Connect with us

News 11

Pentingnya Pemeriksaan Dengan MRI Bagi Pemain Sepak Bola

Published

on

Dunia oleh raga Indonesia tengah berduka. Penjaga gawang Persela Lamongan, Choirul Huda meninggal dunia setelah kepala dan dadanya terbentur saat pertandingan melawan kesebelasan Semen Padang, Minggu (15/10) di Stadion Surajaya, Lamongan, Jawa Timur.

Kabarhiburan – Jakarta. Sepak bola  merupakan salah satu cabang olah raga yang cukup tinggi angka terjadinya kecelakaan benturan pada pemainnya. Ketika saling berebut bola, tak jarang pemain lepas kontrol yang mengakibatkan benturan tidak bisa dihindarkan. Benturan pada kepala, misalnya, tentu tak boleh dianggap remeh karena di dalam kepala terdapat organ terpenting manusia, yaitu  otak.

Pada cedera kepala yang pertama kali maka otak akan mengalami beberapa gangguan. Diantaranya gangguan pengaturan aliran darah di otak, selain bengkak otak yang pada akhirnya akan memengaruhi ketahanan otak. Selanjutnya  bila kembali terjadi benturan kepala atau second impact, akan membuat otak lebih rentan mengalami kerusakan. Dapat berupa perdarahan otak maupun luka pada jaringan otak.

Dampaknya sangat tergantung sejauh mana kerasnya benturan tadi. Kalau  ringan mungkin tak ada masalah, tetapi bila benturan itu cukup keras ada  kemungkinan tubuh bagian dalam  mengalami cedera,” kata dr. Gigih Pramono, SpBS, spesialis bedah saraf dari Rumah Sakit Bedah Surabaya (RSBS).

Dr. Gigih mengatakan, saat  kepala mengalami benturan maka pada saat itu pula kepala dan otak bisa saja mengalami cedera. Cedera primer berupa patah tulang tengkorak maupun luka pada jaringan otak. Bila tidak ditangani sesegera mungkin cederanya dapat menjadi cedera sekunder, yakni  bengkak otak, hipoksemia atau keadaan dimana darah tidak mampu membawa oksigen yang cukup ke otak.

Akibatnya, penderita bisa mengalami  gegar otak  ringan, alias gangguan fungsi otak sementara yang disertai penurunan tingkat kesadaran,  pusing, mual, bahkan muntah. Atau menimbulkan gejala yang lebih kompleks, seperti penurunan kesadaran yang diikuti  gangguan nafas hingga henti nafas. Semua gejala tadi  bisa timbul bila  tekanan di dalam ruang kepala meningkat pasca benturan.

“Bila demikian yang terjadi,  hampir bisa dipastikan gejala yang ditimbulkan juga  merupakan  dampak dari kecelakaan yang baru saja dialami,” kata Gigih yang pernah memperdalam ilmu bedah saraf di Yokkaichi, Jepang.

Perlunya Evaluasi

Saat seorang pemain sepak bola sedang bertanding sangatlah rentan untuk  terjadinya benturan di bagian kepala. Hanya saja, mereka seringkali anggap remeh karena hanya  menimbulkan sedikit saja nyeri dan bisa hilang sendiri. “Semestinya, tidak  boleh anggap enteng, karena cedera kepala bisa berakibat fatal yang berujung pada trauma otak. Disinilah perlunya pemeriksaan khusus saraf atau  screening otak,” anjur Gigih.

 

Saat pemeriksaan, biasanya dokter akan menanyakan seputar gejala yang dirasakan. Diantaranya, apakah sering pusing, telinga berdenging, gangguan penglihatan seperti  kabur serta ada tidaknya gangguan memori.

“Jika ternyata ditemukan keluhan yang serius dan mencurigakan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk melihat lebih rinci penyebab timbulnya gejala tadi. Untuk itu diperlukan alat bantu pemeriksaan berupa    CT scan atau  dengan magnetic resonance imaging (MRI). Melalui pemeriksaan yang rinci, akan lebih mudah bagi dokter untuk merencanakan tindakan  penyembuhan,” imbuh dokter yang hobi  olahraga lari tersebut.

Di sisi lain, diperlukan evaluasi terhadap cedera kepala yang berkaitan dengan olahraga bagi para kedokteran olahraga.  Selanjutnya menyusun petunjuk pelaksanaan dalam melakukan tindakan untuk meminimalkan kejadian cedera kepala yang bisa berakibat fatal. Utamanya klasifikasi penilaian kondisi cedera otak ringan yang dialami atlet. (Gandhi Wasono/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Trending