Connect with us

Budaya

Kembalikan Keanggunan Penyanyi Keroncong, Indra Utami Tamsir Gelar Lomba Vokal Keroncong Wanita Berkebaya

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sepulang dari lawatan di Mesir, bulan Mei lalu dengan sambutan begitu meriah atas mengalunnya lagu Bengawan Solo yang dibawakannya.

Diva Musik Keroncong Indra Utami Tamsir, ingin terus berkreasi dan melestarikan musik keroncong, sekaligus busana kebaya di Tanah Air.

“Saya ingin kembali melihat zaman kejayaan irama keroncong masa lampau yang begitu anggun dengan kebaya dan konde para penyanyinya,” kata artis peraih AMI Award 2013 ini.

“Penyanyi keroncong yang berkebaya dan berkonde menggambarkan kelembutan wanita Indonesia dan bersahaja namun memiliki energi yang luar biasa,” katanya.

Indra Utami Tamsir diapit oleh Obby AR dan Inggrid Wijanarko. Tim juri Lomba Vokal Keroncong Wanita Berkebaya 2018.

Dia pun kemudian menggagas dan menggelar Lomba Vokal Keroncong Wanita Berkebaya Tingkat Nasional, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Seperti judul lomba, penyanyi peserta wajib mengenakan busana kebaya. Acara ini terbuka untuk umum (penyanyi wanita). Informasi lomba ini sudah disebarluaskan melalui media sosial, sejak sebulan silam.

Hasilnya, membanggakan. Sebanyak 35 penyanyi wanita dari seluruh penjuru Nusantara mendaftarkan diri untuk menjadi peserta lomba.

Dengan uang pendaftaran Rp50 ribu per peserta, Indra Utami Tamsir menyediakan hadiah berupa uang tunai belasan juta rupiah. Juara pertama mendapat Rp 7 juta, Juara Kedua Rp 5 juta, juara ketiga Rp 3 juta. Juara harapan I Rp 2 juta dan juara harapan II Rp 1 juta.

Dalam lomba yang akan digelar 2 November 2018, peserta membawakan satu lagu wajib Kr. Wanita dan satu lagu pilihan yang tersedia, yaitu Kr. Tanah Air,  Kr. Roda Dunia, Kr. Dewi Murni,  Kr. ‘Bandar Jakarta dan Kr. Segenggam Harapan.

Untuk latihan peserta, lagu lagu ini sudah tersedia di Youtube. Saat tampil, para peserta akan diiringi secara live.

Penampilan salah seorang peserta lomba.

“Saya melihat remaja masa kini berpotensi membawakan lagu keroncong, Namun tak semata mata vokalnya, juga jiwa dan penampilannya,” kata Mbak IUT  lagi.

Artis musik keroncong ibukota, kelahiran Blora, Jawa Tengah,  yang juga dikenal sebagai wanita pengusaha ini, merupakan salah satu figur yang giat melestarikan dan memajukan musik keroncong di Tanah Air.

“Melestarikan irama keroncong dengan segala kendalanya merupakan perjuangan saya, sebagai bentuk rasa syukur karena memiliki darah seni yang saya anggap Anugrah yang demikian indah,” kata wanita 44 tahun yang biasa dipanggil mba Tami ini.

Para Juara Lomba Vokal Keroncong Wanita Berkebaya.

“Di tengah kondisi bangsa yang semakin memanas karena berbagai permasalahan bangsa yang selalu menimbulkan pro dan kontra yang tajam, kiranya lomba musik keroncong yang merdu bisa menyejukkannya, “ katanya lagi.

Untuk info selengkapnya bisa mengakses media sosial Indra Utami Tamsir, yakni  Instagram : @lombakeroncong_iut, FB Fanpage : Indra Utami Tamsir Official dan YouTube Channel : Indra Utami Tamsir Official. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto foto: Dimas Supriyanto)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Sinergi Goes Noeg dan Ote Abadi Ciptakan Kolase Tebar Semangat Hidup Bersama Covid-19

Published

on

By

Sinergi Goes Noeg dan Ote Abadi menciptakan karya Kolase ‘Ngglandrah’.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Kehidupan sosial dan ekonomi mulai menggeliat meski masih dibayangi ancaman virus corona. Untuk itu, pemerintah mengajak agar masyarakat agar tetap semangat dan kreatif dengan penuh kesadaran menerapkan protokol kesehatan.

Semangat tersebut diwujudkan Gerakan Seribu Indonesia (GSUI) yang didukung oleh para seniman kreatif, berpartisipasi menghasilkan karya kreatif. Salah satunya, menghadirkan dua seniman kenamaan di Tanah Air.

Mereka adalah pelukis Goes Noeg dan musisi Ote Abadi yang baru-baru ini sukses menciptakan lukisan berjudul Deklarasi Kebangsaan. Lukisan tersebut sudah memasuki balai lelang Masterpiece Auction House.

Kali ini Goes Noeg dan Ote Abadi kembali bersinergi menciptakan kolase, yakni karya komposisi artistik yang dibuat dari bahan kertas simetris beraneka bentuk dan warna yang tercurah di atas kanvas.

Nggladrah, dalam dalam bahasa Jawa artinya, kondisi yang tidak tau aturan dan semau ‘gue’,” ujar pria kelahiran Semarang ini menyebut judul kolase karyanya.

Selama menciptakan Nggladrah, Goes Noeg diiringi petikan gitar Ote Abadi yang memainkan beraneka genre musik secara terus menerus. Goes Nog juga mengajak jajaran pengurus GSUI dan awak media untuk berpartisipasi dalam menggarap Nggladrah.

Ketua GSUI, Ancho, turut ambil bagian menggarap kolase ‘Ngglandrah’

“Caranya gampang, Anda cuma menempelkan potongan kertas warna-warni yang saya sediakan, ke atas kanvas. Terserah mau ditaruh dimana di dalam framming,” pinta Goes Noeg yang meneriakkan Nggladrah! sebagai tanda dimulainya penciptaan kolase.

Sebagai karya bersama, kolase yang diinginkan pun tercipta dalam tempo beberapa menit. Selanjutnya, Goes Noeg tinggal memperkuat bentuk serta menegaskan warna di beberapa bagian. Terciptalah kolase tiga dimensi yang menarik.

Baginya, ide membuat kolase kali ini diinspirasi oleh situasi masyarakat terkini di tengah pandemi.

“Masih dalam situasi memprihatinkan karena pandemi covid pemerintah sudah mengajak agar berdamai dengan covid-19. Kok, masih ada yang tidak ikut aturan, semau gue. Dalam bahasa Jawa disebut nggladrah,” jelas Goes Noeg yang diapresiasi Ote Abadi.

Kolase ‘Ngglandrah’ disumbangkan kepada GSUI untuk disalurkan bagi penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Dalam kegiatan ini, kita semua berimprovisasi secara bersama sehingga melahirkan sebuah bentuk karya mewakili suasana hati kita masing-masing,” ujar pria kelahiran Palu tersebut.

Harry Koko Santoso membenarkan bahwa improvisasi bersama telah melahirkan sebuah bentuk karya yang mewakili suasana hati masing-masing.

“Semoga suasana sinergi ini menjadi bagian dari semangat berkreasi yang akan menginspirasi  masyarakat, berani beraktivitas berdampingan dengan covid-19. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Pandemi Covid-19, Ki Kusumo Ajak Masyarakat Lakukan Hal Ini

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Hari-hari ini bangsa Indonesia dihadapkan pada pandemi Covid-19. Ini terjadi bukan hanya melanda Indonesia namun menjadi ancaman di seluruh dunia. Situasi ini juga mengganggu pikiran Ki Kusumo.

Aktor yang juga Konsultan supranatural ini menuliskan hasil renungannya lalu membagikannya kepada para awak media.

“Kita pernah mendengar tentang SARS, Flu Burung, Lumpuh Layu, dan lain-lain,  yang sempat menjadi Epidemi. Belum lagi ada beberapa peristiwa lain yang membuat takut dan terjadi secara cepat dan sporadik, seperti bencana alam. Dalam kepercayaan kami, orang Jawa pasti ingat yang namanya peristiwa Betara Kala,” tulis Ki Kusumo.

Betara Kala secara harfiah diartikan sebagai Dewa Kala. Sebuah simbol yang jika sudah waktunya siapapun akan dibinasakan. Jika sudah ada tandanya siapapun tak akan bisa melawannya.

“Ini mungkin cerita pewayangan yang sudah mendarah daging, menyangkut sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan manusia. Apabila seseorang sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Batara Kala akan menjemputnya,” sambung Ki Kusumo.

Ada namanya orang saat yang beruntung dan orang saat yang tidak beruntung, tapi ada satu kepercayaan lain yang menyatakan bahwa alam ini perlu diseimbangkan.

“Saya melihat ini lebih kepada sebuah peristiwa yang orang Jawa menyebutnya dengan nama ‘Pageblug’, yakni sebuah cerita tentang kesialan, sebuah wabah, sebuah penyakit yang menyerang secara sporadis pada setiap manusia di seluruh dunia, yang sebenarnya dikendalikan oleh makhluk-makhluk tak kasat mata,” ujarnya.

Ki Kusumo menyebut alam sedang menyeimbangkan tubuh, sistem karena kerusakan yang dilakukan manusia.

“Diambil pohonnya, diambil sumber daya alam, dan lain sebagainya. Sehingga terjadi longsor dan sebagainya. Karena ketidak seimbangan, terjadilah di mana sisitem bumi akhirnya sudah tidak seimbang.  Hingga akhirnya bumi pun secara alami melakukan sebuah prosesnya,” jelasnya.

Terkait wabah Covid-19, Ki Kusumo mengajak semua masyarakat agar menjaga keseimbangan alam dan ingat akan Tuhan.

“Jangan pernah lupakan Tuhan. Jangan pernah lupakan bahwa di alam nyata pun ada alam tidak nyata. Kita hidup berdampingan. Semua harus saling menghargai, saling toleran sehingga keseimbangan alam itu terjadi,” ucap Ki Kusumo mengingatkan.

“Ini (wabah covid-19) adalah ‘Pageblug’ yang akan kita sikapi. Ayo kita lakukan sebuah proses ritual keheningan jiwa. Mari kita ingat bahwa kita ini siapa dan berasal dari mana. Kita bagaimana dan harus apa?,” serunya.

Di akhir tulisannya, Ki Kusumo menginginkan semua orang termasuk pemerintah melakukan tindakan kebudayaan masa lampau.

“Saya mengajak seluruh warga masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk juga sama-sama agar kita bisa berdoa bersama, kita melakukan sesuatu yang berkaitan dengan spiritual. Ingat bahwa kita punya Tuhan,” pungkas Ki Kusumo.

Continue Reading

Budaya

Wisatawan Dibatasi Masuk Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – PT Taman Wisata Candi (TWC) selaku pengelola tiga candi yaitu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Boko, akhirnya memilih membatasi wisatawan yang mengunjungi area komplek ketiga candi tersebut.

Kebijakan tersebut diambil sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran pandemi global Coronavirus. Pembatasan pengunjung berlangsung selama 14 hari, terhitung mulai 16 hingga 29 Maret 2020.

“Selama masa waspada virus corona, wisatawan tidak diperkenankan naik ke area candi,” ujar Edy Setijono dalam keterangan resmi yang diterima Kabarhiburan.com, Kamis (19/3).

Edy Setijono selaku Direktur Utama PT TWC menjelaskan bahwa pembatasan kunjungan diberlakukan untuk kunjungan umum, regular, sunrise/sunset, maupun Borobudur Manohara Package. Untuk sementara pengunjungi hanya sampai zona 2 dan zona 3.

Pembatasan tersebut juga sebagai tindak lanjut dari arahan pemerintah dengan menjalankan protokol area publik virus corona. Apabila ditemukan suspect virus corona, maka seluruh kawasan akan ditutup sebagai tindakan pencegahan penyebaran.

“Kebijakan pembatasan kunjungan diambil supaya tidak ada kepanikan yang berlebihan, sehingga kondisi pariwisata di Yogyakarta maupun Jateng tetap kondusif, namun tetap siaga dan waspada,” jelas Edy Setijono.

Selama pembatasan kunjungan ini, harga tiket masuk pun diturunkan. Pengelola hanya memberlakukan satu harga tiket masuk, serta meniadakan tiket terusan.

PT TWC juga membentuk Satgas Pencegahan Penyebaran Virus corona yang bertugas melakukan tindakan preventif dengan melakukan penyemprotan desinfektan ke seluruh kawasan wisata candi. Misalnya toilet, mushola, dan shelter yang biasa menjadi tempat berkumpulnya wisatawan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengapresiasi kebijakan pembatasan kunjungan tersebut. Menurutnya, penting bagi setiap asosiasi/pelaku industri pariwisata memberlakukan protokol kesehatan sesuai dengan surat edaran Menteri Kesehatan.

“Prioritas Kemenparekraf/Baparekraf saat ini adalah melindungi kesehatan dan keselamatan seluruh lapisan masyarakat.

Untuk itu perlu dukungan dan peran aktif setiap pemangku kepentingan, termasuk asosiasi maupun pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona,” jelas Wishnutama. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending