Connect with us

Film

Film ‘Terima Kasih Cinta’ Tentang Perjuangan Melawan Lupus

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Setelah tertunda selama dua tahun, akhirnya film Terima Kasih Cinta siap meramaikan layar bioskop Nasional mulai Kamis (17/1) mendatang.

Sebuah film drama keluarga dari sutradara Tema Patrosza, merupakan kisah nyata seorang remaja putri asal Bekasi, Jawa Barat, bernama Eva Meilina.

Ia harus berjuang melawan penyakit lupus hingga akhir hidupnya. Semangat Eva untuk hidup menjadi inspirasi utama film yang produksi Bintang Pictures ini.

Eva yang diperankan Putri Marino, seorang gadis SMA yang berkenalan dengan Ryan (Achmad Meghantara) saat kegiatan MOS di sekolahnya, dalam kelompok anak yang memiliki penyakit.

Ketika Eva mendadak jatuh pingsan, semula Ryan mengira Eva hanya pura-pura sakit seperti dirinya dan beberapa anak lain, agar dibebaskan dari tugas berat dalam kegiatan MOS.

Kenyataannya Eva bukan berpura-pura. Eva pingsan beneran, sehingga Ryan harus membawa Eva ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Kabar ini langsung mengejutkan orang tua Eva, pasangan Badarudin (Gary Iskak) dan Sugiarti (Cut Mini). Mereka selama ini menganggap kejadian pingsan yang dialami Eva hanyalah penyakit biasa. Keduanya kembali terkejut saat mendengar vonis dokter bahwa Eva mengidap penyakit lupus.

Film ini menyajikan banyak pesan moral, terutama mengenai kasih sayang, keluarga, dan juga pertemanan. Selain memberikan pemahaman mengenai penyakit lupus yang mungkin masih asing di telinga sebagian masyarakat.

“Saya mencoba masuk ke film dengan mengangkat dunia edukasi mengenai keluarga, dan empati ke penderita lupus,” ujar Wiwiek Hargono selaku Eksekutif Produser dalam jumpa pers usai pemutaran perdana di Jakarta, Rabu (9/1) kemarin.

Seluruh adegan dalam film Terima Kasih Cinta diambil di kota Bekasi sesuai dengan domisili Eva yang ada dalam novelnya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Pohon Terkenal Angkat Romantika Kehidupan Para Taruna Akpol

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Pohon Terkenal adalah sebutan bagi Taruna maupun Taruni yang gemar membuat ulah selama menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian.

Julukan ini diangkat menjadi  judul film produksi  perdana Divisi Humas Mabes Polri. Film ini sudah tayang di layar bioskop di Tanah Air, sejak Kamis (21/3).

Sebelumnya, Divi Humas menyelenggarakan acara pemutaran perdana  Pohon Terkenal di bioskop Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Film berdurasi 96 menit ini dibuat oleh produser Soemarsono bersama sutradara Monty Tiwa dan Annisa Meutia, yang bersama Lina Nurmalina menulis naskahnya.

Mereka memilih Umay Shahab, Laura Theux dan Raim Laode sebagai bintang utama, didampingi Adjis Doa Ibu dan Cok Simbara, serta puluhan taruna-taruni di Akademi Kepolisian, Semarang.

“Film ini mengemas dinamika kehidupan para calon polisi selama menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian. Ada duka dan bahagia, selain romantika juga ada,” ujar Kadiv Humas Polri, Irjen. Pol. Mohammad Iqbal, SIK, MH yang ditemui di Bioskop Epicentrum, Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (21/3).

“Film ini sangat layak ditonton. Oleh sebab itu, enggak muluk-muluk kalau kami ingin agar film ini mencapai box office,” imbuh Iqbal.

Cerita Pohon Terkenal berpusat pada tiga orang taruna baru bernama Bara Maulana (Umay Shahab), Ayu Sekarwati (Laura Theux), dan Johanes Solossa (Raim Laode). Mereka meninggalkan kehidupan remaja normal, lalu menjalani kehidupan baru sebagai calon perwira.

Sutradara Monty Tiwa mengemas cerita aspek kepolisian, lalu  mencampurnya dengan unsur komedi dan romantika dari ketiga tokoh utama. Jadilah Pohon Terang menjadi tontonan yang menghibur.

“Saya mendapat kebebasan untuk mengungkapkan kehidupan apa adanya para taruna-tarini di Akpol,” ujar Monty Tiwa yang melakukan syuting selama dua minggu di Semarang. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto: Dok. Humas Mabes Polri)

Continue Reading

Event

Sepuluh Film Terlaris Akan Lomba Terbaik Dalam Ajang IBOMA 2019

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sebanyak 10 judul film terlaris, alias jumlah penonton terbanyak, akan bersaing merebut juara dalam ajang penghargaan  Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) 2019, yang akan digelar di Studio Emtek, Jakarta, Jumat (5/4) mendatang.

Film-film yang dimaksud adalah Dilan 1990, Suzzana: Bernapas Dalam Kubur, Danur 2: Maddah, Si Doel The Movie, Asih, Teman Tapi Menikah, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Jailangkung 2, A Man Called Ahok, dan Milly & Mamet.

Semua film ini dinyatakan telah meraup jumlah penonton terbanyak selama kurun waktu 1 Januari  hingga 31 Desember 2018.

David Suwarto selaku Deputy Director Programming SCTV, mengatakan bahwa IBOMA merupakan sedikit kontribusi SCTV terhadap industri film Tanah Air.

“Kami ingin mengapresiasi kerja keras teman-teman produser, sutradara, pemain dan seluruh tim yang telah menghasilkan film-film yang diminati masyarakat,” ujar David dalam jumpa pers di SCTV Tower, Senayan City, Kamis (14/3).

Ia menambahkan bahwa sepanjang 2018 film Indonesia telah mencatat rekor jumlah penonton terbanyak, yakni 51.192.832 tiket. “Ini merupakan pencapaian luar biasa. Tentu kami berharap jumlah penonton terus bertambah di tahun mendatang,” imbuhnya.

Dalam ajang IBOMA 2019, masing-masing film akan memperebutkan 12 kategori penghargaan, sebagai Film Box Office Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Terbaik, Pendatang Baru Terbaik, Poster Film Terbaik, Trailer Film Terbaik, Original Soundtrack Film Terbaik dan Ensemble Talent Terbaik.

Selain 12 kategori tersebut, tersedia pula tiga kategori lain yang akan dianugerahkan tanpa proses penjurian. Tiga kategori ini didasarkan pada raihan jumlah penonton, yakni Top 10 Film Box Office Tahun Ini, Film Box Office Tahun Ini, dan Produser Film of The Year.

Guna menemukan para pemenangnya, panitia pun telah memilih tujuh juri yang kompeten dari berbagai kalangan. Mereka adalah Reza Rahadian, Monty Tiwa, Hanung Bramantyo,  Ayushita Nugraha, Cesa David Luckmansyah, Prisia Nasution dan Sha Ine Febrianti.

Reza Rahadian mengaku bahagia dengan 10 film Box Office yang masuk dalam nominasi sebab mewakili berbagai macam genre film. Perbedaan filmnya sangat jelas, meliputi berbagai macam genre sehingga tidak ada genre yang mendominasi.

“Kami juri juga senang melihat warna yang ada dari kesepuluh film ini,” ujar Reza Rahadian. (Tumpak Sidabutar/KH).

Continue Reading

Film

‘The Sacred Riana Beginning’: Film Horor Rasa Baru

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sosok The Sacred Riana memang banyak menarik perhatian publik. Dengan penampilan misterius dan rahasia pertemanannya dengan boneka Riani terus menarik perhatian sekaligus pertanyaan publik.

Kemisteriusan inilah yang coba diangkat dalam  The Sacred Riana Beginning. Film ini akan tayang serentak di layar bioskop mulai besok, Kamis (14/3).

Sebelum ke sana, Nant Entertainment terlebih dulu menggelar Gala Premiere di bioskop Plaza Senayan, Jakarta, Senin (11/3).

Film  yang disutradarai oleh Billy Christian  ini bercerita tentang Riana yang sejak kecil merasa terkucil di rumahnya. Ayah (Prabu Revolusi) dan ibunya (Citra Prima) seperti tidak punya waktu untuk berbagai dengan putri tunggal mereka.

Sebuah musibah kebakaran membuat  keluarga ini pindah  ke rumah kakak ayahnya Johan (William Bevers), seorang pedagang dan kolektor  barang antik.  Riana menemu boneka yang diberinya nama Riani.

Dengan bantuan Klara, seorang guru Bimbingan Penyuluhan di sekolahnya, akhirnya menemukan bahwa Riana  berkemampuan indigo (mampu melihat mahluk gaib) sekaligus telekinesis.

Klara berupaya agar Riana bersosialisasi. Caranya, Klara mengajak tiga anak untuk menginap di rumah Riana. Mereka adalah Hendro (Ken Anggrean),  Lusi (Agatha Chelsea) dan Anggi (Clara Nadine), yang  pernah mengidap indigo.

Sebuah kecerobohan menghadapkan mereka pada kemunculan sosok hantu jahat bernama Bava Gogh (Carlos Camelo), seorang psikopat yang hidup di abad ke 19 menjadi pembunuh berantai sejumlah anak perempuan. Salah seorang korbannya  berada  dalam boneka Riani.

Sosok hantu jahat dan keji dengan kostum dan dandananya  mengingatkan pada film horor dan fantasi karya sutradara Amerika Tim Burton yang gemar memakai elemen gotik.  Billy Christian mengakui The Sacred Riana: Beginning   bergenre horor fantasi.

Sosok Bava Gogh mengingatkan pada sosok Joker dalam Batman. Begitu juga dengan suasana rumah tua dengan barang-barang antik, seperti  Dark Shaddows. Oleh Billy dikombinasi dengan sosok hantu suster ngesot dalam berapa adegan. Terciptalah sinematografi yang menawarkan horor baru.

“Saya menawarkan film horor yang belum pernah ada di film horor Indonesia sebelumnya,” ujar Billy Christian. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending