Connect with us

Musik

Pertemuan Terakhir Papa T Bob Dan Produser HP Record, Hadi Soenyoto

Published

on

Kabarhiburan.com, Depok

Jumat ( 10/7- 20) dunia hiburan kembali kehilangan putra kreatif di dunia recording. Papa T Bob — begitu lelaki kelahiran 22 Oktober 1960 ini kerap di sapa.

Sebelum meninggal,  pencipta lagu anak anak ini, akan cek up ke rumah sakit,  mendadak  terjatuh di rumahnya, dan mengalami batuk batuk kecil. Oleh anaknya, Papa T Bob  secepatnya di larikan ke RS Budi Asih, Cawang. Namun, nyawa lelaki yang bernama di KTP , Erwanda Lukas ini tak tertolong.

Pada,  April lalu, pencipta lagu anak anak yang banyak menelurkan album dan mencetak pendatang  penyanyi baru anak anak di era tahun 1990 an ini sempat diopname, karena penyakit diabetesnya yang menahun.

Di sekitar bulan April itu pula, penyanyi yang sempat banyak “mendulang dolar” dari dunia recording ini, beranjang sana ke kantor HP Record, di bilangan Harco Manga Dua, Jakarta Barat.

Kondisinya sungguh memprihatinkan. Perawakannya, terlihat begitu amat kurus. Ia turun dari ojek online.  Di masa jayanya, mobil merek apa yang tak pernah ia pakai dan miliki.

“Iya, badan ini susut lebih dari 20 Kg. Dua bulan terakhir ini, baru agak mendingan naik 4 Kg, ” cerita  Papa T Bob  pada Kabarhiburan.com mengenai penyakitnya itu.

Saat itu, Papa T Bob mengakui, ia tengah menjalankan Detox (cara perawatan yang berfungsi untuk mengeluarkan racun-racun yang berada di dalam tubuh, red)
” Jadi saya tak boleh makan makanan yang mengandung karbohidrat,” lanjutnya. Proses Detox ini diakuinya sudah  berjalan nyaris dua tahun, “Alhamdulillah,  badan terasa lebih sehat, ” ungkapnya lagi.

Kehadiran papa T Bob  ke kantor HP Record itu,  sama halnya dengan penyanyi dan para pencipta lagu lainnya, menawarkan karya lagunya. Menurut almarhum, Produser HP Record, Hadi Soenyoto “wajib” merekam ulang lagu fenomenalnya, saat Papa T Bob, masih menggunakan nama Wanda Chaplin.

” Harusnya, Pak Hadi, berani merekam ulang lagu saya yang satu ini. Lagunya pernah ngetop Pak,” ungkap Papa T Bob, seraya menyanyikan sepenggal lagunya itu di depan Hadi Soenyoto secara akapela ( proses menyanyi tampa diiringin alat musik, red.).

Produser yang banyak mengontrak para penyanyi dan para pencipta lagu ini, hanya mangut mangut kecil, mendengarkan Papa T Bob, menyanyi secara akapela itu.
” Yang terpenting, sekarang ini, kamu naikin berat badanmu, sehat dulu, ”  celetuk Hadi Soenyoto  atas permintaan Papa T Bob itu.
” Oh iya, kamu datang ke sini naik apa?, ” tanya Hadi Soenyoto yang banyak mencetak dan mengontrak penyanyi top, seperti Nicky Astria,  Popy Mercury, Helda Sanira, Iis Dahlia, Rita Sugiarto,  Mansyur S, Rhoma Irama, dan lainya.
” Itu pak, tadi naik ojek online, ” ungkap Papa T Bob, tampa tedeng aling aling. Tak lama, Hadi Soenyoto pun pamit untuk keluar kantornya lebih dahulu, karena ada keperluan.

Ketika kabarhiburan.com kembali  hubungi produser  HP Record, Hadi Soenyoto mengakui, dengan almarhum belum terikat kerjasama. “Hanya ada satu lagu yang saya kontrak lagu almarhum, itu pun dari Publishernya, ”  terang Hadi Soenyoto Jumat ( 10/7.20).
Judulnya, Susan Nyanyi Lagi, “Mungkin ini karya almarhum yang terakhir akan di bawakan oleh Ria Enes,” ungkap Hadi Soenyoto.
( Zar/KH) foto foto: Istimewa

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Tidak Bisa Manfaatkan Kesempatan Kedua, Fariza (Solo) Tinggalkan Panggung Pop Academy

Published

on

By

Jessy (Manado) raih standing ovation.

Kabarhiburan.com – Pop Academy Indosiar Top 40 Grup 8 telah menampilkan 4 academia pada Kamis (22/10) malam.

Keempat academia, Cempaka (Cimahi), Chelsea (Ruteng), Fariza (Solo) dan Jessy (Manado) menunjukkan kemampuan terbaik di hadapan Dewan Juri Soimah, Ruth Sahanaya dan Pinkan Mambo, serta Maya Ratih selaku Fashion Guru.

Meski demikian, hanya Jessy (Manado) yang menyanyikan Karena Ku Sanggup milik Agnez Mo, berhasil mendapat standing ovation dari Dewan Juri Pinkan Mambo.

Pinkan menilai lagunya cukup sulit, namun Jessy menyanyikan dengan baik dan penghayatan yang benar terasa seperti hidup dan mati.

“You did it, good job!,” ujar Pinkan dan diamini Ruth Sahanaya yang menyukai vokal Jessy dengan power dan falset tebalnya.

Pujian senada juga Dewan Juri berikan untuk Chelsea (Ruteng), yang begitu menjiwai dan menangis saat menyanyikan lagu Hanya Rindu.

Chelsea (Ruteng) menangis saat dikejutkan video call dari orangtua tercinta.

Soimah mengakui kemampuan Chelsea sangat hebat. Terlebih, Chelsea bisa mengontrol lagu dengan baik dan tidak berhenti di tengah-tengah.

Chelsea yang mengaku rindu akan sosok sang Mama tercinta, dikejutkan oleh video call dari Mama dan Papanya, hingga Chelsea menitikkan air mata rindu.

“Jangan menangis, kamu disana untuk mengejar impian dan menjadi seorang Superstar,” pinta sang Mama.

Sementara Cempaka (Cimahi) hadir dengan karakter vokal mirip Anggun, sukses membawakan lagu Mantra dengan gaya dan style nya sendiri.

“Kamu sudah cukup lepas dari Anggun,” puji Soimah. Ruth Sahanaya juga menilai Cempaka sangat percaya diri saat bernyanyi dan memiliki aura bintang. Warna suara unik yang terdengar husky, menjadi salah satu nilai lebih bagi Cempaka.

Academia terakhir, Fariza (Solo) tampil membawakan lagu Hanya Engkau Yang Bisa, dinilai terlalu biasa saat bernyanyi, sehingga menurut Pinkan akan mudah terlupakan.

Fariza (Solo) harus tersingkir, meski sudah mendapat dua kesempatan.

Pinkan meminta agar jangan main aman saat mencari lagu. Ruth Sahanaya pun membenarkan, agar Fariza lebih peka saat memilih lagu yang cocok dengan karakter vokal yang dimilikinya supaya lebih maksimal.

Polling akhir Pop Academy menentukan Chelsea (Ruteng) dan Jessy (Manado) di posisi teratas dan berhak maju ke babak Top 30.

Sedangkan Cempaka (Cimahi) dan Fariza (Solo) yang berada di dua posisi terendah mendapat  second chance demi mencuri perhatian Dewan Juri.

Polling terakhir Grup 8 Top 40 Pop Academy.

Cempaka (Cimahi) memilih lagu Matahariku, sedangkan Fariza (Solo) dengan lagu Mengenangmu. Hasilnya, Fariza (Solo) meraih satu suara dari Pinkan Mambo, sementara Soimah dan Ruth Sahanaya sepakat memberikan suara untuk Cempaka (Cimahi).

Itu artinya, Fariza (Solo) harus tereliminasi dari babak Top 40 dan meninggalkan panggung Pop Academy. Sebaliknya, Cempaka (Cimahi) mengikuti Chelsea (Ruteng) dan Jessy (Manado) ke babak Top 30 Academy. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

Trio Harahap Pertama di Dunia Lepas Single Perdana, ‘Rap Ra Rap Ro’

Published

on

By

Personil Trio Harahap. Diapari Sibatangkayu Harahap diapit oleh Mora Harahap dan Nelwan Harahap. (Foto: Dok. Pribadi)

Kabarhiburan.com – Di tengah pandemi Covid-19 yang menjenuhkan, tidak memupus kecintaan terhadap musik dan kota kelahiran, seperti dilakukan Trio Harahap. Grup vocal yang diawaki  Mora Harahap, Nelwan Harahap, dan Sibatangkayu Harahap ini justru melepas single perdana berjudul Rap Ra Rap Ro.

Konon trio yang satu ini merupakan Trio Harahap pertama di dunia.

“Ya, pertama di dunia. Sepanjang sejarah, saya belum pernah dengar ada Marga Harahap menjadi penyanyi trio,” kata Diapari Sibatangkayu Harahap, pencipta lagu  Rap Rap Rap Ro  setengah bergurau namun serius, baru-baru ini.

Ia mengatakan, grup vocal semacam trio memang tidak banyak ditemui di kalangan penyanyi Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

“Beda dengan penyanyi-penyanyi dari Tapanuli Utara yang sangat menonjol dengan kelompok penyanyi trio-nya,” terang Sibatangkayu.

Jadi, menurut dia, klaim sebagai Trio Harahap pertama di dunia, bukan masalah sok-sok-an atau mau menyombongkan diri.

“Tidak sama sekali. Ini justru kalimat bermakna satire sekaligus introspeksi bagi musisi dan penyanyi Tabagsel yang masih jauh tertinggal dibanding grup penyanyi lain di Sumatera Utara,” paparnya.

Ia menjelaskan, Trio Harahap dalam single Rap Ra Rap Ro didukung Trio Boreg, terdiri dari Ruwiana Sekarwati, Ningtyas Siregar dan Santi Ritonga.

“Kenapa ada trio perempuan, karena sejatinya saya ingin lagu bergenre dangdut ini dinyanyikan  rame-rame,” kata pencipta lagu-lagu Tabagsel ini.

“Melibatkan kawan-kawan penyanyi dari Ikatan Keluarga Alumni Pelajar Padangsidimpuan (Ikapada) agar terkesan kolosal. Namun niat itu terpaksa saya urungkan mengingat situasi pandemi yang masih berlangsung. Saya tak mau ambil risiko dengan mengundang kerumunan orang di studio,” katanya.

Mengenai konten  Rap Ra Rap Ro, menurut Sibatangkayu, merupakan ajakan kepada masyarakat Tabagsel khususnya Padangsidimpuan yang ada di perantauan untuk membangun kampung halaman.

https://www.youtube.com/watch?v=sm3czN7KSxc

“Kalau di rantau sudah berhasil, jangan lupa kampung halaman. Marilah bersama-sama menggalang sinergi untuk membangun tanah kelahiran agar tidak ketinggalan dibanding daerah lain,” kata Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI DKI Jaya ini.

Menurut dia, jangan pernah lelah mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan.

Apalagi, kata dia, ajakan itu harus terus disuarakan karena warga Padangsidimpuan yang ada di perantauan terkesan kurang kompak membantu pembangunan kampung halaman.

“Kalau pun ada bantuan, cenderung dilakukan sendiri-sendiri. Padahal, andai itu dilakukan bersama, dampaknya pasti lebih dahsyat. Saya malu dengan perantau sukses dari daerah-daerah lain yang sangat kompak membangun tanah leluhurnya,” ujar Sibatangkayu.

Kecintaan Sibatangkayu sendiri terhadap tanah kelahirannya, tercermin dari puluhan lagu ciptaannya yang  nyaris semua berbicara tentang kearifan lokal masyarakat Tabagsel. Mulai dari cerita adat dan budaya, kuliner, daerah tujuan wisata yang menggambarkan keindahan Tabagsel, sampai kritik sosial.

“Bahkan, lagu kasmaran pun tetap dibalut dalam kemasan bernuansa Tabagsel,” pungkasnya. (Tumpak S)

Continue Reading

Musik

Dewa Bujana Rilis Single ‘Kmalasana’, Tempat yang Syahdu di Masa Pandemi

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Masa pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat musisi Dewa Bujana untuk terus berkarya. Gitaris band Gigi ini membuktikannya lewat single Kmalasana yang dilepas pada Rabu (21/10).

Budjana menjelaskan, Kmalasana merupakan gabungan kata ‘Kemala’ dan ‘Asana’. Karena kepanjangan jadi disingkat Kmalasana. Diartikan sikap yang indah,” jelasnya.

Sesuai judulnya, single Kmalasana dikemas dalam nada dan harmoni musik  instrumentalia, yang mengajak pendengarnya menjauh dari situasi suram ke suasana tenang nan syahdu.

“Bagi saya musik instrumental lebih enak karena bisa multi tafsir. Mudah-mudahan dapat membawa pendengar ke tempat yang syahdu, kalau saya bilang,” jelas Dewa Budjana dalam jumpa pers virtual, di Jakarta.

Untuk menyempurnakan gagasannya, Bujana mengajak musisi kaliber internasional. Mereka adalah  Simon Philips, drummer legendaris mantan personel band Toto dan Carlitos Del Puerto, basiss asal Cuba yang juga pemenang Grammy Awards.

‘Kmalasana’ akan menempati posisi pertama di dalam ‘Naurora’, judul album kolaborasi antara Dewa Bujana  dengan beberapa musisi internasional ternama.

Kmalasana dan Naurora akan dirilis oleh Mehsada, sebuah label rekaman berbasis di Jakarta yang merupakan bagian dari Kakiatna Indonesia Group.

Dani Rahadian mengatakan bahwa dengan Kmalasana sebagai rilisan pertama dari Mehsada, diharapkan ke depannya label ini dapat lebih banyak membawa musik dengan nilai kedamaian serta ketenteraman kepada khalayak luas.

Mehsada memiliki misi untuk melahirkan kembali kesyahduan yang kian menghilang di industri musik Indonesia.

Selepas perilisan Kmalasana, Mehsada akan merilis tiga single lainnya dari Naurora setiap bulannya sampai Naurora dirilis di bulan Februari 2021.

Kmalasana sudah tersedia tersedia di platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube. Demikian pula ‘Naurora’, selain akan dirilis dalam bentuk digital, juga akan dirilis dalam bentuk CD, kaset, dan piringan hitam. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending