Connect with us

Film

Film ‘The Original of Santet’ Gentayangan di Layar Bioskop Mulai Besok, 4 Oktober 2018

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Dua hari jelang tayang serentak di layar bioskop Tanah Air, para pendukung film The Original of Santet menggelar Media Screening dan Jumpa pers, Selasa (2/10).

Film ini sudah dapat dinikmati pecinta film horor mulai besok, Kamis 4 Oktober 2018. Disusul penayangan di Malaysia mulai 25 Oktober mendatang.

Dari judul dan posternya saja, sudah menjelaskan bahwa film terbaru rumah produksi Skylar Pictures ini merupakan film horor, di bawah arahan sutradara Helfi Kardit.

Menceritakan kepulangan Rendy (Marcelino Leftrand) dan Laura (Kelly Brook-Inggris) beserta dua anak perempuan mereka, Aliyah (Jazz Ocampo-Filipina) dan Kelly (Bali Curtain-Australia) dari Amerika ke Indonesia.

Tragedi meninggalnya ayah Rendy karena bunuh diri serta penyakit parah yang diderita sang ibunda membuat mereka mulai terperangkap dalam sebuah teror, yang nyaris mencelakakan keluarga Rendy.

Suasana jumpa pers film ‘The Original of Santet’, antara lain menghadirkan: Ray Sahetapi, Ayu Diah Pasha, Sutradara Helfi Kardit, Marcelino Leftrand dan penulis cerita Maruska Bath.

Helfi Kardit dan penulis cerita Maruska Bath sengaja menyajikan cerita yang simple tentang santet, tanpa harus menampilkan sosok setan terus-menerus sepanjang durasi lebih dari 90 menit.

“Film horor yang saya tulis ini membutuhkan banyak riset,“ ungkap Maruska yang ditemui di bioskop Kemang Village, Jakarta, Selasa (2/10).

Riset yang dimulai dari konsultasi dengan orang yang benar-benar tahu tentang santet, termasuk ritual dan mantra-mantranya.

“Saya bertemu dengan orang pintar sampai tiga-empat kali. Ketika naskah skenario sudah jadi, masih konsultasi dengan mereka, yang memberitahu dan mengarahkan ini-itu dan segala macam tentang santet,“ jelas Maruska.

Maruska Bath, penulis skenario ‘The Original of Santet’

Dalam mematangkan cerita, Maruska diskusikan dengan Helfi Kardit guna membahas tampilan dan kemasan film, agar tidak meniru film-film horor era 1980-an.

“Kalau film-film horor tahun 80-an, kan ada keris atau kemenyan atau pernak-pernik lain. Dalam film ini kita ingin gambar lebih eksklusif  dan cerita yang kuat tentang santet,” ujar Maruska.

Melalui The Original of Santet, Maruska ingin menitipkan pesan moral, agar setiap orang berhati-hati, jangan sampai menyakiti perasaan orang lain.

“Ketika melakukan suatu kejahatan, kita tidak bisa mengejar apa-apa, selain hanya mendapatkan akibat dan dampak buruk dari kejahatan itu,” tegasnya.

Produser eksekutif, Sarjono Sutrisno juga menghadirkan para bintang senior Ray Sahetapi, Ayu Diah Pasha dan Tien Kardoyono.

Sarjono berharap film ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat dengan raihan penonton yang banyak. “Kalau film ini meraih sejuta penonton, maka kami akan menyumbang Rp 1 miliar untuk korban bencana alam di Lombok, Palu, Donggala,” ungkapnya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Kehadiran Perempuan di Film Horor

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Film horor menjadi sangat populer karena mampu menebar teror dan membuat penonton ketakutan. Menariknya, kehadiran perempuan bukan sekadar agar terlihat seksi, melainkan sebagai sosok hantu di film horor. Tak jarang pula karakter sang hantu perempuan mampu memancing simpati.

Demikian antara lain yang mengemuka dalam talk show Jakarta Horror Screen Festival 2020 bertema Film Horor dan Perempuan di studio Zona Merah, Jakarta Selatan, Jumat (25/9) sore.

Talkshow edisi podcast tersebut yang dipandu oleh Teguh Yuswanto dan Bismar Yogara tersebut, menghadirkan produser Muhammad Bagiono, pemain film dan model Laila Vitria dan presenter olah raga Farah Fang.

Bagiono membenarkan bahwa perempuan dalam industri film masih menjadi barang laku, termasuk di film horor,” ujar produser film Get Lost dan Bukan Jodoh Biasa.

Ia menambahkan bahwa  film-film horor sudah tidak lagi menempatkan perempuan hanya sebagai pemanis seperti belasan tahun silam. Dimana banyak film horor yang menjadikan perempuan sebagai pesona komersil alias mengeksploitasi seksualitas dan sensualitas.

“Hasilnya sudah ketebak toh, bukan lagi film cerita horor tapi lebih kepada absurdisme industrinya,” ujar Bagiono yang menambahkan bahwa film horor enggak mesti jualan sensualitas dan seksualitas. Sebaliknya, semakin kreatif menggali cerita lokal di tengah masyarakat.

“Sudah banyak rumah produksi semakin serius menggarap genre horor dengan meninggalkan selera dan kuaitas using,” jelas produder yang tengah menggarap film terbarunya, Ratu Kuntilanak.

Senada dengan Bagiono, Farah Fang membenarkan perfilman nasional sudah berbenah.

”Ketika industri itu merasa jenuh dan jalan di tempat, maka para pelakunya harus keluar dari zona nyaman mereka, dengan melakukan terobosan mutakhir,” ujar Farah Fang yang mencontohkan industry film Hollywood.

“Disana selalu saja melakukan banyak terobosan agar dapat bertahan rajanya industri film dunia,” tambahnya.

Memang sih, tidak ada parameter yang pasti, bahwa film horor yang mengeksploitasi perempuan dengan sensualitas serta di bungkus bumbu seks, maka akan banyak penontonnya.

Saat ini penonton kita lebih wisely karena seiring kemajuan teknologi semua juga berubah, termasuk adab para pelaku industrinya sendiri.

”Sudah banyak film-film horor nasional melibatkan aktris untuk memerankan karakter yang sangat bagus, tanpa sensualitas. Tinggal bagaimana menyatukan selera gambar, cerita, kualitas akting dan penyutradaraan yang baik serta promosi yang jempolan. Hal ini akan disambut para penikmat film horor nasional,” kata Farah Fang yang didampingi oleh Laila Vitria.

Laila membenarkan, sudah bukan masanya lagi genre horor dikemas dengan kualitas murahan.

”Saat ini para produser dituntut kreatif menciptakan film yang bagus agar bisa diterima oleh selera pasar yang sudah berubah. Bukan lagi sekadar membuat film horor dengan bumbu sensualitas perempuan belaka,” kata Laila Vitria. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Serial Animasi BIMA S, Kisah Petualangan Satria yang Sarat Pesan Moral

Published

on

By

Kabarhiburan.com – MNC Animation siap suguhkan sebuah serial animasi terbaru, berjudul BIMA S. Sebuah serial bergenre aksi dan petualangan akan tayang di layar RCTI, mulai 4 Oktober 2020 mendatang.

Selanjutnya, BIMA S akan menjadi tontonan yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga pada setiap Minggu pukul 10.00 WIB.

Tayangan ini merupakan hasil adaptasi dari BIMA Satria Garuda Series yang pernah tayang di RCTI. Tak hanya formatnya diubah menjadi 3D, BIMA S pun menggelar jalan cerita yang lebih menarik dan kekinian.

BIMA S mengisahkan tentang Satria, seorang remaja yang spontan, pemberani, dan senang bereksplorasi. Satria juga mampu bertransformasi menjadi sosok BIMA S yang memiliki kekuatan dan senjata-senjata dahsyat.

BIMA S bersama para sahabatnya, Prof. T, Aurora, Ve, dan Nadra-Rama harus bertualang lintas galaksi, melawan monster-monster dan mengumpulkan kekuatan 7 matrix ajaib untuk menghentikan Infernus sang musuh besar yang berambisi untuk menguasai semesta.

Liliana Tanoesoedibjo selaku CEO MNC Animation mengatakan, BIMA S menyuguhkan aksi pertarungan seru, serta sarat dengan pesan moral, seperti nilai kepercayaan, persahabatan, perjuangan dan pengorbanan.

Serial BIMA S juga dilengkapi dengan aksi komedi segar yang menjadikan BIMA S sebagai tontonan yang menarik dan menghibur keluarga Indonesia.

“Animasi BIMA S sudah ditunggu oleh fanbase superhero Indonesia, khususnya para penggemar BIMA,” ujar Liliana.

Animasi BIMA S adalah IP (Intelectual Property) dari MNC Animation yang diharapkan menjadi kebanggaan animasi lokal Indonesia.

“Dengan tayangnya BIMA S, akan menjadi pelopor animasi superhero Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional,” imbuh Liliana. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Percofia Pictures Resmi Berdiri, Bawa Angin Segar di Tengah Pandemi

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Selama berbulan-bulan dinaungi pandemi covid-19, menyebabkan industri kreativitas, seperti dunia perfilman, di Tanah Air masih lesu. Sebagian besar sineas menjauh dari lokasi syuting lantaran pintu bioskop masih ditutup.

Situasi menyedihkan tersebut tidak membuat jajaran managemen PT Percofia Nusaphala berputus asa. Sebaliknya, mereka justru mengembangkan sayapnya dengan mendirikan Percofia Pictures, sebuah rumah produksi baru di bidang dunia hiburan.

Boy Horizontal selaku Direktur Pengembangan Usaha dan Marketing Percofia Pictures menyebut rumah produksi ini merupakan mimpi yang terwujud, lewat Pak Ardi selaku Direktur Utama.

“Wabah Covid 19 bukan halangan buat kami berkreativitas untuk melahirkan karya-karya terbaik. Cintailah proses bukan protes. Orang pintar butuh proses bukan protes,” ungkap Boy, dalam acara syukuran peresmian Percofia Pictures di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu 12/9).

Tarmizi Abka selaku Direktur Operasional mengaku optimis Percofia Pictures mampu memberikan karya terbaik bagi industri kreatif tanah air.

Dalam genggamannya sudah ada beberapa proyek yang siap disajikan bagi pecinta film Indonesia. Sebut saja, film Mimpi Matahari, film 10 Biografi orang ternama Indonesia, kuis, termasuk support content untuk acara televisi swasta Nasional.

“Saya pun berharap bisa berkolaborasi dengan banyak pelaku industri kreatif, seperti conten creator, youtuber dan produser untuk menciptakan karya di luar industry film layar lebar,” jelas  Tarmizi.

Ia menambahkan bahwa dunia digital berupa internet dan media sosial telah mengantarkan kemudahan bagi semua orang terkoneksi melalui smartphone.

“Kalau bioskop sudah enggak bisa menampung film, kita putar aja di Netflik, Maxxstream, YouTube dan lainnya,” kata Tarmizi yang akan memproduksi ulang filmnya, Kalam-kalam Langit (2016). (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending