Connect with us

Film

Film Horor Masih Merajai Bioskop Nasional Hingga 2019

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tahun 2018 belum berakhir. Tahun dimana industri film di Indonesia terus berkembang, baik dari kualitas maupun kuantitas dan mengundang sebanyak mungkin penonton untuk datang ke bioskop.

Kini penggemar film juga menanti genre apa yang akan tayang pada tahun 2019? Produser film dari Max Pictures, Ody Mulya Hidayat mengatakan, dari begitu banyak judul film yang tayang di bioskop sepanjang 2018, film horor menjadi salah satu genre yang banyak digemari masyarakat.

Situasi ini membuat beberapa sineas berbondong-bondong untuk membuat film horor. Nyaris setiap pekan ada saja produser yang merilis film horor, meski tidak semua menggapai sukses.

“Jadi memang kalau saya lihat, trennya masih horor sehingga produser lain masih bikin. Kalau saya enggak mau jadi follower. Saya harus bikin tren baru, yang bisa diterima selain horor,” ujar Ody yang ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pekan silam.

Bukan berarti Ody tidak suka membuat film horor. Ia memproduksi Keluarga Tak Kasat Mata (2017).

“Film horor, kalau enggak top-top amat, ya bisa dihitung angkanya (jumlah penonton) sampai berapa? Ada penonton, tetapi hanya sekian saja. Sebaliknya kalau istimewa, baru saya berani bikin,” ungkap Ody.

Bahkan, Ody sudah menyiapkan 4 judul film horor. Salah satunya, Tusuk Jaelangkung yang akan tayang pada Desember mendatang. Sisanya akan tayang pada 2019.

Melalui film horor terbarunya, Ody ingin mengungkapkan sesuatu yang baru. Sekaligus mematahkan stigma bahwa film horor tidak harus memunculkan sosok hantu maupun setan.

Ini (film) menyangkut perjalanan seseorang, sampai dia bertemu orang-orang astral. Seperti apa sih? Ketemunya seperti apa? Itulah yang akan saya kupas, sehingga lebih logic dan memberi edukasi. Yang seperti ini belum pernah ada di film sebelumnya,” ujar Ody berpromosi.

Sekuel Film Dilan 1990

Belajar dari pengalamannya selama belasan tahun di industri film, Ody merasa lebih baik mencari sesuatu (tema) yang baru.

Film Dilan 1990, Foto: Dok. Falcon

Ia mencontohkan ketika merilis film Dilan 1990 pada Januari 2018, sempat diragukan banyak orang bahwa film remaja itu bakal sukses. Alasannya tren film putih abu abu (remaja) masih jauh.

“Mereka skeptis dengan putih abu abu, tapi saya melihat dari ceritanya seperti apa. Hasilnya, saya berhasil mencuri perhatian, film Dilan 1990 bisa diterima dengan baik. Selama penayangannya, film Dilan 1990 mampu   menjual lebih  6,3 juta lembar tiket bioskop!

“Saat itu film horor sempat hilang. Setelah Dilan 1990 selesai penayangannya  film horor muncul lagi. Nah, saya mau buat yang seperti itu lagi, mencoba membuat film di luar horor,” kenang Ody, yang sudah menyiapkan  sekuel film Dilan 1990.

Baginya, tidak selalu mudah dalam menebak keinginan penonton. Setiap produser pasti punya resep macam-macam, tetapi tidak bisa menduga film mana yang akan laris manis.

“Tapi saya berusaha untuk ke sana, yakni membuat film yang disukai penonton. Paling tidak, bisa diperkirakan jumlah penonton. Ini dari kacamata saya lho, karena  setiap orang beda-beda,” ujar Ody yang mengaku sedang menggarap tujuh judul film terbaru. Salah satu di antaranya film biopik.

Menurut Ody, film biopik memiliki penonton tersendiri. Hanya saja, film yang mengangkat perjalanan hidup seseorang ini seyogianya dikemas secara tepat lebih ke edukasi dan sifatnya edukasi, biasanya masih disukai penonton.

“Saya sedang menyiapkan film biopik, tapi tetap yang menghibur dan menebar edukasi. Saya jaga benar, agar  jangan sampai ada unsur politik, saya tidak suka. Saya pilih netral aja,” ungkapnya.

Film biopik yang tengah digarap berjudul Taufiq Kiemas, tokoh masyarakat kelahiran Palembang, Sumatera Selatan.

“Jujur aja, saya mau bikin Taifiq Kiemas, tetapi saya komit dari awal bahwa beliau adalah sosok yang boleh dibilang nobody jadi somebody. Taufiq Kiemas berasal dari keluarga biasa, sosok yang sederhana, tetapi bisa jadi orang hebat. Itu kan luar biasa. Jadi sisi humanisnya bagus, film ini memberikan edukasi,” imbuhnya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Sutradara Kamila Andini Rilis Film YUNI

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Membuka tahun 2021, rumah produksi Fourcolours Films kembali menghadirkan film panjang. Kali ini berjudul YUNI. Seperti judulnya, film terbaru ini menceritakan mimpi dan pilihan seorang remaja perempuan bernama Yuni.

Sutradaranya, Kamila Andini sangat bersemangat dengan film panjang terbarunya.

“Setelah cukup lama jeda, saya sangat ingin membawa karya terbaru saya ke masyarakat. Cerita yang kami angkat di film YUNI, tentang mimpi dan pilihan seorang remaja perempuan,” ujar Kamila, Senin (12/1).

Produser Ifa Isfansyah mengaku bersyukur, film YUNI telah melalui proses pengambilan gambar sebelum pandemi.

“Saat ini kami menanti waktu yang tepat agar bisa bertemu penonton,” jelas Ifa yang sukses dengan film Kucumbu Tubuh Indahku, Abracadabra, dan Sekala Niskala.

YUNI merupakan proyek film yang disiapkan sejak tahun 2017,  merupakan produksi kerjasama dengan Akanga Film Asia (Singapura), Manny Films (Perancis) dan Kedai Film (Indonesia).

Produksi ini memperoleh dukungan pendanaan dari Infocomm Media Development Authority (IMDA), Singapore Film Comission, Aide Aux Cinémas Du Monde CNC France,Visions Sud Est Switzerland, Purin Pictures Thailand, MPA-APSA Academy Film Fund Australia dan terseleksi menjadi bagian dari Torino Film Lab di Italia.

Kerinduan akan menikmati karya film panjang baru dalam negeri, semoga akan dapat terobati dengan film panjang YUNI di 2021. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

STRO Rilis Film ‘Teacher’, Aksi Guru Menggulung Sindikat Narkoba di Sekolah

Published

on

By

Yova Gracia dan Estelle Linden

Kabarhiburan.com – Membuka tahun 2021, STRO, aplikasi streaming berbasis subscription (SVOD) merilis sekaligus pemutaran film perdana secara virtual, berjudul Teacher, Jumat (8/1/2021) malam.

Film bergenre action comedy ini merupakan salah satu konten original hasil kolaborasi SAS Film, Skylar Pictures dan STRO, memasangkan aktris kenamaan Yova Gracia dan Estelle Linden sebagai pemeran utama.

Mereka didukung oleh kehadiran para aktor Garry Iskak dan Teddy Syah, serta komedian Tarzan, Epy Kusnandar dan Rizki Mocil.

Berdurasi sepanjang 80 menit, film ini menceritakan sepak terjang polisi wanita yang lincah dan gesit, Agnes (Yova Gracia) dalam memberantas kejahatan, hingga komandannya (Tarzan) menugaskannya menggulung sindikat narkoba terselubung di sebuah sekolah dasar.

Dalam penyamarannya sebagai guru olah raga, Agnes bertemu Meg (Estelle Linden), guru kelas yang kalem, selain berkenalan dengan Glenn yang nyentrik selaku kepala sekolah.

Sebagai seorang polisi, tentu saja Agnes kewalahan menghadapi ragam ulah para murid yang kocak, bahkan penyamarannya pun terbongkar kepada Meg.

Beruntung, Meg bersedia menyimpan rahasia Agnes, dengan syarat Meg turut serta dalam misi rahasia. Selanjutnya, kedua wanita berbeda karakter tersebut bahu membahu mengemban tugas sebagai guru sekaligus menyelidiki sindikat narkoba.

Sebuah kesalahan fatal terjadi ketika menyatroni rumah Glenn, yang dikira sebagai gembong narkoba. Kesalahan tersebut membuat Agnes patah semangat dan mengundurkan diri dari kepolisian. Siapa sangka, Meg tampil sebagai penyelamat karir Agnes.

Devy Monica sebagai produser mempercayakan Sarjono Sutrisno sebagai sutradara, sosok yang sosok yang sejak 2008 menggeluti perfilman nasional sebagai executive producer untuk Skylar pictures,Aletta Pictures dan SAS Films.

Saksikan film Teachers yang sudah tersedia sejak 8 Januari 2021 di STRO, yang dapat diakses  melalui  android, iOs ataupun via browser web. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. STRO)

Continue Reading

Film

Film Pendek ‘Telu’, Merawat Kearifan Lokal Indonesia yang Unik

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Modernisasi dan penetrasi budaya luar tak bisa dibendung. Melawannya sama saja menentang arus, tapi satu yang perlu diingat, walau menerima, budaya dan kearifan lokal jangan sampai ditinggalkan. Pesan inilah yang coba disampaikan film pendek Telu garapan Gejos Film.

Telu mengangkat cerita keseharian yang dikemas ringan dan berbalut budaya Jawa dengan suasana desa di Yogyakarta, film pendek ini coba hadir di penghujung 2020 dan awal 2021.

Episode perdana film Telu sudah tayang di kanal YouTube pada 31 Desember 2020 lalu. Menceritakan seputar keluarga Mbah Atmo, seorang seniman Jawa di rumah dan pendopo tarinya, yang menyuguhkan berbagai tutur dan polah luhur Jawa yang tak mati dimakan waktu.

“Kita ingin tunjukkan bahwa masih ada keluarga yang memiliki tata krama, unggah ungguh dalam berkehidupan sehari-hari di tengah penetrasi budaya luar. Sesuatu yang sudah mulai hilang saat ini,” ujar Executive Producer II film Telu, Brilliana Arfira di Yogyakarta, Sabtu (2/1).

Walau mengedepankan pentingnya tata krama, lanjut Brilliana, film ini, menyuguhkan dialog yang mudah dicerna, terutama bagi kalangan milenial. Cerita ringan sehari-hari seperti kehilangan pisang atau menjual burung kesayangan bakal hadir dalam penggambaran konflik di rumah Mbah Atmo ini.

“Ide cerita dari saya, terus saya bicarakan dengan Mas Adit (M Yana Aditya, Executive Producer I). Mas Adit nambahin substansi mengenai tata krama dan kearifan lokal. Kemudian aku dikembangin jadi cerita. Akhirnya, Bismillah kita jalan produksi di awal Desember 2020,” ujar Brilliana yang juga main di film pendek ini sebagai Wanti, istri Sarjono, mantu Mbah Atmo.

Konflik yang dibangun dalam film ini banyak dimulai dari tokoh Sarjono yang diperankan apik oleh Susilo Nugroho. Anak Mbah Atmo (Liek Suyanto), sang pemilik pendopo yang ingin dipanggil Jon ini adalah sosok pria slengean, grasah grusuh dan tergila-gila pada hobi memelihara burung.

Sutradara Telu, Hendry Arie Nugroho mengatakan, tak terlalu sulit mengarahkan Susilo menjadi ‘biang kerok’ alias pusaran konflik di film ini, mengingat Susilo, aktor teater dan pelawak dan dikenal dengan sebutan Den Baguse Ngarso lewat perannya sebagai tokoh antagonis dalam ‘Mbangun Deso’ di TVRI Yogyakarta pada era 90an ini memang sudah terbiasa berperan nyeleneh, sok tahu dan mau menang sendiri.

“Grasah grusuhnya itu sudah muncul, jadi nggak sulit,” ujar sutradara yang pernah bekerjasama dengan Garin Nugroho sebagai Cast Director di film Ku Cumbu Tubuh Indahmu.

Karakter Mbah Atmo yang diibaratkan tokoh Semar dalam pewayangan, diperankan Liek Suyanto dengan banyak memberikan sentuhan improvisasi. Mbah Atmo inilah nantinya yang bakal menjadi benteng ampuh menghadapi tingkah polah nyeleneh Sarjono yang kerap bikin kisruh di keluarga.

“Skenario itu, kan bahasa tulisan yang tidak sepenuhnya bisa jadi bahasa kata-kata. Saya coba menterjemahkan bahasa di skenario tentang peran saya sebagai orang Jawa yang mengayomi, tidak perlu marah-marah dengan sentuhan improvisasi itu,” ujar Suyanto.

Aktor asal Yogyakarta yang kerap muncul di sejumlah sinetron dan FTV ini pun punya cita-cita yang sama dengan pesan utama film pendek ini.

“Saya salut dengan anak-anak muda yang mau mengangkat budaya dan tata krama di tengah arus modernisasi. Teknologi dan modernisasi itu jangan dilawan, tapi budaya asli kita pun jangan ditinggalkan,” ucap Suyanto.

Sedangkan Dyah Novia, pemeran tokoh Gendhis di film ini melihat sosok anak Sarjono ini adalah perwakilan milenial yang masih mau mempertahankan budaya Jawa dengan banyak menghabiskan waktu bersama kakeknya, Mbah Atmo untuk berkesenian.

“Figur yang masih suka main Tiktok, tapi tetap semangat berkesenian. Bahkan Gendhis ini bisa asyik dengan dunia berkeseniannya saat melihat ibu-bapaknya berkonflik,” ucap Dyah yang juga optimis pesan sederhana film ini akan sampai ke generasi milenial.

Saksikan episode kedua Telu, tayang Kamis (7/1), disusul episode ketiga pada Kamis (14/1). (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending