Connect with us

Budaya

Langit Pitu Cipta Kreasi Siapkan Pementasan Budaya Kolosal dari Tanah Pasundan

Published

on

Acara selamatan pementasan ‘Padamu Negeri Langit 7 Bidadari’ oleh para pendukungnya.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Kota Bandung terpilih menjadi tempat pementasan  berjudul: Padamu Negeri Langit 7 Bidadari.

Sebuah sajian  yang mengangkat pesan luhur tentang kekayaan budaya Indonesia dari Tanah Pasundan, dimana pahlawan RA Laksmi dan Dewi Sartika sebagai sentral cerita.

Dikemas dalam bentuk pementasan yang menggabungkan musik, tari, drama dan orchestra dalam satu panggung, di Trans Convention Center, Bandung pada 10 November mendatang.

Creative director-nya, Deddy Nur mengatakan bahwa pementasan ini merupakan misi budaya agar generasi muda maupun kaum milenial, bisa lebih memahami tentang Indonesia dan memahami negeri ini.

Untuk menggapai kaum milenial, pementasan ini melibatkan sejumlah aktor dan aktris yang sudah akrab di telinga kalangan milenial. Sebut saja Indy Barends, Indra Bekti, Kezia Warouw, Ersa Mayori, Ricky Cuaca, Prilly Latuconsina, Gizza, Steven William, Rinaldy, dan masih banyak lagi.

Ia mencontohkan sosok Rinaldy yang sehari-hari aktif sebagai model, merupakan Mr. Global Indonesia (2017). Demikian pula Gizza adalah mantan peserta The Voice Kids Indonesia.

Semua pendukung menyatakan antusias untuk menyukseskan pagelaran budaya: Padamu Negeri Lagit 7 Bidadari.

Gayung bersambut, para pemain yang terpilih tampak antusias ingin memberikan kemampuan terbaiknya dalam pementasan ini. Sebut saja, aktor Ricky Cuaca yang giat mengikuti program penurunan berat badan.

“Drama musical ini juga salah satu project aku. Melalui pementasan nanti, aku ingin menunjukkan sesuatu yang beda. Ini lo, gue yang baru,” ujar Ricky, saat jumpa pers di kawasan Senopati, Sabtu (20/10).

Creative director-nya, Deddy Nur sengaja memilih para artis selain sudah tersohor, juga memiliki prestasi di bidangnya masing-masing.

“Mereka akan berkolaborasi dengan seniman Jawa Barat dan musisi lain yang menggawangi sajian budaya ini,” ujar Deddy.

Bandung menjadi kota kedua, setelah sebelumnya digelar di Taman Mini, Jakarta, beberapa waktu lalu. Selanjutnya, masih beberapa kota lain yang akan dikunjungi. Sebut saja, Bali, Solo, Manado, Pontianak dan Padang.

Pementasan yang merupakan hasil kerja Langit Pitu Cipta Kreasi ini juga melibatkan Andre Lizt Soundkestra sebagai Music Director. Cerita ditulis oleh Kimau dari Sanggar Mas Aditya Gumay. Sementara itu, Ratna Sari bertindak sebagai Excecutif Produser. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Sinergi Goes Noeg dan Ote Abadi Ciptakan Kolase Tebar Semangat Hidup Bersama Covid-19

Published

on

By

Sinergi Goes Noeg dan Ote Abadi menciptakan karya Kolase ‘Ngglandrah’.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Kehidupan sosial dan ekonomi mulai menggeliat meski masih dibayangi ancaman virus corona. Untuk itu, pemerintah mengajak agar masyarakat agar tetap semangat dan kreatif dengan penuh kesadaran menerapkan protokol kesehatan.

Semangat tersebut diwujudkan Gerakan Seribu Indonesia (GSUI) yang didukung oleh para seniman kreatif, berpartisipasi menghasilkan karya kreatif. Salah satunya, menghadirkan dua seniman kenamaan di Tanah Air.

Mereka adalah pelukis Goes Noeg dan musisi Ote Abadi yang baru-baru ini sukses menciptakan lukisan berjudul Deklarasi Kebangsaan. Lukisan tersebut sudah memasuki balai lelang Masterpiece Auction House.

Kali ini Goes Noeg dan Ote Abadi kembali bersinergi menciptakan kolase, yakni karya komposisi artistik yang dibuat dari bahan kertas simetris beraneka bentuk dan warna yang tercurah di atas kanvas.

Nggladrah, dalam dalam bahasa Jawa artinya, kondisi yang tidak tau aturan dan semau ‘gue’,” ujar pria kelahiran Semarang ini menyebut judul kolase karyanya.

Selama menciptakan Nggladrah, Goes Noeg diiringi petikan gitar Ote Abadi yang memainkan beraneka genre musik secara terus menerus. Goes Nog juga mengajak jajaran pengurus GSUI dan awak media untuk berpartisipasi dalam menggarap Nggladrah.

Ketua GSUI, Ancho, turut ambil bagian menggarap kolase ‘Ngglandrah’

“Caranya gampang, Anda cuma menempelkan potongan kertas warna-warni yang saya sediakan, ke atas kanvas. Terserah mau ditaruh dimana di dalam framming,” pinta Goes Noeg yang meneriakkan Nggladrah! sebagai tanda dimulainya penciptaan kolase.

Sebagai karya bersama, kolase yang diinginkan pun tercipta dalam tempo beberapa menit. Selanjutnya, Goes Noeg tinggal memperkuat bentuk serta menegaskan warna di beberapa bagian. Terciptalah kolase tiga dimensi yang menarik.

Baginya, ide membuat kolase kali ini diinspirasi oleh situasi masyarakat terkini di tengah pandemi.

“Masih dalam situasi memprihatinkan karena pandemi covid pemerintah sudah mengajak agar berdamai dengan covid-19. Kok, masih ada yang tidak ikut aturan, semau gue. Dalam bahasa Jawa disebut nggladrah,” jelas Goes Noeg yang diapresiasi Ote Abadi.

Kolase ‘Ngglandrah’ disumbangkan kepada GSUI untuk disalurkan bagi penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Dalam kegiatan ini, kita semua berimprovisasi secara bersama sehingga melahirkan sebuah bentuk karya mewakili suasana hati kita masing-masing,” ujar pria kelahiran Palu tersebut.

Harry Koko Santoso membenarkan bahwa improvisasi bersama telah melahirkan sebuah bentuk karya yang mewakili suasana hati masing-masing.

“Semoga suasana sinergi ini menjadi bagian dari semangat berkreasi yang akan menginspirasi  masyarakat, berani beraktivitas berdampingan dengan covid-19. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Pandemi Covid-19, Ki Kusumo Ajak Masyarakat Lakukan Hal Ini

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Hari-hari ini bangsa Indonesia dihadapkan pada pandemi Covid-19. Ini terjadi bukan hanya melanda Indonesia namun menjadi ancaman di seluruh dunia. Situasi ini juga mengganggu pikiran Ki Kusumo.

Aktor yang juga Konsultan supranatural ini menuliskan hasil renungannya lalu membagikannya kepada para awak media.

“Kita pernah mendengar tentang SARS, Flu Burung, Lumpuh Layu, dan lain-lain,  yang sempat menjadi Epidemi. Belum lagi ada beberapa peristiwa lain yang membuat takut dan terjadi secara cepat dan sporadik, seperti bencana alam. Dalam kepercayaan kami, orang Jawa pasti ingat yang namanya peristiwa Betara Kala,” tulis Ki Kusumo.

Betara Kala secara harfiah diartikan sebagai Dewa Kala. Sebuah simbol yang jika sudah waktunya siapapun akan dibinasakan. Jika sudah ada tandanya siapapun tak akan bisa melawannya.

“Ini mungkin cerita pewayangan yang sudah mendarah daging, menyangkut sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan manusia. Apabila seseorang sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Batara Kala akan menjemputnya,” sambung Ki Kusumo.

Ada namanya orang saat yang beruntung dan orang saat yang tidak beruntung, tapi ada satu kepercayaan lain yang menyatakan bahwa alam ini perlu diseimbangkan.

“Saya melihat ini lebih kepada sebuah peristiwa yang orang Jawa menyebutnya dengan nama ‘Pageblug’, yakni sebuah cerita tentang kesialan, sebuah wabah, sebuah penyakit yang menyerang secara sporadis pada setiap manusia di seluruh dunia, yang sebenarnya dikendalikan oleh makhluk-makhluk tak kasat mata,” ujarnya.

Ki Kusumo menyebut alam sedang menyeimbangkan tubuh, sistem karena kerusakan yang dilakukan manusia.

“Diambil pohonnya, diambil sumber daya alam, dan lain sebagainya. Sehingga terjadi longsor dan sebagainya. Karena ketidak seimbangan, terjadilah di mana sisitem bumi akhirnya sudah tidak seimbang.  Hingga akhirnya bumi pun secara alami melakukan sebuah prosesnya,” jelasnya.

Terkait wabah Covid-19, Ki Kusumo mengajak semua masyarakat agar menjaga keseimbangan alam dan ingat akan Tuhan.

“Jangan pernah lupakan Tuhan. Jangan pernah lupakan bahwa di alam nyata pun ada alam tidak nyata. Kita hidup berdampingan. Semua harus saling menghargai, saling toleran sehingga keseimbangan alam itu terjadi,” ucap Ki Kusumo mengingatkan.

“Ini (wabah covid-19) adalah ‘Pageblug’ yang akan kita sikapi. Ayo kita lakukan sebuah proses ritual keheningan jiwa. Mari kita ingat bahwa kita ini siapa dan berasal dari mana. Kita bagaimana dan harus apa?,” serunya.

Di akhir tulisannya, Ki Kusumo menginginkan semua orang termasuk pemerintah melakukan tindakan kebudayaan masa lampau.

“Saya mengajak seluruh warga masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk juga sama-sama agar kita bisa berdoa bersama, kita melakukan sesuatu yang berkaitan dengan spiritual. Ingat bahwa kita punya Tuhan,” pungkas Ki Kusumo.

Continue Reading

Budaya

Wisatawan Dibatasi Masuk Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – PT Taman Wisata Candi (TWC) selaku pengelola tiga candi yaitu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Boko, akhirnya memilih membatasi wisatawan yang mengunjungi area komplek ketiga candi tersebut.

Kebijakan tersebut diambil sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran pandemi global Coronavirus. Pembatasan pengunjung berlangsung selama 14 hari, terhitung mulai 16 hingga 29 Maret 2020.

“Selama masa waspada virus corona, wisatawan tidak diperkenankan naik ke area candi,” ujar Edy Setijono dalam keterangan resmi yang diterima Kabarhiburan.com, Kamis (19/3).

Edy Setijono selaku Direktur Utama PT TWC menjelaskan bahwa pembatasan kunjungan diberlakukan untuk kunjungan umum, regular, sunrise/sunset, maupun Borobudur Manohara Package. Untuk sementara pengunjungi hanya sampai zona 2 dan zona 3.

Pembatasan tersebut juga sebagai tindak lanjut dari arahan pemerintah dengan menjalankan protokol area publik virus corona. Apabila ditemukan suspect virus corona, maka seluruh kawasan akan ditutup sebagai tindakan pencegahan penyebaran.

“Kebijakan pembatasan kunjungan diambil supaya tidak ada kepanikan yang berlebihan, sehingga kondisi pariwisata di Yogyakarta maupun Jateng tetap kondusif, namun tetap siaga dan waspada,” jelas Edy Setijono.

Selama pembatasan kunjungan ini, harga tiket masuk pun diturunkan. Pengelola hanya memberlakukan satu harga tiket masuk, serta meniadakan tiket terusan.

PT TWC juga membentuk Satgas Pencegahan Penyebaran Virus corona yang bertugas melakukan tindakan preventif dengan melakukan penyemprotan desinfektan ke seluruh kawasan wisata candi. Misalnya toilet, mushola, dan shelter yang biasa menjadi tempat berkumpulnya wisatawan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengapresiasi kebijakan pembatasan kunjungan tersebut. Menurutnya, penting bagi setiap asosiasi/pelaku industri pariwisata memberlakukan protokol kesehatan sesuai dengan surat edaran Menteri Kesehatan.

“Prioritas Kemenparekraf/Baparekraf saat ini adalah melindungi kesehatan dan keselamatan seluruh lapisan masyarakat.

Untuk itu perlu dukungan dan peran aktif setiap pemangku kepentingan, termasuk asosiasi maupun pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif dalam upaya pencegahan penyebaran virus corona,” jelas Wishnutama. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending