Connect with us

Musik

Refleksi Musik Indonesia di Negeri Paman Sam

Published

on

Agnes Mo dalam acara talk show di BUILD Series New York. Foto: Naratama

Kalau ada pertanyaan, siapakah musisi atau penyanyi Indonesia yang diprediksi akan mampu berkibar di industri musik Amerika tahun 2019?  Joey Alexander? Agnez Mo? Rich Brian? Anggun C Sasmi? atau siapa?

Kalau dikalkulasi berdasarkan popularitas lewat Billboard, iHeartradio,  iTunes hingga The Hype Magazine pada tahun 2018  maka penyanyi yang diperhitungkan akan terus eksis, adalah Agnez Mo!

Penyanyi, musisi, pencipta lagu dan artis kelahiran Jakarta, yang kini berjibaku membangun karir di belantika industri musik Paman Sam, antara Los Angeles dan New York.

Single Over Doze yang direlease Agnez featuring Chris Brown pada bulan Juli lalu mampu menembus peringkat musik Billboard ke 28 untuk kategori R&B/Hip-Hop.

Inilah pencapaian tertinggi dari artis Indonesia diperingkat musik Amerika. Artinya, Over Doze sudah popular dan wara-wiri di top charts radio-radio Hip-Hop Amerika, digital online musik hingga playlist listener songs lewat jalur-jalur Spotify, Google Play, iTunes, Pandora, SoundCloud dan  saluran musik radio internet, iHeartradio.

Popularitas Agnez membawanya menjadi salah satu cover majalah bergengsi Vogue US untuk bulan Maret 2018.

Para kritikus musik memuji kegigihan Agnez yang sebelumnya kurang sukses merelease Coke Bottle featuring Timbaland, di tahun 2014.

Agnez dianggap mampu bertahan dan membangun brand positioning dan mencuri perhatian, ditengah puluhan artis papan atas sekelas Dua Lippa, Iggy Azalea, Nicky Minaj dan Dej Loaf.

Ada juga kritikan yang menganggap keberhasilan Agnez Mo menjadi popular adalah sebuah strategi promosi media untuk mem”push” single terbaru dengan memviralkan, Agnez dihembus-hembuskan berpacaran dengan Chris Brown. “Is she really dating Chris?”, rumors yang bergaung di Hollywood.

Sementara website Hollywood Life, mengulas kalau mantan Chris Brown, penyanyi Rihanna cemburu melihat Chris terlihat berciuman dengan Agnez dalam video musik Over Doze. Gossip ini  merambat ke publik dan menjadi perbincangan di kalangan selebriti Hollywood.

Rumors Agnez Mo

Rumors Agnez sebagai pacar Chris, juga muncul di kalangan para mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika. Suatu kali, saya bertemu dengan seorang mahasiswa keturunan Indonesia di New York, yang bercerita kalau Agnez dan Chris Brown menjadi santapan gosip di kedai-kedai kopi.

Obrolan berlanjut, “who is Agnez Mo?” sambil browsing sana-sini, dan jawaban Wikipedia google adalah “Agnes Monica Muljoto (born 1 July 1986), known professionally as Agnez Mo, is an Indonesian singer, songwriter and actress”.

Lalu bagaimanakah efek Agnez Mo terhadap perkembangan musik Indonesia di blantika industri musik Amerika, negeri barometer percaturan musik dunia? Apakah akan berpengaruh terhadap promosi Indonesia (meminjam bahasa birokrasi)? Apakah akan berdampak kepada kemajuan ekonomi kreatif Indonesia (meminjam bahasa birokrasi lagi)?

Semua jargon-jargon pertanyaan ini selalu datang dari berbagai sisi kepentingan. Entah kepentingan promosi pariwisata, entah kepentingan politik, ekonomi atau kepentingan kebudayaan.

November 2017, The Build Series . Sebuah talk show kreatif yang ditayangkan melalui online streaming, mengundang Agnez Mo sebagai bintang tamu. Ini cukup mengejutkan, karena hanya orang-orang super kreatif dalam bidang seni, musik, film, teknologi, digital, televisi dan fashion yang diundang dalam talk show ini.

Beberapa nama yang pernah menjadi tamu adalah penyanyi legenda Cyndi Lauper, aktris Hailee Steinfeld, Amy Adams, Natalie Portman dan aktor William Dafoe.

Ditengah cuaca super dingin, minus celcius dan hujan rintik, pukul 6 sore, dengan modal payung kecil, saya datang ke studio Build Series yang berdekatan dengan kampus New York University.

Studio itu tidak terlalu besar, hanya mampu menampung 50 penonton studio. Kru, peralatan produksi, kamera, lighting, audio, semuanya biasa saja. Sama dengan standard studio  yang ada di berbagai stasiun televisi Jakarta.

Tapi visualisasi menjadi cantik, dengan artistik dan background kaca suasana jalanan kota New York yang padat,  macet dan gedung-gedung tinggi. Puluhan media Paparazzi juga terlihat menunggu di luar studio, mencoba keberuntungan untuk wawancara ala door stop saat Agnez keluar studio.

Talk show Agnez Mo berjalan dengan asik, non-formal dan santai. Agnez menjawab setiap pertanyaan dengan ringan dan penuh canda. Tiba-tiba, muncul pertanyaan dari tamu yang hadir “Apakah Agnez akan membawa unsur (seni) Indonesia dalam karya dan penampilannya?”.

Jawaban Agnez sangat lugas, “Saya ingin orang mengenal karya saya dan saya sebagai Agnez Mo. Kalau mereka sudah kenal, mereka akan mencari tahu siapa saya, saya asal Indonesia”. Sebuah jawaban yang cukup masuk logika, strategi Brand Positioning sudah tepat dan jitu.

Agnez tidak sendirian. Tanpa harus berbenturan dengan birokrasi dan jargon-jargon promosi Indonesia yang digembar-gemborkan oleh pemerintah, sejumlah musisi Indonesia sudah mengandalkan strategi Brand Positioning yang sama dengan Agnez.

Musik Independen

Sebut saja Joey Alexander, pianis jazz remaja yang mendunia, dan dibimbing oleh musisi Jazz Wynton Marsalis, atau Rich Brian yang mengguncang panggung hip-hop dan mendapat pujian dari penyanyi Pharell Williams.

Keduanya, mengedepankan karya personal tanpa harus terbebani kepentingan nusantara. Kepopuleran mereka secara tidak langsung, justru menaikkan pamor nama Indonesia ke panggung dunia.

Sementara itu, di tingkat musik independen, sepanjang sepuluh tahun terakhir,  bermunculan musisi-musisi Indonesia yang terus bergerilya membangun karya sesuai genre dan selera musik Amerika. simakDialog, band progresif Jazz yang dulu dimotori oleh pianis (Alm) Riza Arshad, mampu menembus pasar Amerika.

Album Demi Masa dan Patahan yang direlease oleh Moonjune Records, New York, disukai publik pecinta musik progresif fusion. Bahkan album ini sukses di Puerto Rico, mungkin karena simakDialog menggantikan pukulan drum dengan hentakan kendang Sunda, menjadikan musik simakDialog melawan arus  mainstream dengan menyatukan komposisi progresif berirama perkusi tradisional.

Pertunjukkan simakDialog di Baltimore, Maryland, di sebuah Gudang berkapasitas 250 orang, full house. Penonton rela duduk menikmati konser tunggal selama 2 jam! simakDialog juga diundang untuk wawancara di Radio Universitas Maryland.

Keberhasilan simakDialog tidak lepas dari telinga produser Moonjune Record, Leonardo Pavkovic. Leo, begitu panggilannya, begitu yakin bahwa musik simakDialog akan sukses di jalur industri musik progresif Amerika.

Kepekaan telinga Leo kemudian membawa Moonjune untuk merelease album -album musisi Indonesia lainnya seperti Budjana, Tohpati, Dwiki Dharmawan (Pasar Klewer) dan band progesif fusion asal Jogja, I know you well miss Clara.

Di jalur rock,  pada tahun 2009, Superman Is Dead (SID) pernah menggoyang Velvet Lounge, U Street, Washington DC. Klub Punk Rock yang berkapasitas seratus lima puluh orang ini penuh dengan fans warga Amerika.

SID yang mempunyai komposisi lagu berbahasa Indonesia dan Inggris, mampu menyihir penonton menari headbang  di atas lagu Kuta Rock City. Di tahun-tahun berikutnya, penampilan SID ini diikuti oleh penampilan Diskus, Gugun Blues Shelter, White Shoes, Budjana, Dwiki Dharmawan, Balawan, Saykoji, Heidi Yunus, Netta KD, Speker First dan Jogja Hip Hop.

Sementara itu, Noah band tampil memukau dipanggung outdoor stage  Silver Spring Maryland, dalam festival tahunan Made In Indonesia dengan penonton sekitar dua ribu penonton.

Presenter dan penyanyi country Tantowi Yahya, yang saat ini menjadi dubes Selandia Baru, juga pernah tampil memukau di hadapan sekitar tiga ratus penonton dan fans musik country, di jantung kota musik country dunia, Nashville, Tennessee. Tantowi diundang  khusus untuk tampil dalam ajang Country Music Awards, ajang penghargaan musik country terbesar di Amerika.

Single Kolaborasi

Di panggung rekaman, Krisdayanti mencoba menembus pasar dengan rekaman langsung di studio NRG, Hollywood, LA. Studio rekaman ini sangat popular dan menjadi langganan para musisi dunia seperti Bon Jovi, penyanyi Celine Dion, Miley Cyrus dan band rock, Foo Fighters.

Krisdayanti meluncurkan single Sleep To Dream, ciptaan Mateo Camargo yang sering menciptakan lagu untuk Shakira. Lagu bergenre pop dance ini sempat diputar dibeberapa radio di LA, namun belum menembus peringkat Billboard.

Pada musim gugur tahun lalu, Hendra Ganarto  musisi perkusi dari group DuoPercussion Indonesia meluncurkan single kolaborasi rekaman dengan Sandflower, penyanyi hip-hop asal New York.

Single kolaborasi berjudul Oceans ini diaransemen oleh produser musik David Sisko yang pernah menggarap remix penyanyi Justin Timberlake dan Julian Lennon.

Kolaborasi musisi dua negara ini digagas oleh Maya Naratama, produser Acha Productions di New York City, yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi musisi Indonesia untuk menembus pasar Amerika.

Setelah proses rekaman selama enam bulan, Oceans diluncurkan lewat jalur Spotify, SoundCloud, Google Play dan digital musik lainnya. Maya kemudian membawa Sandflower bersama DuoPercussion tampil di ajang Internasional Indie Music Festival di Jakarta pada akhir September tahun lalu.

Di panggung penonton Diaspora Indonesia, cukup banyak musisi dan penyanyi Indonesia yang pernah tampil.  Sebut saja Atiek CB  yang kini bermukim di Delaware, Judika, Anang, Elfa’s Singers, Syaharani, J-Flo, Ermy Kulit, Nia Daniati, Saykoji dsb. Umumnya mereka tampil di berbagai acara perayaan 17 Agustus atau kegiatan Diaspora di Los Angeles, Seattle, Chicago, Washington D.C., Philadelphia dan New York.

Penonton terbanyak, tentu saja warga diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika. Umumnya para artis ini hadir dengan dukungan dari lembaga pemerintah atau kementrian sebagai sponsor.

Potensi Dangdut Masuk Amerika

Bagaimana dengan musik Dangdut? Hingga hari ini, belum ada satupun penyanyi dangdut Indonesia yang benar-benar mampu menembus pasar musik Amerika. Cengkokan suara melayu dan lantunan suling bambu khas dangdut, hanya menjadi kajian kampus-kampus jurusan seni musik, budaya dan antropologi.

Penyanyi Thomas Djorghi, Cita Citata, Ike Nurjanah dan Dorce, beberapa kali tampil, namun kehadiran mereka masih menjadi pengobat rindu para diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika.

Belum ada satupun penyanyi dangdut yang mampu menerobos pasar musik LA maupun NY. Sementara proyek Dangdut In America, yang dimotori oleh Rissa Asnan bekerjasama dengan TVRI, mencoba mencari penyanyi dangdut orang Amerika di kota Wilmington, Delaware. Proyek ini masih terus bergerilya menembus celah diantara dominasi musik hip-hop, blues dan country.

Padahal sejak tahun 1991, lagu karya bang H.Rhoma Irama, Begadang 2, sudah masuk dalam album kompilasi Smithsonian Folkways Recordings  (SFR) di Washington DC. Bahkan publik bisa mendengar langsung lagu-lagu karya Rhoma lainnya seperti Begadang 2Sahabat, Qur’an dan Koran, dan Sengaja (dinyanyikan Elvy Sukaesih) lewat laman digital musik SFR. Tidak tanggung-tanggung, foto ikon Rhoma Irama Satria Bergitar dijadikan cover album kompilasi ini.

Artinya, dangdut mempunyai potensi untuk masuk dalam peta industri musik Amerika, asalkan muncul dari arus bawah, mengerti pasar dan tidak dipaksakan dengan jargon-jargon birokrasi.

Efek Rumah Kaca di SXSW Austin Texas. Foto: Naratama.

Sementara itu di panggung Festival SXSW 2018, Maret lalu, Efek Rumah Kaca (ERK) dan Kimokal mengejutkan publik musik milenial yang datang dari berbagai penjuru dunia. Suara tenor vokalis ERK, Cholil dengan komposisi semi progresif rock, mampu menyihir seratus lima puluh tamu yang hadir di bar Esther’s Follies kota Austin, Texas.

Walau ERK tampil dengan karya repertoar panjang lewat lagu Merah (13 menit), Biru (7 menit) dan Putih (10 menit), mereka berhasil mengajak pengunjung untuk Sanding Dance di depan panggung.

Hari berikutnya, di panggung Russian House, masih di kota Austin, giliran duo elektronik pop Kimokal tampil dengan sukses. Vokalis Kallula Harsynta Esterlita yang membawakan lagu dengan gaya Repetitive Singing berhasil memikat dua ratus lima puluh pengunjung bergoyang sejak beat pertama dimainkan.

Sementara aransemen musik Kimokal memadukan sejumlah genre dari nu wave, techno dance, electronic pop, hingga sync popStanding ovation dan tepuk tangan panjang, menggema di dua lagu terakhir, Kimokalyo dan One.

Lewat Jalur Digital

Tahun 2019 ini, tiga musisi Indonesia, Joey Alexander, Rich Brian dan Agnez Mo masih akan terus berkiprah di industri musik Amerika. Jadwal tour Joey Alexander sudah fully booked  dari Januari hingga bulan Juni 2019.

Bahkan Joey, dijadwalkan untuk tampil di klub jazz paling bergensi, Blue Note, Manhattan, New York. Klub ini hanya memberikan gigs untuk musisi-musisi jazz papan atas seperti Bob James, Dave Grussin, Stanley Clark dan pemain trumpet Chris Botti.

Sementara Rich Brian dan Agnez Mo, selain tampil di berbagai gigs, mereka  akan tetap menjadi media darling, sehingga eksistensi musik tetap akan terjaga, terutama dalam media-media digital.

Ada juga Anggun C Sasmi, yang masuk ke Amerika lewat peluncuran album di Perancis dan Kanada. Hal yang sama dilakukan Ras Muhammad, penyanyi Reggae Indonesia yang memulai kiprahnya dari negeri pusat Reggae, Jamaica.

Ras cukup dikenal di kalangan para fans Reggae di New York dan Brooklyn. Konser-konser tunggal Ras di café-cafe dan klub-klub reggae selalu penuh dengan para fans.

Disisi lain, sejumlah musisi Indie Indonesia akan terus bangkit dan menerobos pasar musik Amerika lewat jalur-jalur musik digital Independen. Setelah tahun lalu sukses dengan tour Amerika, gitaris Metal, Garnaraditya yang juga vokalis dari band Metal AK//47, akan terus berkiprah di pasar musik cadas Amerika.

Garna, musisi asal Semarang yang kini bermukin di California ini, juga dikenal sebagai Videomaker unggul dan mempunyai banyak klien. AK//47 sudah mempunyai fans base yang kuat di berbagai kota West dan East Coast.

Selain AK//47, musisi Monarki Band yang bergenre alternative rock Indonesia ini, tanpa publisitas, ternyata lagu-lagu mereka telah diputar di 365 jaringan radio Amerika, termasuk WDNY dan RockRage  Radio di Cleveland, Ohio.

Monarki sedang mencari kesempatan untuk bisa tampil di Amerika tahun ini. Penyanyi Irma June, penyanyi yang dua tahun lalu meluncurkan album di Jakarta dan sekarang bermukim di Seattle, Washington, sedang mempersiapkan diri untuk meniti karir di Amerika.

Juga Maharasyi, penyanyi berdarah Indonesia yang sempat masuk babak kedua program reality televisi The VOICE, kabarnya juga sedang menyiapkan album di tahun 2019 ini.

Menembus pasar musik Amerika, memang menjadi idola para musisi diseluruh belahan dunia. Jadi, sangatlah wajar bila insan musik Indonesia terus berusaha untuk dapat masuk ke panggung musik Los Angeles, Chicago atau New York.

Amerika menjadi idola, dan dianggap sebagai puncak keberhasilan berkesenian seni musik tingkat dunia, dengan harapan “bila sukses di Amerika, maka akan sukses di dunia”.

Ini sudah dibuktikan, lewat Joey, Rich, Agnez Mo dan Anggun yang sekarang cukup popular di seluruh dunia. Mereka berhasil menunjukkan bahwa musik dan musisi Indonesia bisa dan mampu berbicara di pasar Amerika.

Agenda Pemerintah Tidak Sejalan

Dalam kiprah perjalanan musik Indonesia di Amerika selama 10 tahun terakhir, sudah cukup banyak celah dan kesempatan dibangun lewat gerilya para musisi independen Indonesia. Mereka berjibaku menembus pasar musik dengan kemampuan independen. Hadirnya musik digital semakin membuka akses distribusi, promosi dan jaringan musik.

Sayangnya, para musisi ini seringkali harus kesulitan memproduksi musik dengan kualitas sound dunia, membangun jaringan dan branding karena kesulitan mendapatkan dana atau sponsor baik dari pihak swasta maupun pemerintah.

Disisi lain, Lembaga pemerintah yang berurusan dengan promosi seni, budaya, ekonomi kreatif dan pariwisata mempunyai agenda tersendiri untuk mendukung seni musik di luar negeri. Agenda ini seringkali tidak sejalan dengan gerilyawan musisi Indonesia yang lebih mengedepankan independensi berkesenian, daripada mengutamakan jargon-jargon promosi Indonesia.

Kalau sudah begini, let’s hope and pray. Semoga Efek Rumah Kaca, AK//47, Monarki Band, Speaker First, Kimokal, Jogja Hip-hop, I Know you Well Miss Clara, Ras Muhammad, Speaker First dan puluhan musisi Indonesia tetap semangat untuk terus memajukan musik Indonesia dibelahan negeri Paman Sam.

Naratama, Produser TV dan Pengamat Musik, New York.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Lagu ‘Sio Mama’ Bawa Joanne (Ambon) ke Babak Top 30

Published

on

By

Lagu ‘Sio Mama’ yang dibawakan Joanne (Ambon) menggugah perasaan Melky Goeslaw.

Kabarhiburan.com – Indosiar menugaskan Melly Goeslaw, Soimah, dan Anji sebagai Dewan Juri, sedangkan Diana Putri di kursi fashion guru, dalam kompetisi Pop Academy Top 40 Grup 5, yang berlangsung Senin (19/10) malam.

Grup 5 yang menampilkan Ferdy (Balikpapan), Joanne (Ambon), More (Lampung), dan Tasya (Semarang). Keempat academia ini bertarung sengit guna merebut tempat di babak Top 30.

Joanne membuka kompetisi dengan lagu Berharap Tak Berpisah yang dipopulerkan oleh Reza Artamevia. Hanya saja Soimah, Melly Goeslaw dan Anji menilai Joanne tampil kurang maksimal.

“Pada saat audisi kamu sangat baik dan kamu adalah salah satu peserta jagoan saya. Sayang sekali malam ini kamu tampil seperti terbebani dengan suatu masalah,” ungkap Melly Goeslaw.

Joanne sendiri mengaku kecewa tidak dapat memberikan penampilan yang terbaik, terutama untuk sang mama yang sedang menyaksikan di rumah.

Joanne pun mendapat kesempatan menyanyikan lagu Sio Mama, spesial untuk Mamanya. Ini membuat Melly Goeslaw menitikan air mata, teringat sang ibu yang sedang terbaring di rumah sakit. “Ibu bangun, kami semua rindu ibu”, pinta Melly Goeslaw dengan penuh harap.

Giliran Tasya tampil membawakan lagu Sebuah Rasa dengan penuh emosi, langsung mendapat apresiasi dari Melly Goeslaw dengan melakukan standing ovation.

Penampilan Tasya saat membawakan lagu ‘Sebuah Rasa’.

“Tasya ini salah satu peserta jagoan saya juga pada saat audisi. Kamu dapat menguasai lagu ini dengan baik. Tingkatkan terus kemampuan kamu!,” ujar Melly Goeslaw yang didukung oleh Soimah.

“Tasya adalah academia yang memiliki musikalitas tinggi, cantik, serta suara yang bagus. Nada rendah kamu juga keren banget. Saya berharap kamu dapat semakin mengeluarkan aura bintang supaya semakin keren lagi,”, pinta Soimah.

Sebaliknya, penampilan Ferdy yang menyanyikan lagu Jangan Cintai Aku Apa Adanya, justru membuat Juri kecewa.

“Penampilan kamu malam ini sangat mengecewakan saya. Lagu ini harus dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Pop Academy ini adalah kompetisi, seharusnya kamu dapat menampilkan dengan maksimal semua kemampuan yang kamu miliki”, ungkap Anji.

Begitu juga dengan More (Lampung) yang tampil terakhir di Grup 5 pun tidak menunjukkan bakat terbaiknya pada lagu Aku Cinta Kau dan Dia.

“Nada tinggi kamu masih belum konsisten, mungkin karena teknik diafragma kamu yang belum tepat. Saya berharap kamu dapat tampil keren secara menyeluruh, mulai dari penampilan hingga suara,” tegur Soimah.

Polling akhir Pop Academy telah menempatkan Tasya dan Joanne di posisi dua teratas, sehingga mereka berhak melaju ke babak selanjutnya.

Sebaliknya, Ferdy dan More yang berada di dua posisi terendah memanfaatkan sebaik- baiknya second chance demi mencuri perhatian Dewan Juri. Ferdy memilih lagu Harmoni, sedangkan More (Lampung) dengan lagu “Rindu”.

Hasilnya, Ferdy hanya mendapat satu suara dari Soimah, sementara Anji dan Melly Goeslaw sepakat memberikan suara untuk More. Itu artinya, Ferdy tereliminasi dari babak Top 40 Pop Academy.

Tasya, Joanne dan More akan kembali hadir bersaing di babak Top 30 Pop Academy. (Tumpak S)

Continue Reading

Musik

Jessica (Jakarta) Bikin Melly Goeslaw Menitikkan Air Mata

Published

on

By

Lagu ‘Satu’ dari Shandy berhasil peroleh polling tertinggi.

KABARHIBURAN.COM – Pop Academy Top 40 Grup 4 menampilkan dari Shandy (Jambi), Jesicca (Jakarta), Bili (Sumba) dan Sukma (Malang). menyajikan persaingan sengit.

Kompetisi dibuka oleh Shandy dengan gaya yang terkesan sombong saat membawakan lagu Satu, dinilai pas oleh Juri Soimah. Begitu juga dengan Melly Goeslaw yang menyukai vokal unik Shandy.

“Pertahankan itu karena aku udah suka banget.” tambah Melly.

Penjiwaan yang bagus juga ditampilkan Jessica di lagu Jera, membuat Melly merinding karena bisa menginterpretasi lagu dengan baik. Bahkan, Melly terlihat menitikkan air mata karena lagu Jera mengingatkannya pada Ibu mertuanya yang sedang sakit.

Berbeda dengan Shandy dan Jessica, penampilan Bili (Sumba) belum mampu memenangkan hati Dewan Juri dengan Bidadari Tak Bersayap. Anji menilai Bili terlihat kaku dan grogi, padahal sebenarnya Bili bisa lebih baik lagi.

“Bukan berarti enggak bangga sama kamu, tapi kamu harus bisa lebih dari ini.” tutur Anji.

Sementara lagu Pudar, yang dibawakan Sukma, menurut Melly terdengar agak membosankan karena belum terasa beat-nya dan terlalu banyak mellow-nya.

Polling akhir Pop Academy menentukan Shandy dan Jesicca di posisi teratas dan berhak maju ke babak Top 30.

Sementara Bili dan Sukma yang berada di dua posisi terendah kembali memberikan penampilan terbaiknya di second chance demi mencuri perhatian Dewan Juri.

Bili memilih lagu Separuh Nafasku, sedangkan Sukma dengan lagu Teruskanlah. Hasilnya, Bili memperoleh satu suara dari Melly Goeslaw, sementara Soimah dan Anji sepakat memberikan suara untuk Sukma.

Dengan demikian, Bili harus tereliminasi dari babak Top 40 Pop Academy. Sementara Sukma menyusul langkah Shandy, Jesicca ke babak Top 30 Academy.

Lesti DA kejutkan Billar di panggung Pop Academy Top 40.

Pop Academy Top 40 Grup 4 juga menghadirkan single terbaru milik Rizky Billar berjudul Kini Hanya Tentangmu.

Sebelum tampil, Billar diundang duduk di kursi panas oleh Irfan Hakim dan Gilang Dirga yang hadir sebagai Host. Keduanya terus memancing Billar untuk bercerita mengenai isi lirik lagu dan perasaannya untuk Lesti DA.

Saat tampil bawakan lagu Kini Hanya Tentangmu, Billar mendapat kejutan dengan kehadiran Lesti yang memberikan dukungannya. Sontak membuat Billar terkejut dan tersenyum sumringah.

Lesti pun terlihat mengelap keringat Billar dengan tisu sampai membuat Irfan Hakim dan Gilang Dirga berteriak “Kiyuuut!”.

Sama seperti Billar, Lesti kemudian diminta duduk di kursi panas dan diminta menjawab pertanyaan dengan jujur. Lesti pun mengungkapkan 5 hal yang disukainya dari Billar yakni humoris, selalu komit, baik dengan keluarga, penyayang dan soleh. (Tumpak S)

Continue Reading

Musik

Konser ‘Sepanjang Masa’ Dewa 19, Obati Kerinduan Pemirsa RCTI

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Sebuah konser bertema ‘Sepanjang Masa’ persembahan band Dewa 19 featuring Ari Lasso, berhasil mengobati kejenuhan pecinta musik Tanah Air yang berdiam di rumah selama masa pandemi Covid-19.

Sesuai temanya, Mega Konser ini mengajak pemirsa bernostalgia lewat lagu-lagu kebanggan milik  Dewa 19 di layar RCTI, Minggu (18/10).

Konser yang disiarkan dari panggung MNC Studios, Kebun Jeruk, Jakarta ini, dibuka dengan lagu ‘Roman Picisan’ dan Lelaki ‘Pencemburu’ oleh band Dewa dan Ari Lasso.

Tak hanya Ari Lasso, lagu-lagu ‘Sepanjang Masa’ juga dibawakan oleh sederet penyanyi bertalenta kebanggaan Indonesia, diantaranya si idola baru Indonesia, Lyodra.

Juara Indonesian Idol 2020 ini menyanyikan 3 lagu, berjudul ‘Risalah Cinta’, ‘Mistikus Cinta’ dan ‘Satu yang Tak Bisa Lepas’.

“Pastinya happy banget bisa ikut meramaikan Mega Konser Dewa 19. Semoga penampilanku bisa menghibur pemirsa di rumah,” pinta Lyodra.

“Pastinya happy banget bisa ikut meramaikan Mega Konser Dewa 19. Semoga penampilanku bisa menghibur pemirsa di rumah,” pinta Lyodra.

Selanjutnya, giliran anak-anak Ahmad Dhani dari Lucky Laki yang tampil sempurna saat membawakan lagu ‘Pupus’.

Kemeriahan Mega Konser masih berlanjut, lewat kolaborasi spesial dari Dewa 19 bersama Isyana Sarasvati dan Fadly ‘Padi’  yang membawakan lagu ‘Cukup Siti Nurbaya’, ‘Pangeran Cinta’ dan ‘Aku Milikmu’.

Sebelumnya, penonton sempat baper oleh penampilan manis dari trio Tasya Rosmala, Happy Asmara dan Jihan Audy yang membawakan lagu ‘Separuh Napas’.

Beberapa lagu yang dibawakan oleh Dewa 19 memang terdengar berbeda dari aransemen sebelumnya.

“Ada beberapa nada-nada yang kami perbarui, karena kami buat lagu ini sekitar usia 20-an, di usia sekarang kami isi lagi nada-nada yang dulu menjadi lebih baik lagi” ujar Dhani Achmad.

Konser Sepanjang Masa berdurasai lebih dari 90 menit ini diakhiri oleh penampilan duet Ari Lasso dan Dewa19 dengan lagu ‘Persembahan dari Surga’. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending