyak film horor yang menjadikan perempuan sebagai pesona komersil alias mengeksploitasi seksualitas dan sensualitas.

“Hasilnya sudah ketebak toh, bukan lagi film cerita horor tapi lebih kepada absurdisme industrinya,” ujar Bagiono yang menambahkan bahwa film horor enggak mesti jualan sensualitas dan seksualitas. Sebaliknya, semakin kreatif menggali cerita lokal di tengah masyarakat.

“Sudah banyak rumah produksi semakin serius menggarap genre horor dengan meninggalkan selera dan kuaitas using,” jelas produder yang tengah menggarap film terbarunya, Ratu Kuntilanak.

Senada dengan Bagiono, Farah Fang membenarkan perfilman nasional sudah berbenah.

”Ketika industri itu merasa jenuh dan jalan di tempat, maka para pelakunya harus keluar dari zona nyaman mereka, dengan melakukan terobosan mutakhir,” ujar Farah Fang yang mencontohkan industry film Hollywood.

“Disana selalu saja melakukan banyak terobosan agar dapat bertahan rajanya industri film dunia,” tambahnya.

Memang sih, tidak ada parameter yang pasti, bahwa film horor yang mengeksploitasi perempuan dengan sensualitas serta di bungkus bumbu seks, maka akan banyak penontonnya.

Saat ini penonton kita lebih wisely karena seiring kemajuan teknologi semua juga berubah, termasuk adab para pelaku industrinya sendiri.

”Sudah banyak film-film horor nasional melibatkan aktris untuk memerankan karakter yang sangat bagus, tanpa sensualitas. Tinggal bagaimana menyatukan selera gambar, cerita, kualitas akting dan penyutradaraan yang baik serta promosi yang jempolan. Hal ini akan disambut para penikmat film horor nasional,” kata Farah Fang yang didampingi oleh Laila Vitria.

Laila membenarkan, sudah bukan masanya lagi genre horor dikemas dengan kualitas murahan.

”Saat ini para produser dituntut kreatif menciptakan film yang bagus agar bisa diterima oleh selera pasar yang sudah berubah. Bukan lagi sekadar membuat film horor dengan bumbu sensualitas perempuan belaka,” kata Laila Vitria. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Trending