Connect with us

Musik

Refleksi Musik Indonesia di Negeri Paman Sam

Published

on

Agnes Mo dalam acara talk show di BUILD Series New York. Foto: Naratama

Kalau ada pertanyaan, siapakah musisi atau penyanyi Indonesia yang diprediksi akan mampu berkibar di industri musik Amerika tahun 2019?  Joey Alexander? Agnez Mo? Rich Brian? Anggun C Sasmi? atau siapa?

Kalau dikalkulasi berdasarkan popularitas lewat Billboard, iHeartradio,  iTunes hingga The Hype Magazine pada tahun 2018  maka penyanyi yang diperhitungkan akan terus eksis, adalah Agnez Mo!

Penyanyi, musisi, pencipta lagu dan artis kelahiran Jakarta, yang kini berjibaku membangun karir di belantika industri musik Paman Sam, antara Los Angeles dan New York.

Single Over Doze yang direlease Agnez featuring Chris Brown pada bulan Juli lalu mampu menembus peringkat musik Billboard ke 28 untuk kategori R&B/Hip-Hop.

Inilah pencapaian tertinggi dari artis Indonesia diperingkat musik Amerika. Artinya, Over Doze sudah popular dan wara-wiri di top charts radio-radio Hip-Hop Amerika, digital online musik hingga playlist listener songs lewat jalur-jalur Spotify, Google Play, iTunes, Pandora, SoundCloud dan  saluran musik radio internet, iHeartradio.

Popularitas Agnez membawanya menjadi salah satu cover majalah bergengsi Vogue US untuk bulan Maret 2018.

Para kritikus musik memuji kegigihan Agnez yang sebelumnya kurang sukses merelease Coke Bottle featuring Timbaland, di tahun 2014.

Agnez dianggap mampu bertahan dan membangun brand positioning dan mencuri perhatian, ditengah puluhan artis papan atas sekelas Dua Lippa, Iggy Azalea, Nicky Minaj dan Dej Loaf.

Ada juga kritikan yang menganggap keberhasilan Agnez Mo menjadi popular adalah sebuah strategi promosi media untuk mem”push” single terbaru dengan memviralkan, Agnez dihembus-hembuskan berpacaran dengan Chris Brown. “Is she really dating Chris?”, rumors yang bergaung di Hollywood.

Sementara website Hollywood Life, mengulas kalau mantan Chris Brown, penyanyi Rihanna cemburu melihat Chris terlihat berciuman dengan Agnez dalam video musik Over Doze. Gossip ini  merambat ke publik dan menjadi perbincangan di kalangan selebriti Hollywood.

Rumors Agnez Mo

Rumors Agnez sebagai pacar Chris, juga muncul di kalangan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika. Suatu kali, saya bertemu dengan seorang mahasiswa keturunan Indonesia di New York, yang bercerita kalau Agnez dan Chris Brown menjadi santapan gosip di kedai-kedai kopi.

Obrolan berlanjut, “who is Agnez Mo?” sambil browsing sana-sini, dan jawaban Wikipedia google adalah “Agnes Monica Muljoto (born 1 July 1986), known professionally as Agnez Mo, is an Indonesian singer, songwriter and actress”.

Lalu bagaimanakah efek Agnez Mo terhadap perkembangan musik Indonesia di blantika industri musik Amerika, negeri barometer percaturan musik dunia? Apakah akan berpengaruh terhadap promosi Indonesia (meminjam bahasa birokrasi)? Apakah akan berdampak kepada kemajuan ekonomi kreatif Indonesia (meminjam bahasa birokrasi lagi)?

Semua jargon-jargon pertanyaan ini selalu datang dari berbagai sisi kepentingan. Entah kepentingan promosi pariwisata, entah kepentingan politik, ekonomi atau kepentingan kebudayaan.

November 2017, The Build Series . Sebuah talk show kreatif yang ditayangkan melalui online streaming, mengundang Agnez Mo sebagai bintang tamu. Ini cukup mengejutkan, karena hanya orang-orang super kreatif dalam bidang seni, musik, film, teknologi, digital, televisi dan fashion yang diundang dalam talk show ini.

Beberapa nama yang pernah menjadi tamu adalah penyanyi legenda Cyndi Lauper, aktris Hailee Steinfeld, Amy Adams, Natalie Portman dan aktor William Dafoe.

Ditengah cuaca super dingin, minus celcius dan hujan rintik, pukul 6 sore, dengan modal payung kecil, saya datang ke studio Build Series yang berdekatan dengan kampus New York University.

Studio itu tidak terlalu besar, hanya mampu menampung 50 penonton studio. Kru, peralatan produksi, kamera, lighting, audio, semuanya biasa saja. Sama dengan standard studio  yang ada di berbagai stasiun televisi Jakarta.

Tapi visualisasi menjadi cantik, dengan artistik dan background kaca suasana jalanan kota New York yang padat,  macet dan gedung-gedung tinggi. Puluhan media Paparazzi juga terlihat menunggu di luar studio, mencoba keberuntungan untuk wawancara ala door stop saat Agnez keluar studio.

Talk show Agnez Mo berjalan dengan asik, non-formal dan santai. Agnez menjawab setiap pertanyaan dengan ringan dan penuh canda. Tiba-tiba, muncul pertanyaan dari tamu yang hadir “Apakah Agnez akan membawa unsur (seni) Indonesia dalam karya dan penampilannya?”.

Jawaban Agnez sangat lugas, “Saya ingin orang mengenal karya saya dan saya sebagai Agnez Mo. Kalau mereka sudah kenal, mereka akan mencari tahu siapa saya, saya asal Indonesia”. Sebuah jawaban yang cukup masuk logika, strategi Brand Positioning sudah tepat dan jitu.

Agnez tidak sendirian. Tanpa harus berbenturan dengan birokrasi dan jargon-jargon promosi Indonesia yang digembar-gemborkan oleh pemerintah, sejumlah musisi Indonesia sudah mengandalkan strategi Brand Positioning yang sama dengan Agnez.

Musik Independen

Sebut saja Joey Alexander, pianis jazz remaja yang mendunia, dan dibimbing oleh musisi Jazz Wynton Marsalis, atau Rich Brian yang mengguncang panggung hip-hop dan mendapat pujian dari penyanyi Pharell Williams.

Keduanya, mengedepankan karya personal tanpa harus terbebani kepentingan nusantara. Kepopuleran mereka secara tidak langsung, justru menaikkan pamor nama Indonesia ke panggung dunia.

Sementara itu, di tingkat musik independen, sepanjang sepuluh tahun terakhir,  bermunculan musisi-musisi Indonesia yang terus bergerilya membangun karya sesuai genre dan selera musik Amerika. simakDialog, band progresif Jazz yang dulu dimotori oleh pianis (Alm) Riza Arshad, mampu menembus pasar Amerika.

Album Demi Masa dan Patahan yang direlease oleh Moonjune Records, New York, disukai publik pecinta musik progresif fusion. Bahkan album ini sukses di Puerto Rico, mungkin karena simakDialog menggantikan pukulan drum dengan hentakan kendang Sunda, menjadikan musik simakDialog melawan arus  mainstream dengan menyatukan komposisi progresif berirama perkusi tradisional.

Pertunjukkan simakDialog di Baltimore, Maryland, di sebuah Gudang berkapasitas 250 orang, full house. Penonton rela duduk menikmati konser tunggal selama 2 jam! simakDialog juga diundang untuk wawancara di Radio Universitas Maryland.

Keberhasilan simakDialog tidak lepas dari telinga produser Moonjune Record, Leonardo Pavkovic. Leo, begitu panggilannya, begitu yakin bahwa musik simakDialog akan sukses di jalur industri musik progresif Amerika.

Kepekaan telinga Leo kemudian membawa Moonjune untuk merelease album -album musisi Indonesia lainnya seperti Budjana, Tohpati, Dwiki Dharmawan (Pasar Klewer) dan band progesif fusion asal Jogja, I know you well miss Clara.

Di jalur rock,  pada tahun 2009, Superman Is Dead (SID) pernah menggoyang Velvet Lounge, U Street, Washington DC. Klub Punk Rock yang berkapasitas seratus lima puluh orang ini penuh dengan fans warga Amerika.

SID yang mempunyai komposisi lagu berbahasa Indonesia dan Inggris, mampu menyihir penonton menari headbang  di atas lagu Kuta Rock City. Di tahun-tahun berikutnya, penampilan SID ini diikuti oleh penampilan Diskus, Gugun Blues Shelter, White Shoes, Budjana, Dwiki Dharmawan, Balawan, Saykoji, Heidi Yunus, Netta KD, Speker First dan Jogja Hip Hop.

Sementara itu, Noah band tampil memukau dipanggung outdoor stage  Silver Spring Maryland, dalam festival tahunan Made In Indonesia dengan penonton sekitar dua ribu penonton.

Presenter dan penyanyi country Tantowi Yahya, yang saat ini menjadi dubes Selandia Baru, juga pernah tampil memukau di hadapan sekitar tiga ratus penonton dan fans musik country, di jantung kota musik country dunia, Nashville, Tennessee. Tantowi diundang  khusus untuk tampil dalam ajang Country Music Awards, ajang penghargaan musik country terbesar di Amerika.

Single Kolaborasi

Di panggung rekaman, Krisdayanti mencoba menembus pasar dengan rekaman langsung di studio NRG, Hollywood, LA. Studio rekaman ini sangat popular dan menjadi langganan para musisi dunia seperti Bon Jovi, penyanyi Celine Dion, Miley Cyrus dan band rock, Foo Fighters.

Krisdayanti meluncurkan single Sleep To Dream, ciptaan Mateo Camargo yang sering menciptakan lagu untuk Shakira. Lagu bergenre pop dance ini sempat diputar dibeberapa radio di LA, namun belum menembus peringkat Billboard.

Pada musim gugur tahun lalu, Hendra Ganarto  musisi perkusi dari group DuoPercussion Indonesia meluncurkan single kolaborasi rekaman dengan Sandflower, penyanyi hip-hop asal New York.

Single kolaborasi berjudul Oceans ini diaransemen oleh produser musik David Sisko yang pernah menggarap remix penyanyi Justin Timberlake dan Julian Lennon.

Kolaborasi musisi dua negara ini digagas oleh Maya Naratama, produser Acha Productions di New York City, yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi musisi Indonesia untuk menembus pasar Amerika.

Setelah proses rekaman selama enam bulan, Oceans diluncurkan lewat jalur Spotify, SoundCloud, Google Play dan digital musik lainnya. Maya kemudian membawa Sandflower bersama DuoPercussion tampil di ajang Internasional Indie Music Festival di Jakarta pada akhir September tahun lalu.

Di panggung penonton Diaspora Indonesia, cukup banyak musisi dan penyanyi Indonesia yang pernah tampil.  Sebut saja Atiek CB  yang kini bermukim di Delaware, Judika, Anang, Elfa’s Singers, Syaharani, J-Flo, Ermy Kulit, Nia Daniati, Saykoji dsb. Umumnya mereka tampil di berbagai acara perayaan 17 Agustus atau kegiatan Diaspora di Los Angeles, Seattle, Chicago, Washington D.C., Philadelphia dan New York.

Penonton terbanyak, tentu saja warga diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika. Umumnya para artis ini hadir dengan dukungan dari lembaga pemerintah atau kementrian sebagai sponsor.

Potensi Dangdut Masuk Amerika

Bagaimana dengan musik Dangdut? Hingga hari ini, belum ada satupun penyanyi dangdut Indonesia yang benar-benar mampu menembus pasar musik Amerika. Cengkokan suara melayu dan lantunan suling bambu khas dangdut, hanya menjadi kajian kampus-kampus jurusan seni musik, budaya dan antropologi.

Penyanyi Thomas Djorghi, Cita Citata, Ike Nurjanah dan Dorce, beberapa kali tampil, namun kehadiran mereka masih menjadi pengobat rindu para diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika.

Belum ada satupun penyanyi dangdut yang mampu menerobos pasar musik LA maupun NY. Sementara proyek Dangdut In America, yang dimotori oleh Rissa Asnan bekerjasama dengan TVRI, mencoba mencari penyanyi dangdut orang Amerika di kota Wilmington, Delaware. Proyek ini masih terus bergerilya menembus celah diantara dominasi musik hip-hop, blues dan country.

Padahal sejak tahun 1991, lagu karya bang H.Rhoma Irama, Begadang 2, sudah masuk dalam album kompilasi Smithsonian Folkways Recordings  (SFR) di Washington DC. Bahkan publik bisa mendengar langsung lagu-lagu karya Rhoma lainnya seperti Begadang 2Sahabat, Qur’an dan Koran, dan Sengaja (dinyanyikan Elvy Sukaesih) lewat laman digital musik SFR. Tidak tanggung-tanggung, foto ikon Rhoma Irama Satria Bergitar dijadikan cover album kompilasi ini.

Artinya, dangdut mempunyai potensi untuk masuk dalam peta industri musik Amerika, asalkan muncul dari arus bawah, mengerti pasar dan tidak dipaksakan dengan jargon-jargon birokrasi.

Efek Rumah Kaca di SXSW Austin Texas. Foto: Naratama.

Sementara itu di panggung Festival SXSW 2018, Maret lalu, Efek Rumah Kaca (ERK) dan Kimokal mengejutkan publik musik milenial yang datang dari berbagai penjuru dunia. Suara tenor vokalis ERK, Cholil dengan komposisi semi progresif rock, mampu menyihir seratus lima puluh tamu yang hadir di bar Esther’s Follies kota Austin, Texas.

Walau ERK tampil dengan karya repertoar panjang lewat lagu Merah (13 menit), Biru (7 menit) dan Putih (10 menit), mereka berhasil mengajak pengunjung untuk Sanding Dance di depan panggung.

Hari berikutnya, di panggung Russian House, masih di kota Austin, giliran duo elektronik pop Kimokal tampil dengan sukses. Vokalis Kallula Harsynta Esterlita yang membawakan lagu dengan gaya Repetitive Singing berhasil memikat dua ratus lima puluh pengunjung bergoyang sejak beat pertama dimainkan.

Sementara aransemen musik Kimokal memadukan sejumlah genre dari nu wave, techno dance, electronic pop, hingga sync popStanding ovation dan tepuk tangan panjang, menggema di dua lagu terakhir, Kimokalyo dan One.

Lewat Jalur Digital

Tahun 2019 ini, tiga musisi Indonesia, Joey Alexander, Rich Brian dan Agnez Mo masih akan terus berkiprah di industri musik Amerika. Jadwal tour Joey Alexander sudah fully booked  dari Januari hingga bulan Juni 2019.

Bahkan Joey, dijadwalkan untuk tampil di klub jazz paling bergensi, Blue Note, Manhattan, New York. Klub ini hanya memberikan gigs untuk musisi-musisi jazz papan atas seperti Bob James, Dave Grussin, Stanley Clark dan pemain trumpet Chris Botti.

Sementara Rich Brian dan Agnez Mo, selain tampil di berbagai gigs, mereka  akan tetap menjadi media darling, sehingga eksistensi musik tetap akan terjaga, terutama dalam media-media digital.

Ada juga Anggun C Sasmi, yang masuk ke Amerika lewat peluncuran album di Perancis dan Kanada. Hal yang sama dilakukan Ras Muhammad, penyanyi Reggae Indonesia yang memulai kiprahnya dari negeri pusat Reggae, Jamaica.

Ras cukup dikenal di kalangan para fans Reggae di New York dan Brooklyn. Konser-konser tunggal Ras di café-cafe dan klub-klub reggae selalu penuh dengan para fans.

Disisi lain, sejumlah musisi Indie Indonesia akan terus bangkit dan menerobos pasar musik Amerika lewat jalur-jalur musik digital Independen. Setelah tahun lalu sukses dengan tour Amerika, gitaris Metal, Garnaraditya yang juga vokalis dari band Metal AK//47, akan terus berkiprah di pasar musik cadas Amerika.

Garna, musisi asal Semarang yang kini bermukin di California ini, juga dikenal sebagai Videomaker unggul dan mempunyai banyak klien. AK//47 sudah mempunyai fans base yang kuat di berbagai kota West dan East Coast.

Selain AK//47, musisi Monarki Band yang bergenre alternative rock Indonesia ini, tanpa publisitas, ternyata lagu-lagu mereka telah diputar di 365 jaringan radio Amerika, termasuk WDNY dan RockRage  Radio di Cleveland, Ohio.

Monarki sedang mencari kesempatan untuk bisa tampil di Amerika tahun ini. Penyanyi Irma June, penyanyi yang dua tahun lalu meluncurkan album di Jakarta dan sekarang bermukim di Seattle, Washington, sedang mempersiapkan diri untuk meniti karir di Amerika.

Juga Maharasyi, penyanyi berdarah Indonesia yang sempat masuk babak kedua program reality televisi The VOICE, kabarnya juga sedang menyiapkan album di tahun 2019 ini.

Menembus pasar musik Amerika, memang menjadi idola para musisi diseluruh belahan dunia. Jadi, sangatlah wajar bila insan musik Indonesia terus berusaha untuk dapat masuk ke panggung musik Los Angeles, Chicago atau New York.

Amerika menjadi idola, dan dianggap sebagai puncak keberhasilan berkesenian seni musik tingkat dunia, dengan harapan “bila sukses di Amerika, maka akan sukses di dunia”.

Ini sudah dibuktikan, lewat Joey, Rich, Agnez Mo dan Anggun yang sekarang cukup popular di seluruh dunia. Mereka berhasil menunjukkan bahwa musik dan musisi Indonesia bisa dan mampu berbicara di pasar Amerika.

Agenda Pemerintah Tidak Sejalan

Dalam kiprah perjalanan musik Indonesia di Amerika selama 10 tahun terakhir, sudah cukup banyak celah dan kesempatan dibangun lewat gerilya para musisi independen Indonesia. Mereka berjibaku menembus pasar musik dengan kemampuan independen. Hadirnya musik digital semakin membuka akses distribusi, promosi dan jaringan musik.

Sayangnya, para musisi ini seringkali harus kesulitan memproduksi musik dengan kualitas sound dunia, membangun jaringan dan branding karena kesulitan mendapatkan dana atau sponsor baik dari pihak swasta maupun pemerintah.

Disisi lain, Lembaga pemerintah yang berurusan dengan promosi seni, budaya, ekonomi kreatif dan pariwisata mempunyai agenda tersendiri untuk mendukung seni musik di luar negeri. Agenda ini seringkali tidak sejalan dengan gerilyawan musisi Indonesia yang lebih mengedepankan independensi berkesenian, daripada mengutamakan jargon-jargon promosi Indonesia.

Kalau sudah begini, let’s hope and pray. Semoga Efek Rumah Kaca, AK//47, Monarki Band, Speaker First, Kimokal, Jogja Hip-hop, I Know you Well Miss Clara, Ras Muhammad, Speaker First dan puluhan musisi Indonesia tetap semangat untuk terus memajukan musik Indonesia dibelahan negeri Paman Sam.

Naratama, Produser TV dan Pengamat Musik, New York.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Kehadiran Raja dan Ratu Dangdut Sempurnakan Babak Top 64 LIDA 2019

Published

on

By

Elvy Sukaesih Obati rindu pemirsa dengan suara merdunya.

Kabarhiburan.com, Jakarta – LIDA 2019 memasuki babak baru. Babak Top 48 mulai bergulir,  Senin (18/2) malam. Sebanyak 48 Duta sudah memastikan diri lolos ke babak Top 48 LIDA 2019. Bisa dipastikan persaingan pun akan semakin ketat, karena langkah untuk meraih gelar Juara LIDA 2019 juga semakin dekat.

Babak Top 48 Grup 1 dihuni oleh empat Duta. Mereka adalah Cut (Aceh), Dayat (Bali), Hijrah (Sulawesi Barat) dan Rian (Kalimantan Utara) akan bersaing lebih ketat lagi. Apalagi kemampuan vokal mereka  yang kian meningkat dan dewan juri akan semakin kritis menilai seluruh penampilan peserta.

Sebelumnya, dalam episode yang tayang di hari Jumat dan Sabtu lalu, menjadi kesempatan bagi Grup 15 dan 16 yang tampil di Konser LIDA 2019 Top 64.

Dari Grup 15, Provinsi Sulawesi Barat harus kehilangan salah satu dutanya yakni Odi. Tiga peserta lainnya memastikan diri untuk melaju ke babak Top 48 yakni Hafiza (Sulawesi Selatan), Aisyah (Jawa Barat), dan Iwan (Sumatera Barat).

Keesokan harinya, giliran Grup 16 tampil di Top 64 LIDA 2019 Grup 16, Sabtu (16/2). Grup 16 menjadi penutup babak Top 64 sengaja digarap istimewa oleh Indosiar, dengan menghadirkan Rhoma Irama dan Soneta Band, yang menyanyikan lagu-lagu dangdut penuh makna.

Rhoma Irama menyanyikan lagu terbarunya berjudul Akhlak.

Rhoma Irama menandai kehadirannya dengan menyanyikan lagu terbarunya berjudul Akhlak di panggung LIDA 2019. Selain, ia memberikan apresiasinya kepada salah satu Diva terbaik Tanah Air, Ruth Sahanaya yang hadir sebagai Juri Tamu Non Dangdut.

Selain kehadiran Rhoma Irama, babak penutup Top 64 juga diramaikan oleh kehadiran Ratu Dangdut, Elvy Sukaesih yang mengobati rasa rindu pemirsa dengan suara merdu khasnya.

Empat Duta yang bertarung di babak Top 64 dari Grup 16 adalah Sheyla (Maluku), Rolenzo (Sumatera Selatan), Beni (Banten), dan Rezha (Kepulauan Bangka Belitung).

Sheyla (Maluku) tidak menyia-nyiakan kesempatan pertama yang diberikan padanya. Ia langsung  mencuri seluruh perhatian Dewan Juri melalui lagu ciptaan Rita Sugiarto berjudul Bunga Pengantin.

Sheyla menyanyi dihadapan Rita Sugiarto yang menjadi Dewan Juri. “Kamu berhasil membawakan lagu karya saya dengan baik. Ekspresi kamu juga bagus dan saya bangga dengan penampilan kamu,” puji Rita.

Tidak mau kalah dari Sheyla yang mendapat lampu biru dari seluruh Dewan Juri.  Beni (Banten) dan Rezha (Kepualauan Bangka Belitung) juga meraih lampu biru dari kelima Dewan Juri sekaligus menuai banyak pujian.

Perolehan nilai akhir Top 64 Grup 16.

Berbeda dengan Rolenzo (Sumatera Selatan) yang menyanyikan lagu Kehilangan, justru tidak mampu menaklukan hati seorang pun Juri agar menekan tombol biru. Artinya, Rolenzo harus menghentikan perjuangannya di panggung LIDA 2019 setelah nilai perolehan akhir berada di posisi terbawah.

Konser LIDA 2019 Top 48 mulai bergulir, Senin (18/2) malam 19.00 WIB secara live dari Studio 5 Indosiar. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

Artis ‘BIGO Live’ Dapat Nama dan Karir Baru di Nagaswara

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Nur Selvi Oktavia tidak pernah membayangkan kalau bakat vokalnya akan mengubah nasibnya. Merintis jalan sebagai pengguna BIGO Live, Selvi akhirnya direkrut perusahaan label musik terkemuka, Nagaswara.

“Saya sangat bahagia, akhirnya saya bisa mewujudkan impian saya sedari kecil untuk menjadi penyanyi”, ucap Nur Selvy Oktavia yang kini dipanggil Selvy Gokuji, usai membawakan lagu terbarunya di depan ratusan pengunjung di Tamini Square, Jakarta Timur, Jumat (15/2).

Nama Selvy Gokuji adalah pemberian Rahayu Kertawiguna selaku CEO dan Founder Nagaswara Music and Publishing. Gokuji merupakan singkatan dari ‘Goyang Kuda Jingkrak’ yang menjadi goyangan khas Selvy ketika bernyanyi.

Dalam acara DanceDhut New Star5, Selvy Gokuji, meluncurkan single pertamanya yang berjudul Digigit Ular di Tamini Square, Jakarta, Jumat (15/2).

Lagu ini diciptakan oleh Yogi RPH, yang juga pencipta lagu fenomenal,  Lagi Syantik yang dinyanyikan oleh Siti Badriah.

Seperti judul acaranya, selain masih empat artis Nagaswara lainnya yang diperkenalkan di acara ini. Mereka adalah Global Tour Idol (G.I.T) yang merupakan boyband asal Korea Selatan, Mia Kania Permata Sari, Lebby Wilayati, dan 2TikTok.

Kini, Selvy menjadi salah satu artis Nagaswara,  setelah menyisihkan 2.500 peserta di ajang Bintang Biduan Bigo, yakni kompetisi adu bakat menyanyi dangdut yang diadakan Bigo Live pada Januari 2018 silam.

Menurut Rahayu Kertawiguna, bukanlah suatu kebetulan menemukan bakat langka dari artis Bigo Live ini.

“Berawal dari ajang pencarian bakat Bigo Live, Selvy merebut juara pertama. Kebetulan saya jadi jurinya waktu itu,” kenang Rahayu Kertawiguna.

“Memang kemunculan artis berbakat seperti Selvy boleh dibilang langka di blantika musik Tanah Air. Tentunya, Selvy telah siap bersaing. Selamat berkarya,” imbuhnya.

Setelah meluncurkan single pertamanya, kini saatnya Selvy bersiap untuk memenuhi jadwal promo yang padat. Apalagi, Selvy sudah merencanakan tetap live streaming di Bigo yang telah membesarkan namanya sampai saat ini bisa mewujudkan mimpinya.

“Saya akan tetap aktif di Bigo. Saya bisa seperti sekarang, semua karena konten dan even dari Bigo. Terlebih, Bigo bukanlah aplikasi live streaming biasa. Dulu saya hanya penyanyi kondangan, nyanyi dari panggung ke panggung kecil. Karena Bigo saya bisa jadi bagian dari Nagaswara. Bigo itu amazing banget,” puji Selvy. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto Istimewa)

Continue Reading

Musik

Kiki (Kepulauan Riau) Raih Nilai Tertinggi di Group 14

Published

on

By

Penghayatan Kiki saat membawakan lagu Cinta Berawan, membawanya meraih nilai tertinggi.

Kabarhiburan, Jakarta – Bersamaan dengan Hari Kasih Sayang, persaingan di atas panggung LIDA 2019 justru semakin memanas. Babak Top 64 yang menyisakan tiga grup, bersaing sengit merebut  tempat di babak Top 48.

Salah satunya Group 14 yang menghadirkan Abi (Jawa Tengah), Kiki (Kepulauan Riau), Novi (Kalimantan Barat), dan Delila (Papua Barat), Kamis (14/2).

Kolaborasi Nassar dengan Aulia DA yang membawakan lagu Kopi Susu yang dipilih,  menjadi pembuka Top 64 Grup 14 menjadi menarik.

Berlanjut dengan kehadiran Richie- Five Minutes yang menjadi Juri Tamu menemui Rita Sugiarto dan memberinya sekuntum mawar merah. Sungguh mengesankan.

Sekuntum mawar merah untuk Rita Sugiarto di Hari Kasih Sayang.

Abi (Jawa Tengah) merupakan Duta pertama membawakan sebuah lagu lawas berjudul Benang Biru. Abi hanya meraih 3 lampu biru dari Dewan Juri dan 4 dukungan dari Panel Provinsi.  Nassar menilai Abi masih sangat kurang dalam teknik cengkok, artikulasi dan penyampaian dalam sebuah lagu.

Sebaliknya Delila mampu meraih angka sempurna.  Duta asal Papua Barat ini berhasil mendapatkan 4 lampu biru dari Dewan Juri serta dukungan penuh dari Panel Provinsi lewat lagu Sekuntum Mawar Merah.

Zaskia Gotik sangat menyukai penampilan Delila, yang karakter suaranya sangat kuat serta ekspresi wajahnya tampak elegan.

Tidak mau ketinggalan, Kiki (Kepulauan Riau) mampu mengimbangi Delila lewat lagu Cinta Berawan”. Suara merduanya mendapatkan 4 lampu biru dari Dewan Juri dan 3 dukungan dari Panel Provinsi. Richie-Five Minute menilai penampilan Kiki sudah sangat sempurna.

Sukses Delila dan Kiki tidak mengampiri Novi. Saat menyanyikan Ku ingin, Duta asal Kalimantan Barat ini tidak mendapatkan satu pun lampu biru dari Dewan Juri serta 4 dukungan dari Panel Provinsi.

duet Nassar dan Aulia DA membawakan lagu Kopi Susu.

Meski sudah memberi penampilan terbaik di depan Dewan Juri dan Panel Provinsi, Abi (Jawa Tengah) harus rela tersenggol dari LIDA 2019. Ia hanya meraih 22.13 atau terrendah, meski sudah meraih tiga lampu biru dari Dewan Juri. Sementara Novi  yang tidak mendapat satupun lampu biru dari Dewan Juri, justru mendapat nilai lebih baik.

Dalam hal ini dukungan pemirsa memiliki porsi penilaian lebih besar atau 50 persen, sedangkan penilaian juri berada di bawah 40 persen.

Dengan demikian, Novi (Kalimantan Barat) yang meraih nilai 23.44 akan mengikuti jejak Kiki (Kepulauan Riau) 30.37 dan Delila (Papua Barat) 24.06 untuk melangkah maju ke babak Top 48.

LIDA 2019 akan berlanjut ke Konser Top 64 Group 15, Jumat (15/2). Menampilkan Aisyah (Jawa Barat),  Hafiza (Sulawesi Selatan),   Iwan (Sumatera Barat) dan  Odi (Sulawesi Barat).

Saksikan terus LIDA 2019 yang tayang live mulai pukul 19.00 WIB, di Indosiar. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto-foto Dok. Indosiar)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending