Connect with us

Film

Penulis Naskah Asli Film ‘Benyamin Biang Kerok’ Tuntut Hak Royalti Rp 1000 per Tiket

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Film Benyamin Biang Kerok yang tayang serentak di bioskop Tanah Air sejak 1 Maret 2018,  kini tersandung masalah  hak cipta.  Film arahan sutradara Hanung Bramantyo dan diproduksi oleh Falcon Picture ini  digugat oleh penulis naskah aslinya, H. Syamsul Fuad selaku pemegang hak cipta atas cerita Benyamin Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung.

Gugatan perkara nomor 9/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2018/PN Niaga Jkt.Pst, didaftarkan pada 5 Maret 2018.   H.Syamsul Fuad (Penggugat) menggugat Para Tergugat (PT Falcon atau Falcon Picture; PT Max Kreatif International atau Max Pictures; Nirmal Hiro Bharwani alias HB Naven dan Oddy Mulya Hidayat), atas cerita film Benyamin Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung.

Sidang yang menggelar perkara gugatan ini sudah berlangsung di PN Niaga Jakarta Pusat, Kamis (22/3), menyatakan menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

  1. Menyatakan Penggugat adalah Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta atas cerita film  “Benyamin Biang Kerok” dan “Biang Kerok Beruntung”;
  2. Menyatakan Para Tergugat telah melakukan pelanggaran Hak Cipta atas cerita film “Benyamin Biang Kerok” dan “Biang Kerok Beruntung”;
  3. Menghukum Para Tegugat untuk membayar ganti rugi materil secara tanggung renteng kepada Penggugat sebesar : Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) untuk harga penjualan Hak Cipta atas cerita film “Benyamin Biang Kerok” yang diinginkan oleh Penggugat sebagai Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta.
  4. Menetapkan Penggugat berhak atas royalti penjualan tiket film “Benyamin Biang Kerok” dan “Biang Kerok Beruntung” yang diproduksi oleh Para Tergugat sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah)/tiket;
  5. Memerintahkan Para Tergugat untuk memberikan laporan pemasukan tiket atas penayangan film “Benyamin Biang Kerok” dan “Biang Kerok Beruntung” kepada Penggugat dihitung pemasukan tiket sejak hari pertama penayangan sampai dengan hari terakhir penayangan di bioskop.
  6. Memerintahkan Para Tergugat untuk membayar royalti penjualan tiket film “Benyamin Biang Kerok” dan “Biang Kerok Beruntung” kepada Penggugat sebesar  Rp. 1.000,- (seribu rupiah) per tiket berdasarkan hasil laporan pemasukan tiket yang dibuat oleh Para Tergugat kepada Penggugat.
  7. Menghukum Para Tergugat untuk membayar ganti rugi immateril secara tanggung renteng kepada Penggugat sebesar Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) yang mencakup kerugian akan hak moral sebagai Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta yang seharusnya dihargai hasil Ciptaan-nya oleh Para Tergugat.
  8. Menghukum Para Tergugat untuk menerbitkan Pengumuman Permohonan Maaf kepada Penggugat melalui 2 (dua) Media Massa berperedaran nasional atas Pelanggaran Hak Cipta terhadap Penggugat serta memberikan klarifikasi kepada masyarakat secara umum atas Pelanggaran Hak Cipta terhadap Penggugat.
  9. Menghukum Para Tergugat untuk membayar uang paksa (dwangsom) atas keterlambatan memenuhi putusan dalam perkara ini sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) per hari terhitung 7 (tujuh) hari sejak putusan mempunyai kekuatan hukum tetap;
  10. Menyatakan bahwa putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu, meskipun ada bantahan (verzet), banding atau kasasi (uitvoebaar bji voorraad).

Pihak tergugat sendiri konon akan memberikan bantahan atas gugatan tersebut lewat penasehat hukum yang ditunjuk. Apalagi, kelanjutan film yang banyak dikecam oleh banyak tokoh Betawi ini sedang disiapkan yakni Biang Kerok Beruntung, yang juga merupakan karya  H. Syamsul Fuad.

Seperti dikutip dari filmindonesia.or.id dari Cinema 21, PPFI, Blitzmegaplex, produser film dan sumber-sumber lainnya. Film Benyamin Biang Kerok yang tayang serentak sejak 1 Maret 2018,  hingga 21 Maret berhasil menjual sebanyak 731.780 lembar tiket. (Tumpak Sidabutar/KH)

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Patuh PPKM Darurat, GPBSI Tutup seluruh Jaringan Bioskop

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Para pengelola bioskop serentak menutup kembali pintu bioskopnya, menyusul Pemberlakukan Pembatasa Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa dan Bali.

Penutupan dimulai oleh jaringan bioskop CGV sejak 12 Juli 2021. Disusul oleh  bioskop Cinepolis di 63 lokasi di seluruh Indonesia. Sementara jaringan bioskop Cinema XXI melakukan hal yang sama, mulai Jumat, 16 Juli 2021.

Tindakan serupa juga dilakukan oleh bioskop-bioskop anggota Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) lainnya. Sebut saja, Flix Cinema, New Star Cineplex, Dakota Cinema, Bioskop Golden, Bioskop E-Plaza, Bioskop Gajah Mada, Bioskop Surya Yudha Cinema, Bioskop Rajawali, Bioskop BES Cinema, dan lainnya.

Penutupan sementara seluruh bioskop berlangsung sampai berakhirnya PPKM Darurat yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Ketua Umum DPP GPBSI H. Djonny Syafruddin, S.H, mengatakan bahwa bioskop sejak awal pandemi selalu taat pada setiap peraturan dan kebijakan, baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kota maupun Pemerintah Kabupaten.

Bioskop tutup dimulai pada bulan Maret 2020 silam, lalu sempat buka kembali, sebelum akhirnya harus ditutup lagi.

“Padahal, sejak dibuka sampai tutup kembali di masa pandemi ini, bioskop tidak menjadi cluster baru bagi penyebaran Covid-19, karena bioskop menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan telah dilakukan uji laboratorium,” ujar Djonny dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/7).

Ketiua Umum GPBSI, Djonny Syafruddin, SH

Djonny menambahkan  bahwa semua bioskop yang menjadi anggota GPBSI telah menutup usahanya, guna membantu program pemerintah dalam upaya menekan penyebaraan Covid-19.

“Kami para pengelola bioskop akan mengupayakan secara maksimal dengan merencanakan ulang jadwal film-film yang akan tayang setelah masa PPKM Darurat berakhir,” kata Djonny.

Ia juga berharap di beberapa daerah yang tidak ada aturan penutupan bioskop, dapat membuka kembali bioskopnya tanpa harus mengajukan ijin lagi pada saat keadaan sudah memungkinkan.

“Kami juga mengharapkan perhatian pemerintah, mengingat besarnya kerugian yang dialami bioskop sejak tutup pada Maret 2020 silam,” pinta Djonny.

Ia mengatakan, walaupun bioskop tutup, pemeliharaan dan perawatan perangkat harus rutin dilakukan, termasuk pembayaran listrik dan gaji karyawan, walaupun memang ada sebagian karyawan yang harus dirumahkan.

“Bentuk perhatian dan bantuan pemerintah daerah, bisa dalam bentuk kebijakan yang pro kepada bioskop, yang selama ini belum tersentuh bantuan pemerintah,” kata Djonny yang menambahkan agar pemda memberikan keringanan untuk biaya listrik, yang merupakan salah satu dari dua komponen biaya terbesar dalam bisnis bioskop.

“Untuk menghindari adanya PHK karyawan, maka pemerintah dapat membantu dalam bentuk keringanan tarif listrik,” ujar Djonny merinci.

Bantuan pemerintah juga diharapkan dari sisi pajak terutama pengenaan tarif pajak hiburan yang rata di seluruh daerah dan adanya insentif untuk karyawan bioskop.

Menurut Djonny, selama penutupan bioskop maka sebagian besar karyawan terpaksa diliburkan. Mereka diberikan upah 50% dari yang biasanya diterima, bahkan ada yang tidak diberikan upah.

Mereka adalah karyawan bioskop dan cafe bioskop yang jumlahnya sekitar 10.175 orang di seluruh Indonesia. Mereka rata-rata menerima upah minimum sesuai wilayah masing-masing. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Kevin Julio dan Yunita Siregar Jadi Pasangan Pemerhati Lingkungan dalam ‘Cerita Kita’

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Aktor Kevin Julio bersama Yunita Siregar dan Dian Sidik akan membintangi Cerita Kita. Sebuah drama series tentang edukasi pengelolaan lingkungan hidup, yang diangkat dari cerita  keseharian.

Menariknya, SCTV akan menghadirkan Cerita Kita di ruang keluarga Indonesia, setiap Minggu pukul 12.30 WIB, mulai 13 Juni 2021 mendatang. Usai menonton, segenap penonton pun diajak join dalam diskusi menarik lewat instagram SCTV.

Selain SCTV, penayangan drama series itu merupakan buah kerja sama dari berbagai pihak, yakni Kementerian Komunikasi dan Informasi RI, Kedutaan Norwegia, BBC  serta rumah produksi Screenplay.

Sebelum penayangannya, SCTV terlebih dulu memutar teaser Cerita Kita, dalam jumpa pers virtual, Kamis (10/6). Acara ini dihadiri oleh segenap pendukung mini series berdurasi 60 menit per episode tersebut.

Kevin Julio memperkenalkan karakternya sebagai sosok pemuda bernama Bodo Sejahtera, seorang anak harapan ibunya yang merantau ke Jakarta untuk sesuatu.

Kenyataannya, di Jakarta sedang dilanda musibah banjir, sehingga Bodo kembali lagi ke kampung asal. Di kampung, Bodo terlibat masalah soal isu lingkungan.

“Bodo ini simbol generasi muda yang sebenarnya punya suara untuk melakukan perubahan bersama-sama,” ujar Kevin Julio yang sudah membintangi puluhan sinetron, film dan FTV.

Di desa, Bodo bertemu dengan Tuji, anak Kepala Desa, yang diperankan oleh Yunita Siregar. Tuji adalah gadis terpelajar dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup.

“Akhirnya ketemu dengan Bodo yang memiliki visi misinya sama. Mereka sepakat untuk bikin sesuatu untuk lingkungan hidup yang lebih baik,” jelas pemain sinetron Hati yang Luka.

Selain Kevin Julio dan Yunita Siregar masih ada Dian Sidik yang memerankan karakter Salah, sosok lelaki yang trendy, tampan, energik dan penuh passion.

“Dia bisa mengejar apa saja keinginannya, termasuk dalam urusan asmara,” ujar Dian Sidik, yang mengaku bahagia mendapat andil dalam series bertema lingkungan.

“Gak melulu percintaan. Kepedulian kita terhadap lingkungan jauh lebih penting, yang semakin kesini banyak yang tidak peduli,” katanya.

Tak sekadar membawakan karakter yang diperankan, Kevin Julio mengaku mendapat  banyakpelajaran berharga, usai menjalani syuting Cerita Kita.

“Salah satu yang paling mengganggu pikiran saya adalah air. Saya baru tahu, baru dapat pengetahuan tentang air bahwa di tahun 2040 kita akan kehabisan air. Saya kepikiran sampai sekarang. Saya kan belum nikah, ya. Gimana nanti anak saya, kan kasihan,” ungkap Kevin.

Sutradara Vemmy Sagita meyampaikan antusis senada. Vemmy bahkan sempat menduga Cerita Kita merupakan sinetron biasa.

“Banyak banget yang bisa saya ambil sebagai pelajaran, yang sebelumnya kita enggak tahu apa-apa. Akhirnya jadi sangat spesial,” ungkap Vemmy yang mengaku suka pada ide edukasi yang dibumbui entertainment yang sangat menghibur.

Vemmy ditantang untuk memvisualkan cerita lingkungan ke dalam gambar dengan cara sangat sederhana dan mudah diterapkan kepada semua orang.

“Tidak akan pernah bosan dan merasa digurui dengan menonton cinta kita. Entertain banget,” pungkas Vemmy. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Prihatin Pada Ekosistem Perfilman Nasional, Lola Amaria: Film Asing Masih Tuan Rumah di Indonesia

Published

on

By

Lola Amaria

Kabarhiburan.com – Bagaimana caranya membuat film Indonesia agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Demikian pertanyaan yang mengemuka dalam Sosialisasi BSM Kebangkitan Perfilman dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19, secara virtual di Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Menurut produser film, sutradara, artis dan penggiat perfilman Indonesia, Lola Amaria, pertanyaan sederhana tersebut, memerlukan jawaban yang tidak sederhana. Karena, meski pertanyaan itu acap diulang-ulang, tapi sampai sekarang, pada praktiknya film Indonesia tetap belum mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

Yang terjadi, justru sebaliknya. Film impor atau film asing (Hollywood) yang justru menjadi tuan di Indonesia. Karena proteksi atas film nasional dan perlakuan yang diterima film produksi anak negeri, dalam peredarannya ditentukan di pemilik jaringan bioskop secara sepihak.

Yang tentu saja, menjadi rahasia umum, lebih mementingkan film impor yang notabene didatangkannya ke Indonesia, via bendera usahanya miliknya yang lain. Dan oleh karenanya, secara alamiah, jaringan bioskop miliknya, akan lebih mengutamakan peredaran filmnya sendiri. Demi mengembalikan modal dan alasan lainnya, dari pada film Nsional yang hanya “menumpang tayang” di jaringan bioskop miliknya.

“Bagaimana bisa menjadi tuan rumah, jika satu (1) bioskop ada lima (5) layar. Dan empat (4) layar itu, digunakan untuk memutar film asing dan hanya satu (1) layar untuk memutar film Indonesia. Itu namanya film asing menjadi tuan rumah di negeri Indonesia,” kata Lola Amaria dalam sesi Q n A di virtual meeting yang diinisiasi Lembaga Sensor Film (LSF).

Lola menambahkan, bioskop hanya pro pada film yang menguntungkan mereka. Karena sistem yang dibangun pemilik jaringan bioskop sudah berjalan seperti itu, dari lama.

“Atau film yang berbujet promo sangat besar. Apalah kita-kita ini, yang bikin film aja bujetnya kecil,” kata Lola sembari menekankan di masa pandemi yang membekap dunia ini, bukan hanya bioskop yang terkena dampak signifikan. Sektor yang lain, seperti pariwisata, penerbangan, perhotelan, media, juga sektor lainnya juga mengalami pukulan telak yang serupa.

Masih menurut Lola Amaria, media tonton karya kreatif seperti film, bukan hanya ada di bioskop. Ada Over The Top (OTT) dan media digital lainnya, karenanya dia tetap meminta ekosistem perfilman harus mampu dan mulai mencari alternatif penayangan film di luar bioskop yang sangat hegemonis.

Dalam acara yang juga menghadirkan Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia (GPBSI) Djonny Syahruddin, dan narasumber lainnya itu, tema Kebangkitan Perfilman dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19, juga dikritik oleh Lola Amaria.

“Harusnya bertema Kebangkitan Perfilman Indonesia dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19. Karena yang paling pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah ekosistem pendukung utama perfilman Indonesia, yaitu orang-orang kreatif seperti kami, sebagai backbone perfilman Indonesia,” tekan Lola Amaria. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending