Connect with us

Musik

Rhoma Irama: Jika Kelak Tugas Saya Selesai di Dunia ini Sebagai Seniman Musik, Saya Ingin Mati Husnul Khatimah

Published

on

Pada 11 Desember 2020 ini, Raja dangdut Rhoma Irama dan Sonetanya milad bersama. Tasyakuran dilaksanakan di studio Soneta di kawasan Depok, Jawa Barat. Hadir dalam kesempatan tersebut Hadi Soenyoto dan Bobby dari pihak label HP Music.

Bagi Bang haji — begitu kerap disapa Rhoma Irama mengakui tak mudah membesarkan nama Soneta yang dirintisnya itu. Jatuh bangun dan bahkan terintimidasi dirasakannya bersama, personil Soneta.

” Saya dirikan Soneta ini bertepatan dengan hari kelahiran saya pada 11 Desember, ” ujar Rhoma seraya merunut keberadaan Soneta di awal awal tahun 1970- 1980 an saat booming lagu lagunya dan penuh intimidasi.

Lagu lagu dari Soneta lebih muatan kritik membangun itu, dinilai penguasa saat itu akan mengganggu stabilitas politik.


Benar saja terjadi.

Ditengah booming nya lagu lagu Soneta yang “menggaet kaum marjinal’ kelas bawahan tersebut, menjadi momok tersendiri bagi penguasa orde baru. Mendadak, Soneta dicekal,

” Soneta pernah di larang tampil masuk televisi selama sebelas tahun, ” ungkap Rhoma. Hal itu tak menyurutkan Rhoma selaku leadership di grup tersebut. Meski izin live konsernya di persulit oleh pemerintahan orde baru, Rhoma terus berkreasi mencetak single dan album Soneta, hit dipasaran. Semakin harum nama Rhoma Irama, semakin kencang angin meniupnya, terutama dari rejim pemerintahan Orde Baru.


Beberapa lagu lagu dari Soneta grup itu, seperti “Rupiah”, “Hak Azasi Manusia,”
“Emansipasi Wanita” banyak dimintai klarifikasi oleh pihak keamanan, dalam hal ini, pemerintah Orde Baru, ” Ya, seperti lagu Indonesia, yang syairnya ada kata kata. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, itu salah satu lagu yang membuat saya untuk dimintai klarifikasih oleh pihak keamanan,” ungkap “Satria Bergitar” julukan dari penikmat militannya Soneta

Seperti diketahui bersama. Akhirnya, orang tua dari Ridho Rhoma ini, terjun ke dunia politik praktis. Meski baru menjadi simpatisan partai PPP di tahun 1977, Rhoma didaulat menjadi juru kampanye PPP saat itu. Suara PPP di Jakarta, terdongkrak, mengalahkan suara Golongan Karya saat itu jadi penguasa.

Di tahu tahun musim pemilu berikutnya, seraya terus berkata dengan Soneta grupnya. Rhoma Irama, selain dikenal sebagai penyanyi, artis film dan mubaligh, juga aktif kiprahnya di panggung dunia politik.

Di tahun 1993 hingga 1997 ia duduk di bangku MPR sebagai utusan golongan. Di medio tahun 1996 namanya sempat muncul di daftar legislatif sementara untuk partai Golongan Karya. Hal ini ditandai Rhoma aktif di panggung konser bersama almarhum Ustadz Zainuddin MZ, juga di hadiri Mensesneg Moerdiono dari panggung ke panggung saat itu.

Kabarhiburan.com , saat itu masih di Tabloid Citra mengikutit, mengikuti kiprah Rhoma Irama di masa peralihan hijrah ini, hingga wawancara khusus di Singapura dan Malaysia bersama Rhoma Irama. Pernyataan Rhoma saat berada di partai Golkar, ” Ingin membangun kemaslahatan umat bersama. Mengkritisi tak cukup dari luar saja. Lebih baik ikut bergabung. Dan lihat, berapa banyak masjid-masjid yang dibangun oleh pemerintah?” kilah Rhoma Irama saat itu.

Tahun 2008 hingga 2013, Rhoma Irama, kembali ke partai PPP. Di tahun 2013, caleg dari PKB. Sempat pula namanya di beberapa baleho di sudut sudut kota Jakarta — sambil memegang gitar, ia tampil sebagai calon presiden dari PKB. Meski dinilai masih terlalu dini untuk menjadi orang nomer satu.

Hem, pada 2014 Pendiri Soneta grup yang kini sudah masuk berusia 74 tahun ini, mendirikan partai Idaman, akhirnya ‘diakuisisi’ oleh PAN lantaran suara partainya tak sampai memenuhi syarat peserta pemilihan umum.

Sekarang, jika ditanyakan apa obsesi cita cita Rhoma Irama yang belum tersampaikan selama berkiprah di jalur musik dan politik? “Ketika kelak, tugas saya berakhir sebagai seniman musik di dunia ini. Saya ingin mati, Khusnul khatimah, ” ujar Rhoma seraya ingin lebih berbuat baik dan kebajikan selagi masih ada waktu dan kesempatan. (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

Single Di rumah Aja, Jangan Mudik Dulu, Menggunakan 25 Bahasa Daerah

Published

on

By

Kabarhiburan.com. Gencarnya pemerintah “kampanyekan” larangan mudik lebaran di tahun 1442 H ini menjadi salah satu sumber inspirasi bagi Duo Liolane —- diawaki oleh Adam Lanang Eldoryz, Tisyana Liotta Rizlich menciptakan single, Di rumah Aja, Jangan Mudik Dulu.

Momentum yang pas, saat covid 19 belum reda, Duo Liolane ini menyuarakan single tersebut dalam 25 bahasa daerah. Sasaran yang akan di capai , pastinya, agar masyarakat yang merayakan Idul Fitri, mau dan ingin menunda perjalanan mudik hingga Covid 19 berakhir.

Dalam pandangan Bona Paputungan yang dipercaya memegang posisi MD dan ANR di label 13 Nadi Musik, diyakini mampu mendongkrak kemunculannya. Baik itu bagi nama label rekaman itu sendiri, mau pun nama Duo Liolane yang mengusung single bertajuk Di Rumah Aja, Jangan Mudik Dulu

Lewat lagu yang diproduksi 13 Nadi Musik ini, lanjut Bona Paputungan diharapkan bisa berperan sebagai seruan dan sekaligus menjadikan semangat agar Di Rumah Aja Jangan mudik dulu,” terang Bona Paputungan seraya mempertegas rilisnya, Selasa (11/5/2021).

Lebih lanjut pria seniman nyentrik yang asal kelahiran Gorontalo, khusus debut single dari duo Liolane dan label 13 Nadi Musik merupakan sebuah karya yang unik. Pasalnya, bukan perkara yang mudah, bikin satu kalimat lirik menggunakan 25 bahasa yang dilantunkan dengan musik yang enerjik.

Kendati demikian, jelas Bona, ia pun mahfum dan menyadari, sebuah karya fenomenal boleh jadi akan sia-sia belaka. Oleh karena itu, ia butuh support dari semua pihak, baik dari penikmat musik, penggagas karya mau pun kritisi musik di tanah air.

“Jujur, melalui lagu ini, kami dedikasikan terhadap kebijakan Pemerintah. Di mana bisa menjadi seruan bersama, tak perlu mudik. Nah, perasan kesal dapat tergantikan dengan menikmati lagu atau single ini,” tutup Bona Paputungan seraya menyebut apa yang dilakukan tak ingin sekadar menjadi peramai dikancah industri musik tanah air, lebih jauh dari pada itu, ingin mengukir tinta emas di platform era digital teknologi ini ( Zar/KH)

Continue Reading

Musik

Duet Meldha (Jawa Barat) dan Selfi LIDA Tuai Pujian dari Seluruh Juri

Published

on

By

Meldha (Jawa Barat)

Kabarhiburan.com – Kompetisi LIDA 2021 resmi memasuki babak Top 28 sejak Jumat (7/5) silam. Seperti namanya, Top 28, menyisakan 28 Duta dangdut terbaik dari 21 provinsi, masih akan memperebutkan hadiah total Rp 1 Miliar rupiah.

Jadilah babak Top 28 menjadi pertarungan sengit yang kian menarik untuk disaksikan. Pasalnya, setiap duta diwajibkan berduet  dengan Bintang Indosiar, dihadapan Dewan Juri gabungan Juri tim Merah dan Juri tim Putih.

Suasana baru tersebut langsung menyengat Nisa (Bengkulu). Ia tersenggol pada Konser LIDA 2021 Top 28 Grup 1, Jumat (7/5), disusul Sonang (Riau) tersingkir di Konser Top 28 Grup 2, Sabtu (8/9).

Sementara pada Konser Top 28 Grup 3 yang berlangsung Minggu (9/5), menghadirkan Jihan (DKI Jakarta), Faisal (Kalimantan Tengah), Meldha (Jawa Barat), dan Eki (Kepulauan Bangka Belitung).

Kompetisi dibuka oleh penampilan duet Jihan (DKI Jakarta) dan Randa LIDA, menyanyikan lagu Yang Tersayang. Namun sayang, duet itu tidak berbuah standing ovation yang diinginkan.

Dewan Juri beralasan bahwa romantisnya nanggung dan tidak dibarengi interaksi dari mereka kepada Dewan Juri sebagai penonton.

“Meski dari segi vokal, Jihan sudah mengalami peningkatan yang baik. Hanya saja, masih belum  menunjukkan semua kelebihannya. Harusnya lebih luwes lagi,” pinta Reza DA.

Di belakang Jihan, ada Meldha (Jawa Barat) yang berduet dengan sang jawara LIDA 2018, Selfi LIDA. Keduanya membawakan lagu Diam Bukan Tak Tahu. Meldha langsung meraih standing ovation dari kelima Dewan Juri Rita Sugiarto, Inul Daratista, Fildan DA, Reza DA dan Defrico Audy.

Duet Meldha (Jawa Barat dan Selfi LIDA

Sukses ini membuat Meldha mempertahankan keunggulannya atas 5 standing ovation pada babak Top 42. Pujian pun berdatangan, utamanya dari Rita Sugiarto.

“Keduanya memiliki suara yang sangat bagus, bikin saya bingung membedakan. Suara Meldha sangat berkarakter dan improvisasinya bagus sekali. Vokal Meldha masuk sekali dengan lagu ini,” puji Rita Sugiarto, yang dibenarkan Fildan DA.

Chemistry kalian terlihat padu. Improvisasi juga enak. Meldha mengalami peningkatan yang sangat luar biasa, membuktikan jiwa kamu memang dangdut sekali,” tutur Fildan DA.

Lagu Milikku dibawakan oleh duet Faisal (Kalimantan Tengah) dengan Gunawan LIDA, si Juara 2 LIDA 2020, enak didengar. Hasilnya, mampu menuai empat standing ovation dari empat Dewan Juri, kecuali Inul Daratista. Alasannya?

“Karena terdapat pembagian suara yang terkesan bertabrakan di beberapa bagian lagu,” kata Inul.

Sebaliknya, Rita Sugiarto justru menginginkan agar Faisal harus lebih spektakuler lagi. Kalian kompak sekali dan tadi enak sekali didengar. Saya sangat menikmati penampilan kalian,” katanya.

Faisal (Kalimantan Tengah) dan Gunawan LIDA

Konser Top 28 Grup 3 berakhir pada duet Eki (Kepulauan Bangka Belitung) dengan Nia LIDA, lewat lagu Jangan Tinggalkan Aku. Hanya saja, Eki tidak berhasil meraih standing ovation.

“Lagu ini mengingatkan pada masa perjuangan saya. Begitupun saat melihat penampilan kamu, saya tahu dari suara kamu yang bergetar itu. Kamu sangat grogi dan berdampak pada penampilan kamu, banyak kehilangan lirik lagu,” ujar Fildan DA.

Polling akhir menempatkan Faisal (Kalimantan Tengah) di posisi teratas, sekaligus berhak melaju ke babak Top 21.

Sementara Meldha (Jawa Barat) harus puas berada di posisi tiga terendah bersama Jihan (DKI Jakarta) dan Eki (Kepulauan Bangka Belitung). Dewan Juri sepakat untuk menyelamatkan Meldha (Jawa Barat) untuk melaju ke babak Top 21.

Perolehan polling Jihan (DKI Jakarta) yang unggul atas Eki (Kepulauan Bangka Belitung), sehingga Eki (Kepulauan Bangka Belitung) dinyatakan tersenggol dari panggung LIDA 2021.

Supaya Duta Provinsi kebanggan terus bertahan di panggung LIDA 2021, pemirsa dapat memberikan dukungan kepada Duta Provinsi favoritnya.

Caranya, kirimkan dukungan melalui aplikasi Shopee sebagai official voting partner LIDA 2021, atau kirim SMS ke 97288 dengan format: LIDA (spasi) Nama Duta dengan tarif Rp 2.200 per sms. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. Indosiar)

Continue Reading

Musik

‘Pesan Cinta’, Untuk Saling Menghargai Perbedaan dari Rieka Roslan dan Popsicle

Published

on

By

Grup vocal Popsicle

Kabarhiburan.com – Penyanyi Rieka Roslan gandeng anak asuhnya di ajang Pop Academy Indosiar 2020, kini tergabung dalam grup vocal Popsicle meluncurkan lagu terbarunya berjudul Pesan Cinta.

Lagu ini mengusung pesan agar generasi muda menghargai perbedaan dan bertoleransi antar sesama. Semua menyadari bahwa perbedaan itu indah dan harus bisa mempersatukan sebagai bangsa.

Anggota Popsicle semua perempuan, terdiri Martha Fakdawer, Maria Puspita, Tasya Ivanka, Inara Detry dan Tabita Roselin. Mereka berasal dari latar belakang, suku dan agama yang berbeda-beda. Ada dari Papua, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jakarta dan Sulawesi Utara.

“Pesan Cinta diluncurkan pada 21 April 2021, bertepatan dengan Hari Kartini. Ingin membawa semangat Kartini dan semua pejuang perempuan, dengan semangatnya memberikan pesan positif untuk Indonesia melalui lagu ini,” ujar Rieka.

“Indonesia memiliki anak bangsa yang bertalenta dalam budaya sebagai aset bangsa ini. Keberagaman ini harus terus dipupuk, agar lebih mencintai bangsa dan tanah airnya. Sekaligus memahami perbedaan di dalamnya, mulai dari suku, agama dan adat istiadat,” katanya.

Seluruh proses produksi pembuatan Pesan Cinta dikerjakan oleh Halaman Musik, suatu komunitas bentukan Rieka Roslan dan Angga Saleh, bertujuan mewadahi dan memfasilitasi musisi dan seniman Indonesia untuk dapat berkarya di pentas Nasional.

Selama pandemi berlangsung, Halaman Musik melakukan kegiatan sosial bersama seluruh insan musik dari berbagai usia dan lintas genre. Kemudian menjadi komunitas dan berkarya yang bisa menjadi seruan atau pesan baik, untuk memberikan motivasi yang positif pada generasi muda.

Bagi Rieka, lagu adalah cara mudah untuk memberikan pesan kepada generasi muda, agar mereka memahami bahwa berbeda itu indah.

“Untuk itu, saya menciptakan lagu ini dan saya nyanyikan bersama dengan 5 anak millenials yang merupakan anak didik saya,” kata Rieka.

Tidak akan berhenti disini, Halaman Musik akan terus berkarya dan memberikan wadah bagi talenta-talenta baru, agar karya mereka dapat dinikmati oleh pencinta musik Tanah Air. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending