Connect with us

News 11

Mengenal Penyakit Difteri dan Strategi PB IDI Cegah Penyebarannya

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tidak kurang dari 28 provinsi di Indonesia dilaporkan telah terjangkit difteri. Hanya dalam beberapa pekan saja, terhitung sejak Oktober hingga Desember 2017, difteri nyaris membuat banyak rumah sakit kewalahan. Beberapa provinsi di antaranya, mendapat status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri, saking banyaknya penderita difteri di sana.

Hingga kini tercatat, sudah 40 anak Indonesia meninggal karena terserang penyakit difteri. Sementara 600 anak lainnya harus menjalani perawatan di 120 rumah sakit di Tanah Air. Apa boleh buat. Data tersebut langsung menyulut keprihatinan yang dalam, karena difteri tadinya sudah hampir menghilang, kini merebak lagi di Indonesia.

“28 Provinsi pada saat bersamaan. Itu cakupan KLB terbanyak, sekaligus rekor KLB paling tinggi di dunia. Kasus difteri di dunia tidak pernah mencapai 28 provinsi ,” ujar DR. Dr. Aman Pulungan, Sp.A(K) selaku Ketua PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Ia mencontohkan beberapa negara, seperti India yang kasus penyebaran KLB difteri hanya sampai pada satu  hingga dua provinsi. Sementara Afrika Selatan hanya mencakup beberapa provinsi saja   yang alami KLB difteri. “

Luasnya penyebaran difteri di Indonesia diungkapkan Aman Pulungan dalam  konferensi pers tentang  wajib Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi tambahan untuk menciptakan kekebalan bagi masyarakat khususnya anak-anak agar terhindari dari difteri,  di Kantor PB IDI, Jakarta, Senin (18/12).

Di tempat yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, Sp.OG(K)  mengatakan, KLB difteri erat kaitannya dengan menurunnya cakupan vaksinasi. Belakangan ini tercatat tidak sampai  70 persen.

“Harusnya cakupan vaksinasi 95 persen, tapi ini sudah di bawah 70 persen, maka KLB timbul, karena minimnya vaksinasi. Ada gap (jarak) antara mereka yang menggunakan vaksin dan tidak, maka angka penyebaran meledak di bulan Oktober hingga Desember,” papar Marsis.

Ia menambahkan, merebaknya difteri disebabkan oleh imunitas tubuh anak yang lemah. “Penderita difteri memiliki catatan tidak pernah atau tidak lengkap imunisasi anti difterinya,” ujar Ilham Oetama Marsis.

Disebut lengkap, bila sampai usia 2 tahun telah mendapat imunisasi DPT (Difteri Pertusis dan Tetanus). Sampai 5 tahun DPT 5 kali. Sampai usia 19 tahun sudah mendapat imunisasi DPT + DT (Difteri Tetanus) dan imunisasi lanjutan (Td). “Tapi kenyataannya, sampai usia sekolah imunisasi DPT hanya 3-4 kali. Itu sebabnya KLB difteri banyak terjadi pada usia 5 – 10 tahun,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya orangtua melihat kembali data imunisasi anak-anaknya agar mencegah KLB difteri semakin meluas.  “Langkah preventif jauh lebih baik dengan imunisasi dewasa 10 tahun sekali. Vaksinasi ulang sebanyak 3 kali dalam program ORI juga harus diikuti oleh seluruh masyarakat di wilayah KLB serta mereka yang di luar wilayah KLB diharapkan lengkapi status imunisasi difterinya,” katanya.

Tak hanya anak-anak, Marsis juga mengingatkan agar pemerintah menghadirkan vaksin untuk dewasa pada setiap 10 tahun sekali. Imunisasi DPT ulangan untuk mencegah penyakit difteri, pertussis dan tetanus. “Orang dewasa merupakan kelompok risiko tinggi karena kontak dengan anak yang terinfeksi difteri. Seperti  petugas kesehatan, guru, maupun orangtua pasien.

Sementara Dr. dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi yang merupakan anggota Satgas Imunisasi IDAI menjelaskan, difteri adalah nama penyakit yang disebabkan kuman bakteri jenis  Corynebacterium Diptheriae. Banyak bersarang di tenggorokan dan hidung membentuk selaput putih tebal yang secara perlahan dapat menutup saluran pernafasan.

Bila penderitanya tidak segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan, CD akan  sangat mudah berpindah atau ditularkan ke orang-orang di sekitarnya, melalui percikan liur saat penderita batuk maupun bersin.

Bahayanya,  CD bisa mengeluarkan racun yang mampu melumpuhkan sel-sel otot di sekitarnya. Bahkan melumpuhkan otot jantung. Ini yang kemudian menyebabkan kematian bagi penderitanya. “Ini harus dihentikan penyebarannya,” ujar anggota Satgas Imunisasi IDAI, Dr. dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi.

Apalagi, sebagian besar dari mereka yang terkena difteri pada umumnya belum pernah diimunisasi sama sekali, atau belum pernah diimunisasi DPT. DPT  masih  satu-satunya imunisasi yang mampu mencegah difteri.

Gejala yang paling terlihat dari penderita difteri adalah terdapatnya selaput putih tebal di tenggorokan atau di hidung. Pada beberapa kasus juga disertai dengan leher yang bengkak. “Kemudian buka mulut anak, julurkan lidah untuk memperlihatkan tenggorok anak. Lihat apakah ada selaput putih kotor. Biasanya, aroma nafasnya juga bau tidak enak akibat sel-sel di tenggorok sudah dirusak bakteri penyebab difteri,” ujar Soedjatmiko.

Ia menganjurkan agar segera membawa penderitanya ke rumah sakit untuk memastikan. “Kalau difteri, maka penderita  harus segera  diisolasi. Lalu tenaga kesehatan yang tangani kasus itu harus mendapatkan imunisasi dan antibiotik. ” tutur Soedjatmiko.(Tumpak Sidabutar/KH. Foto Istimewa)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending