Connect with us

News 11

PB IDI Kerahkan Tim Batalyon Kesehatan Bantu Korban Gempa di Palu-Donggala

Published

on

Foto Ilustrasi

Kabarhiburan.com, Jakarta – Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah memerlukan bantuan sesegera mungkin dari berbagai pihak.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) langsung bergerak dan mengerahkan bantuan tim medis untuk membantu memulihkan para korban gempa.

Sekjen PB IDI, dr. Moh. Adib Khumaidi mengatakan tim IDI telah mengerahkan tim Batalyon Kesehatan (yonkes), Sabtu (29/9).

Tim medis IDI dihadirkan untuk melakukan pendataan kebutuhan medis yang diperlukan serta melakukan penanganan medis kepada korban gempa.

“Hari ini tim Batalyon Kesehatan (yonkes) TNI bersama tim Aju (tim pendahuluan) dari Ikatan Dokter Indonesia cabang Makassar, Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin. Selain tim Siaga Bencana Makassar akan segera melakukan Rapid Health Assesment, untuk mendata kebutuan medis dan melakukan penanganan medis sesegera mungkin terhadap masyarakat Palu dan sekitarnya,” kata Abid dalam keterangan tertulisnya.

Abid mengatakan keberangkatan tim kesehatan akan melalui jalur udara melalui Mamuju dan dilanjutkan via darat menuju Palu dengan bantuan sarana transportasi TNI.

“Selain melalui udara, IDI juga telah menyiagakan tim dokter dari Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara dan sekitar wilayah Sulawesi Tenggara jalur darat.,” ucapnya.

Saat ini, IDI juga telah menyiapkan rumah sakit darurat yang tengah menempuh perjalanan laut untuk menangani korban luka pasca gempa. Selain itu, rumah sakit juga akan membawa bantuan medis serta kamar operasi darurat.

“RS Kapal Terapung Ksatria Airlangga sedang menempuh jalur laut dari wilayah Banda Naira menuju Donggala. RS Terapung Ksatria Airlangga juga menyiapkan fasilitas kamar operasi darurat serta membawa bantuan medis,” kata dia.

Menurut Abid, selain jalur komunikasi dan listrik yang terputus, layanan rumah sakit di Palu juga dalam kondisi lumpuh total.

“Rumah sakit di Palu lumpuh total sehingga mengakibatkan para dokter dan tenaga medis kesulitan melakukan penanganan medis segera,” tutupnya.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending