Connect with us

Musik

Refleksi Musik Indonesia di Negeri Paman Sam

Published

on

Agnes Mo dalam acara talk show di BUILD Series New York. Foto: Naratama

Kalau ada pertanyaan, siapakah musisi atau penyanyi Indonesia yang diprediksi akan mampu berkibar di industri musik Amerika tahun 2019?  Joey Alexander? Agnez Mo? Rich Brian? Anggun C Sasmi? atau siapa?

Kalau dikalkulasi berdasarkan popularitas lewat Billboard, iHeartradio,  iTunes hingga The Hype Magazine pada tahun 2018  maka penyanyi yang diperhitungkan akan terus eksis, adalah Agnez Mo!

Penyanyi, musisi, pencipta lagu dan artis kelahiran Jakarta, yang kini berjibaku membangun karir di belantika industri musik Paman Sam, antara Los Angeles dan New York.

Single Over Doze yang direlease Agnez featuring Chris Brown pada bulan Juli lalu mampu menembus peringkat musik Billboard ke 28 untuk kategori R&B/Hip-Hop.

Inilah pencapaian tertinggi dari artis Indonesia diperingkat musik Amerika. Artinya, Over Doze sudah popular dan wara-wiri di top charts radio-radio Hip-Hop Amerika, digital online musik hingga playlist listener songs lewat jalur-jalur Spotify, Google Play, iTunes, Pandora, SoundCloud dan  saluran musik radio internet, iHeartradio.

Popularitas Agnez membawanya menjadi salah satu cover majalah bergengsi Vogue US untuk bulan Maret 2018.

Para kritikus musik memuji kegigihan Agnez yang sebelumnya kurang sukses merelease Coke Bottle featuring Timbaland, di tahun 2014.

Agnez dianggap mampu bertahan dan membangun brand positioning dan mencuri perhatian, ditengah puluhan artis papan atas sekelas Dua Lippa, Iggy Azalea, Nicky Minaj dan Dej Loaf.

Ada juga kritikan yang menganggap keberhasilan Agnez Mo menjadi popular adalah sebuah strategi promosi media untuk mem”push” single terbaru dengan memviralkan, Agnez dihembus-hembuskan berpacaran dengan Chris Brown. “Is she really dating Chris?”, rumors yang bergaung di Hollywood.

Sementara website Hollywood Life, mengulas kalau mantan Chris Brown, penyanyi Rihanna cemburu melihat Chris terlihat berciuman dengan Agnez dalam video musik Over Doze. Gossip ini  merambat ke publik dan menjadi perbincangan di kalangan selebriti Hollywood.

Rumors Agnez Mo

Rumors Agnez sebagai pacar Chris, juga muncul di kalangan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika. Suatu kali, saya bertemu dengan seorang mahasiswa keturunan Indonesia di New York, yang bercerita kalau Agnez dan Chris Brown menjadi santapan gosip di kedai-kedai kopi.

Obrolan berlanjut, “who is Agnez Mo?” sambil browsing sana-sini, dan jawaban Wikipedia google adalah “Agnes Monica Muljoto (born 1 July 1986), known professionally as Agnez Mo, is an Indonesian singer, songwriter and actress”.

Lalu bagaimanakah efek Agnez Mo terhadap perkembangan musik Indonesia di blantika industri musik Amerika, negeri barometer percaturan musik dunia? Apakah akan berpengaruh terhadap promosi Indonesia (meminjam bahasa birokrasi)? Apakah akan berdampak kepada kemajuan ekonomi kreatif Indonesia (meminjam bahasa birokrasi lagi)?

Semua jargon-jargon pertanyaan ini selalu datang dari berbagai sisi kepentingan. Entah kepentingan promosi pariwisata, entah kepentingan politik, ekonomi atau kepentingan kebudayaan.

November 2017, The Build Series . Sebuah talk show kreatif yang ditayangkan melalui online streaming, mengundang Agnez Mo sebagai bintang tamu. Ini cukup mengejutkan, karena hanya orang-orang super kreatif dalam bidang seni, musik, film, teknologi, digital, televisi dan fashion yang diundang dalam talk show ini.

Beberapa nama yang pernah menjadi tamu adalah penyanyi legenda Cyndi Lauper, aktris Hailee Steinfeld, Amy Adams, Natalie Portman dan aktor William Dafoe.

Ditengah cuaca super dingin, minus celcius dan hujan rintik, pukul 6 sore, dengan modal payung kecil, saya datang ke studio Build Series yang berdekatan dengan kampus New York University.

Studio itu tidak terlalu besar, hanya mampu menampung 50 penonton studio. Kru, peralatan produksi, kamera, lighting, audio, semuanya biasa saja. Sama dengan standard studio  yang ada di berbagai stasiun televisi Jakarta.

Tapi visualisasi menjadi cantik, dengan artistik dan background kaca suasana jalanan kota New York yang padat,  macet dan gedung-gedung tinggi. Puluhan media Paparazzi juga terlihat menunggu di luar studio, mencoba keberuntungan untuk wawancara ala door stop saat Agnez keluar studio.

Talk show Agnez Mo berjalan dengan asik, non-formal dan santai. Agnez menjawab setiap pertanyaan dengan ringan dan penuh canda. Tiba-tiba, muncul pertanyaan dari tamu yang hadir “Apakah Agnez akan membawa unsur (seni) Indonesia dalam karya dan penampilannya?”.

Jawaban Agnez sangat lugas, “Saya ingin orang mengenal karya saya dan saya sebagai Agnez Mo. Kalau mereka sudah kenal, mereka akan mencari tahu siapa saya, saya asal Indonesia”. Sebuah jawaban yang cukup masuk logika, strategi Brand Positioning sudah tepat dan jitu.

Agnez tidak sendirian. Tanpa harus berbenturan dengan birokrasi dan jargon-jargon promosi Indonesia yang digembar-gemborkan oleh pemerintah, sejumlah musisi Indonesia sudah mengandalkan strategi Brand Positioning yang sama dengan Agnez.

Musik Independen

Sebut saja Joey Alexander, pianis jazz remaja yang mendunia, dan dibimbing oleh musisi Jazz Wynton Marsalis, atau Rich Brian yang mengguncang panggung hip-hop dan mendapat pujian dari penyanyi Pharell Williams.

Keduanya, mengedepankan karya personal tanpa harus terbebani kepentingan nusantara. Kepopuleran mereka secara tidak langsung, justru menaikkan pamor nama Indonesia ke panggung dunia.

Sementara itu, di tingkat musik independen, sepanjang sepuluh tahun terakhir,  bermunculan musisi-musisi Indonesia yang terus bergerilya membangun karya sesuai genre dan selera musik Amerika. simakDialog, band progresif Jazz yang dulu dimotori oleh pianis (Alm) Riza Arshad, mampu menembus pasar Amerika.

Album Demi Masa dan Patahan yang direlease oleh Moonjune Records, New York, disukai publik pecinta musik progresif fusion. Bahkan album ini sukses di Puerto Rico, mungkin karena simakDialog menggantikan pukulan drum dengan hentakan kendang Sunda, menjadikan musik simakDialog melawan arus  mainstream dengan menyatukan komposisi progresif berirama perkusi tradisional.

Pertunjukkan simakDialog di Baltimore, Maryland, di sebuah Gudang berkapasitas 250 orang, full house. Penonton rela duduk menikmati konser tunggal selama 2 jam! simakDialog juga diundang untuk wawancara di Radio Universitas Maryland.

Keberhasilan simakDialog tidak lepas dari telinga produser Moonjune Record, Leonardo Pavkovic. Leo, begitu panggilannya, begitu yakin bahwa musik simakDialog akan sukses di jalur industri musik progresif Amerika.

Kepekaan telinga Leo kemudian membawa Moonjune untuk merelease album -album musisi Indonesia lainnya seperti Budjana, Tohpati, Dwiki Dharmawan (Pasar Klewer) dan band progesif fusion asal Jogja, I know you well miss Clara.

Di jalur rock,  pada tahun 2009, Superman Is Dead (SID) pernah menggoyang Velvet Lounge, U Street, Washington DC. Klub Punk Rock yang berkapasitas seratus lima puluh orang ini penuh dengan fans warga Amerika.

SID yang mempunyai komposisi lagu berbahasa Indonesia dan Inggris, mampu menyihir penonton menari headbang  di atas lagu Kuta Rock City. Di tahun-tahun berikutnya, penampilan SID ini diikuti oleh penampilan Diskus, Gugun Blues Shelter, White Shoes, Budjana, Dwiki Dharmawan, Balawan, Saykoji, Heidi Yunus, Netta KD, Speker First dan Jogja Hip Hop.

Sementara itu, Noah band tampil memukau dipanggung outdoor stage  Silver Spring Maryland, dalam festival tahunan Made In Indonesia dengan penonton sekitar dua ribu penonton.

Presenter dan penyanyi country Tantowi Yahya, yang saat ini menjadi dubes Selandia Baru, juga pernah tampil memukau di hadapan sekitar tiga ratus penonton dan fans musik country, di jantung kota musik country dunia, Nashville, Tennessee. Tantowi diundang  khusus untuk tampil dalam ajang Country Music Awards, ajang penghargaan musik country terbesar di Amerika.

Single Kolaborasi

Di panggung rekaman, Krisdayanti mencoba menembus pasar dengan rekaman langsung di studio NRG, Hollywood, LA. Studio rekaman ini sangat popular dan menjadi langganan para musisi dunia seperti Bon Jovi, penyanyi Celine Dion, Miley Cyrus dan band rock, Foo Fighters.

Krisdayanti meluncurkan single Sleep To Dream, ciptaan Mateo Camargo yang sering menciptakan lagu untuk Shakira. Lagu bergenre pop dance ini sempat diputar dibeberapa radio di LA, namun belum menembus peringkat Billboard.

Pada musim gugur tahun lalu, Hendra Ganarto  musisi perkusi dari group DuoPercussion Indonesia meluncurkan single kolaborasi rekaman dengan Sandflower, penyanyi hip-hop asal New York.

Single kolaborasi berjudul Oceans ini diaransemen oleh produser musik David Sisko yang pernah menggarap remix penyanyi Justin Timberlake dan Julian Lennon.

Kolaborasi musisi dua negara ini digagas oleh Maya Naratama, produser Acha Productions di New York City, yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi musisi Indonesia untuk menembus pasar Amerika.

Setelah proses rekaman selama enam bulan, Oceans diluncurkan lewat jalur Spotify, SoundCloud, Google Play dan digital musik lainnya. Maya kemudian membawa Sandflower bersama DuoPercussion tampil di ajang Internasional Indie Music Festival di Jakarta pada akhir September tahun lalu.

Di panggung penonton Diaspora Indonesia, cukup banyak musisi dan penyanyi Indonesia yang pernah tampil.  Sebut saja Atiek CB  yang kini bermukim di Delaware, Judika, Anang, Elfa’s Singers, Syaharani, J-Flo, Ermy Kulit, Nia Daniati, Saykoji dsb. Umumnya mereka tampil di berbagai acara perayaan 17 Agustus atau kegiatan Diaspora di Los Angeles, Seattle, Chicago, Washington D.C., Philadelphia dan New York.

Penonton terbanyak, tentu saja warga diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika. Umumnya para artis ini hadir dengan dukungan dari lembaga pemerintah atau kementrian sebagai sponsor.

Potensi Dangdut Masuk Amerika

Bagaimana dengan musik Dangdut? Hingga hari ini, belum ada satupun penyanyi dangdut Indonesia yang benar-benar mampu menembus pasar musik Amerika. Cengkokan suara melayu dan lantunan suling bambu khas dangdut, hanya menjadi kajian kampus-kampus jurusan seni musik, budaya dan antropologi.

Penyanyi Thomas Djorghi, Cita Citata, Ike Nurjanah dan Dorce, beberapa kali tampil, namun kehadiran mereka masih menjadi pengobat rindu para diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika.

Belum ada satupun penyanyi dangdut yang mampu menerobos pasar musik LA maupun NY. Sementara proyek Dangdut In America, yang dimotori oleh Rissa Asnan bekerjasama dengan TVRI, mencoba mencari penyanyi dangdut orang Amerika di kota Wilmington, Delaware. Proyek ini masih terus bergerilya menembus celah diantara dominasi musik hip-hop, blues dan country.

Padahal sejak tahun 1991, lagu karya bang H.Rhoma Irama, Begadang 2, sudah masuk dalam album kompilasi Smithsonian Folkways Recordings  (SFR) di Washington DC. Bahkan publik bisa mendengar langsung lagu-lagu karya Rhoma lainnya seperti Begadang 2Sahabat, Qur’an dan Koran, dan Sengaja (dinyanyikan Elvy Sukaesih) lewat laman digital musik SFR. Tidak tanggung-tanggung, foto ikon Rhoma Irama Satria Bergitar dijadikan cover album kompilasi ini.

Artinya, dangdut mempunyai potensi untuk masuk dalam peta industri musik Amerika, asalkan muncul dari arus bawah, mengerti pasar dan tidak dipaksakan dengan jargon-jargon birokrasi.

Efek Rumah Kaca di SXSW Austin Texas. Foto: Naratama.

Sementara itu di panggung Festival SXSW 2018, Maret lalu, Efek Rumah Kaca (ERK) dan Kimokal mengejutkan publik musik milenial yang datang dari berbagai penjuru dunia. Suara tenor vokalis ERK, Cholil dengan komposisi semi progresif rock, mampu menyihir seratus lima puluh tamu yang hadir di bar Esther’s Follies kota Austin, Texas.

Walau ERK tampil dengan karya repertoar panjang lewat lagu Merah (13 menit), Biru (7 menit) dan Putih (10 menit), mereka berhasil mengajak pengunjung untuk Sanding Dance di depan panggung.

Hari berikutnya, di panggung Russian House, masih di kota Austin, giliran duo elektronik pop Kimokal tampil dengan sukses. Vokalis Kallula Harsynta Esterlita yang membawakan lagu dengan gaya Repetitive Singing berhasil memikat dua ratus lima puluh pengunjung bergoyang sejak beat pertama dimainkan.

Sementara aransemen musik Kimokal memadukan sejumlah genre dari nu wave, techno dance, electronic pop, hingga sync popStanding ovation dan tepuk tangan panjang, menggema di dua lagu terakhir, Kimokalyo dan One.

Lewat Jalur Digital

Tahun 2019 ini, tiga musisi Indonesia, Joey Alexander, Rich Brian dan Agnez Mo masih akan terus berkiprah di industri musik Amerika. Jadwal tour Joey Alexander sudah fully booked  dari Januari hingga bulan Juni 2019.

Bahkan Joey, dijadwalkan untuk tampil di klub jazz paling bergensi, Blue Note, Manhattan, New York. Klub ini hanya memberikan gigs untuk musisi-musisi jazz papan atas seperti Bob James, Dave Grussin, Stanley Clark dan pemain trumpet Chris Botti.

Sementara Rich Brian dan Agnez Mo, selain tampil di berbagai gigs, mereka  akan tetap menjadi media darling, sehingga eksistensi musik tetap akan terjaga, terutama dalam media-media digital.

Ada juga Anggun C Sasmi, yang masuk ke Amerika lewat peluncuran album di Perancis dan Kanada. Hal yang sama dilakukan Ras Muhammad, penyanyi Reggae Indonesia yang memulai kiprahnya dari negeri pusat Reggae, Jamaica.

Ras cukup dikenal di kalangan para fans Reggae di New York dan Brooklyn. Konser-konser tunggal Ras di café-cafe dan klub-klub reggae selalu penuh dengan para fans.

Disisi lain, sejumlah musisi Indie Indonesia akan terus bangkit dan menerobos pasar musik Amerika lewat jalur-jalur musik digital Independen. Setelah tahun lalu sukses dengan tour Amerika, gitaris Metal, Garnaraditya yang juga vokalis dari band Metal AK//47, akan terus berkiprah di pasar musik cadas Amerika.

Garna, musisi asal Semarang yang kini bermukin di California ini, juga dikenal sebagai Videomaker unggul dan mempunyai banyak klien. AK//47 sudah mempunyai fans base yang kuat di berbagai kota West dan East Coast.

Selain AK//47, musisi Monarki Band yang bergenre alternative rock Indonesia ini, tanpa publisitas, ternyata lagu-lagu mereka telah diputar di 365 jaringan radio Amerika, termasuk WDNY dan RockRage  Radio di Cleveland, Ohio.

Monarki sedang mencari kesempatan untuk bisa tampil di Amerika tahun ini. Penyanyi Irma June, penyanyi yang dua tahun lalu meluncurkan album di Jakarta dan sekarang bermukim di Seattle, Washington, sedang mempersiapkan diri untuk meniti karir di Amerika.

Juga Maharasyi, penyanyi berdarah Indonesia yang sempat masuk babak kedua program reality televisi The VOICE, kabarnya juga sedang menyiapkan album di tahun 2019 ini.

Menembus pasar musik Amerika, memang menjadi idola para musisi diseluruh belahan dunia. Jadi, sangatlah wajar bila insan musik Indonesia terus berusaha untuk dapat masuk ke panggung musik Los Angeles, Chicago atau New York.

Amerika menjadi idola, dan dianggap sebagai puncak keberhasilan berkesenian seni musik tingkat dunia, dengan harapan “bila sukses di Amerika, maka akan sukses di dunia”.

Ini sudah dibuktikan, lewat Joey, Rich, Agnez Mo dan Anggun yang sekarang cukup popular di seluruh dunia. Mereka berhasil menunjukkan bahwa musik dan musisi Indonesia bisa dan mampu berbicara di pasar Amerika.

Agenda Pemerintah Tidak Sejalan

Dalam kiprah perjalanan musik Indonesia di Amerika selama 10 tahun terakhir, sudah cukup banyak celah dan kesempatan dibangun lewat gerilya para musisi independen Indonesia. Mereka berjibaku menembus pasar musik dengan kemampuan independen. Hadirnya musik digital semakin membuka akses distribusi, promosi dan jaringan musik.

Sayangnya, para musisi ini seringkali harus kesulitan memproduksi musik dengan kualitas sound dunia, membangun jaringan dan branding karena kesulitan mendapatkan dana atau sponsor baik dari pihak swasta maupun pemerintah.

Disisi lain, Lembaga pemerintah yang berurusan dengan promosi seni, budaya, ekonomi kreatif dan pariwisata mempunyai agenda tersendiri untuk mendukung seni musik di luar negeri. Agenda ini seringkali tidak sejalan dengan gerilyawan musisi Indonesia yang lebih mengedepankan independensi berkesenian, daripada mengutamakan jargon-jargon promosi Indonesia.

Kalau sudah begini, let’s hope and pray. Semoga Efek Rumah Kaca, AK//47, Monarki Band, Speaker First, Kimokal, Jogja Hip-hop, I Know you Well Miss Clara, Ras Muhammad, Speaker First dan puluhan musisi Indonesia tetap semangat untuk terus memajukan musik Indonesia dibelahan negeri Paman Sam.

Naratama, Produser TV dan Pengamat Musik, New York.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Kolaborasi Musisi Legend Ahmad Albar, Ian Antono dan Millenial Kemal Pahlevi

Published

on

By

Perkembangan industri musik Tanah Air semakin pesat saja pada saat ini. Tak heran jika genre baru pun semakin beragam memberi warna dan perpaduan unik pada musik yang beredar.

Keragaman ini berasal dari akar budaya kita yang heterogen, kemudian menampilkan  aneka karakter dan warna musik. Berbagai karakter dari setiap musisi maupun penyanyi memiliki ciri khas dan penggemarnya masing-masing.

Para musisi tidak selamanya fokus pada karakternya sendiri. Mereka tak jarang berusaha meng-eksplore kemampuan bermusiknya dengan berkolaborasi dengan musisi lain yang berbeda genre.

Kolaborasi seperti ini menghasilkan perpaduan musik yang unik dan dikemas lebih berani. Muncullah sebuah komposisi musik yang berbeda.

Perpaduan tersebut juga memacu beberapa musisi yang sudah beberapa dekade berada di blantika musik tanah air, mencoba memperbaharui karya mereka terdahulu kepada keadaan kondisi musik yang tengah tren masa kini.

Berangkat dari situasi tersebut, dua ujung tombak group cadas God Bless, Ian Antono dan Ahmad Albar berencana membuat sebuah kolaborasi yang berani. Mereka merencanakan sebuah kolaborasi unik untuk salah satu lagunya.

Menggandeng rapper sekaligus YouTuber Kemal Palevi, kedua musisi gaek ini sangat bersemangat mempersiapkan lagu lawas mereka menjadi sesuatu yang lain dan dikemas secara kekinian.

“Kami sebetulnya sudah membuat lagu yang sudah pernah hits di tahun 70-an. Lagu itu disukai orang banyak, cuma kita pingin bikin sesuatu yang cocok dinyanyikan untuk saat ini. Tentunya disesuaikan dengan perkembangan zaman juga,” kata Ian Antono.

Lagu hits yang pernah dirilis pada tahun 1979 ini memiliki komposisi musik yang berbeda dari yang pernah mereka mainkan di Gobless. Masih dibungkus ruh power rock, lagu ini perlu sentuhan musik yang lebih modern agar dapat dinikmati oleh generasi muda saat ini.

Arrangernya, Ian Antono menetapkan pilihannya terhadap Kemal Palevi (29). Selain berbakat,  Kemal juga sudah memiliki penggemar tersendiri. Untuk itu, Ian merasa kolaborasi ini perlu sentuhan musisi milenial seperti Kemal dan harus cocok dengan genre yang mereka usung.

“Dalam sajian musik rock tidak sedikit juga yang kolaborasi dengan genre lain. Tapi saya rasa jarang ada kolaborasi rock dengan rap. Kemal menurut saya sudah cocok mewakili rapper milenial yang ada saat ini,” imbuh Ian Antono dalam rilis yang diterima Kabarhiburan.com, Kamis (18/4).

Kolaborasi ini merupakan sebuah kehormatan bagi Kemal Palevi. Kemal juga dikenal sebagai seorang stand up comedian, selain sebagai seorang rapper dan aktor layar lebar. Baginya, kolaborasi ini menjadi sebuah pembelajaran bagi perkembangan karirnya di dunia musik.

“Yang jelas, bergabung dengan musisi yang kita kenal legend ini mengangkat derajat saya yang muda-muda. Anak-anak muda kolaborasi dengan milenial sudah banyak, cuma kalau sama beliau-beliau ini merupakan sebuah kehormatan. Jauh lebih baik jika kita ingat dan menghormati musisi yang hadir terlebih dahulu di industri musik,” ucap Kemal Palevi.

Perubahan selera musik saat ini, jika dibandingkan dengan era lagu ini dirilis pastinya juga telah berbeda. Begitupun dengan cara millenial dalam menikmati music, sehingga dalam memunculkan sebuah lagu yang pernah dibawa kedua legenda ini tidaklah mudah.

Selain tidak merubah part asli dari lagu ini, kolaborasi ini juga merubah beberapa aransemen dari lagu yang akan mereka bawakan nanti.

“Kesulitan waktu mengaransemen lagu ini ada beberapa slot yang berisikan bar-bar tertentu yang digabungkan dan harus enak di dengar. Jadi sebetulnya lagu itu tidak jauh berubah dengan cord yang baru dan perlu pemikiran dari generasi saat ini,” papar Ian Antono.

Hasil dari kolaborasi ini memang masih dirahasiakan judulnya. Hanya saja, lagu ini terpilih  karena banyaknya permintaan untuk dibawakan oleh Ahmad Albar dalam setiap perform baik di tanah air maupun di negara tetangga.

Menurut penyanyi yang akrab dengan panggilan Iyek ini, aransemennya sedikit berubah dengan didominasi akustik, lagu ini juga memiliki nuansa Timur Tengah.

“Lagu ini terkenal di Malaysia dan sering dibawakan oleh beberapa penyanyi disana. Kami tidak mengubah banyak aransemennya. Kali ini warna akustiknya banyak, cuma tidak boleh dinyanyikan kalau kita perform dengan God Bless,” ujar Ahmad Albar memberikan sedikit gambaran mengenai hasil kolaborasi mereka.

“Pokoknya suara gitar dari Ian agak ke Timur Tengah, tapi kiblatnya bukan India. Yang jelas lagu ini dibuat berbeda dari yang sudah ada,” sambung Ahmad Albar.

Tentunya tidak mudah menggabungkan sebuah genre berbeda, apalagi lagu yang dihasilkan pernah menduduki tangga lagu di zaman itu. Kemal pun merasa bersyukur bisa dipilih dan mewakili generasi saat ini.

“Kolaborasi bukan hanya sekedar merubah do re mi fa sol saja yang sudah diperebutkan oleh beberapa genre. Sebagai anak muda kita juga harus melihat kebelakang dan melihat perkembangan era musik zaman dulu. Kalau mau keren, kita harus bongkar karya zaman dulu dan buat sesuatu yang baru,” tandas Kemal.

Sebuah kolaborasi yang tentunya sudah ditunggu bagi penggemar ketiga musisi ini. Penasaran akan hasil kolaborasi mereka? Kita tunggu saja. Pastinya kolaborasi ini siap ‘menggetarkan’ telinga pecinta musik tanah air. (rls)

 

 

Continue Reading

Musik

Sembilan Duta Provinsi Mulai Bertarung di Babak Top 9

Published

on

By

Aksi Trio Kiki, Alif dan Puput menjadi klimak babak Top 9 Grup 1

Kabarhiburan.com, Jakarta – Ajang pencarian bakat dangdut LIDA 2019 sudah memasuki babak Top 9. Mereka menjadi 9 duta terbaik dari 80 Duta dari 34 provinsi yang menjadi peserta LIDA 2019.

Sebut saja Alif (Kalimantan Timur), Kiki (Kepulauan Riau), Puput (Sulawesi Selatan), Faul (Aceh), Hanan (Jawa Barat), Sheyla (Maluku), Angga (Sumatera Utara), Cut (Aceh) dan Nirwana (Bengkulu). Melanjutkan persaingan untuk meraih predikat terbaik sebagai juara LIDA 2019.

Kalau sebelumnya, mereka hanya tampil solo saja, pada babak ini mereka pun diwajibkan berkolaborasi bersama pesaingnya.

Konser Show Top 9 grup 1 terdiri dari Alif (Kalimantan Timur), Kiki (Kepulauan Riau) dan Puput (Sulawesi Selatan). Masing-masing sudah tampil total pada Rabu (17/8).

Konser dimulai oleh Alif yang membawakan lagu Muara Kasih Bunda harus puas dengan perolehan tiga lampu biru. Nassar menilai suara Alif enak didengar, namun feel-nya tidak terasa dan penampilannya pun biasa saja.

“Masih terlalu banyak nada yang fals di awal lagu” ungkap Nassar menyimpulkan.

Situasi yang sama juga dialami Kiki. Duta asal Kepulauan Riau ini hanya mendapatkan tiga dukungan dari panel provinsi untuk lagu Bisik Bisik Tetangga.

“Masih kurang fokus terlihat dari beberapa kesalahan lirik pada lagu serta improvisasi yang kurang matang,” ujar Inul Daratista.

Berbeda dengan penampilan Puput. Dara asal Sulawesi Selatan ini tampil memukau dan menghayati lagu Doaku, sehingga layak mendapat empat lampu biru.

“Penghayatan kamu oke, cengkok dan dinamika nya sudah pas tidak berlebihan,” tutur Zaskia Gotik. Sementara Dewi Persik menilai artikulasi Puput pada nada rendah dalam lagu sangat tidak jelas. Ini membuat keindahan lagu menjadi berkurang.

Suasana meriah saat dewan juri memberi standing ovation bagi trio Alif, Kiki dan Puput.

Penilaian minus saat  masing-masing tampil solo lantas sirna ketika Alif, Kiki dan Puput berkolaborasi menjadi trio. Mereka begitu padu suara dan aksinya saat menyanyikan lagu Tiada Guna. Dewan Juri pun tidak segan memberi standing ovation.

Konser Show Top 9 Grup 1 menempatkan Alif (Kalimantan Timur) berada di posisi terakhir. Perolehan ini masih akan berubah, sesuai akumulai dari dukungan pemirsa dan penilaian Dewan Juri.

Mereka masih memiliki satu lagi kesempatan untuk tampil di Konser Result Top 9 Result Grup 1. Konser ini disiarkan secara live di Indosiar, Kamis (10/4) pukul 18.30 WIB. (Tumpak Sidabutar/KH. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

Novita Dewi duet Uncle Stone Rilis ‘Rindu yang Terlarang’ yang pernah dipopulerkan Broery Pesolima

Published

on

By

Novita Dewi dan Uncle Stone

Kabarhiburan.com, Jakarta – Hasil karya terbaik yang enak didengar memang layak untuk dikenang sepanjang masa. Terbukti, sudah banyak lagu lawas tetap hits hingga sekarang dan enak di telinga pendengar dari berbagai kalangan.

Situasi ini mendorong eksisnya kembali lagu-lagu lawas dengan kemasan musik baru. Salah satunya, lagu hits  Rindu yang Terlarang yang pernah dibawakan almarhum Broery Pesolima duet Dewi Yull, demikian populer hingga kini.

Tanpa bermaksud menandingi kepopuleran kedua penyanyi tersebut, lagu ciptaan Harry Tasman ini  kembali dinyanyikan oleh penyanyi gaek, Sael Simatupang yang akrab dipanggil Uncle Stone, berduet dengan penyanyi kenamaan, Novita Dewi.

Duet ini memadukan dua karakter suara yang khas diiringi musik mendayu, membuat  Rindu yang Terlarang aransemen baru dari Sumantri, sanggup membawa nuansa syahdu. Tak heran, Uncle Stone pun menjagokan lagu ini dalam Mini Album Uncle Stone yang dirilis, di Jakarta, Kamis ( 18/4).

Selain  Rindu yang Terlarang, Mini Album ini juga diisi oleh tiga lagu lawas lainnya, yakni Hati Yang Terluka ciptaan A. Riyanto, Kurelakan ciptaan Papa Fauza dan lagu Keliru ciptaan Fatur dan Capung-Java Jive.

“Saya hobi nyanyi dan sering nyanyi di café. Kata orang suara saya sedikit mirip dengan suara almarhum Broery Pesolima,” ujar Uncle Stone yang juga mengagumi Broery.

Saking kagumnya sama Broery, disebut Dewi Novita,  tanpa ingin jadi seperti Broery, mini album ini sebagai bentuk  dedikasi Uncle Stone kepada musik lawas yang diaransemen baru.

Rindu yang Terlarang dengan aransemen yang beda dan beda pula membawakannya. Pastinya enak didengar, baik anak muda maupun yang sudah lanjut usia,” pungkas Dewi Novita berpromosi.

Gayung pun bersambut, ketika label Le Moesik mengajak Uncle Stone untuk mengisi pangsa pasar musiknya Broery yang sudah lama kosong.

“Dalam hal ini, saya ikut arahan dari produser saja,” ujar Uncle Stone yang juga berprofesi sebagai pengusaha ini. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending