Connect with us

News 11

Prosedur Anestesi Menjelang Operasi yang Perlu Diketahui

Published

on

Kabarhiburan.com, Surabaya – Tayangan video tentang pasien yang dilecehkan oleh perawat, usai tindakan operasi di sebuah rumah sakit di Surabaya, telah menggugah keingintahuan masyarakat tentang anestesi (pembiusan). Ini karena tindakan pelecehan terjadi saat pasien belum sadar penuh dari pengaruh anestesi.

Dr. Anna Surgean Veterini, SpAn KIC dari Rumah Sakit Bedah Surabaya (RSBS) menjelaskan, tentang tahapan yang harus diketahui terlebih dulu oleh pasien maupun keluarga, sebelum  menjalani tindakan anestesi (pembiusan), menjelang tindakan operasi hingga setelah operasi dilakukan.

Sebelum tindakan operasi dilakukan, seorang dokter anestesi terlebih dulu melakukan pemeriksaan kepada pasien, yang disebut  pemeriksaan pra anestesi. “Pemeriksaan pra anestesi  sangat penting, untuk menhetahui sejauh mana kesiapan mental dan fisik pasien,” kata Anna.

Tentu saja pemeriksaan dilakukan  oleh dokter anestesi dibantu perawat. Antara lain  menanyakan riwayat pasien:  Apakah pasien pernah mengidap suatu penyakit? Apakah  alergi terhadap jenis obat-obatan tertentu?

Selanjutnya, menanyakan, apakah menjelang operasi tersebut  tengah mengonsumsi obat-obat jenis tertentu? Tindakan operasi tersebut, apakah karena akibat kecelakaan atau tidak? Apakah operasi yang akan dilakukan adalah operasi darurat atau terencana?

“Pemeriksaan pra anestesi  sangat penting, sebab  berkaitan dengan teknik anestesi,  sekaligus untuk memastikan jenis obat anestesi yang akan dimasukkan ke dalam tubuh pasien,” papar Anna sambil menambahkan tentang perlunya memastikan pasien sudah menjalani puasa dalam waktu tertentu  sebelum tindakan operasi dilaksanakan.

Anna merinci tiga macam tindakan anestesi. Pertama, general anestesi dimana pasien ditidurkan selama tindakan operasi berlangsung. Kedua, regional anestesi, dimana tindakan anestesi dilakukan hanya pada sebagian tubuh saja, seperti pada ibu yang menjalani operasi caesar.

Ketiga adalah periperal nerve block atau anestesi hanya pada bagian-bagian yang dioperasi saja. Misalnya kalau yang luka adalah tangan dan akan dijahit, maka hanya sekitar luka saja yang disuntik supaya mati rasa. Tujuannya, agar pasien merasa nyaman dan tidak merasakan sakit  selama tindakan operasi berlangsung.

“Sebelum tindakan operasi dilakukan, kami selalu memastikan segala sesuatunya sudah dikoreksi kembali,” imbuh Anna.

Usai tindakan operasi dan keluar dari ruang operasi, pasien  dimasukkan ke ruang recovery room (RR) atau ruang pulih sadar selama dua jam.

Bagi pasien yang tidak terlalu berat operasinya, bisa langsung dipindah ke ruang rawat inap. Sebaliknya bila selama di RR kondisinya kurang bagus,  maka pasien akan  dimasukkan ke ICU (Intensive Care Unit) untuk pemantauan lebih  cermat.

“Demikian pula bagi pasien dengan tindakan operasi berat, seperti pembedahan kepala, usia lanjut atau selama operasi mengalami perdarahan cukup banyak, biasanya langsung diarahkan ke ruang ICU,” jelas Anna.

Guna menghindari nyeri  yang biasanya muncul pasca operasi,  maka dokter anestesi  memberikan obat anti nyeri agar pasien lebih nyaman.

Anna menambahkan, kendati semua tindakan sudah direncanakan dengan sangat baik sesuai dengan standar. Masih perlu ditegaskan kepada pasien dan keluarganya, bahwa sekecil apapun tindakan medis tidak ada yang tidak mengandung resiko.

Oleh sebab itu, dokter sebelum melakukan tindakan operasi wajib  memberikan informed consent alias  penjelasan yang cukup kepada pasien atau keluarganya tentang langkah-langkah dilakukan selama berlangsungnya tindakan operasi.

“Penjelasan ini sangat penting. Tujuannya agar pasien atau keluarganya bisa memahami,  bahwa  dokter sudah menjalankan tindakan sesuai dengan standar, tetapi dalam hal-hal tertentu bisa terjadi masalah di luar kendali,” jelas Anna.

Anna menambahkan, perlunya keluarga menunggu selama tindakan operasi berlangsung. Tujuannya, kalau terjadi sesuatu maka dokter bisa segera memberitahu kepada keluarga pasien. (Gandhi Wasono/KH. Foto: Istimewa)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Trending