Connect with us

Musik

Refleksi Musik Indonesia di Negeri Paman Sam

Published

on

Agnes Mo dalam acara talk show di BUILD Series New York. Foto: Naratama

Kalau ada pertanyaan, siapakah musisi atau penyanyi Indonesia yang diprediksi akan mampu berkibar di industri musik Amerika tahun 2019?  Joey Alexander? Agnez Mo? Rich Brian? Anggun C Sasmi? atau siapa?

Kalau dikalkulasi berdasarkan popularitas lewat Billboard, iHeartradio,  iTunes hingga The Hype Magazine pada tahun 2018  maka penyanyi yang diperhitungkan akan terus eksis, adalah Agnez Mo!

Penyanyi, musisi, pencipta lagu dan artis kelahiran Jakarta, yang kini berjibaku membangun karir di belantika industri musik Paman Sam, antara Los Angeles dan New York.

Single Over Doze yang direlease Agnez featuring Chris Brown pada bulan Juli lalu mampu menembus peringkat musik Billboard ke 28 untuk kategori R&B/Hip-Hop.

Inilah pencapaian tertinggi dari artis Indonesia diperingkat musik Amerika. Artinya, Over Doze sudah popular dan wara-wiri di top charts radio-radio Hip-Hop Amerika, digital online musik hingga playlist listener songs lewat jalur-jalur Spotify, Google Play, iTunes, Pandora, SoundCloud dan  saluran musik radio internet, iHeartradio.

Popularitas Agnez membawanya menjadi salah satu cover majalah bergengsi Vogue US untuk bulan Maret 2018.

Para kritikus musik memuji kegigihan Agnez yang sebelumnya kurang sukses merelease Coke Bottle featuring Timbaland, di tahun 2014.

Agnez dianggap mampu bertahan dan membangun brand positioning dan mencuri perhatian, ditengah puluhan artis papan atas sekelas Dua Lippa, Iggy Azalea, Nicky Minaj dan Dej Loaf.

Ada juga kritikan yang menganggap keberhasilan Agnez Mo menjadi popular adalah sebuah strategi promosi media untuk mem”push” single terbaru dengan memviralkan, Agnez dihembus-hembuskan berpacaran dengan Chris Brown. “Is she really dating Chris?”, rumors yang bergaung di Hollywood.

Sementara website Hollywood Life, mengulas kalau mantan Chris Brown, penyanyi Rihanna cemburu melihat Chris terlihat berciuman dengan Agnez dalam video musik Over Doze. Gossip ini  merambat ke publik dan menjadi perbincangan di kalangan selebriti Hollywood.

Rumors Agnez Mo

Rumors Agnez sebagai pacar Chris, juga muncul di kalangan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika. Suatu kali, saya bertemu dengan seorang mahasiswa keturunan Indonesia di New York, yang bercerita kalau Agnez dan Chris Brown menjadi santapan gosip di kedai-kedai kopi.

Obrolan berlanjut, “who is Agnez Mo?” sambil browsing sana-sini, dan jawaban Wikipedia google adalah “Agnes Monica Muljoto (born 1 July 1986), known professionally as Agnez Mo, is an Indonesian singer, songwriter and actress”.

Lalu bagaimanakah efek Agnez Mo terhadap perkembangan musik Indonesia di blantika industri musik Amerika, negeri barometer percaturan musik dunia? Apakah akan berpengaruh terhadap promosi Indonesia (meminjam bahasa birokrasi)? Apakah akan berdampak kepada kemajuan ekonomi kreatif Indonesia (meminjam bahasa birokrasi lagi)?

Semua jargon-jargon pertanyaan ini selalu datang dari berbagai sisi kepentingan. Entah kepentingan promosi pariwisata, entah kepentingan politik, ekonomi atau kepentingan kebudayaan.

November 2017, The Build Series . Sebuah talk show kreatif yang ditayangkan melalui online streaming, mengundang Agnez Mo sebagai bintang tamu. Ini cukup mengejutkan, karena hanya orang-orang super kreatif dalam bidang seni, musik, film, teknologi, digital, televisi dan fashion yang diundang dalam talk show ini.

Beberapa nama yang pernah menjadi tamu adalah penyanyi legenda Cyndi Lauper, aktris Hailee Steinfeld, Amy Adams, Natalie Portman dan aktor William Dafoe.

Ditengah cuaca super dingin, minus celcius dan hujan rintik, pukul 6 sore, dengan modal payung kecil, saya datang ke studio Build Series yang berdekatan dengan kampus New York University.

Studio itu tidak terlalu besar, hanya mampu menampung 50 penonton studio. Kru, peralatan produksi, kamera, lighting, audio, semuanya biasa saja. Sama dengan standard studio  yang ada di berbagai stasiun televisi Jakarta.

Tapi visualisasi menjadi cantik, dengan artistik dan background kaca suasana jalanan kota New York yang padat,  macet dan gedung-gedung tinggi. Puluhan media Paparazzi juga terlihat menunggu di luar studio, mencoba keberuntungan untuk wawancara ala door stop saat Agnez keluar studio.

Talk show Agnez Mo berjalan dengan asik, non-formal dan santai. Agnez menjawab setiap pertanyaan dengan ringan dan penuh canda. Tiba-tiba, muncul pertanyaan dari tamu yang hadir “Apakah Agnez akan membawa unsur (seni) Indonesia dalam karya dan penampilannya?”.

Jawaban Agnez sangat lugas, “Saya ingin orang mengenal karya saya dan saya sebagai Agnez Mo. Kalau mereka sudah kenal, mereka akan mencari tahu siapa saya, saya asal Indonesia”. Sebuah jawaban yang cukup masuk logika, strategi Brand Positioning sudah tepat dan jitu.

Agnez tidak sendirian. Tanpa harus berbenturan dengan birokrasi dan jargon-jargon promosi Indonesia yang digembar-gemborkan oleh pemerintah, sejumlah musisi Indonesia sudah mengandalkan strategi Brand Positioning yang sama dengan Agnez.

Musik Independen

Sebut saja Joey Alexander, pianis jazz remaja yang mendunia, dan dibimbing oleh musisi Jazz Wynton Marsalis, atau Rich Brian yang mengguncang panggung hip-hop dan mendapat pujian dari penyanyi Pharell Williams.

Keduanya, mengedepankan karya personal tanpa harus terbebani kepentingan nusantara. Kepopuleran mereka secara tidak langsung, justru menaikkan pamor nama Indonesia ke panggung dunia.

Sementara itu, di tingkat musik independen, sepanjang sepuluh tahun terakhir,  bermunculan musisi-musisi Indonesia yang terus bergerilya membangun karya sesuai genre dan selera musik Amerika. simakDialog, band progresif Jazz yang dulu dimotori oleh pianis (Alm) Riza Arshad, mampu menembus pasar Amerika.

Album Demi Masa dan Patahan yang direlease oleh Moonjune Records, New York, disukai publik pecinta musik progresif fusion. Bahkan album ini sukses di Puerto Rico, mungkin karena simakDialog menggantikan pukulan drum dengan hentakan kendang Sunda, menjadikan musik simakDialog melawan arus  mainstream dengan menyatukan komposisi progresif berirama perkusi tradisional.

Pertunjukkan simakDialog di Baltimore, Maryland, di sebuah Gudang berkapasitas 250 orang, full house. Penonton rela duduk menikmati konser tunggal selama 2 jam! simakDialog juga diundang untuk wawancara di Radio Universitas Maryland.

Keberhasilan simakDialog tidak lepas dari telinga produser Moonjune Record, Leonardo Pavkovic. Leo, begitu panggilannya, begitu yakin bahwa musik simakDialog akan sukses di jalur industri musik progresif Amerika.

Kepekaan telinga Leo kemudian membawa Moonjune untuk merelease album -album musisi Indonesia lainnya seperti Budjana, Tohpati, Dwiki Dharmawan (Pasar Klewer) dan band progesif fusion asal Jogja, I know you well miss Clara.

Di jalur rock,  pada tahun 2009, Superman Is Dead (SID) pernah menggoyang Velvet Lounge, U Street, Washington DC. Klub Punk Rock yang berkapasitas seratus lima puluh orang ini penuh dengan fans warga Amerika.

SID yang mempunyai komposisi lagu berbahasa Indonesia dan Inggris, mampu menyihir penonton menari headbang  di atas lagu Kuta Rock City. Di tahun-tahun berikutnya, penampilan SID ini diikuti oleh penampilan Diskus, Gugun Blues Shelter, White Shoes, Budjana, Dwiki Dharmawan, Balawan, Saykoji, Heidi Yunus, Netta KD, Speker First dan Jogja Hip Hop.

Sementara itu, Noah band tampil memukau dipanggung outdoor stage  Silver Spring Maryland, dalam festival tahunan Made In Indonesia dengan penonton sekitar dua ribu penonton.

Presenter dan penyanyi country Tantowi Yahya, yang saat ini menjadi dubes Selandia Baru, juga pernah tampil memukau di hadapan sekitar tiga ratus penonton dan fans musik country, di jantung kota musik country dunia, Nashville, Tennessee. Tantowi diundang  khusus untuk tampil dalam ajang Country Music Awards, ajang penghargaan musik country terbesar di Amerika.

Single Kolaborasi

Di panggung rekaman, Krisdayanti mencoba menembus pasar dengan rekaman langsung di studio NRG, Hollywood, LA. Studio rekaman ini sangat popular dan menjadi langganan para musisi dunia seperti Bon Jovi, penyanyi Celine Dion, Miley Cyrus dan band rock, Foo Fighters.

Krisdayanti meluncurkan single Sleep To Dream, ciptaan Mateo Camargo yang sering menciptakan lagu untuk Shakira. Lagu bergenre pop dance ini sempat diputar dibeberapa radio di LA, namun belum menembus peringkat Billboard.

Pada musim gugur tahun lalu, Hendra Ganarto  musisi perkusi dari group DuoPercussion Indonesia meluncurkan single kolaborasi rekaman dengan Sandflower, penyanyi hip-hop asal New York.

Single kolaborasi berjudul Oceans ini diaransemen oleh produser musik David Sisko yang pernah menggarap remix penyanyi Justin Timberlake dan Julian Lennon.

Kolaborasi musisi dua negara ini digagas oleh Maya Naratama, produser Acha Productions di New York City, yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi musisi Indonesia untuk menembus pasar Amerika.

Setelah proses rekaman selama enam bulan, Oceans diluncurkan lewat jalur Spotify, SoundCloud, Google Play dan digital musik lainnya. Maya kemudian membawa Sandflower bersama DuoPercussion tampil di ajang Internasional Indie Music Festival di Jakarta pada akhir September tahun lalu.

Di panggung penonton Diaspora Indonesia, cukup banyak musisi dan penyanyi Indonesia yang pernah tampil.  Sebut saja Atiek CB  yang kini bermukim di Delaware, Judika, Anang, Elfa’s Singers, Syaharani, J-Flo, Ermy Kulit, Nia Daniati, Saykoji dsb. Umumnya mereka tampil di berbagai acara perayaan 17 Agustus atau kegiatan Diaspora di Los Angeles, Seattle, Chicago, Washington D.C., Philadelphia dan New York.

Penonton terbanyak, tentu saja warga diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika. Umumnya para artis ini hadir dengan dukungan dari lembaga pemerintah atau kementrian sebagai sponsor.

Potensi Dangdut Masuk Amerika

Bagaimana dengan musik Dangdut? Hingga hari ini, belum ada satupun penyanyi dangdut Indonesia yang benar-benar mampu menembus pasar musik Amerika. Cengkokan suara melayu dan lantunan suling bambu khas dangdut, hanya menjadi kajian kampus-kampus jurusan seni musik, budaya dan antropologi.

Penyanyi Thomas Djorghi, Cita Citata, Ike Nurjanah dan Dorce, beberapa kali tampil, namun kehadiran mereka masih menjadi pengobat rindu para diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika.

Belum ada satupun penyanyi dangdut yang mampu menerobos pasar musik LA maupun NY. Sementara proyek Dangdut In America, yang dimotori oleh Rissa Asnan bekerjasama dengan TVRI, mencoba mencari penyanyi dangdut orang Amerika di kota Wilmington, Delaware. Proyek ini masih terus bergerilya menembus celah diantara dominasi musik hip-hop, blues dan country.

Padahal sejak tahun 1991, lagu karya bang H.Rhoma Irama, Begadang 2, sudah masuk dalam album kompilasi Smithsonian Folkways Recordings  (SFR) di Washington DC. Bahkan publik bisa mendengar langsung lagu-lagu karya Rhoma lainnya seperti Begadang 2Sahabat, Qur’an dan Koran, dan Sengaja (dinyanyikan Elvy Sukaesih) lewat laman digital musik SFR. Tidak tanggung-tanggung, foto ikon Rhoma Irama Satria Bergitar dijadikan cover album kompilasi ini.

Artinya, dangdut mempunyai potensi untuk masuk dalam peta industri musik Amerika, asalkan muncul dari arus bawah, mengerti pasar dan tidak dipaksakan dengan jargon-jargon birokrasi.

Efek Rumah Kaca di SXSW Austin Texas. Foto: Naratama.

Sementara itu di panggung Festival SXSW 2018, Maret lalu, Efek Rumah Kaca (ERK) dan Kimokal mengejutkan publik musik milenial yang datang dari berbagai penjuru dunia. Suara tenor vokalis ERK, Cholil dengan komposisi semi progresif rock, mampu menyihir seratus lima puluh tamu yang hadir di bar Esther’s Follies kota Austin, Texas.

Walau ERK tampil dengan karya repertoar panjang lewat lagu Merah (13 menit), Biru (7 menit) dan Putih (10 menit), mereka berhasil mengajak pengunjung untuk Sanding Dance di depan panggung.

Hari berikutnya, di panggung Russian House, masih di kota Austin, giliran duo elektronik pop Kimokal tampil dengan sukses. Vokalis Kallula Harsynta Esterlita yang membawakan lagu dengan gaya Repetitive Singing berhasil memikat dua ratus lima puluh pengunjung bergoyang sejak beat pertama dimainkan.

Sementara aransemen musik Kimokal memadukan sejumlah genre dari nu wave, techno dance, electronic pop, hingga sync popStanding ovation dan tepuk tangan panjang, menggema di dua lagu terakhir, Kimokalyo dan One.

Lewat Jalur Digital

Tahun 2019 ini, tiga musisi Indonesia, Joey Alexander, Rich Brian dan Agnez Mo masih akan terus berkiprah di industri musik Amerika. Jadwal tour Joey Alexander sudah fully booked  dari Januari hingga bulan Juni 2019.

Bahkan Joey, dijadwalkan untuk tampil di klub jazz paling bergensi, Blue Note, Manhattan, New York. Klub ini hanya memberikan gigs untuk musisi-musisi jazz papan atas seperti Bob James, Dave Grussin, Stanley Clark dan pemain trumpet Chris Botti.

Sementara Rich Brian dan Agnez Mo, selain tampil di berbagai gigs, mereka  akan tetap menjadi media darling, sehingga eksistensi musik tetap akan terjaga, terutama dalam media-media digital.

Ada juga Anggun C Sasmi, yang masuk ke Amerika lewat peluncuran album di Perancis dan Kanada. Hal yang sama dilakukan Ras Muhammad, penyanyi Reggae Indonesia yang memulai kiprahnya dari negeri pusat Reggae, Jamaica.

Ras cukup dikenal di kalangan para fans Reggae di New York dan Brooklyn. Konser-konser tunggal Ras di café-cafe dan klub-klub reggae selalu penuh dengan para fans.

Disisi lain, sejumlah musisi Indie Indonesia akan terus bangkit dan menerobos pasar musik Amerika lewat jalur-jalur musik digital Independen. Setelah tahun lalu sukses dengan tour Amerika, gitaris Metal, Garnaraditya yang juga vokalis dari band Metal AK//47, akan terus berkiprah di pasar musik cadas Amerika.

Garna, musisi asal Semarang yang kini bermukin di California ini, juga dikenal sebagai Videomaker unggul dan mempunyai banyak klien. AK//47 sudah mempunyai fans base yang kuat di berbagai kota West dan East Coast.

Selain AK//47, musisi Monarki Band yang bergenre alternative rock Indonesia ini, tanpa publisitas, ternyata lagu-lagu mereka telah diputar di 365 jaringan radio Amerika, termasuk WDNY dan RockRage  Radio di Cleveland, Ohio.

Monarki sedang mencari kesempatan untuk bisa tampil di Amerika tahun ini. Penyanyi Irma June, penyanyi yang dua tahun lalu meluncurkan album di Jakarta dan sekarang bermukim di Seattle, Washington, sedang mempersiapkan diri untuk meniti karir di Amerika.

Juga Maharasyi, penyanyi berdarah Indonesia yang sempat masuk babak kedua program reality televisi The VOICE, kabarnya juga sedang menyiapkan album di tahun 2019 ini.

Menembus pasar musik Amerika, memang menjadi idola para musisi diseluruh belahan dunia. Jadi, sangatlah wajar bila insan musik Indonesia terus berusaha untuk dapat masuk ke panggung musik Los Angeles, Chicago atau New York.

Amerika menjadi idola, dan dianggap sebagai puncak keberhasilan berkesenian seni musik tingkat dunia, dengan harapan “bila sukses di Amerika, maka akan sukses di dunia”.

Ini sudah dibuktikan, lewat Joey, Rich, Agnez Mo dan Anggun yang sekarang cukup popular di seluruh dunia. Mereka berhasil menunjukkan bahwa musik dan musisi Indonesia bisa dan mampu berbicara di pasar Amerika.

Agenda Pemerintah Tidak Sejalan

Dalam kiprah perjalanan musik Indonesia di Amerika selama 10 tahun terakhir, sudah cukup banyak celah dan kesempatan dibangun lewat gerilya para musisi independen Indonesia. Mereka berjibaku menembus pasar musik dengan kemampuan independen. Hadirnya musik digital semakin membuka akses distribusi, promosi dan jaringan musik.

Sayangnya, para musisi ini seringkali harus kesulitan memproduksi musik dengan kualitas sound dunia, membangun jaringan dan branding karena kesulitan mendapatkan dana atau sponsor baik dari pihak swasta maupun pemerintah.

Disisi lain, Lembaga pemerintah yang berurusan dengan promosi seni, budaya, ekonomi kreatif dan pariwisata mempunyai agenda tersendiri untuk mendukung seni musik di luar negeri. Agenda ini seringkali tidak sejalan dengan gerilyawan musisi Indonesia yang lebih mengedepankan independensi berkesenian, daripada mengutamakan jargon-jargon promosi Indonesia.

Kalau sudah begini, let’s hope and pray. Semoga Efek Rumah Kaca, AK//47, Monarki Band, Speaker First, Kimokal, Jogja Hip-hop, I Know you Well Miss Clara, Ras Muhammad, Speaker First dan puluhan musisi Indonesia tetap semangat untuk terus memajukan musik Indonesia dibelahan negeri Paman Sam.

Naratama, Produser TV dan Pengamat Musik, New York.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Single Di rumah Aja, Jangan Mudik Dulu, Menggunakan 25 Bahasa Daerah

Published

on

By

Kabarhiburan.com. Gencarnya pemerintah “kampanyekan” larangan mudik lebaran di tahun 1442 H ini menjadi salah satu sumber inspirasi bagi Duo Liolane —- diawaki oleh Adam Lanang Eldoryz, Tisyana Liotta Rizlich menciptakan single, Di rumah Aja, Jangan Mudik Dulu.

Momentum yang pas, saat covid 19 belum reda, Duo Liolane ini menyuarakan single tersebut dalam 25 bahasa daerah. Sasaran yang akan di capai , pastinya, agar masyarakat yang merayakan Idul Fitri, mau dan ingin menunda perjalanan mudik hingga Covid 19 berakhir.

Dalam pandangan Bona Paputungan yang dipercaya memegang posisi MD dan ANR di label 13 Nadi Musik, diyakini mampu mendongkrak kemunculannya. Baik itu bagi nama label rekaman itu sendiri, mau pun nama Duo Liolane yang mengusung single bertajuk Di Rumah Aja, Jangan Mudik Dulu

Lewat lagu yang diproduksi 13 Nadi Musik ini, lanjut Bona Paputungan diharapkan bisa berperan sebagai seruan dan sekaligus menjadikan semangat agar Di Rumah Aja Jangan mudik dulu,” terang Bona Paputungan seraya mempertegas rilisnya, Selasa (11/5/2021).

Lebih lanjut pria seniman nyentrik yang asal kelahiran Gorontalo, khusus debut single dari duo Liolane dan label 13 Nadi Musik merupakan sebuah karya yang unik. Pasalnya, bukan perkara yang mudah, bikin satu kalimat lirik menggunakan 25 bahasa yang dilantunkan dengan musik yang enerjik.

Kendati demikian, jelas Bona, ia pun mahfum dan menyadari, sebuah karya fenomenal boleh jadi akan sia-sia belaka. Oleh karena itu, ia butuh support dari semua pihak, baik dari penikmat musik, penggagas karya mau pun kritisi musik di tanah air.

“Jujur, melalui lagu ini, kami dedikasikan terhadap kebijakan Pemerintah. Di mana bisa menjadi seruan bersama, tak perlu mudik. Nah, perasan kesal dapat tergantikan dengan menikmati lagu atau single ini,” tutup Bona Paputungan seraya menyebut apa yang dilakukan tak ingin sekadar menjadi peramai dikancah industri musik tanah air, lebih jauh dari pada itu, ingin mengukir tinta emas di platform era digital teknologi ini ( Zar/KH)

Continue Reading

Musik

Duet Meldha (Jawa Barat) dan Selfi LIDA Tuai Pujian dari Seluruh Juri

Published

on

By

Meldha (Jawa Barat)

Kabarhiburan.com – Kompetisi LIDA 2021 resmi memasuki babak Top 28 sejak Jumat (7/5) silam. Seperti namanya, Top 28, menyisakan 28 Duta dangdut terbaik dari 21 provinsi, masih akan memperebutkan hadiah total Rp 1 Miliar rupiah.

Jadilah babak Top 28 menjadi pertarungan sengit yang kian menarik untuk disaksikan. Pasalnya, setiap duta diwajibkan berduet  dengan Bintang Indosiar, dihadapan Dewan Juri gabungan Juri tim Merah dan Juri tim Putih.

Suasana baru tersebut langsung menyengat Nisa (Bengkulu). Ia tersenggol pada Konser LIDA 2021 Top 28 Grup 1, Jumat (7/5), disusul Sonang (Riau) tersingkir di Konser Top 28 Grup 2, Sabtu (8/9).

Sementara pada Konser Top 28 Grup 3 yang berlangsung Minggu (9/5), menghadirkan Jihan (DKI Jakarta), Faisal (Kalimantan Tengah), Meldha (Jawa Barat), dan Eki (Kepulauan Bangka Belitung).

Kompetisi dibuka oleh penampilan duet Jihan (DKI Jakarta) dan Randa LIDA, menyanyikan lagu Yang Tersayang. Namun sayang, duet itu tidak berbuah standing ovation yang diinginkan.

Dewan Juri beralasan bahwa romantisnya nanggung dan tidak dibarengi interaksi dari mereka kepada Dewan Juri sebagai penonton.

“Meski dari segi vokal, Jihan sudah mengalami peningkatan yang baik. Hanya saja, masih belum  menunjukkan semua kelebihannya. Harusnya lebih luwes lagi,” pinta Reza DA.

Di belakang Jihan, ada Meldha (Jawa Barat) yang berduet dengan sang jawara LIDA 2018, Selfi LIDA. Keduanya membawakan lagu Diam Bukan Tak Tahu. Meldha langsung meraih standing ovation dari kelima Dewan Juri Rita Sugiarto, Inul Daratista, Fildan DA, Reza DA dan Defrico Audy.

Duet Meldha (Jawa Barat dan Selfi LIDA

Sukses ini membuat Meldha mempertahankan keunggulannya atas 5 standing ovation pada babak Top 42. Pujian pun berdatangan, utamanya dari Rita Sugiarto.

“Keduanya memiliki suara yang sangat bagus, bikin saya bingung membedakan. Suara Meldha sangat berkarakter dan improvisasinya bagus sekali. Vokal Meldha masuk sekali dengan lagu ini,” puji Rita Sugiarto, yang dibenarkan Fildan DA.

Chemistry kalian terlihat padu. Improvisasi juga enak. Meldha mengalami peningkatan yang sangat luar biasa, membuktikan jiwa kamu memang dangdut sekali,” tutur Fildan DA.

Lagu Milikku dibawakan oleh duet Faisal (Kalimantan Tengah) dengan Gunawan LIDA, si Juara 2 LIDA 2020, enak didengar. Hasilnya, mampu menuai empat standing ovation dari empat Dewan Juri, kecuali Inul Daratista. Alasannya?

“Karena terdapat pembagian suara yang terkesan bertabrakan di beberapa bagian lagu,” kata Inul.

Sebaliknya, Rita Sugiarto justru menginginkan agar Faisal harus lebih spektakuler lagi. Kalian kompak sekali dan tadi enak sekali didengar. Saya sangat menikmati penampilan kalian,” katanya.

Faisal (Kalimantan Tengah) dan Gunawan LIDA

Konser Top 28 Grup 3 berakhir pada duet Eki (Kepulauan Bangka Belitung) dengan Nia LIDA, lewat lagu Jangan Tinggalkan Aku. Hanya saja, Eki tidak berhasil meraih standing ovation.

“Lagu ini mengingatkan pada masa perjuangan saya. Begitupun saat melihat penampilan kamu, saya tahu dari suara kamu yang bergetar itu. Kamu sangat grogi dan berdampak pada penampilan kamu, banyak kehilangan lirik lagu,” ujar Fildan DA.

Polling akhir menempatkan Faisal (Kalimantan Tengah) di posisi teratas, sekaligus berhak melaju ke babak Top 21.

Sementara Meldha (Jawa Barat) harus puas berada di posisi tiga terendah bersama Jihan (DKI Jakarta) dan Eki (Kepulauan Bangka Belitung). Dewan Juri sepakat untuk menyelamatkan Meldha (Jawa Barat) untuk melaju ke babak Top 21.

Perolehan polling Jihan (DKI Jakarta) yang unggul atas Eki (Kepulauan Bangka Belitung), sehingga Eki (Kepulauan Bangka Belitung) dinyatakan tersenggol dari panggung LIDA 2021.

Supaya Duta Provinsi kebanggan terus bertahan di panggung LIDA 2021, pemirsa dapat memberikan dukungan kepada Duta Provinsi favoritnya.

Caranya, kirimkan dukungan melalui aplikasi Shopee sebagai official voting partner LIDA 2021, atau kirim SMS ke 97288 dengan format: LIDA (spasi) Nama Duta dengan tarif Rp 2.200 per sms. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

‘Pesan Cinta’, Untuk Saling Menghargai Perbedaan dari Rieka Roslan dan Popsicle

Published

on

By

Grup vocal Popsicle

Kabarhiburan.com – Penyanyi Rieka Roslan gandeng anak asuhnya di ajang Pop Academy Indosiar 2020, kini tergabung dalam grup vocal Popsicle meluncurkan lagu terbarunya berjudul Pesan Cinta.

Lagu ini mengusung pesan agar generasi muda menghargai perbedaan dan bertoleransi antar sesama. Semua menyadari bahwa perbedaan itu indah dan harus bisa mempersatukan sebagai bangsa.

Anggota Popsicle semua perempuan, terdiri Martha Fakdawer, Maria Puspita, Tasya Ivanka, Inara Detry dan Tabita Roselin. Mereka berasal dari latar belakang, suku dan agama yang berbeda-beda. Ada dari Papua, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jakarta dan Sulawesi Utara.

“Pesan Cinta diluncurkan pada 21 April 2021, bertepatan dengan Hari Kartini. Ingin membawa semangat Kartini dan semua pejuang perempuan, dengan semangatnya memberikan pesan positif untuk Indonesia melalui lagu ini,” ujar Rieka.

“Indonesia memiliki anak bangsa yang bertalenta dalam budaya sebagai aset bangsa ini. Keberagaman ini harus terus dipupuk, agar lebih mencintai bangsa dan tanah airnya. Sekaligus memahami perbedaan di dalamnya, mulai dari suku, agama dan adat istiadat,” katanya.

Seluruh proses produksi pembuatan Pesan Cinta dikerjakan oleh Halaman Musik, suatu komunitas bentukan Rieka Roslan dan Angga Saleh, bertujuan mewadahi dan memfasilitasi musisi dan seniman Indonesia untuk dapat berkarya di pentas Nasional.

Selama pandemi berlangsung, Halaman Musik melakukan kegiatan sosial bersama seluruh insan musik dari berbagai usia dan lintas genre. Kemudian menjadi komunitas dan berkarya yang bisa menjadi seruan atau pesan baik, untuk memberikan motivasi yang positif pada generasi muda.

Bagi Rieka, lagu adalah cara mudah untuk memberikan pesan kepada generasi muda, agar mereka memahami bahwa berbeda itu indah.

“Untuk itu, saya menciptakan lagu ini dan saya nyanyikan bersama dengan 5 anak millenials yang merupakan anak didik saya,” kata Rieka.

Tidak akan berhenti disini, Halaman Musik akan terus berkarya dan memberikan wadah bagi talenta-talenta baru, agar karya mereka dapat dinikmati oleh pencinta musik Tanah Air. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending