Connect with us

Film

Pendiri Parfi 1956 Nilai Marcella Zalianti Sudah Melenceng

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tahun ini organisasi Persatuan Artis Film (Parfi) 56 genap berusia 3 tahun. Sejauh ini para pendiri menilai Marcella selaku Ketua Parfi 56, seolah ingin menutupi sejarah berdirinya Parfi 56 dengan cara tidak mengadakan acara perayaan ulang tahun Parfi 56 yang ketiga.

Informasi yang diperoleh para pendiri Parfi 56, dalam rapat pengurus Parfi 56 pada 19 September 2019 telah memutuskan bahwa organisasi tersebut lahir pada tahun 1956. Padahal, Parfi 56 berdiri pada tahun 2016 atas prakarsa artis-artis senior.

Pernyataan itu disampaikan oleh artis senior Lela Anggraini, Ki Kusumo, Kamel Marvin dan Syahrully Jangsem. Mereka mewakili para pendiri Parfi 1956 lainnya, di Bogor, Sabtu (2/11) sore.

Pendiri Parfi 1956 terdiri 13 orang, antara lain Ki Kusumo, Debby Cinthya Dewi, Kamel Marvin, Ade Muftin, Dharti Manullang, Adhi Kusuma, Dessy Suyrawati, Drs. Syahrully Jangsem.

“Kami lihat Parfi di bawah Marcella sudah melenceng jauh. Mereka sengaja menghapus sejarah berdirinya Parfi 56, dan tidak pernah mengakui kami sebagai pendiri. Padahal kami yang susah payah melahirkan Parfi 1956. Kami yang mengajak dia, kok bisa lupa. Itu kan Malin Kundang namanya,” kata Ki  Kusumo, dalam rilis yang diterima Kabarhiburan.com, Senin (4/11).

Menurut Syahrully Jangsem yang akrab dipanggil Rully, kekesalan para pendiri mencuat setelah Parfi 56 tidak merayakan HUT ketiga Parfi sesuai akta pendirian.

“Dari info yang kami dapat, mereka mengaku lahir tahun 1956. Lah, logikanya dimana? Jejak digitalnya ada semua, kamilah yang melahirkan Parfi 1956! Makanya sekarang kami berkumpul lagi untuk meluruskan sejarah,” kata Rully.

Seperti diketahui, ide berdirinya Parfi 56 lahir dari keinginan sejumlah artis film senior yang ingin memisahkan diri dari Parfi di bawah kepemimpinan Aa Gatot Brajamusti. Maka dideklarasikanlah pendirian Parfi 1956. Nama Parfi 1956 merujuk pada awal pertama kali Parfi didirikan.

“Kita ingin Parfi kembali seperti awal pertamakali didirikan. Anggotanya tidak hanya artis, tetapi ternasuk juga karyawan film dan pekerja seni lainnya,” kata Kamel Marvin, inisiator pendirian Parfi 56.

Sejak mendeklarasikan nama Parfi 1956, pertemuan-pertemuan kerap dilakukan di berbagai tempat, hingga melahirkan akte pendirian organisasi dengan nama Parfi 1956. Akte disahkan oleh Kemenkumham pada tanggal 24 Oktober 2016, dengan nomor pendirian AHU-0076620.AH.01.01 tahun 2016.

“Waktu itu kita habis-habisan buat mendirikan organisasi. Kita kumpul enggak kenal capek, dari pagi sampe malam, dari malam sampe pagi. Yang lelaki diomelin isteri di rumah, yang perempuan dimarahin suami. Biaya juga tak terhitung. Jadi, perjuangannya luar biasa,” papar Ki Kusumo.

Belakangan muncul ide untuk menarik artis muda ke dalam organisasi. Diajaklah Marcella Zalianti, yang pertama kali hadir dalam sebuah acara di rumah makan Pondok Nelayan, Senayan Jakarta.

Namun, diam-diam Marcella Zalianti bersama Debby Cinthia Dewi dan beberapa pendiri lainnya, memiliki rencana sendiri. Anehnya, menurut Lela Anggraini, dalam setiap kegiatan yang diadakan, Debby Cinthia Dewi selalu minta dibiayai.

Pada pemilihan yang berlangsung pada tanggal 1 Oktober 2016, Marcella Zalianti terpilih sebagai Ketua Umum dan aktor senior Ray Sahetapy sebagai Wakil Ketua.

Selanjutnya, pada acara pelantikan berlangsung di Hotel Four Season Jakarta, 24 Oktober 2016, hanya memasukkan nama Debby Cinthia Dewi, Ade Muftin, Gusti Randa dan Octaviaviza SM ke dalam gerbong Parfi 56. Debby Cinthia Dewi menjadi Ketua DPO.

“Sedangkan kami, disebut sebagai pendiri aja enggak. Kami seperti dianggap tidak ada. Waktu itu saya udah marah banget. Hampir saya lemparin meja, kalau enggak ditahan teman-teman. Kalau enggak, mungkin saya sudah melanggar hukum,” kata Ki Kusumo

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Parfi Gelar Kongres, Cari Sosok Ketua Umum Baru

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) akan menggelar kongres di Hotel Maharaja, pada 10 Maret 2020 mendatang. Kongres tersebut mengagendakan pemilihan Ketua Umum Parfi dan membentuk pengurus baru yang bisa mengakomodir semua pihak.

Demikian disampaikan oleh Ketua Panitia Kongres, Sandec Sahetapy didampingi oleh Mawardi Harlan, Djoddy Prasetio Widyawan, dan Lella Anggraini dalam jumpa pers yang berlangsung di sekretariat Parfi, Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (18/1).

“Kali ini menggelar kongres pembaruan untuk mencari ketua umum kepengurusan periode 2020 – 2025. Tentunya untuk menemukan pemimpin yang baik,” ungkap Sandec Sahetapy.

Melalui kongres ini pula, Sandec ingin merangkul seluruh insan fim yang ada di Indonesia agar hadir, karena Kongres Parfi 2020 terbuka untuk semua insan film.

“Tentunya yang pernah bermain film. Tidak terlibat dengan masalah hukum dan bebas narkoba. Besar harapan saya, organisasi yang tercatat dalam lembar negara ini bisa mempersatukan seluruh insan film nasional. Tidak ada lagi parfi-parfi versi lain,” jelasnya.

Sandec menambahkan bahwa anggota Parfi yang sudah mengantongi status Anggota Biasa(AB) berhak memilih calon ketua umum Parfi yang baru. Sedangkan bagi calon Ketua Umum harus memenuhi beberapa kriteria. Salah satunya, pernah menjadi pemeran utama dalam film layar lebar.

“Perlu digaris bawahi bahwa untuk menjadi calon ketua umum tidak dipungut biaya, alias gratis. Tidak seperti sebelum sebelumnya,” imbuh Sandec.

Sementara Djoddy Prasetyo Widyawan selaku Wakil Ketua Panitia mengatakan bahwa jadwal penyelenggaraan kongres Parfi tidak menyalahi AD/ ART Parfi.

“Tidak ada yang salah dan tidak ada yang dilanggar. Semua sudah sesuai dengan AD/ART. Bahkan kami sudah menyiapkan perangkat kongres, seperti Steering Committee maupun Organizing Comitee,” terang Djoddy.

Siapa sosok calon ketua umum yang sudah mendaftarkan atau diunggulkan?

“Yang mau mendaftar banyak, tetapi pendaftaran baru dibuka pada Senin (20/1) mendatang. Silahkan mendaftar di kantor Parfi. Pokoknya kami terbuka, asal memenuhi kriteria maupun persyaratan,” lanjut Djoddy. (Mik/KH)

Continue Reading

Film

Film ‘Satria Dewa Gatotkaca’ Mulai Syuting April 2020

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Rumah Produksi Satria Dewa Studio (SDS) tengah menggarap film berjudul ‘Satria Dewa Gatotkaca’.  Gatotkaca merupakan tokoh pewayangan yang sakti luar biasa, selain memiliki sisi  kekeluargaan, kasih sayang dan kepahlawanan.

Ketiga sisi pribadi Gatotkaca akan dieksplor tim produksi SDS, selanjutnya dikemas dengan teknologi sinematografi terkini. Pada akhirnya, menampilkan ketokohan Gatotkaca yang mampu menginspirasi kalangan anak muda masa kini.

“Ada tiga hal utama dari ketokohan Gatotkaca yang ingin kami angkat dalam film ini, yakni tentang kekeluargaan, kasih sayang dan kepahlawanannya,” ungkap Rahabi Mandra, selaku penulis naskah, saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (1612).

Produsernya, Celerina Judisari, mengkonfirmasi bahwa proses penggarapan film Gatot Kaca sudah sesuai jadwal yang ditetapkan. Kini memasuki tahap produksi.

“Saya yakin, kapasitas orang-orang yang terlibat dalam produksi film ini sangat kompeten. Mereka akan menghasilkan film yang bermutu dan punya cita rasa internasional,” ungkap Celerina.

Tim produksi mengangkat kisah Gatotkaca yang dikembangkan secara kreatif melalui berbagai platform, untuk disajikan dalam skala internasional.

Pada kesempatan yang sama, executive producer Rene Ishak dan Francis Wanandi, membenarkan bahwa kisah Gatotkaca, jika digarap dengan cita rasa kekinian akan mampu menambah gairah perfilman Nasional.

“Saat ini film Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat kita. Oleh sebab itu, jika cerita lokal seperti Gatotkaca digarap dengan gaya kekinian dan berteknologi modern, akan disenangi oleh masyarakat Indonesia,” ujar Rene Ishak.

“Saya juga yakin, film ini akan mampu menginspirasi anak-anak milenial agar menyukai tokoh-tokoh hero lokal,” imbuhnya.

Film Satria Dewa Gatotkaca akan memulai pengambilan gambar pada April 2020 mendatang, selanjutnya akan tayang serentak di layar bioskop pada November 2020. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

‘Jeritan Malam’ Bukan Sekadar Film Horor Berbiaya Mahal

Published

on

By

Sutradara Rocky Soraya diapit oleh para pemain utama film ‘Jeritan Malam’. Herjunot Ali (kiri), Cinta Laura dan Indra Brasco (kanan).

Kabarhiburan.com, Jakarta – Keinginan rumah produksi Soraya Intercine Film untuk menutup tahun 2019 dengan film horor milenial, diwujudkan pada film berjudul Jeritan Malam.

Sutradaranya, Rocky Soraya, mempersembahkan karya bagi penikmat film horor Indonesia. Film Jeritan Malam tayang serentak di layar bioskop Tanah Air, mulai Kamis, (12/12).

Sebelum sampai kesana, Soraya Intercine Film terlebih dulu menggelar gala premiere film Jeritan Malam, di Bioskop XXI Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (7/12).

Rocky Soraya menjelaskan bahwa film Jeritan Malam dibuat dengan sangat teliti. Mulai dari mencari sejumlah lokasi syuting terpisah, hingga pemilihan properti, berupa rumah, mobil, alat komunikasi disesuaikan dengan setting cerita aslinya, yakni tahun 1990-an.

“Itu yang membuat biaya pembuatan film ini menjadi mahal, meski tergolong film horor,” jelas Rocky Soraya.

Cukup beralasan kalau Rocky harus menghabiskan biaya yang lumayan besar untuk menghadirkan film Jeritan Malam.

“Ini bukan sekadar horor biasa, tapi yang memiliki kualitas kepada penonton film Indonesia. Apalagi penonton kita semakin hari semakin cerdas dan membutuhkan tontonan yang cerdas pula. Selain juga tetap menghibur,” tambahnya.

Salah satu target penonton film ini yang utama adalah kalangan milenial, yang juga aktif di media sosial. Apalagi, kisah dalam film ini diangkat dari cerita yang pernah tayang di applikasi Kaskus.

Untuk itu, Rocky Soraya menghadirkan pemain muda, seperti Cinta Laura Kiehl, Herjunot Ali dan Wingky Wiryawan sebagai pemeran utamanya.

“Jujur, salah satu alasan memasang Cinta Laura adalah karena fans base yang cukup besar. Begitu pula Herjunot Ali dan Wingky Wiryawan, memiliki jumlah fans yang besar. Mereka juga memiliki kualitas akting yang sudah tidak diragukan lagi,” jelas Rocky Soraya.

Film Jeritan Malam  berkisah tentang Reza (Herjunot Ali), seorang pemuda yang menerima tawaran pekerjaan di pelosok Jawa Timur. Di sana menempati mess perusahaan yang sudah dihuni oleh Indra (Wingky Wiryawan), dan Minto (Indra Brasco).

Siapa sangka mess tersebut merupakan rumah bagi penghuni gaib yang kerap menampakkan diri.

Menghidupkan Cerita

Bagi Cinta Laura, film Jeritan Malam menjadi film horor pertama dalam karirnya. Ia pun mengajukan alasannya berkenan menerima tawaran bermain dalam film horor Jeritan Malam.

“Salah satunya adalah faktor cerita. Saya sudah dengar dari Pak Rocky tentang ceritanya yang menurut saya memang sangat menarik. Ditambah suasana kerja yang sangat disiplin dengan aturan yang sudah seperti aturan main di Hollywood,” kata Cinta yang pernah bermukim di Amerika Serikat.

Herjunot Ali yang menghidupkan cerita.

Berbeda dengan Herjunot Ali, yang menjadikan Jeritan Malam sebagai film kesekian dalam karirnya.

“Tapi, di film ini tantangannya sungguh berbeda. Disini saya menjadi tokoh sentral, yang menghidupkan cerita. Ini berat. Semoga penonton puas,” ujar pemain film The Doll 2 ini. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto-foto: Sutrisno Buyil)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending