Connect with us

Musik

Pinkan Mambo dan Musisi Papua Meriahkan ‘I See Fest 2019’

Published

on

Pinkan Mambo bersama sederet musisi dari Papua akan meramaikan I See Fest 2019, berlangsung di GBK Jakarta, sejak 27 September sampai 6 Oktober 2019 mendatang.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sekian lama menepi dari blantika musik Indonesia, Pinkan Mambo sudah memastikan turut meramaikan perhelatan akbar Indonesia Senayan Festival (I See Fest) 2019, di Area Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Pameran mengusung konsep International Creative Culture-Outdoor Festival yang berlangsung mulai 27 September sampai 6 Oktober mendatang ini, Pinkan jadikan sebagai ajang pembuktian bahwa dirinya masih konsisten menekuni dunia musik.

“Saya tidak mungkin pergi dari dunia musik. Aku dibesarkan disana,” ujar pelantun hits single Kekasih yang Tak Dianggap ini, saat ditemui di kantor Deteksi Production, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (13/9) petang.

Dalam penampilannya di I See Fest, Pinkan telah menyiapkan sebuah single terbaru yang masih dirahasiakan.

“Sekarang masih rahasia dulu, biar ada kejutan. Nanti kalian bakal pangling sama aku. Pinkan akan kembali dengan diri sesungguhnya. Kalau ingin lihat Pinkan yang asli, datang ya ke acara I SEE Fest nanti,” ujar Pinkan berpromosi.

Bersama Pinkan Mambo, hadir pula sederet musisi. Sebut saja, Masguba, Nan2 Solois, Cassowary Band, President Republik Saranghaeyo dan Mariachi.

Mereka datang jauh-jauh dari Papua demi meramaikan ajang I See Fest 2019 yang ingin menyuarakan persatuan bangsa.

Harry ‘Koko’ Santoso selaku Music Creative dari Deteksi Production memang sengaja menghadirkan musisi asal Indonesia Timur ambil bagian dalam pameran multi produk, pengalaman berbelanja dan beragam aktivitas menarik di tengah kota Jakarta.

“Selain sebagai arena hiburan untuk keluarga, mengenalkan budaya dan banyak ragam menarik lainnya, acara ini bertujuan untuk persatuan. Apalagi ada musisi Papua yang daerahnya kemarin jadi sorotan. Kita disini untuk menunjukkan kita ini bersatu,” ucap Koko.

“Kami senang sekaligus bangga mewakili Papua untuk tampil di panggung I See Fest 2019. Kami datang ingin menceritakan kepada teman-teman kalau daerah (Papua) itu damai dan Welcome. Semoga acara ini bisa mengubah mindset teman-teman bila orang Papua itu saling menghargai,” ucap personil Cassowary Band. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Nadira Adnan Rilis Single ‘Kita Itu Apa’, Kisah Cinta yang Puitis dan Indah

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Setelah meraih sukses lewat album Isi Hatiku (2016), Nadira Adnan kembali meramaikan industri musik Indonesia. Kali ini melepas lagu terbaru berjudul Kita Itu Apa.

Kisah dalam single terbaru diangkat dari kisah cinta Nadira Adnan, kemudian ditulis oleh Titi DJ.

“Bercerita tentang hubungan antara dua orang kekasih yang tanpa arah dan tujuan. Aku curhat tentang pengalamanku ke Tante Titi DJ dan Tante Jenni,  lalu terciptalah sebuah lagu indah dan puitis ini,” tulis Nadira dalam rilisnya, Sabtu (24/10).

“Liriknya benar-benar indah dan  mengena, membuat emosi yang aku luapkan dalam curhatanku bisa terlukis dengan sempurna dalam lagu ini. Ditambah lagi  aransemennya dibuat oleh Mas Andi Rianto yang aku suka banget,” kata Nadira dengan wajah sumringah.

Nadira juga menceritakan keterlibatannya secara langsung dalam pembuatan single Kita Itu Apa.

“Di single ini aku benar-benar terlibat dari awal hingga akhir. Dari proses penciptaan aku curhat ke Tante Titi DJ dan Tante Jenni. Lalu ikut workshop dengan mas Andi Rianto untuk menentukan aransemennya. Kemudian sampai ke proses rekaman hingga pembuatan video klip,” ungkap Nadira.

Lagu Kita Itu Apa sudah bisa dinikmati di berbagai digital platform, seperti Youtube, Spotify, Itunes, Beezer, Amazon MP3, Joox dan 150 platform digital streaming lainnya, sehingga para penikmat musik bisa menikmati single ini dengan mudah.

Lewat lagu yang easy liestening ini, Nadira berharap agar karyanya dapat didengar dan dinikmati oleh semua kalangan. Nadira mengharapkan agar dirinya dapat semakin mantap diterima di industri musik Indonesia. (Tumpak S)

Continue Reading

Musik

Tidak Bisa Manfaatkan Kesempatan Kedua, Fariza (Solo) Tinggalkan Panggung Pop Academy

Published

on

By

Jessy (Manado) raih standing ovation.

Kabarhiburan.com – Pop Academy Indosiar Top 40 Grup 8 telah menampilkan 4 academia pada Kamis (22/10) malam.

Keempat academia, Cempaka (Cimahi), Chelsea (Ruteng), Fariza (Solo) dan Jessy (Manado) menunjukkan kemampuan terbaik di hadapan Dewan Juri Soimah, Ruth Sahanaya dan Pinkan Mambo, serta Maya Ratih selaku Fashion Guru.

Meski demikian, hanya Jessy (Manado) yang menyanyikan Karena Ku Sanggup milik Agnez Mo, berhasil mendapat standing ovation dari Dewan Juri Pinkan Mambo.

Pinkan menilai lagunya cukup sulit, namun Jessy menyanyikan dengan baik dan penghayatan yang benar terasa seperti hidup dan mati.

“You did it, good job!,” ujar Pinkan dan diamini Ruth Sahanaya yang menyukai vokal Jessy dengan power dan falset tebalnya.

Pujian senada juga Dewan Juri berikan untuk Chelsea (Ruteng), yang begitu menjiwai dan menangis saat menyanyikan lagu Hanya Rindu.

Chelsea (Ruteng) menangis saat dikejutkan video call dari orangtua tercinta.

Soimah mengakui kemampuan Chelsea sangat hebat. Terlebih, Chelsea bisa mengontrol lagu dengan baik dan tidak berhenti di tengah-tengah.

Chelsea yang mengaku rindu akan sosok sang Mama tercinta, dikejutkan oleh video call dari Mama dan Papanya, hingga Chelsea menitikkan air mata rindu.

“Jangan menangis, kamu disana untuk mengejar impian dan menjadi seorang Superstar,” pinta sang Mama.

Sementara Cempaka (Cimahi) hadir dengan karakter vokal mirip Anggun, sukses membawakan lagu Mantra dengan gaya dan style nya sendiri.

“Kamu sudah cukup lepas dari Anggun,” puji Soimah. Ruth Sahanaya juga menilai Cempaka sangat percaya diri saat bernyanyi dan memiliki aura bintang. Warna suara unik yang terdengar husky, menjadi salah satu nilai lebih bagi Cempaka.

Academia terakhir, Fariza (Solo) tampil membawakan lagu Hanya Engkau Yang Bisa, dinilai terlalu biasa saat bernyanyi, sehingga menurut Pinkan akan mudah terlupakan.

Fariza (Solo) harus tersingkir, meski sudah mendapat dua kesempatan.

Pinkan meminta agar jangan main aman saat mencari lagu. Ruth Sahanaya pun membenarkan, agar Fariza lebih peka saat memilih lagu yang cocok dengan karakter vokal yang dimilikinya supaya lebih maksimal.

Polling akhir Pop Academy menentukan Chelsea (Ruteng) dan Jessy (Manado) di posisi teratas dan berhak maju ke babak Top 30.

Sedangkan Cempaka (Cimahi) dan Fariza (Solo) yang berada di dua posisi terendah mendapat  second chance demi mencuri perhatian Dewan Juri.

Polling terakhir Grup 8 Top 40 Pop Academy.

Cempaka (Cimahi) memilih lagu Matahariku, sedangkan Fariza (Solo) dengan lagu Mengenangmu. Hasilnya, Fariza (Solo) meraih satu suara dari Pinkan Mambo, sementara Soimah dan Ruth Sahanaya sepakat memberikan suara untuk Cempaka (Cimahi).

Itu artinya, Fariza (Solo) harus tereliminasi dari babak Top 40 dan meninggalkan panggung Pop Academy. Sebaliknya, Cempaka (Cimahi) mengikuti Chelsea (Ruteng) dan Jessy (Manado) ke babak Top 30 Academy. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

Trio Harahap Pertama di Dunia Lepas Single Perdana, ‘Rap Ra Rap Ro’

Published

on

By

Personil Trio Harahap. Diapari Sibatangkayu Harahap diapit oleh Mora Harahap dan Nelwan Harahap. (Foto: Dok. Pribadi)

Kabarhiburan.com – Di tengah pandemi Covid-19 yang menjenuhkan, tidak memupus kecintaan terhadap musik dan kota kelahiran, seperti dilakukan Trio Harahap. Grup vocal yang diawaki  Mora Harahap, Nelwan Harahap, dan Sibatangkayu Harahap ini justru melepas single perdana berjudul Rap Ra Rap Ro.

Konon trio yang satu ini merupakan Trio Harahap pertama di dunia.

“Ya, pertama di dunia. Sepanjang sejarah, saya belum pernah dengar ada Marga Harahap menjadi penyanyi trio,” kata Diapari Sibatangkayu Harahap, pencipta lagu  Rap Rap Rap Ro  setengah bergurau namun serius, baru-baru ini.

Ia mengatakan, grup vocal semacam trio memang tidak banyak ditemui di kalangan penyanyi Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

“Beda dengan penyanyi-penyanyi dari Tapanuli Utara yang sangat menonjol dengan kelompok penyanyi trio-nya,” terang Sibatangkayu.

Jadi, menurut dia, klaim sebagai Trio Harahap pertama di dunia, bukan masalah sok-sok-an atau mau menyombongkan diri.

“Tidak sama sekali. Ini justru kalimat bermakna satire sekaligus introspeksi bagi musisi dan penyanyi Tabagsel yang masih jauh tertinggal dibanding grup penyanyi lain di Sumatera Utara,” paparnya.

Ia menjelaskan, Trio Harahap dalam single Rap Ra Rap Ro didukung Trio Boreg, terdiri dari Ruwiana Sekarwati, Ningtyas Siregar dan Santi Ritonga.

“Kenapa ada trio perempuan, karena sejatinya saya ingin lagu bergenre dangdut ini dinyanyikan  rame-rame,” kata pencipta lagu-lagu Tabagsel ini.

“Melibatkan kawan-kawan penyanyi dari Ikatan Keluarga Alumni Pelajar Padangsidimpuan (Ikapada) agar terkesan kolosal. Namun niat itu terpaksa saya urungkan mengingat situasi pandemi yang masih berlangsung. Saya tak mau ambil risiko dengan mengundang kerumunan orang di studio,” katanya.

Mengenai konten  Rap Ra Rap Ro, menurut Sibatangkayu, merupakan ajakan kepada masyarakat Tabagsel khususnya Padangsidimpuan yang ada di perantauan untuk membangun kampung halaman.

https://www.youtube.com/watch?v=sm3czN7KSxc

“Kalau di rantau sudah berhasil, jangan lupa kampung halaman. Marilah bersama-sama menggalang sinergi untuk membangun tanah kelahiran agar tidak ketinggalan dibanding daerah lain,” kata Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI DKI Jaya ini.

Menurut dia, jangan pernah lelah mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan.

Apalagi, kata dia, ajakan itu harus terus disuarakan karena warga Padangsidimpuan yang ada di perantauan terkesan kurang kompak membantu pembangunan kampung halaman.

“Kalau pun ada bantuan, cenderung dilakukan sendiri-sendiri. Padahal, andai itu dilakukan bersama, dampaknya pasti lebih dahsyat. Saya malu dengan perantau sukses dari daerah-daerah lain yang sangat kompak membangun tanah leluhurnya,” ujar Sibatangkayu.

Kecintaan Sibatangkayu sendiri terhadap tanah kelahirannya, tercermin dari puluhan lagu ciptaannya yang  nyaris semua berbicara tentang kearifan lokal masyarakat Tabagsel. Mulai dari cerita adat dan budaya, kuliner, daerah tujuan wisata yang menggambarkan keindahan Tabagsel, sampai kritik sosial.

“Bahkan, lagu kasmaran pun tetap dibalut dalam kemasan bernuansa Tabagsel,” pungkasnya. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending