Connect with us

Event

IDP Fest 2021 Gelar Empat Kompetisi, Ada Lomba Perkusi Keluarga

Published

on

Kabarhiburan – Kabar menggembirakan untuk para drummer dan pemain perkusi Tanah Air. Indonesia Drum dan Perkusi Indonesia (IDPFest) akan digelar tahun ini. Pendaftaran dibuka mulai Sabtu, 26 Juni 2021 dan ditutup pada Sabtu 21 Agustus 2021 mendatang.

Penyelenggaranya, Wadah Musik, yang terdiri dari beberapa perkumpulan/ komunitas masyarakat pencinta musik, pelaku seni (seniman), musisi, drummer, perkusionis, budayawan, pekerja seni ekonomi kreatif, sekolah/ sanggar musik serta masyarakat luas yang peduli akan pendataan, pendokumentasian, pelestarian, pengembangan dan pengenalan Alat Musik Indonesia.

Wadah Musik akan menyelenggarakan IDPFesT 2021, secara virtual melalui kanal  You tube, Facebook, Instagram, Twiter, TV (cable/nation wide) dan hybrid offline.

“Tahun ini IDP Fest kita laksanakan secara Hybrid, karena masih dalam suasana pandemi,” ujar Ekki Soekarno selaku founder sekaligus ketua penyelenggara IDP Fest 2021, dalam juma pers virtual, Rabu (23/6).

“Memang banyak yang enggak puas. Alasannya, misalnya feei-nya enggak dapat dan sebagainya,” tambahnya.

Perhelatan akbar itu akan diisi kegiatan Kompetisi, Pentas Seni Budaya, serta Lelang dan Donasi. Selain untuk memberikan ruang kreatif dan eksplorasi bagi anak, remaja, keluarga dan masyarakat pencinta seni musik drum dan perkusi, juga untuk mengembangkan seni budaya perkusi yang tertunda selama masa pandemi.

Melalui IDP Fest 2021 diharapkan dapat membantu seniman dan IDP daerah agar tetap produkstif, selain  mampu mempererat hubungan dan kekompakan keluarga, melalui ritme musik, khususnya di kategori Lomba Perkusi Keluarga.

“Yang menarik di gelaran tahun ini, kita mengadakan lomba perkusi untuk keluarga. Jadi sekeluarga bisa kirimkan video memainkan alat perkusi di rumah. Bisa dengan bunyi-bunyian sendok, mungkin panic, ember atau yang lainnya. Silakan kirim videonya,” pinta Ekki Soekarno.

IDP Fest 2021 menyediakan tiga kategori lomba, sebagai berikut:

Kompetisi Kolaborasi Drum dan Perkusi – maksimal 16 group peserta.

Mempersiapkan dan memainkan materi penilaian berupa 1 (satu) buah Komposisi Bebas, tema `Ritme Perkusi Indonesia`, (musik, vokal dan atraksi seni budaya) berdurasi 6 menit sampai 8 menit.

Alat Musik yang WAJIB terdapat dalam komposisi serta dimainkan adalah Drum dan salah satu dari Alat Perkusi Indonesia, selebihnya bebas. Drum set bebas (Penyisihan). Untuk Grand Final Drum set disiapkan (riders terlampir).

Jumlah peserta dalam group minimal 2 orang, maksimal 12 orang dan tidak ada batasan usia.

Mengisi form pendaftaran melalui idpfest google form yang tertera dan mentransfer biaya pendaftaran Rp. 350.000,- ke ac. BCA 4740882088 an. Yayasan Indonesia Drum dan Perkusi.

Lalu mengirim bukti transfer via WA ke nomor 0811.1175.880 untuk mendapatkan nomor peserta dan dua helai kaos peserta akan dikirim untuk dipakai pada saat kompetisi.

Mengirim materi video dengan Standarisasi audio (volume bersih dan jelas, tanpa dubbing) dan video (gambar bersih dan jelas, satu kamera, satu kali syuting, tanpa editing, landscape format MP 4 Full HD) untuk keperluan penilaian ke alamat idpfest link yang tertera, berikut Foto Group (gaya bebas), Nama Group, Nama Personil dalam group, Nomor HP. WA, dan Copy Identitas diri/ Akta lahir dua dari Peserta (drummer & perkusionis). – (Merk Drum/ Cymbal dll. yang ada di Head Bass Drum ditutup).

Peserta yang masuk Final akan hadir di acara Grand Final di Jakarta pada Sabtu 2 Oktober 2021 dengan memainkan materi yang sama.

Kompetisi Drum Anak dan Remaja – maksimal 32 peserta individual.

Mempersiapkan dan memainkan materi penilaian untuk babak penyisihan berupa sebuah Komposisi Lagu Bebas (minus drum) berdurasi maksimal 5 menit dan sebuah Komposisi Solo Drum, Tema bebas berdurasi  3 menit hingga 4 menit, serta memainkan untuk Grand Final (apabila terpilih masuk Final) berupa sebuah Komposisi Lagu Wajin berdurasi 4 menit dan 1 (satu) buah Komposisi Solo Drum, Tema Ritme Nusantara berdurasi 3 sampai 4 menit.

Batasan usia Kompetisi Drum Anak : 7 – 12 tahun dan usia 13 -19 tahun untuk Kompetisi Drum Remaja. Mengisi form pendaftaran melalui idpfest google form yang tertera, mentransfer biaya pendaftaran Rp. 200.000,- ke ac. BCA 4740882088 an. Yayasan Indonesia Drum dan Perkusi. Lalu mengirimkan bukti transfer via WA ke nomor 0811.1175.880 untuk mendapatkan nomor peserta, serta sehelai kaos peserta akan dikirim untuk dipakai pada saat kompetisi.

Mengirim materi video dengan Standarisasi audio (volume bersih dan jelas, tanpa dubbing) dan video (gambar bersih dan jelas, satu camera, satu kali syuting, tanpa editing, landscape format MP 4 Full HD) untuk keperluan penilaian ke alamat idpfest link yang tertera, berikut Foto Peserta (gaya bebas), Nama Peserta, Nomor HP. WA Peserta/ Orang Tua Peserta dan Copy Identitas/ Akta Lahir Peserta.

Peserta yang masuk Final akan hadir di acara Grand Final di Jakarta pada tgl. 2 Oktober 2021 dengan memainkan Lagu Wajib dan Solo drum Tema Ritme Nusantara.

Lomba Perkusi Keluarga – maksimal 100 group peserta.

Mempersiapkan dan memainkan sebuah Komposisi kreatif, unik, seru dan kompak (bunyi-bunyian perkusi, gerak/ tari dan vokal) dengan Tema: Dapur Keluarga IDP berdurasi 30 sampai 40 detik.

Mempergunakan alat-alat rumah tangga apapun yang terdapat di rumah yang dapat menimbulkan bunyi-bunyian perkusif dengan cara dipukul, ditabuh, digerakan, digoyang, dikocok, diaduk, dihentakan menggunakan tangan, kaki atau alat bantu lainnya.

Jumlah peserta dalam Group Keluarga bebas dan tidak ada batasan usia, mengisi form pendaftaran melalui idpfest google form yang tertera dengan mencantumkan nama Instagram salah satu Peserta.

Mengirim materi video dengan Standarisasi audio (volume bersih dan jelas) dan video (gambar bersih dan jelas, editing diperbolehkan, landscape format MP4 Full HD) ke alamat idpfest link yang tertera, berikut Nama Group Keluarga, Nomor HP. WA, Copy Identitas Diri salah satu Peserta (pimpinan group keluarga) dan caption (tulisan) untuk di unggah (upload/ posting) bersama video Peserta di akun Instagram IDPFest mulai  26 Juni sampai 21 Agustus 2021.

Video peserta akan diunggah di akun Instagram IDPFest dan Peserta WAJIB me-repost dari akun Instagram IDPFest dan tag ke minimal 5 (lima) akun Instagram lainnya.

Penilaian berdasarkan Like terbanyak di akun Instagram IDPFest, mulai Sabtu, 26 Juni 2021 sampai Kamis, 30 September 2021.

Seluruh materi video dari Peserta akan ditayangkan di kanal YouTube IDPFest, pada minggu kedua September 2021 dan Pemenangnya (terbanyak Like di akun Instagram IDPFest) akan diumumkan pada acara Grand Final di Jakarta, pada Sabtu 2 Oktober 2021 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event

Royalty Musik, Membangun Iklim Kesadaran Hukum Bagi Para Musisi

Published

on

By

Yovie Widianto

Kabarhiburan.com – Presiden Joko Widodo menandatangani PP 56 pada 30 Maret 2021, tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik. PP yang dimaksudkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Faktanya di lapangan, masih bertolak belakang dengan peraturan yang telah diundangkan. Alhasil, ruwet sengkarut tata kelola royalti Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik di Indonesia, belum terurai sebagaimana mestinya.

Seperti terungkap dalam zoom meeting yang digagas Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (Kophi) pada Kamis (2/12) malam. Sengkarut tata kelola royalti itu belum menunjukkan titik terang. Masih sangat kelam, dan masih jauh dari benderang.

Terlalu sulit mengurai persoalannya, bukan semata telah menahun permasalahannya, tapi keterlibatan musisi sebagai bagian aktif dari persoalan ini juga sangat rendah sekali, utuk tidak mengatakan cenderung mengambil posisi apatis. Alhasil, sebagaimana dikatakan Denny MR, selaku pemandu acara, persoalannya sangat berlapis-lapis. Sampai pada taraf sangat sulit sekali mengurainya.

Persoalan pat-gulipat PT LAS selaku pihak ketiga yang ditunjuk LMKN tanpa proses tender, dan tudingan salah satu komisioner LKMN ternyata juga memiliki saham di PT LAS, belum purna. Atau sengaja tidak diselesaikan, bahkan setelah publik mengetahui bobrok dan akal-akalan mereka, kini ada persoalan baru.

Seperti Posan Tobing, selaku musisi menggugat label Warner ke pengadilan, menyusul Musica Studio’s mengajukan gugatan UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tuntutannya, agar royalti produser dinaikkan dari 50 tahun menjadi 70 tahun.

Atau, dalam bahasa Candra Darusman, Musica Studio menginginkan penghilangan pasal 18 dan 30, untuk diganti menjadi Kesepakatan Industri. Turunannya hak kepemilikan master lagu, yang tadinya hanya selama 25 tahun akan kembali menjadi milik musisi, akan bertambah menjadi 70 tahun. Setelah itu, baru kembali ke penciptanya.

Dalam bahasa Cholil Mahmud, vokalis dan gitaris band Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi, sengkarut persoalan royalti harus direspon musisi dengan mengubah cara berpikirnya. Meski pagi-pagi sekali, Cholil Mahmud yang sekarang bermukim di New York AS, mengatakan pendapatnya mewakili dirinya sendiri, bukan musisi secara umum.

“Musisi mesti mempunyai perubahan sikap, sehingga dikotomi musisi mainstream dan sidestream hilang, tidak ada lagi. Karena kita sekarang hidup di era borderless,” kata anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) itu, sembari menambahkan, meski sepemahamannya, musisi sidestream biasanya yang memiliki sendiri master lagunya, dan memiliki sistem hubungan yang berbeda dengan pihak label, jika misalnya dibandingkan dengan musisi mainstream. Saat jaman terlalu berlari seperti sekarang, dengan segala digitalisasinya.

“Mau tidak mau musisi sidestream menjadi bagian dari industri, atau satu kolam dengan musisi mainstream. Karenanya, semua musisi harus mempunyai kesadaran hak-hak yang melekat pada dirinya. Dari hak cipta dan hak terkait yang muncul dari karyanya, termasuk hak mekanikal,” katanya.

Meski dia juga mengakui, banyak musisi yang tidak tahu, ihwal hak cipta dan hak terkait. Atau banyak diantaranya sangat tidak concern tentang persoalan ini.

“Makanya persoalan ini harus dibicarakan terus menerus, agar berdampak pada musisi itu sendiri,” katanya.

Karenanya Cholil Mahmud mengakui sangat membutuhkan bantuan media, untuk terus menyuarakan hal ini. Karena pada saat bersamaan tidak banyak media yang membicarakan, dan menulis persoalan ini dengan baik, karena persoalan royalti memang sangat rumit.

“Kalau media menulis dengan baik (persoalan royalti), akan sangat membantu sekali musisi,” katanya. Sehingga kerumitan seperti conflick of interest antara LMKN dan PT LAS, karena komisioner LMKN menjadi pemilik saham PT LAS, bisa dicegah via suara publik yang disuarakan media. Juga persoalan perseteruan royalti lainnya.

Senada, Candra Darusman mengatakan, meski masih mengaku prematur pendapatnya ihwal persoalan gugatan Musica ke MK, karena dia belum menyelesaikan membaca dan mendalami 58 halaman gugatan Musica Studio ke MK via Otto Hasibuan & Associates, tapi dasarnya ada upaya penghilangan pasal 18 tentang pencipta, dan pasal 30 tentang pelaku atau penyanyi.

“Menghilangkan pasal 18 dan 30 diganti kesepakatan industri. Maknanya, master lagu bisa dihidupkan lagi kalau ada kesepakatan industri antar para pihak. Kalau kesepakatan tidak tercapai, ya ngga jadi apa-apa,” katanya. Meski Candra Darusman juga akhirnya menemu simpulan, gugatan Musica ke MK juga bisa dimaknai sebagai upaya menggairahkan kembali industri musik, agar master master lama bisa dimanfaatkan lagi.

“Saat kali pertama membaca berita gugatan itu, darah saya mendidih. Setelah saya baca, ternyata ada unsur menggairahkan,” katanya sembari menekankan, persoalan gugatan ini jangan sampai membuat kita semua, juga publik, melupakan permasalah LMKN dan pihak terkait, menjadi terbengkalai.

Keprihatinan Mendalam

Candra Darusman bersama Federasi Serikat Musik Indonesia (Fesmi) memang sedang mensiasati persoalan gugatan ini dengan sangat hati-hati. Terutama mendalami dugaan upaya penghilangan pasal 18 dan 30, serta sedang menyusun dokumen, karena melibatkan concerned party.

Atau pihak terkait yang menjadi subjek dugaan atau laporan Pelanggaran berdasarkan Kebijakan tertentu.

Ihwal gugatan kepemilikan master 50 tahun menjadi 70 tahun, atau 25 tahun menjadi 70 tahun, juga disikapi dengan keprihatinan mendalam oleh Yovie Widianto. Karena di satu pihak, sebagai pencipta lagu hits, yang banyak bertebaran dalam khazanah musik Indonesia. Yovie Widianto dari lubuk hati terdalam juga menginginkan pembagian royalti yang adil dari para pihak, atau pencipta dan label.

“Sebagai komposer, kita berbisnis dengan baik-baik dengan semua label rekaman. Meski banyak temen saya yang mengatakan, harusnya saya ‘dapat’ lebih. Karena itu, (persoalan gugatan ini) mendapatkan perhatian saya, sebagai komposer, saya hanya mengatakan, yuk kembali ke hari nurani,” kata Yovie, meski di saat bersamaan dia menyadari dunia bisnis, pasti berpikir untung dan rugi. Makanya dia berharap agar lekas tercapai kesepakatan win win solution.

“25 tahun itu, sudah lama. Tapi ini kok 70 tahun hak master baru kembali. Katakanlah kita mulai terjun di industri ini umur 25 tahun, kalau 70 tahun, kan uda ngga ada (meninggal dunia),” katanya masgul.

Untungnya Yovie Widianto mengaku bukan sebagai pribadi yang mudah terprovokasi. Dan sangat meyakini bahwa rejeki tidak ada yang tertukar. Karenanya, ketika banyak kawan-kawannya — sekali lagi — mengatakan seharusnya dia mendapatkan lebih atas royalti lagunya, dia menyikapi dengan biasa saja.

“Tapi saya tetap berharap seperti teman-teman saya di Korea, Jepang dan lainnya, agar hak saya terpenuhi dengan semestinya,” katanya, sembari berharap ada klausul jika hendak menghidupkan kembali master di masa lalu, bagusnya ada pembicaraan ulang dengan penciptanya. Siapapun itu. Sembari menyorongkan azas transparansi, dan akuntabilitas.

“Saya tetap berharap tetap ada yang baik ke depan di industri musik. Dengan transparansi tetap bisa cuan, kok,” katanya.

Pendampingan Hukum

Diana Silfiani, selaku legal consultant sejumlah musisi di Indonesia mengakui, awareness musisi ihwal royalti memang sangat minim. Atau agak kurang mengoptimalisasi revenue. Turunannya, revenue-nya tidak maksimal. Seperti pemahaman tentang pola kerja LMKN untuk performing berdasarkan square (ukuran) tempat tampil, juga belum diketahui semua musisi.

Karenanya sebagai penasehat hukum, Silfiani mengaku miris atas gugatan Musica ke MK. “Miris. Musisi dan pencipta lagu akan dibawa ke mana? Diam saja, atau bagaimana? Makanya, saya sering heran mengetahui banyak musisi hendak melakukan perikatan apapun, tapi tidak didampingi legal consultant,” katanya.

Dalam semua perikatan, kata Silfiani, harusnya ada pendampingan hukum. “Karena membaca dan memahami perjanjian itu, teknis sekali,” katanya menambahkan.

Karenanya, Silfiani berterima kasih, sejumlah pewarta sudi turut membicarakan persoalan royalti ini. Harapannya, musisi lekas berhimpun dan bergerak, untuk menyelematkan periuk nasinya sendiri, sebelum terlalu lama terlelap tidur, dan terlambat semuanya.

Fenomena sangat lambannya musisi merespon persoalan royalti, juga dirasakan sejumlah pewarta musik. Selain Denny MR, yang sudah lelah mengingatkan musisi untuk bergerak, merumuskan pemikiran, dan memperjuangkan hak-haknya, Irish Blackmore juga mengatakan hal serupa.

“Kalau kita pakai teori terbalik, dalam persoalan ini. Kenapa wartawan yang malah bergerak untuk menghadirkan pertemuan ini, (juga sejumlah pertemuan lainnya yang digagas Lesehan Musik / Lesmus). Musisinya? malah adem ayem,” kata Irish yang juga Ketua PWI Jaya Seksi Musik dan Film, protes.

“Kita belum menemukan gregetnya teman-teman musisi. Yang peduli, cuma nama itu-itu saja. Pertemuan ini terjadi kan, hanya bagian dari tanggung jawab moral kami. Inilah yang kami sayangkan. Harusnya, kawan-kawan musisi bergerak memperjuangkan nasibnya sendiri,” kata Irish menyayangkan.

Lebih lanjut, Irish Blackmore mengatakan, sejatinya pewarta hanya ingin mempersiapkan dan memberikan panggung kepada para musisi. Sebelum akhirnya terus mendukungnya dari segala sisi.

“Tapi apa yang terjadi, yang mau diberikan panggung, enggak nongol-nongol, bahkan seolah-olah masalah ini dibiarkan seperti benang kusut,” katanya.

Kalau musisi terus berdiam diri, menanggapi persoalan itu, maka Irish Blackmore meyakini, goal persoalan ini tidak akan pernah terwujud, yakni memartabatkan musisi pada tempat semestinya.

Peran wartawan hanya sebatas sebagai pendorong diamini sepenuhnya oleh Denny MR. “Mungkin awareness musisi sangat kecil, makanya kita cari solusi agar kawan-kawan (lekas) keluar kandang,” kata Denny MR yang dibenarkan Cholil Mahmud.

Sebagai salah satu pilar demokrasi, kata Cholil Mahmud, peran wartawan memang cenderung tidak terlihat. “Semoga kawan-kawan wartawan tidak lelah mencermati persoalan royalti ini. Sampai ketemu alasan kenapa musisinya tidak mau bergerak. Dan musisi mempunyai keberanian menempuh jalur hukum,” katanya.

Berperkara di pengadilan, di negara hukum seperti Indonesia, menurut Cholil Mahmud adalah keniscayaan, jadi tidak ada yang istimewa. Makanya, tidak ada cara yang lain, selain musisi harus berani.

Meski Candra Darusman tetap mewanti-wanti, bergerak tetap harus. Tapi harus lewat perhitungan terperi. “Saya rasa kita harus bergerak dengan sistematis dan terukur. Dengan mempersiapkan argumen dan pendalaman. Tidak bisa asal bunyi,” kata Candra Darusman.

Chandra Darusman juga sangat tahu, klausul yang digunakan Musica via ke MK adalah, ada 60 negara di dunia yang memberikan hak fiksasi kepada produser selama 70 tahun. Tapi itu bukan berarti menjadi pembenar hal yang sama bisa diterapkan di Indonesia.

Pada akhirnya, dalam zoom meeting yang difasilitasi Kang Iyu dan Arey Arifin itu, seharusnya jika ada persoalan abuse (suatu tindakan dimana ketika seseorang, dengan sengaja menyalahgunakan, memanfaatkan, memperlakukan orang lain secara tidak pantas dan tidak wajar tanpa memikirkan perasaan dan diri orang tersebut), sebagaimana dikatakan Diana Silfiani, bisa dihadapi di muka hukum.

“Bagaimana membangun iklim kesadaran (hukum) kepada kawan-kawan musisi? Tergantung individu masing-masing. Kalau relevan dengan dirinya sendiri, (biasanya) dia akan bergerak membuat gerakan yang relevan juga,” kata Silfiani. (Tumpak S)

Continue Reading

Event

Ayo Ramaikan World Expo Osaka 2025!

Published

on

By

Kobukuro

Kabarhiburan.com – Kota Osaka bersiap jadi tuan rumah World Expo Osaka 2025, yang akan digelar pada 13 April sampai 13 Oktober 2025.

Perhelatan bertemakan Designing Future Society for Our Lives, ini gaungnya sudah dimulai sejak jauh-jauh hari. Salah satunya, pada acara bertajuk Nakanoshima Winter Party – Road to EXPO 2025, yang berlangsung di Kota Osaka, Minggu (28/11).

Pada acara tersebut, Kenji Wakamiya, selaku Menteri yang bertanggung jawab atas pameran internasional,  mengatakan dalam pidatonya, “Apa yang akan terjadi di masa depan selama 50 tahun tergantung pada World Expo Osaka 2025″.

Nakanoshima Winter Party – Road to EXPO 2025 dihadiri 4.500 orang dengan membawa bukti vaksinasi. Hirofumi Yoshimura selaku Gubernur Prefektur Osaka dan Ichiro Matsui selaku Walikota Osaka membuat deklarasi pembukaan dan menyerukan kegembiraan kota Osaka menuju World Expo Osaka 2025.

Acara ini dimeriahkan oleh komedian popular Jepang yakni Milk Boy, SO.ON Project (Idol group), Charlotte (influencer comedian) yang memiliki 1.35 juta followers luar negeri di social medianya. Ada juga OSK Nippon Revue Company yang tahun depan akan merayakan 100 tahunnya.

Charlotte

Setelah pertunjukan, Hiroyuki Ishige, selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Pameran Internasional Jepang, mengatakan bahwa sekarang adalah puncak dari persiapan World Expo Osaka 2025.

“Ini adalah waktu yang paling sulit bagi kami. Saat ini kami sedang mengumpulkan uang dan SDM. Walaupun World Expo Osaka 2025 penyelenggaraannya memakan waktu, kami sangat berusaha untuk melakukan yang terbaik,” jelas Hiroyuki Ishige.

Sementara itu, Menteri Wakamiya mengatakan, pihaknya berencana untuk melibatkan 150 negara, tetapi karena pengaruh bencana Corona, saat ini baru 60 negara yang mendaftar.

“Kami harus mengumpulkan 90 negara lagi. Jadi, kami harap yang hadir di sini dapat membantu untuk mempromosikan World Expo Osaka 2025 di social media kalian,” pintanya.

Mengenai pavillion yang mengusung tema “Reborn”, Walikota Osaka, Matsui mengatakan, ingin membuat pavilion yang bisa membuat semua menikmati hidup lebih muda 10 tahun dan menikmati pengalaman perawatan medis preventif.

“Serta kami ingin membuat paviliun yang dapat merepresentasikan kesehatan dari Osaka dan Dunia” ucapnya.

Nakanoshima Winter Party – Road to EXPO 2025 diakhiri dengan acara live performance yang sangat meriah dari artis Kobukuro yang merupakan Duta World Expo Osaka 2025. (TS)

Continue Reading

Event

Doni Salmanan Kolaborasi Boedy JVS Luncurkan Vapor D’MOON

Published

on

By

Doni Salamanan dan Budiyanto meluncurkan D’MOON.

Kabarhiburan.com – Sosok Doni Salmanan asal Bandung, seorang YouTuber sekaligus trader muda di Indonesia. Beberapa kali namanya menjadi buah bibir di jagad maya, terutama lewat aksi donasi Rp 1 M kepada Reza Arap baru-baru ini.

Saat ini reputasi Doni tak hanya akrab dengan kesan dermawan, namun netizens juga memandangnya sebagai sosok yang visioner dalam bisnis. Doni Salmanan baru saja memperluas ranah bisnisnya.

Doni berkolaborasi dengan Budiyanto (Boedy JVS), pendiri sekaligus Chief Executive Officer dari Jakarta Vapor Shop (JVS) Group. Keduanya menghadirkan D`MOON, brand vapor (e-liquid).

Ketertarikan Doni Salmanan pada bisnis ini, terlebih D’MOON merupakan brand vapor yang mengusung energy optimistic, kesan misterius dan dream big spirits. D’MOON juga menjadi taste-works kedua yang dinaungi JVS Brew, anak usaha yang baru diresmikan JVS Group.

Doni Salmanan mengaku bahwa keputusannya bermitra dengan dengan Boedy JVS sebagai langkah terbesarnya di tahun 2021. Boedy JVS adalah simbol bisnis vapor terbesar di Indonesia.

“Rencana mewujudkan D`MOON sudah diinisasi sejak September 2021, akhirnya terwujud pada Jumat, 26 November 2021,” ujar Doni Salmanan, dalam keterangannya, Kamis (2/12).

Doni Salmanan dan Boedy JVS memperkenalkan D`MOON melalui sesi seremonial bertajuk “D`MOON Fest: Ready to D`Moon”, di hadapan ratusan pengunjung yang menghadiri venue Nara Park (kawasan Rancabentang, Ciumbuleuit, Bandung).

Nara Park disulap menjadi festival venue yang sarat hadiah menarik. Ratusan pengunjung yang terdiri dari perwakilan distributor, influencers, vapestores, komunitas vape dan masyarakat umum, dimanjakan oleh aneka carnival games, beanbag seats, penampilan musik dan sesi bagi-bagi hadiah.

Sesi peluncuran D`MOON divisualisasi lewat tayangan vidio animasi seorang astronot yang mendarat di bulan. Vidio animasi tiga dimensi ini diproduksi khusus oleh ICONIC Entertainment, produsen multimedia yang juga dinaungi JVS Group.

Perhelatan “D`MOON Fest: Ready to D`Moon” memang ditujukan untuk membawa kesan ‘humble party’ ala Doni Salmanan dan Boedy JVS, ke dalam kemasan offline festival (live-event).

Dari acara ini, pengunjung bisa membawa pulang banyak hadiah, mulai dari sampel liquid, official hampers boxset, gift-bags, sampai give away berupa uang tunai dan dua unit sepeda motor. (Tumpak S. Foto-foto: JVS Group)

Continue Reading
Advertisement

Trending