Connect with us

Film

Pemerintah Terkesan Ragu Membuka Pintu Bioskop

Published

on

Djonny Sjafruddin dalam diskusi ‘Recovery Industri Hiburan di Era New Normal’.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Pintu bioskop tidak kunjung dibuka, meski masa new normal sudah menginjak bulan ketiga sehingga ratusan judul film nasional tidak dapat diputar. Demikian pula distributor film import terpaksa menghentikan kegiatan.

Sebagai dampaknya, perekonomian di lingkaran perfilman Indonesia mengalami mati suri, termasuk UMKM yang melekat pada usaha bioskop dan menyebabkan kerugian materi yang sangat besar.

Sejak ditutupnya layar bioskop pada 23 Maret 2020 silam, para sineas pun menghentikan kegiatan syuting membuat ratusan artis dan kru film terpaksa kehilangan pekerjaan.

Demikian pula, karyawan bioskop terpaksa menerima surat PHK atau dirumahkan. Belum lagi, perawatan bioskop seperti perawatan proyektor membutuhkan biaya yang tinggi.

Situasi sulit ini diungkapkan Djonny Sjafruddin selaku Ketua GBPSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia) dalam diskusi Recovery Industri Hiburan di Era New Normal di Jambuluwuk Resort, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8).

Dengan membandingkan industri perfilman dengan industri transportasi, seperti pesawat terbang, bus AKAP maupun kereta api yang sudah menggeliat dengan menerapkan protokol kesehatan, Djonny meyakini adanya ketidakadilan pemerintah terhadap industri perfilman selama masa pandemi Covid-19.

“Kalau bus antar AKAP, pesawat terbang, kereta api dan pasar boleh beroperasi dengan mengikuti protokol kesehatan demi menggerakkan roda ekonomi, mengapa bioskop tidak diperkenankan dibuka hingga kini,” ujar Djonny setengah bertanya.

Suasana diskusi Recovery Industri Hiburan di Era New Normal

Pada diskusi yang diselenggarakan oleh PWI DKI Jakarta Sie Musik, Film dan Lifestyle tersebut, Djonny membenarkan adanya wacana untuk membuka kembali pintu bioskop, pada bulan July dan Agustus 2020. Namun kembali dibatalkan oleh Pemda DKI Jakarta, alasannya penyebaran Covid-19 tidak kunjung melandai.

Padahal, resiko penyebaran virus corona di bioskop hanya sebesar 0,3 persen. Ditambah lagi, bioskop memiliki ruangan yang luas, sirkulasi udara yang diatur sedemikian rupa, sehingga aerasi di dalam gedung senantiasa  lancar, serta penonton tidak berhadapan.

“Bandingkan dengan kereta api, bus AKAP, pesawat dan pasar modern,” ujar Djonny yang mengutip hasil studi kesehatan di sebuah universitas di Jerman.

Djonny yang mengaku sudah menekuni usaha perbioskopan sejak 1957, memahami persoalan pandemi Covid-19 bukan perkara mudah.

“Saya melihat pemerintah DKI Jakarta masih ragu-ragu dalam menyusun kebijakannya. Oleh sebab itu, saya meminta agar pemerintah melibatkan GPBSI dalam menyusun kebijakan tentang perizinan operasional bioskop,” pintanya.

Masih tentang perbioskopan, Djonny mengatakan organisasi yang dipimpinnya meminta agar pajak tontonan yang semestinya diseragamkan menjadi sebesar 10 persen.

“Jangan dipungut dulu selama setahun ini, sepanjang pandemi dan new normal masih berlangsung,” pungkasnya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Kehadiran Perempuan di Film Horor

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Film horor menjadi sangat populer karena mampu menebar teror dan membuat penonton ketakutan. Menariknya, kehadiran perempuan bukan sekadar agar terlihat seksi, melainkan sebagai sosok hantu di film horor. Tak jarang pula karakter sang hantu perempuan mampu memancing simpati.

Demikian antara lain yang mengemuka dalam talk show Jakarta Horror Screen Festival 2020 bertema Film Horor dan Perempuan di studio Zona Merah, Jakarta Selatan, Jumat (25/9) sore.

Talkshow edisi podcast tersebut yang dipandu oleh Teguh Yuswanto dan Bismar Yogara tersebut, menghadirkan produser Muhammad Bagiono, pemain film dan model Laila Vitria dan presenter olah raga Farah Fang.

Bagiono membenarkan bahwa perempuan dalam industri film masih menjadi barang laku, termasuk di film horor,” ujar produser film Get Lost dan Bukan Jodoh Biasa.

Ia menambahkan bahwa  film-film horor sudah tidak lagi menempatkan perempuan hanya sebagai pemanis seperti belasan tahun silam. Dimana banyak film horor yang menjadikan perempuan sebagai pesona komersil alias mengeksploitasi seksualitas dan sensualitas.

“Hasilnya sudah ketebak toh, bukan lagi film cerita horor tapi lebih kepada absurdisme industrinya,” ujar Bagiono yang menambahkan bahwa film horor enggak mesti jualan sensualitas dan seksualitas. Sebaliknya, semakin kreatif menggali cerita lokal di tengah masyarakat.

“Sudah banyak rumah produksi semakin serius menggarap genre horor dengan meninggalkan selera dan kuaitas using,” jelas produder yang tengah menggarap film terbarunya, Ratu Kuntilanak.

Senada dengan Bagiono, Farah Fang membenarkan perfilman nasional sudah berbenah.

”Ketika industri itu merasa jenuh dan jalan di tempat, maka para pelakunya harus keluar dari zona nyaman mereka, dengan melakukan terobosan mutakhir,” ujar Farah Fang yang mencontohkan industry film Hollywood.

“Disana selalu saja melakukan banyak terobosan agar dapat bertahan rajanya industri film dunia,” tambahnya.

Memang sih, tidak ada parameter yang pasti, bahwa film horor yang mengeksploitasi perempuan dengan sensualitas serta di bungkus bumbu seks, maka akan banyak penontonnya.

Saat ini penonton kita lebih wisely karena seiring kemajuan teknologi semua juga berubah, termasuk adab para pelaku industrinya sendiri.

”Sudah banyak film-film horor nasional melibatkan aktris untuk memerankan karakter yang sangat bagus, tanpa sensualitas. Tinggal bagaimana menyatukan selera gambar, cerita, kualitas akting dan penyutradaraan yang baik serta promosi yang jempolan. Hal ini akan disambut para penikmat film horor nasional,” kata Farah Fang yang didampingi oleh Laila Vitria.

Laila membenarkan, sudah bukan masanya lagi genre horor dikemas dengan kualitas murahan.

”Saat ini para produser dituntut kreatif menciptakan film yang bagus agar bisa diterima oleh selera pasar yang sudah berubah. Bukan lagi sekadar membuat film horor dengan bumbu sensualitas perempuan belaka,” kata Laila Vitria. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Serial Animasi BIMA S, Kisah Petualangan Satria yang Sarat Pesan Moral

Published

on

By

Kabarhiburan.com – MNC Animation siap suguhkan sebuah serial animasi terbaru, berjudul BIMA S. Sebuah serial bergenre aksi dan petualangan akan tayang di layar RCTI, mulai 4 Oktober 2020 mendatang.

Selanjutnya, BIMA S akan menjadi tontonan yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga pada setiap Minggu pukul 10.00 WIB.

Tayangan ini merupakan hasil adaptasi dari BIMA Satria Garuda Series yang pernah tayang di RCTI. Tak hanya formatnya diubah menjadi 3D, BIMA S pun menggelar jalan cerita yang lebih menarik dan kekinian.

BIMA S mengisahkan tentang Satria, seorang remaja yang spontan, pemberani, dan senang bereksplorasi. Satria juga mampu bertransformasi menjadi sosok BIMA S yang memiliki kekuatan dan senjata-senjata dahsyat.

BIMA S bersama para sahabatnya, Prof. T, Aurora, Ve, dan Nadra-Rama harus bertualang lintas galaksi, melawan monster-monster dan mengumpulkan kekuatan 7 matrix ajaib untuk menghentikan Infernus sang musuh besar yang berambisi untuk menguasai semesta.

Liliana Tanoesoedibjo selaku CEO MNC Animation mengatakan, BIMA S menyuguhkan aksi pertarungan seru, serta sarat dengan pesan moral, seperti nilai kepercayaan, persahabatan, perjuangan dan pengorbanan.

Serial BIMA S juga dilengkapi dengan aksi komedi segar yang menjadikan BIMA S sebagai tontonan yang menarik dan menghibur keluarga Indonesia.

“Animasi BIMA S sudah ditunggu oleh fanbase superhero Indonesia, khususnya para penggemar BIMA,” ujar Liliana.

Animasi BIMA S adalah IP (Intelectual Property) dari MNC Animation yang diharapkan menjadi kebanggaan animasi lokal Indonesia.

“Dengan tayangnya BIMA S, akan menjadi pelopor animasi superhero Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional,” imbuh Liliana. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Percofia Pictures Resmi Berdiri, Bawa Angin Segar di Tengah Pandemi

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Selama berbulan-bulan dinaungi pandemi covid-19, menyebabkan industri kreativitas, seperti dunia perfilman, di Tanah Air masih lesu. Sebagian besar sineas menjauh dari lokasi syuting lantaran pintu bioskop masih ditutup.

Situasi menyedihkan tersebut tidak membuat jajaran managemen PT Percofia Nusaphala berputus asa. Sebaliknya, mereka justru mengembangkan sayapnya dengan mendirikan Percofia Pictures, sebuah rumah produksi baru di bidang dunia hiburan.

Boy Horizontal selaku Direktur Pengembangan Usaha dan Marketing Percofia Pictures menyebut rumah produksi ini merupakan mimpi yang terwujud, lewat Pak Ardi selaku Direktur Utama.

“Wabah Covid 19 bukan halangan buat kami berkreativitas untuk melahirkan karya-karya terbaik. Cintailah proses bukan protes. Orang pintar butuh proses bukan protes,” ungkap Boy, dalam acara syukuran peresmian Percofia Pictures di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu 12/9).

Tarmizi Abka selaku Direktur Operasional mengaku optimis Percofia Pictures mampu memberikan karya terbaik bagi industri kreatif tanah air.

Dalam genggamannya sudah ada beberapa proyek yang siap disajikan bagi pecinta film Indonesia. Sebut saja, film Mimpi Matahari, film 10 Biografi orang ternama Indonesia, kuis, termasuk support content untuk acara televisi swasta Nasional.

“Saya pun berharap bisa berkolaborasi dengan banyak pelaku industri kreatif, seperti conten creator, youtuber dan produser untuk menciptakan karya di luar industry film layar lebar,” jelas  Tarmizi.

Ia menambahkan bahwa dunia digital berupa internet dan media sosial telah mengantarkan kemudahan bagi semua orang terkoneksi melalui smartphone.

“Kalau bioskop sudah enggak bisa menampung film, kita putar aja di Netflik, Maxxstream, YouTube dan lainnya,” kata Tarmizi yang akan memproduksi ulang filmnya, Kalam-kalam Langit (2016). (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending