Connect with us

Musik

Kolaborasi Musisi Legend Ahmad Albar, Ian Antono dan Millenial Kemal Pahlevi

Published

on

Perkembangan industri musik Tanah Air semakin pesat saja pada saat ini. Tak heran jika genre baru pun semakin beragam memberi warna dan perpaduan unik pada musik yang beredar.

Keragaman ini berasal dari akar budaya kita yang heterogen, kemudian menampilkan  aneka karakter dan warna musik. Berbagai karakter dari setiap musisi maupun penyanyi memiliki ciri khas dan penggemarnya masing-masing.

Para musisi tidak selamanya fokus pada karakternya sendiri. Mereka tak jarang berusaha meng-eksplore kemampuan bermusiknya dengan berkolaborasi dengan musisi lain yang berbeda genre.

Kolaborasi seperti ini menghasilkan perpaduan musik yang unik dan dikemas lebih berani. Muncullah sebuah komposisi musik yang berbeda.

Perpaduan tersebut juga memacu beberapa musisi yang sudah beberapa dekade berada di blantika musik tanah air, mencoba memperbaharui karya mereka terdahulu kepada keadaan kondisi musik yang tengah tren masa kini.

Berangkat dari situasi tersebut, dua ujung tombak group cadas God Bless, Ian Antono dan Ahmad Albar berencana membuat sebuah kolaborasi yang berani. Mereka merencanakan sebuah kolaborasi unik untuk salah satu lagunya.

Menggandeng rapper sekaligus YouTuber Kemal Palevi, kedua musisi gaek ini sangat bersemangat mempersiapkan lagu lawas mereka menjadi sesuatu yang lain dan dikemas secara kekinian.

“Kami sebetulnya sudah membuat lagu yang sudah pernah hits di tahun 70-an. Lagu itu disukai orang banyak, cuma kita pingin bikin sesuatu yang cocok dinyanyikan untuk saat ini. Tentunya disesuaikan dengan perkembangan zaman juga,” kata Ian Antono.

Lagu hits yang pernah dirilis pada tahun 1979 ini memiliki komposisi musik yang berbeda dari yang pernah mereka mainkan di Gobless. Masih dibungkus ruh power rock, lagu ini perlu sentuhan musik yang lebih modern agar dapat dinikmati oleh generasi muda saat ini.

Arrangernya, Ian Antono menetapkan pilihannya terhadap Kemal Palevi (29). Selain berbakat,  Kemal juga sudah memiliki penggemar tersendiri. Untuk itu, Ian merasa kolaborasi ini perlu sentuhan musisi milenial seperti Kemal dan harus cocok dengan genre yang mereka usung.

“Dalam sajian musik rock tidak sedikit juga yang kolaborasi dengan genre lain. Tapi saya rasa jarang ada kolaborasi rock dengan rap. Kemal menurut saya sudah cocok mewakili rapper milenial yang ada saat ini,” imbuh Ian Antono dalam rilis yang diterima Kabarhiburan.com, Kamis (18/4).

Kolaborasi ini merupakan sebuah kehormatan bagi Kemal Palevi. Kemal juga dikenal sebagai seorang stand up comedian, selain sebagai seorang rapper dan aktor layar lebar. Baginya, kolaborasi ini menjadi sebuah pembelajaran bagi perkembangan karirnya di dunia musik.

“Yang jelas, bergabung dengan musisi yang kita kenal legend ini mengangkat derajat saya yang muda-muda. Anak-anak muda kolaborasi dengan milenial sudah banyak, cuma kalau sama beliau-beliau ini merupakan sebuah kehormatan. Jauh lebih baik jika kita ingat dan menghormati musisi yang hadir terlebih dahulu di industri musik,” ucap Kemal Palevi.

Perubahan selera musik saat ini, jika dibandingkan dengan era lagu ini dirilis pastinya juga telah berbeda. Begitupun dengan cara millenial dalam menikmati music, sehingga dalam memunculkan sebuah lagu yang pernah dibawa kedua legenda ini tidaklah mudah.

Selain tidak merubah part asli dari lagu ini, kolaborasi ini juga merubah beberapa aransemen dari lagu yang akan mereka bawakan nanti.

“Kesulitan waktu mengaransemen lagu ini ada beberapa slot yang berisikan bar-bar tertentu yang digabungkan dan harus enak di dengar. Jadi sebetulnya lagu itu tidak jauh berubah dengan cord yang baru dan perlu pemikiran dari generasi saat ini,” papar Ian Antono.

Hasil dari kolaborasi ini memang masih dirahasiakan judulnya. Hanya saja, lagu ini terpilih  karena banyaknya permintaan untuk dibawakan oleh Ahmad Albar dalam setiap perform baik di tanah air maupun di negara tetangga.

Menurut penyanyi yang akrab dengan panggilan Iyek ini, aransemennya sedikit berubah dengan didominasi akustik, lagu ini juga memiliki nuansa Timur Tengah.

“Lagu ini terkenal di Malaysia dan sering dibawakan oleh beberapa penyanyi disana. Kami tidak mengubah banyak aransemennya. Kali ini warna akustiknya banyak, cuma tidak boleh dinyanyikan kalau kita perform dengan God Bless,” ujar Ahmad Albar memberikan sedikit gambaran mengenai hasil kolaborasi mereka.

“Pokoknya suara gitar dari Ian agak ke Timur Tengah, tapi kiblatnya bukan India. Yang jelas lagu ini dibuat berbeda dari yang sudah ada,” sambung Ahmad Albar.

Tentunya tidak mudah menggabungkan sebuah genre berbeda, apalagi lagu yang dihasilkan pernah menduduki tangga lagu di zaman itu. Kemal pun merasa bersyukur bisa dipilih dan mewakili generasi saat ini.

“Kolaborasi bukan hanya sekedar merubah do re mi fa sol saja yang sudah diperebutkan oleh beberapa genre. Sebagai anak muda kita juga harus melihat kebelakang dan melihat perkembangan era musik zaman dulu. Kalau mau keren, kita harus bongkar karya zaman dulu dan buat sesuatu yang baru,” tandas Kemal.

Sebuah kolaborasi yang tentunya sudah ditunggu bagi penggemar ketiga musisi ini. Penasaran akan hasil kolaborasi mereka? Kita tunggu saja. Pastinya kolaborasi ini siap ‘menggetarkan’ telinga pecinta musik tanah air. (rls)

 

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Bangkitkan Lagu Anak Bermutu, Avish Persembahkan ‘Demi Cita-Citaku’

Published

on

By

Avish diapit oleh Kak Seto dan Bens Leo.

Kabarhiburan.com – Momentum Hari Pendidikan Nasional 2021 menjadi waktu yang tepat untuk mempertanyakan masihkah ada anak-anak bangsa mendapatkan tembang sepantar usianya?

Kegundahan yang sama juga dirasakan Ndoo Atria alias Ari Wahyudi, lewat karyanya ingin mengembalikan anak-anak menyanyi sesuai usia. Ndoo lalu menggandeng Avish (8) untuk merilis lagu Demi Cita-Citaku.

Lirik lagu Demi Cita-Citaku bercerita tentang begitu kuat dan semangatnya anak-anak belajar secara online alias pembelajaran jarak jauh, selama masa pandemi demi mengejar cita-cita.

“Selain itu ada juga harapan agar semuanya kembali normal seperti sedia kala,” ujar Ndoo Atria didampingi Avish yang ditemui di kawasan Gatot Sunroto, Jakarta Selatan, Selasa (4/5).

Ndoo mengaku tertarik pada bakat menyanyi Avish, sehingga menyiapkan lagu yang setara dengan usianya.

“Kebetulan saya kenal dengan ayahnya, maka saya tawarkan untuk menyanyikan lagu yang saya buat. Jadilah single perdana, Demi Cita-Citaku,” ujar Ndoo.

Gayung pun bersambut, Avish mengaku senang dengan lagu Demi Cita-Citaku. Ia tidak kesulitan mendendangkannya hingga proses rekaman.

“Saya senang, waktu pertama kali mendengar lagu om Ndoo, terus saya pelajari. Hanya butuh 4 hari bisa langsung proses rekaman,” kata Avish yang belajar piano sejak usia 4 tahun.

Kehadiran Avish di Industri musik anak-anak, mendapat perhatian Kak Seto dan Bens Leo. Keduanya turut mengapresiasi hadirnya single perdana milik Avish.

“Lagunya cocok buat anak-anak, liriknya sesuai dengan usianya. Avish mempunyai bakat yang bagus,” ujar Kak Seto yang berharap kehadiran Avish akan menginspirasi lahirnya penyanyi-penyanyi cilik lainnya.

Senada dengan Kak Seto, pengamat musik Bens Leo memuji lirik lagu Demi Cita-Citaku.

“Liriknya ada kata-kata cita-citaku ingin jadi Gubernur, ingin jadi presiden, ingin jadi polisi dan tentara. Menurut saya, secara lirik sudah sesuai dengan anak seusia Avish,” ujar Bens Leo yang mengusulkan agar lagu milik Avish itu didaftarkan di ajang Ami Awards.

Bayu Randu selaku owner Musicblast pun menjanjikan upaya promosi yang maksimal.

“Nanti akan kami pilih agar iklannya muncul di konten anak-anak yang sesuai umur Avish. Misalnya, di konten anak umur antara 8 sampai 12 tahun”, jelas Bayu.

Executive Produser Apih Dicky dari Somen Record mengaku tertarik menjadi produser bagi Avish.

“Bakat Avish luar biasa. Selain nyanyi dia juga jago taekwondo, jadi saya beruntung bisa memproduseri dia,” kata Apih. (Tumpak S)

Continue Reading

Musik

Meldha (Jawa Barat) Sukses Taklukkan Panggung LIDA 2021

Published

on

By

Sawitri (DKI Jakarta)

Kabarhiburan.com – Konser LIDA 2021 Top 42 Grup 6 Merah menghadirkan Sawitri (DKI Jakarta), Meldha (Jawa Barat), dan Ikhwan (Sulawesi Barat), berlangsung pada Senin (3/5) malam. Mereka bertanding diawasi seksama pada Dewan Juri: Soimah, Inul Daratista, Dewi Perssik, dan Yosep Sinudarsono.

Konser ini dipandu Ramzi, Irfan Hakim, Ruben Onsu, Rara LIDA dan Jirayut DAA, lalu meminta Alif LIDA dan Wulan LIDA menanggalkan atribut kedaerahan demi tugas sebagai Sahabat Duta bersama Byodee dan Selfi LIDA.

Lengkingan cengkok dari Sawitri (DKI Jakarta) yang mantap saat membawakan lagu “Gundah”, membuat Inul Daratista dan Yosep Sinudarsono langsung memberikan standing ovation.

Inul Daratista menilai Sawitri (DKI Jakarta) layaknya penyanyi profesional, yang sudah terbiasa menyanyi dari panggung ke panggung.

“Sedikit masukan saja, mata kamu pada saat menyanyi harus lebih fokus lagi, meski tanpa penonton. SDemikian pula gaya panggung harus lebih disesuaikan,” tutur Inul Daratista.

Senada dengan Inul Daratista, Soimah juga menilai Sawitri (DKI Jakarta) sudah seperti penyanyi profesional.

“Ini adalah sebuah kompetisi, sehingga sedikit saja kekurangan akan dinilai dan dikomentari. Tadi di beberapa part lagu ada nada-nada yang geser,” kata Soimah tentang alasannya tidak memberikan standing ovation.

Meldha (Jawa Barat)

Tak mau kalah dari Sawitri, Meldha berupaya tampil maksimal lewat lagu Hadirmu Bagai Mimpi. Suaranya yang berkarakter langsung menuai standing ovation dari seluruh Dewan Juri.

“Saya melihat penampilan kamu sudah seperti penyanyi terkenal. Kamu harus bisa lebih banyak lagi menunjukkan karakter suara kamu yang berbeda”, komentar Dewi Perssik yang diamini  Inul Daratista.

“Banyak sekali kelebihan yang kamu miliki. Karakter suara yang bagus, tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Usahakan memilih lagu yang sesuai dengan suara serak-serak basah yang kamu miliki,” pesan Inul Daratista.

Suasana panggung LIDA 2021 seketika berubah ketika Soimah meminta Nia LIDA yang bertugas sebagai Sahabat Duta untuk memberikan contoh menyanyi yang baik. Sayang Nia LIDA mengecewakan Soimah karena dinilai lebih buruk dibandingkan peserta.

Siapa sangka, gertakan Soimah tersebut hanya bagian dari kejutan istimewa pada perayaan HUT Nia LIDA ke-19. Bola mata Nia LIDA berlinang menerima kejutan dari Dewan Juri, host, dan Sahabat Duta. Ramzi, bahkan telah menyiapkan satu kotak spesial untuk Nia LIDA.

“Saya memang menaruh perhatian khusus pada Nia yang cantik, baik, dan sopan. Jadi, kali ini gue kasih hadiah yang belum pernah diberikan kepada peserta lain,” kata Ramzi yang langsung ditanggapi oleh Nia LIDA.

“Aku merasa Abi memang baik sama aku dan perhatian sama aku sejak aku audisi”, ungkap Nia LIDA sambil membuka hadiah berupa makanan berbuka puasa.

Ramzi memberikan hadiah ulang tahun kepada Nia LIDA

Kompetisi berlanjut pada penampilan Ikhwan (Sulawesi Barat) membawakan lagu Seperti Mati Lampu, yang dipopulerkan oleh Nassar. Upaya Ikhwan kali ini hanya meraih satu standing ovation dari Yosep Sinudarsono.

Sebelum menerima komentar Dewan Juri, Ikhwan (Sulawesi Barat) mengakui penyebab penampilannya yang tidak maksimal, yakni beberapa nada masih goyang dan kehabisan nafas.

“Kamu anak pintar, dapat mengoreksi penampilan sendiri. Sebenarnya saya cukup terhibur dengan penampilan kamu dan suara kamu juga bagus. Tetapi saya tidak mau kamu lalai pada  beberapa hal yang perlu dikoreksi dari penampilan kamu. Semua yang kamu sebutkan tadi itu benar semua, hingga saya belum bisa memberikan standing ovation”, ujar Soimah.

Polling akhir menempatkan Meldha (Jawa Barat) di posisi teratas yang sekaligus memastikan diri melaju ke babak Top 28. Sementara Ikhwan (Sulawesi Barat) harus puas berada di posisi dua terendah bersama Sawitri (DKI Jakarta).

Dewan Juri sepakat untuk menyelamatkan Sawitri (DKI Jakarta) untuk melaju ke babak Top 28. Dengan demikian Ikhwan (Sulawesi Barat) tersenggol dan perjuangannya hanya terhenti di babak Top 42 LIDA 2021. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

Sambut Hari Kemenangan, Aldiv Persembahkan ‘Rasa Syukurku’

Published

on

By

Aldiv diapit oleh Krisna Balagita dan Ferry Ferdiansyah

Kabarhiburan.com – Sambut datangnya hari kemenangan, Idul Fitri 1442 Hijriyah, Aldiv persembahkan single terbarunya, berjudul Rasa Syukurku.

Sebuah lagu bernuansa pop ceria (medium beat) yang ditulis oleh Krisna Balagita (eks ADA Band).

Lagu ini mengangkat segala hal-hal yang Allah berikan dari sudut pandang manusia sebagai hambanya. Melalui liriknya yang sangat sederhana, lagu ini menuturkan tentang sebuah ajakan bersyukur kepada Allah, agar kita sebagai umatNya semakin dekat denganNya.

“Setiap orang itu harus bersyukur atas apa-apa yang diberikan Allah selama hidup-nya, walaupun hambanya bersalah, berdosa atau khilaf,” ujar Krisna Balagita dalam keterangan tertulis, Selasa (4/5).

Krisna Balagita yang telah banyak menciptakan single hits di blantika musik pop Indonesia pun berharap, kiranya lagu Rasa Syukurku dapat memotivasi setiap orang yang mendengarkannya.

Masih di bawah naungan DUMECA Records yang membesarkan namanya, Aldiv menjelaskan bahwa bait demi bait pada lagu Rasa Syukurku mempunyai makna yang sangat positif. Bahwasanya seluruh alam memang bertasbih memuji nama Allah. Betapa besar dan agung kuasa Allah atas semua ciptaannya.

“Kini, kita diajak untuk selalu bersyukur atas segala karunia yang tak terhingga sampai kita akhirnya dapat berjumpa lagi dengan hari penuh berkah yaitu Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) setelah sebelumnya kita berpuasa sebulan penuh,” ujar Aldiv.

Baginya, Rasa Syukurku menjadi single religi ketiga sepanjang bulan Ramadan 2021. Dua lagu sebelumnya, berjudul Sang Pengasih dan Jika Ku Jauh Darimu. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending