Connect with us

Budaya

Pesta Raya 2018, Ajang Berekspresi Bagi Seniman Teater Tanah Air

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Parade Kebudayaan teater bertajuk Pesta Raya 2018, berlangsung  sejak 21 hingga 30 November 2018 di Auditorium Bulungan, Jakarta,  sudah berakhir dengan sukses.

Sukses lantaran parade seni yang digagas oleh Simpul Interaksi Teater Jakarta Selatan (SINTESA) berkolaborasi dengan JEFRA Foundation ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari pecinta teater di Ibukota.

Selama berlangsungnya Pesta Raya 2018, ada sembilan kelompok pelaku seni teater berekspresi dan berkreasi secara bebas tanpa embel-embel menang dan kalah dalam parade kebudayaan, Pesta Raya.

Penampilan anak muda dari Padepokan Seni Madura dalam Menjahit Kertas

Para seniman teater bersama kelompoknya menyampaikan gagasan mereka, di antaranya kelompok Teater Taman Sandiwara yang mengangkat judul​​ Lembah Ingatan. Adapun Teater Elnama mengangkat tema berjudul​ Magma.

Kemudian, Teater K hadir dengan  Pagi Bening, lalu ada Sanggar Kummis menampilkan  AUM dan Teater Ghanta tampilkan  Side B 47:17 (Speech, Noise and Effect). Pelaku seni teater dari Dapoer Teater – Pontianak mengangkat judul​ Baraing Sang Ayah.

Pada hari lainnya, Sanggar Cita-cita yang mengangkat judul  Kids Zaman Now. Sementara pada hari terakhir tampil anak muda dari Padepokan Seni Madura membawakan judul​ Menjahit Kertas.

Ketua Asosiasi Teater Jakarta Selatan mengaku  puas dengan apresiasi yang diberikan oleh masyarakat.

“Tema yang kami ambil kali ini sangat menarik sekaligus unik, yaitu Bergerak,” jelas Toto Sokle, di sela-sela pementasan Menjahit Kertas di Auditorium Bulungan, Jumat (30/11).

Baginya, teater berupaya menjadi bentuk pe(manusia)an yang selalu memberi gambaran peradaban pada sebuah masa. Peradaban yang terbangun menjadi gambaran bagaimana panjangnya sebuah peristiwa waktu yang diperlukan.

Tujuan jangka panjang dari kegiatan ini,   lebih kepada upaya membangun sebuah ‘teater ‘company, yakni sebuah ruang publik bagi kehidupan dan pementasan teater yang tidak money oriented.

“Hal inilah yang coba kita sampaikan kepada para pemangku kebijakan,” ujar Toto Sokle. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Dunia Baru Trie Utami yang Lebih Menantang dan Menyenangkan

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Setelah malang melintang di dunia musik selama puluhan tahun, kini vokalis senior Trie Utami punya mainan baru, yakni dunia teater.

Dikatakan baru, karena terhitung baru dua kali ia tampil di panggung teater. Salah satunya dalam monolog musikal Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng, yang akan digelar di Theater Salihara, Pejaten, Jakarta Selatan pada 26 – 27 April 2019 mendatang.

Pagelaran di bawah naungan ArtSwara Production ini mengangkat kisah cinta yang tragis  sosok Srintil, seorang penari ronggeng asal Dukuh Paruk, Banyumas. Srintil sendiri merupakan tokoh dari novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari.

Dalam pagelaran tersebut Trie Utami akan merasakan sensasi memerankan 7 karakter berbeda. Sesuatu yang belum pernah dilakukan selama menekuni dunia tarik suara. Tak heran, Trie Utami mengamini bahwa  seni teater memiliki tantangan tersendiri.

“Dunia teater memang dunia baru bagi saya, setelah puluhan tahun malang melintang di dunia musik. Ini jadi tantangan karena saya akan bermain sendiri dan memerankan 7 karakter berbeda,”  ungkap Trie Utami saat jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Selasa (26/3).

Demi sukses memerankan 7 karakter berbeda, Trie Utami mengaku  harus banyak-banyak belajar tentang karakter-karakter diinginkan. Semua ini memberinya kepuasan yang menyenangkan.

“Ini akan jadi sensasi berbeda karena saya diajari untuk memerankan banyak karakter dalam pagelaran ini. Dari situ saya harus bangun dan perankan. Semua itu menarik banget buat saya,” jelas wanita yang akrab disapa Iie ini. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Mufakat Budaya Indonesia Serukan Pelihara Kegotongroyongan

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Kami anggota aktivis MBI menyampaikan himbauan, untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa yang tak baik, menjaga sikap dan tindakan yang berpotensi merusak tata hubungan sosial-kultural di masyarakat Indonesia yang sudah dibangun oleh para leluhur bangsa.

Demikian salah satu  pernyataan yang disampaikan oleh Mufakat Budaya Indonesia (MBI) dalam imbauan dan pernyataan yang dibacakan di depan wartawan, di Warung Presiden (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (13/3) sore.

MBI menaungi sejumlah seniman, budayawan, rohaniawan, ilmuwan dan cendekiawan. Sebut saja,  Radhar Panca Dahana, Suhadi Sendjaja, Donny Gahral, Niniek L Karim, Adi Kurdi, Renny Jayoesman, Anto Baret, Tony Q, Olivia Zalianty dan beberapa nama lainnya.

Mereka memberi pernyataan sikap, membacakan sikap, membuat lukisan, dan menyanyikan lagu bertema kebangsaan. Selain menyikapi perkembangan terkini kehidupan sosial, politik dan budaya negeri kita, Indonesia, yang tengah mengalami peningkatan intensitas, jumlah dan kualitas.

MBI pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kontestasi politik, seperti pemilihan presiden dan anggota legislatif sebagai ajang pertempuran di antara kekuatan yang semata hanya untuk nafsu kekuasaan semata.

Mereka juga meminta agar para elit, baik di lingkungan politik, ekonomi, akademik, agama, dan budaya, tidak lagi menginisiasi, menginspirasi, apalagi mengorganisir publik untuk melakukan perbuatan destruktif demi tujuan kelompoknya.

Banyak hal lagi yang disampaikan oleh MBI agar masyarakat bisa kembali bersatu dan harmonis meski menjalani tahun politik seperti ini. MBI pun mengajak masyarakat agar mengingat dan sadar kembali akan sejarah bangsa Indonesia. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali harmonis dan sadar, meski berbeda pandangan namun ini demi kemajuan bangsa.

“Kami anggota aktivis MBI menyampaikan himbauan, untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa yang tak baik, menjaga sikap dan tindakan yang berpotensi merusak tata hubungan sosial-kultural di masyarakat Indonesia yang sudah dibangun oleh para leluhur bangsa,” ujar Radhar Panca Dahana selaku kordinator MBI. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Jejak Petualang ‘Goes to Setouchi Japan’, Belajar Harmonisasi Budaya dan Modernitas

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tahun 2018, genap sudah 60 tahun  lamanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang terjalin. Momen persahabatan ini ingin diabadikan Bapak Reino Barack selaku Ketua Seni dan Budaya Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ).

Ia mendorong kedua belah pihak untuk saling mendukung, selain untuk mempererat hubungan persahabatan juga bertujuan untuk memajukan bidang pariwisata yang mempunyai dampak positif pada kemajuan ekonomi.

RBS (Rizki Bukit Sinema) yang diwakili oleh Bapak Reino Barack bersama AXON (perusahaan yang merupakan company group dari Nippon TV) dan DNA Production (diwakili oleh Ibu Rina Novita). Bekerja sama dengan TRANS7 (diwakili oleh Ibu Mira Khairunnisa Salim) untuk memproduksi program Jejak Petualang Goes to Setouchi, Japan.

Begitu tersohornya Setouchi menjadi alasan kuat dipilih sebagai lokasi syuting untuk memproduksi program Jejak Petualang Goes to Setouchi, Japan.

Setouchi merupakan rumah dari berkumpulnya tempat wisata yang terkenal di Jepang, seperti Jembatan Kintai (Kintai-Kyo), Kuil Itsukushima (Itsukushima Jinja), Miyajima, dan banyak tempat suci dan wisata lainnya.

Begitu pula dengan kebudayaan modern Setouchi, dibuktikan dengan terbentuknya STU48 (Setouchi48) yang merupakan sister group dari sebuah idol group kenamaan di Jepang, yakni AKB48 (Akihabara48).

Tempat-tempat yang menjadi lokasi syuting Jejak Petualngan, meliputi Dogo Onsen, Ishizuchi Mountain, Imabari, Shimonoseki, Haedomari Market, Ryuzo Temple, Itsukuchima Island, Uwajima, dan Onomichi.

Selama proses syuting banyak hal baru  ditemukan oleh tim Jejak Petualang. Seperti  dikutip dari Faradina Mufti, Co-host program Jejak Petualang.

“Dan, yang nggak boleh dilewatin adalah nyoba local food di sana, as a Japanese food lover. Udah pasti harus ke sushi market-nya. Well, there’s still a lot of places we’ve visited, and all of it were so memorable.”

Hal serupa disampaikan oleh Hana Malasan, Host program Jejak Petualang. “It was a very exhausting yet fun trip ever!”.

Pada episode Jejak Petualang Goes to Setouchi ini, para host diajak untuk melakukan olahraga ekstrim seperti climbing, cycling sepanjang 70 KM, rafting, SUP yoga, dan paragliding.

Jika kebanyakan dari kita melihat Jepang hanya sebatas dengan ramainya Tokyo, maka pada progam Jejak Petualang kali ini kami mengenalkan bagaimana cara menikmati Jepang dengan cara yang baru.

Salah satunya dengan cara mengikuti Cycling Shimanami 2018  dengan rute sepanjang 70 KM,  dari  Onomichi hingga berakhir di Imabari. Melewati enam pulau kecil di Seto Inland Sea (Setouchi) yakni, Mukaishima, Innoshima, Ikuchijima, Omishima, Hakatajima, dan Oshima.

Rute ini dibuka pertama kali pada tahun 1999, dan jembatan yang digunakan sebagai jalur bersepeda ini dibangun dengan gaya modern dan atraktif. Sepanjang rute para pesepeda dapat menikmati pemandangan indah di Setouchi dan keenam pulau kecil yang dilewati.

Seperti diketahui, program Jejak Petualang Goes to Setouchi, Japan meliputi empat episode dengan masing-masing durasi enam puluh menit, akan ditayangkan mulai tanggal  11 hingga 25 November 2018 dan  2 Desember 2018. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending