Connect with us

Budaya

Mufakat Budaya Indonesia Serukan Pelihara Kegotongroyongan

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Kami anggota aktivis MBI menyampaikan himbauan, untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa yang tak baik, menjaga sikap dan tindakan yang berpotensi merusak tata hubungan sosial-kultural di masyarakat Indonesia yang sudah dibangun oleh para leluhur bangsa.

Demikian salah satu  pernyataan yang disampaikan oleh Mufakat Budaya Indonesia (MBI) dalam imbauan dan pernyataan yang dibacakan di depan wartawan, di Warung Presiden (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (13/3) sore.

MBI menaungi sejumlah seniman, budayawan, rohaniawan, ilmuwan dan cendekiawan. Sebut saja,  Radhar Panca Dahana, Suhadi Sendjaja, Donny Gahral, Niniek L Karim, Adi Kurdi, Renny Jayoesman, Anto Baret, Tony Q, Olivia Zalianty dan beberapa nama lainnya.

Mereka memberi pernyataan sikap, membacakan sikap, membuat lukisan, dan menyanyikan lagu bertema kebangsaan. Selain menyikapi perkembangan terkini kehidupan sosial, politik dan budaya negeri kita, Indonesia, yang tengah mengalami peningkatan intensitas, jumlah dan kualitas.

MBI pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kontestasi politik, seperti pemilihan presiden dan anggota legislatif sebagai ajang pertempuran di antara kekuatan yang semata hanya untuk nafsu kekuasaan semata.

Mereka juga meminta agar para elit, baik di lingkungan politik, ekonomi, akademik, agama, dan budaya, tidak lagi menginisiasi, menginspirasi, apalagi mengorganisir publik untuk melakukan perbuatan destruktif demi tujuan kelompoknya.

Banyak hal lagi yang disampaikan oleh MBI agar masyarakat bisa kembali bersatu dan harmonis meski menjalani tahun politik seperti ini. MBI pun mengajak masyarakat agar mengingat dan sadar kembali akan sejarah bangsa Indonesia. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali harmonis dan sadar, meski berbeda pandangan namun ini demi kemajuan bangsa.

“Kami anggota aktivis MBI menyampaikan himbauan, untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa yang tak baik, menjaga sikap dan tindakan yang berpotensi merusak tata hubungan sosial-kultural di masyarakat Indonesia yang sudah dibangun oleh para leluhur bangsa,” ujar Radhar Panca Dahana selaku kordinator MBI. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Tampilkan Keunggulan Desamu di Bidang Budaya

Published

on

By

Pagelaran OVOS – One Village One Story yang akan diadakan pada 23 Agustus sampai 26 Agustus, di hotel Augusta, Sukabumi — mengusung local wisdom, melibatkan potensi budaya dan pariwisata di 37 Desa dari 17 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Acara ini diimplementasikan berkat kerjasama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, dan Yayasan Duta Pariwisata dan Kebudayaan Indonesia (YDPDKI).

OVOS – One Village One Story berusaha memberdayakan pedesaan. Mengangkat kisah-kisah menarik tentang keunggulan, potensi dan keunikan budaya pedesaan. Menghidupkan seni tradisi Indonesia, sebagai nilai-nilai bela negara yang dikembangkan dalam rangka pertahanan nasionalisme ke-Indonesia-an.

OVOS – One Village One Story ingin mengembangkan pemajuan kebudayaan di tingkat desa dengan cara mengangkat cerita keunikan dan eksotisme desa dalam bentuk karya seni budaya yang impactful (memberi kesejahteraan siapa saja yang terlibat), memorable (selalu dikenang setiap orang dimana saja), dan sustainable (menjadi tradisi turun temurun kapan saja).

Mari kita semakin mengenal, memahami, mencintai, dan melestarikan seni budaya Nasional, OVOS – One Village One Story

Cintailah budayamu, dan hargai budaya orang lain. ( Zar)

Continue Reading

Budaya

Yayasan Harapan Kita Berharap TMII Tetap Menopang Kelestarian Budaya

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Yayasan Harapan Kita (YHK) angkat bicara perihal pengambilalihan pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) oleh negara.

Yayasan Harapan Kita menilai tema mengambil alih Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita (YHK) oleh Negara, kurang tepat. Mengingat sejak tahun 1977 TMII telah ditetapkan sebagai milik Negara Republik Indonesia.

Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1977, tanggal 10 September 1977. Bahkan, sejak tahun 2010 Pemerintah melalui Sekretariat Negara Republik Indonesia telah melakukan proses balik nama.

“Sertifikat Hak Pakai atas tanah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) seluas 146,7704 Hektare, dari atas nama Yayasan Harapan Kita menjadi atas nama Pemerintah Republik Indonesia Cq. Sekretariat Negara Republik Indonesia,” jelas Tria Sasangka Putra, SH., LLM., selaku Sekretaris Umum Yayasan Harapan Kita (YHK) kepada wartawan, di Gedung Badan Pengelola dan Pengembangan (BPP) TMII, Jakarta, Minggu (11/4).

Tampak hadir di acara Jumpa Pers tersebut antara lain, Direktur Utama Taman Mini Indonesia Indah, Mayjend TNI (Purn); Tanribali Lamo, Manajer Informasi Badan Pelaksana Pengelola TMII; Diah Irawati, serta Kabag Humas Badan Pelaksana Pengelola TMII, Adi Wibowo.

Mereka hadir untuk menanggapi pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara telah mengambilalih pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita (YHK).

Pengambilalihan tersebut dilakukan melalui Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pengelolaan TMII, yang intinya menetapkan penguasaan dan pengelolaan TMII dilakukan oleh Kemensetneg RI.

Tria Sasangka menyampaikan, Yayasan Harapan Kita menghormati terbitnya Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2021. Hanya saja, menyayangkan banyak masyarakat mengira pengambilalihan hak kelola tersebut sebagai penyitaan aset TMII oleh Pemerintah.

“Menghormati terbitnya Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2021. Harapan kami pelestarian nilai-nilai budaya yang telah terbina dengan berbagai pemangku kepentingan selama 44 tahun, tetap terjamin, terjaga dan terbina sesuai amanah yang telah dimandatkan kepada Yayasan Harapan Kita,” ujanya.

Tria Sasangka juga menyatakan Yayasan Harapan Kita siap melakukan perundingan untuk membicarakan proses tindak lanjut pengelolaan TMII sesuai amanat Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2021.

Yayasan Harapan Kita selalu siap melaksanakan penugasan dari Negara dalam rangka melanjutkan visi dan misi yang telah diamanatkan oleh Ibu Negara Hj. Tien Soeharto sekaligus merupakan pengabdian kepada Negara.

“Upaya Pemerintah mengambil alih pengelolaan TMII dari Yayasan Harapan Kita, diharapkan juga tak mengganggu berbagai upaya dalam rangka memperkokoh ketahanan budaya bangsa,” ujar Tria Sasangka.

TMII Satukan Ragam Budaya

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) digagas Siti Hartinah Soeharto, yang akrab dipanggil Ibu Tien Soeharto. TMII mulai dibangun oleh Yayasan Harapan Kita pada 30 Juni 1972 dan diresmikan, 20 April 1975.

Prakarsa tersebut diilhami oleh pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan antara bidang fisik-ekonomi dan bidang mental-spiritual.

Dengan mendirikan TMII, Tien Soeharto menyatukan beragam budaya Nusantara. Dilengkapi pengenalan flora, fauna, kuliner dan adat-istiadat leluhur bangsa ke dalam Indonesia kecil yang dibangun secara lengkap dan modern.

Gagasan tersebut dilandasi, antara lain semangat untuk membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta tanah air dan bangsa, memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa lain di dunia.

“Memberi kontribusi bagi rakyat, bangsa dan Negara, dalam bentuk warisan nasional (national heritage), budaya bangsa Indonesia untuk dilestarikan,” kata Tria Sasangka.

Sebagai rangkaian peristiwa, lanjut Tria Sasangka, penggagas TMII Ibu Negara Hj. Tien Soeharto, tidak pernah memiliki niat melakukan swakelola TMII. Hal ini dapat dilihat selama rentang waktu tiga tahun sejak pembangunan di tahun 1972 sampai dengan peresmian di tahun 1975, TMII langsung diserahkan ke Negara.

Terkait kontribusi keuangan dari TMII kepada Negara, Tria Sasangka menjelaskan, dalam pelaksanaan pengelolaan TMII ini, Yayasan Harapan Kita sebagai penerima tugas Negara tidak pernah mengajukan atau meminta kebutuhan anggaran kepada Pemerinah.

“Tidak selamanya pemasukan yang diperoleh Badan Pelaksana Pengelola TMII mencukupi kebutuhan operasional. Justru anggaran pengelolaan, pemeliharaan dan pelestarian, ditanggung Yayasan Harapan Kita,” kata Tria Sasangka.

Penatakelolaan TMII di bidang manajemen termasuk bidang keuangan, kata Tria Sasangka, diaudit secara otonom dengan membentuk unit organisasi pengelola, mengurus sumberdaya manusia, melaksanakan operasi menejemen, dan pemeliharaan.

“Audit keuangan juga dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bahkan, kelanjutan pembangunan pendanaannya dibiayai langsung Yayasan Harapan Kita tanpa bantuan Pemerintah,” ungkap Tria Sasangka.

Dukungan Penggiat Budaya di TMII

Pada kesempatan lain, sejumlah penggiat budaya di TMII juga menyayangkan pemberitaan media yang berkembang terkait, ‘TMII Diambil Negara,’ seolah memberi stigma negatif terhadap institusi yang terbukti telah berjasa selama bertahun-tahun mengelola TMII.

Tokoh spiritual dan budayawan, Pangeran Nata Adiguna Mas’ud Thoyib Jayakarta Adiningrat, menyebutkan, menjadi kewajiban Pemerintah memelihara dan melestarikan TMII tanpa istilah mengambil alih.

Dia menambahkan, empat tahun lagi, TMII berusia 50 tahun dan menjadi Benda Cagar Budaya.

“Jadi istilahnya bukan mengambil alih, tapi memang kewajiban Negara untuk memelihara dan membiayai pelestarian dan operasional TMII. Seperti halnya Museum Nasional dan benda cagar budaya lainnya untuk dimasukkan ke APBN,” ujar mantan Manajer Budaya TMII, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Raja dan Sultan Nusantara ini.

Penggiat seni dan budaya, Eddie Karsito, meminta Pemerintah hendaknya dapat berfungsi sebagai pelindung dan pengayom kegiatan budaya, di tengah pergulatan menghadapi arus urbanisasi, kapitalisasi, modernisasi dan pragmatisme birokrasi.

“Kita memang harus beradaptasi. Kegiatan budaya memperoleh tekanan rasionalisasi ekonomi. TMII sebagai lembaga wajib menopang dan mengukuhkan agar budaya tetap terjaga kelestariannya. Jangan sampai budaya sekadar menjadi komoditas ekonomi,” ujar Pendiri Rumah Budaya Satu-Satu (RBSS) ini.

Dibanding Pemerintah Pusat, menurut seniman dan budayawan, Suryandoro,  Pemerintah Daerah lebih peduli dan perhatian menyemarakkan kegiatan budaya di TMII. Terbukti pembangunan sarana dan perawatan Anjungan Daerah, beserta program-programnya hingga kini terus berjalan.

“Kita wajib berterima kasih kepada ibu Siti Hartinah Soeharto berkat ide-idenya yang cemerlang. Peninggalan budaya Nusantara terselamatkan di TMII, seperti rumah-rumah adat, seni tari, seni musik, seni kriya dan sebagainya,” ujar Mantan Manajer Informasi TMII ini.

Bahkan, TMII turut menjaga keharmonisan pemeluk agama dengan membangun berbagai rumah ibadah.

“Rumah Ibadah semua agama dan kepercayaan yang diakui Negara dibangun secara berdampingan di kawasan TMII. Saya berharap Pemerintah dan masyarakat tidak berpikir negatif terhadap YHK,” ujarnya.

Pemerintah Pusat juga dinilai kurang peduli terhadap TMII. TMII dibiarkan jalan sendiri. Padahal hal ini kewajiban Negara terkait dengan perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan budaya bangsa.

“Pemerintah wajib mengucapkan terima kasih kepada YHK yang dengan dedikasinya mengelola TMII selama 44 tahun secara mandiri. Tetap setia membayar pajak dan memenuhi regulasi lain sesuai aturan Pemerintah,” ujar Penggiat Budaya, Sigit Gunarjo. (Rls)

Continue Reading

Budaya

‘Good Friends’ Ajak Pemirsa NET Jelajahi Korea Selatan dan Jumpa Bintang K-Pop

Published

on

By

Kevin Hermanto dan Rafael Tan berjumpa Dita Karang, personel K-Pop di Program Good Friends, kerja sama NET dan SBS Korea Selatan.

Kabarhiburan.com – NET bersinergi dengan SBS TV Korea Selatan, menghadirkan program reality show keseruan perjalanan ke Korea Selatan, bertajuk Good Friends.

Episode perdana Good Friends sudah tayang layar NET sejak 15 November 2020 pukul 09.00 WIB silam. Selanjutnya, Good Friends tayang saban hari Minggu di jam yang sama.

Melalui program terbaru ini,  NET mengajak pemirsa menjelajah negeri ginseng dengan latar visual panorama indah. Termasuk menerobos ke belakang panggung beberapa bintang K-Pop yang mendunia.

Selama menjelajah, pemirsa dipandu oleh lima figur milenial, asal Korea Selatan dan Indonesia. Mereka adalah Jang Han-Sol, Han Yoo Ra, Rafael Tan, Bianca Kartika, dan Kevin Hermanto, saling memperkenalkan budaya dan berbagai cita rasa khas di negara masing-masing.

Dari namanya sudah ketahuan, Jang Han-Sol dan Han Yoo Ra asal Korea Selatan, namun keduanya fasih berbahasa Indonesia.

Youtuber Han Sol sempat tinggal di Malang, Jawa Timur, akan membantu rekan-rekannya mengenalkan kultur dan berbagai hal yang khas di negaranya.

Youtuber Yoo Ra sempat tampil di program Kelas Internasional NET, akan berbagi spontanitas dan keseruan dan kenekatannya mengikuti berbagai tantangan games bersama sejumlah bintang K-Pop.

Keduanya akan berbagi tugas dengan Rafael Tan, Bianca Kartika, dan Kevin Hermanto dari Indonesia.

Penyanyi Rafael Tan dan vlogger Bianca Kartika didapuk menjadi tamu negara yang akan mengikuti jelajah Korea Selatan, sambil memperkenalkan kultur kebiasaan masyarakat di Indonesia, termasuk mengikuti keseruan bersama beberapa bintang K-Pop.

Sementara Kevin yang sempat bermukim di Korea Selatan akan membantu memandu rekan-rekannya saling memahami kebiasaan dan keberagaman yang menarik antara kedua negara tersebut.

Vlogger Bianca Kartika, Kevin Hermanto dan Rafael Tan di program Reality Show Good Friends, NET kerja sama SBS.

Kelima host ini akan mengunjungi beberapa lokasi spesial di Korea Selatan. Mulai dari rumah tradisional Korea hingga bertemu bintang-bintang K-Pop.

Salah satu yang menarik, pertemuan mereka dengan penyanyi asal Yogyakarta, Dita Karang yang berkarir di industri K-Pop Korea Selatan, bersama Secret Number.

Mereka juga bertemu KNK (K-Pop Knock), sebuah Boys-Band terkenal Korea yang beranggotakan Park Seoham, Jeong Inseong, Kim Jihun, Oh Heejun, dan Lee Dongwon.

Bukan itu saja. Kelimanya, bahkan menantang Girls-Band Korea Momoland untuk lomba masak, serta mengajak grup Oh My Girl bertarung dalam wahana permainan khas Korea Selatan.

Pendek kata, pemirsa NET  akan menyaksikan keseruan lima host “Good Friends” NET, yang berhasil menembus ke belakang panggung Boy-Band Wei dan The Boys yang super ketat.

Suasana syuting Reality Show ‘Good Friends’, kerjasama NET dan SBS Korea Selatan.

Tidak tanggung-tanggung. Sebanyak 28 kamera disiapkan untuk mengiringi perjalanan Good Friends menuju berbagai aktivitas wisata dan panggung K-Pop di Korea Selatan.

Meski demikian, perjalanan lima Good Friends sesungguhnya tidak mudah dan penuh kerja keras. Sebelum melakukan syuting, terlebih dulu melakukan karantina mandiri selama 14 hari sesuai protokol kesehatan di Korea Selatan.

“Belum lagi waktu kerja maraton yang membuat kami dan Kru dari SBS TV terpaksa  berisitirahat dalam kendaraan selama melakukan perjalanan. Namun semua terbayarkan oleh kerjasama kreatif penuh persahabatan, dan menyenangkan,” ujar Kevin Hermanto.

“Tak mudah pula menembus ke belakang panggung bintang-bintang K-Pop yang saat ini sedang naik daun, namun kesabaran kami terbayarkan saat merasakan keramahan beberapa bintang K-Pop,  saat berbincang dan bermain bersama menghadapi tantangan games yang diberikan,” kata Kevin menambahkan.

Direktur Programming NET, Yeni Anshar mengatakan bahwa Good Friends telah mengangkat benang merah persahabatan milenial dua negara dalam sebuah kisah perjalanan, yang dipadukan dengan keseruan reality show yang asyik ditonton.

“NET dan SBS TV menghadirkan jelajah negeri gingseng dengan latar visual panorama indah dan interaksi dalam berbagai tantangan games yang melibatkan 5 host Good Friends dengan sejumlah bintang K-Pop Korea,” jelas Yeni Anshar. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending