Connect with us

Selebritas

Penyanyi Legendaris Koes Hendratmo Wafat pada Usia 79 Tahun

Published

on

Kabarhiburan.com – Dunia hiburan Tanah Air kembali diterpa kabar memilukan. Salah satu penyanyi legendaris, yang lebih dikenal sebagai presenter kuis Berpacu Dalam Melodi, Koes Hendratmo, wafat pada usia 79 tahun, Selasa (7/9).

Kabar Koes Hendratmo meninggal dunia diketahui dari unggahan sosial media milik Tantowi Yahya, Instagram @tantowiyahyaofficial pada Selasa 7 September 2021, Tantowi Yahwa mengenang jasa mendiang dalam perjalanan karirnya.

Tantowi Yahya menyebut Koes Hendratmo merupakan sosok yang menemukan bakatnya jadi presenter.

Hari ini kita kehilangan seniman besar yang selama hidupnya dikenal sebagai penyanyi dan pembawa acara handal, Koes Hendratmo. Mas Koes berpulang dengan tenang di kediamannya di Jakarta menyusul isteri tercinta, Aprilia yang wafat 100 hari lalu. Adalah mas Koes yang menemukan bakat saya sebagai pembawa acara. Dialah yang mengenalkan saya ke ratu kuis, Ani Sumadi. Dan selanjutnya adalah sejarah. Mas Koes adalah mentor dan panutan saya. Untuk beberapa lama saya sulit untuk melepaskan gayanya dalam penampilan saya. Senyum tulusnya membuat dia sangat ramah dan bersahabat. Begitu besar pengaruh dan jasa mas Koes buat saya. Selamat jalan mentor dan idolaku. Engkau akan selalu kami rindukan. Semoga engkau dipertemukan kembali dengan April di tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Tantowi Yahya dalam unggahannya.

Foto: Instagram @tantowiyahyaofficial

Pihak keluarga menyebut meninggalnya Koes Hendratmo, karena serangan jantung. Hal ini dibenarkan oleh Nia, manajer Bonita.

“Kemungkinan meninggal karena jantung. Beliau memang punya riwayat penyakit jantung” lanjut Nia selaku manajer Bonita, anak kedua mendiang Koes Hendratmo dari tiga bersaudara.

Kepergian Koes Hendratmo menyusul istri tercintanya, Aprilia Puspitawati, yang meninggal dunia pada Kamis (20/5) silam.

Mendiang Koes Hendratmo melejit namanya di dunia hiburan melalui kuis Berpacu Dalam Melodi yang dia bawakan selama 26 tahun, terhitung sejak 1988 hingga 2014. (TS)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selebritas

Pemerhati Musik Indonesia Wafat Karena Covid-19

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Pemerhati musik Indonesia, Benediktus Benny Hadi Utomo alias Bens Leo meninggal dunia pada Senin, 29 November di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, saat menjalani perawatan intensif karena terpapar Covid-19.

Hari ini akan disemayamkan di kediamannya,  Jl. Lembah Cireundeu Permai II no.2 – Kompleks Cireundeu Permai, Jakarta Selatan.

Mengutip postingan Stanley Tulung, menyebut Bens Leo meninggal dunia pada pukul 08.24 WIB.

“Telah berpulang sahabat kita wartawan legenda Bens Leo di ICU Rs. Fatmawati pd pk 8.24. Semoga alm. Diampuni dosa2nya dimuliakan disisi Tuhan Ymk dan dalam husnul khatimah,” tulis Stanley Tulung.

Pihak keluarga merilis tulisan yang berisi pengumuman meninggalnya Bens Leo di hari yang sama. Mereka berharap di tengah pandemi, para kerabat dan teman terdekat bisa mengirimkan doa dari rumah masing-masing.

“Dengan segala kerendahan hati, kami mohon dimaafkan segala kesalahan beliau semasa hidupnya,” begitu pernyataan keluarga.

Semasa hidupnya, Bens Leo menikah dengan seorang dokter ahli gizi, Pauline Endang Praptini, yang bertugas di RS Fatmawati. Mereka dikaruniai seorang anak lelaki, Addo Gustaf Putera.

Bens juga di kenal sebagai seorang pencari bakat dan produser musik, di mana ia berhasil berhasil memproduseri album perdana Kahitna, Cerita Cinta (1993).

Masih belum ada pengumuman resmi di mana almarhum akan dimakamkan. Yang pasti sejumlah pihak berduka atas kepergian Bens Leo.

Irish Riswoyo, Ketua Sie Musik, Budaya dan Lifestyle PWI Jaya menyebutkan tangan dingin Bens Leo telah melahirkan banyak musisi Indonesia.

“Pengalaman beliau di dunia juri musik juga sudah seabreg. Kita kehilangan atas kepergian beliau,” ujar Irish. Selamat Jalan Mas Bens Leo. (Tumpak S)

Continue Reading

Selebritas

Keseruan Tiga News Anchor Indosiar Kenang Tugas Jurnalistik

Published

on

By

Pratiwi Kusuma, Sheila Purnama dan Jemmy Darusman kenang pengalaman jurnalistik dalam program Semangat Senin Indosiar (22/11).

Kabarhiburan.com – Salah satu profesi idaman banyak orang dan incaran kaum milenial masa kini adalah pembawa acara berita atau lazim disebut news anchor.

Selain harus menguasai public speaking dan cerdas, seorang news anchor harus bernampilan menarik, mengingat mereka harus berada di depan kamera setiap hari.

Sangat wajar bila pesona para pembawa acara berita layaknya selebriti, bahkan memenuhi syarat sebagai artis. Sebut saja diantaranya, Pratiwi Kusuma, Sheila Purnama dan Jemmy Darusman.

Ketiganya merupakan pembaca berita kriminal ‘Patroli’ dan program ‘Fokus’ Indosiar. Untuk sampai pada posisi news anchor, mereka terlebih dulu kenyang pengalaman menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.

Pengalaman tersebut dijadikan sebagai perjalanan jurnalistik yang tak terlupakan, diantaranya mereka ceritakan kembali di program Semangat Senin (22/11).

Jemmy Darusman, misalnya, mengaku sempat tanpa sengaja berada di tengah massa anarkis saat live report di tengah aksi demo besar.

Siapa sangka, demo tersebut berbuntut kericuhan yang diwarnai ‘hujan’ batu dan bambu runcing dan Jemmy dan timnya berada di tengah pertikaian tersebut.

“Saya nyaris terkena bambu runcing. Itu membuat data-data yang ingin disampaikan menjadi berantakan. Akhirnya, saya ambil bambunya, lalu berimprovisasi membahas tentang kejadian anarki.” kenang Jemmy melalui video.com.

“Menyampaikan aspirasi itu baik namun tidak dengan anarki apalagi membahayakan orang lain,” saran Jemmy.

Pengalaman Sheila Purnama pun tidak kalah seru. Ia mengaku sempat merasakan kejadian mistis saat meliput di Desa Penari di Banyuwangi, Jawa Timur, beberapa tahun silam.

“Saat itu, desa yang dikenal dengan mistisnya tersebut jadi bahan pembicaraan masyarakat. Untuk mengungkap secara langsung, saya ditugaskan ke sana,” kisahnya.

“Disana, saya dan tim dipandu agar mengikuti semua persyaratan, diantaranya membasuh muka di tujuh pancuran. Naik ke bukit yang agak seram, sampai ada hal mistis yang dirasakan,” kata Sheila mengenang.

Liputan tentang kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 2012, Pratiwi Kusuma jadikan sebagai salah satu pengalaman jurnalistik yang mengesankan.

“Baru pertama menghadapi kondisi banyaknya asap, langsung mimisan. Yang tadinya tugas selama lima hari, nambah jadi sebelas hari tanpa bawa baju ganti yang mencukupi,” kenang Pratiwi. (Tumpak S)

Continue Reading

Selebritas

Perjalanan Eca Sukma, Dari Musisi Hingga Mengelola Pengobatan Alternatif di ‘Rumah Sehat Rauuf’

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Grup band Ecapede dengan vokalisnya, Eca Sukma, sempat mewarnai khasanah musik Indonesia pada 2008 hingga 2019. Lagu-lagunya pun sempat hits, seperti Jamilah Jamidong (2009) dan masih banyak lagi.

Adik kandung artis Peggy Melati Sukma yang akrab disapa Eca, ini ternyata sudah meninggalkan dunia musik yang membesarkan namanya. Kini, Eca menekuni bidang pengobatan alternatif, sebagai tabib yang mumpuni.

Eca mengajarkan Ilmu Totok Telur di balai pengobatan ‘Rumah Sehat Rauuf’ setiap hari. Bertindak sebagai Master Tabib sekaligus pemilik, Eca aktif memberikan pelatihan bagi masyarakat yang ingin mendalami ilmu totok telur.

Lalu, pada setiap Selasa, Eca dan timnya memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat yang memerlukan pertolongan.

Mengobati Ayah Tercinta

Melalui keterangan tertulisnya, Rabu (17/11), Eca menceritakan peralihan profesinya dari musisi hingga menekuni pengobatan alternatif.

Pemilik nama lengkap, Reza Novembri Pahlevi merupakan lulusan Strata 1 Kriminologi dan Strata 2 Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Bahkan, Eca sudah memiliki usaha yang cukup menjanjikan.

“Waktu almarhum Ayah terdiagnosa menderita kanker ganas dan stroke, Saat itu saking sayangnya, aku ingin berbakti kepada orangtua. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan dunia seni dan entrepreneur, lalu fokus jagain ayah,” kenang Eca.

“Sampai suatu hari ayah bilang, ‘Ayah mau diobatin sama Eca,” kata Eca menirukan kalimat permintaan ayahnya.

Menerima permintaan dari ayah tercinta, Eca mengaku sempat bingung lantaran dirinya belum memiliki kemampuan mengobati.

“Waktu itu aku nggak bisa apa-apa, tapi ayah berulang kali bilang, ‘Ayah mau diobatin sama Eca’. Aku berpikir, ini ada signal apa?” kenang Eca tentang awal mula tertarik menekuni pengobatan alternatif.

Eca Sukma diapit dua orang timnya di ‘Rumah Sehat Rauuf’

Singkat cerita, demi mengikuti keinginan sang ayah, Eca mempelajari berbagai metode pengobatan alternatif. Selanjutnya mengombinasikan semuanyai menjadi satu pola, sebagai Ilmu Totok Telur.

Tidak mau tanggung, Eca bahkan memadukan Ilmu Totok Telur dengan hipnoterapi, hingga Eca memiliki gelar non akademik hipnoterapi.

Kalau biasanya telur ayam biasanya dihidangkan sebagai makanan, di tangan Eca telur dijadikan sebagai media terapi untuk mengobati segala penyakit.

“Akhirnya, aku belajar akupresur, totok, bekam, refleksi, jalur meridian dan lain-lain sampai menemukan pola mekanisme telur, yang aku coba praktekkan ke Ayah,” ungkap Eca.

“Hasilnya, Alhamdulillah, Ayah bertahan sampai satu setengah tahun, lebih lama dari perkiraan dokter yang sebelumnya memvonis umur  ayah tinggal tiga bulan,” katanya.

“Lalu, sebelum ayah pulang, sempat bilang, ‘Ayah sudah sembuh, sekarang waktunya kamu bantu orang lain’,” menirukan ayahnya. “Mulai dari situ, aku buka praktik pengobatan alternatif,” katanya.

Kombinasikan Totok Telur dan Hipnoterapi

Sejurus dengan waktu, Eca yang dijuluki Master Totok Telur, semakin memperdalam ilmu pengobatan alternatif. Bahkan mempelajari pengobatan herbal serta rempah rempah, yang didapat dari keluarga jalur ibunya.

Jadilah, kemahiran meramu herbal dan rempah turut memperkaya kemampuan Eca di bidang pengobatan alternatif. Meski demikian, Eca mengelak sebutan pengobatan gaib atau supranatural. Baginya, telur hanya sekadar media seperti halnya kayu yang orang gunakan untuk memijat.

“Jadi, totok telur definisinya adalah media terapi untuk menstimulan jalur jalur meridian, zona refleksi yang berhubungan dengan organ yang sakit agar dioptimalkan. Dari situ, insyAllah segala penyakit bisa disembuhkan,” kata Eca yang bergelar akademik dan non akademik: S. Sos, M.Si, Ch, Cht.

Kini Eca aktif mengajar, selain menjadi pembicara pada seminar tentang pengobatan alternatif serta kesehatan dari sisi penyakit medis maupun psikis.

Sebagai seorang tabib sekaligus hipnoterapis, Eca merasa perlu mengkombinasi kedua keahliannya, lantaran orang yang sakit medis perlu dikuatkan motivasi juga sugestinya guna mendukung kesembuhan.

Kepada setiap muridnya, Eca senantiasa menyampaikan pesan: ‘Kita mengobati orang hanya sebagai perantara, sesungguhnya Tuhan Yang Maha Kuasa lah yang memberi kesembuhan’.

“Saya juga senantiasa mengingatkan, meski dekat ke langit harus tetap membumi, sederhana, rendah hati, serta tebarkan kebaikan,” kata Eca. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending