Connect with us

Lifestyle

Rosianna Silalahi: Jangan Takut Meraih Mimpi

Published

on

Para narasumber dalam talkshow: Jangan Takut Meraih Mimpi. Dari kiri ke kanan: Panji Pragiwaksono, Rosianna Silalahi dan Olivia Ong.

Kabarhiburan.com, Depok – Kesuksesan bisa saja diraih melalui jalur akademik maupun non akademik. Satu hal yang tidak boleh dilewatkan begitu saja adalah ketekunan. Orang sukses pasti memiliki satu kata kunci: Tekun.

Pendapat ini mengemuka dalam talkshow bertajuk Jangan Takut Meraih Mimpi, yang berlangsung di Auditorium Program Vokasi, Universitas Indonesia, Depok, Senin (3/12).

Talkshow ini masih dalam rangkaian even Goes to Campus with Rosianna Silalahi, yang sudah mengunjungi berbagai kampus di seantero Indonesia.

Rosianna mengatakan, banyak anak muda, sebenarnya memiliki mimpi yang hebat. Hanya saja, mungkin mereka tidak tahu, bagaimana cara mewujudkan mimpi tersebut.

“Inilah yang akan saya tunjukkan pada mereka, apapun mimpi dan cita-cita mereka itu bisa terwujud asal mereka tidak takut untuk menempuh perjalanan berliku untuk menanggapinya,” ujar Rosianna yang bertindak sebagai moderator.

Rosianna menghadirkan dua narasumber yang berbeda jalur menuju suksesnya. Mereka adalah dr Olivia Ong, pemilik Jakarta Aesthetic Clinic dan Panji Pragiwaksono, entertainer multi talenta.

Olivia Ong menggapai mimpinya menjadi seorang dokter estetika melalui proses tekun belajar dan berlama-lama di perpustakaan.

“Saya memang senang belajar. Waktu kecil saya selalu berpikir, saya harus rajin belajar untuk bisa lebih pintar dan unggul. Kalau kita rajin, kita bisa sukses,” ujar Olivia.

Olivia juga tidak pernah mempermasalahkan kondisi ekonomi orang tuanya. Hal tersebut justru melecut dirinya untuk meraih mimpinya. Dengan keberhasilannya masuk ke kedokteran, maka Olivia pun berpandangan jika semua orang juga bisa seperti dirinya.

“Orang tua mengajarkan nilai yang baik dan benar. Dari kecil, saya tidak pernah membanding-bandingkan satu orang dengan orang lain,” kata Olivia Ong.

Sementara Panji justru meyakini, bahwa  meraih sebuah mimpi tidak harus lewat sekolah atau jalur akademis, tapi bisa juga melalui bermain. Meski demikian, bukan berarti seseorang harus meninggalkan sekolah demi meraih mimpi.

“Jangan banyak belajar, tapi perbanyaklah bermain. Karena bermain, menurut saya, adalah belajar yang dilakukan secara sukarela,” ujar Pandji.

Rosianna berharap agar anak muda bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi untuk mewujudkan mimpi dari sharing pengalaman yang diberikan oleh Pandji Pragiwaksono dan dr. Olivia Ong.

“Dua narasumber ini dari jalur kehidupan yang berbeda, tapi ada kesamaan. Kuncinya ketekunan, mau sekolah lanjut atau tidak, terus belajar, saya yakin Pandji juga masih terus belajar. Orang sukses punya satu kunci tekun, mau tekun main, atau tekun belajar. Kita menyukai sesuatu hal, maka harus ditekuni,” pungkasnya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle

KBRI untuk Belanda Gandeng Pelangi Wastra Indonesia Populerkan Kain Tradisional di Museon, Den Haag

Published

on

Kabarhiburan.com, Den Haag- Delapan perancang mode Indonesia, yang tergabung dalam Pelangi Wastra Indonesia, tampil di hadapan publik Belanda, dalam sebuah fashion show bertajuk “The Modest Heritage of Indonesia”.

Acara yang digelar di Museon, Den Haag, pada Jumat, 7 Desember 2018, ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di  Den Haag, bekerjasama dengan Pelangi Wastra Indonesia, Garuda Indonesia, Sparks Fashion Academy dan didukung oleh perancang perhiasan Baroqco dan Ferlin Yoswara dengan brand SAARAA Jewelry.

Kedelapan perancang mode yang tampil pada fashion show kali ini adalah Leny Rafael, yang membuat rancangan dengan tenun Badui, Adelina Willy Suryani dengan sutra Garut, Rizki Permatasari dengan kain khas Sumba, Dwi Lestari Kartika dengan batik Bekasi, Gita Orlin dengan batik Trenggalek, Melisa A. Bermara dengan karya-karya yang terinspirasi oleh burung Enggang khas Kalimantan, Lala Gozali dengan kain lurik Jawa, dan Putri Permana dengan tas Jepara.

Koordinator Pelangi Wastra Indonesia, Leny Rafael mengatakan, “The Modest Heritage of Indonesia” diselenggarakan dengan tujuan untuk mempromosikan kekayaan dan keragaman budaya Indonesia lewat kain-kain tradisional Indonesia.

“Ini tak hanya kesempatan emas buat Pelangi Wastra Indonesia tampil di Belanda, namun kami lebih membawa misi budaya, yakni memperkenalkan kekayaan Wastra Indonesia ke mancanegara. Tak hanya itu, secara tak langsung kami juga turut memperkenalkan keindahan dan pariwisata Indonesia ke masyarakat Belanda,” kata Leny Rafael.

Acara yang berlangsung mulai pukul 16.00 hingga 22.00, dimulai dengan talkshow bertajuk Wastra Indonesia, Timeless Sources of Inspiration, dipandu oleh Yetty Haning dari Centre for Culture and Development Belanda (CCD-NL). Salah satu program CCD-NL untuk tahun 2019 adalah “Binding with Ikat” dengan  mengirimkan 3 (tiga) orang desainer Belanda ke Kupang untuk bekerja sama dengan para pengrajin dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, mendalami teknik maupun desain tenun ikat.

Ketiga desainer Belanda tersebut sekembalinya ke Belanda akan menghasilkan suatu karya yang terinspirasi dari tenun ikat. Hasil karya mereka akan dipamerkan di Eindhoven Design Week bulan Oktober 2019 dan beberapa museum di Belanda. Diharapkan hasil karya mereka tersebut dapat pula dipamerkan di InaCraft dan Indonesia Fashion Week 2020.

Usai talkshow,
acara dilanjutkan dengan peragaan mode. Tampil pada sesi pertama: Leny Rafael, disusul oleh Dwi Lestari Kartika dan Putri Permana. Usai penampilan pertama, peragaan mode dilanjutkan dengan penampilan karya-karya Rizki Permatasari, Lala Gozali, Adelina Willy Suryani, Melisa Bermara, dan Gita Orlin. Sebagai penutup rangkaian acara The Modest Heritage of Indonesia

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tamu, serta memberikan apreasiasi kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi untuk menyukseskan acara ini, di antaranya, semua perancang mode yang tergabung dalam Pelangi Wastra Indonesia, Garuda Indonesia, Center for Culture and Development – Netherlands, Ferlin Yowsara Fyne Jewelry, dan Baroqco.

“Indonesia terdiri atas ribuan pulau dan ratusan suku bangsa dengan latar belakang etnis, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda, termasuk tekstil uniknya yang sudah dikenal dunia, seperti batik. Lewat fashion show ini, saya berharap Anda semua mendapat gambaran tentang Indonesia dengan kekayaan budaya, serta gambaran tentang industri kreatif yang makin berkembang di Indonesia” kata Duta Besar Wesaka Puja.

Continue Reading

Lifestyle

Alexander Christie Hadirkan Koleksi Terbaru Jam Tangan ‘Tabrak Warna’

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Belakangan ini segala sesuatu yang bertema 90an kian digemari. Sebut saja, kemeja flanel, sneakers bersol tebal, jaket denim berhias patch, hingga pakaian berwarna vibrant.

Tren ini juga menginspirasi label jam tangan Alexandre Christie akan meluncurkan koleksi jam tangan terbaru, AC DIGI pada Januari mendatang.

AC DIGI yang merupakan generasi kedua ini menyediakan 13 varian warna dial, diantaranya tujuh warna strap nato berbeda dan enam warna silicon strap, yang terbilang dominan.

Untuk dial, hadir pada warna merah, kuning, biru, hingga hijau tosca. Sementara nato strap cenderung lebih dinamis warnanya, memiliki hiasan garis dan terdiri dari tiga warna. Di antaranya perpaduan merah-putih-abu, abu-putih-hijau tosca, atau merah-putih-biru dongker.

Tersedia pula nato strap bermotif army bagi mereka yang ingin tampil manly. Sementara bagi mereka yang ingin tampil serba hitam AC DIGI melengkapinya dengan all black silicon jacket.

Kasih Rama selaku Head of Brand Activation Alexandre Christie, menyebutkan konsep ‘tabrak warna’ ini cocok untuk merepresentasikan gaya di tahun 90an.

Dari kiri ke kanan: Shawati, Kasih Rama, Henry Judiffer.

“Kami mau ajak para generasi 90an untuk bergaya kembali dengan jam tangan ini. 90s kan sukanya nabrak-nabrak. Jadi enggak peduli baju dan jamnya warna apa,” ujar Kasih Rama dalam acara prelaunch AC DIGI, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (7/12).

Tampilan ragam warna memang paling ditonjolkan pada koleksi ini. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodasi segala jenis karakter anak muda, yang senang berganti-ganti tampilan jam tangan.

“Dari insight konsumen yang kami dapatkan, milenial lebih suka yang diganti-ganti. Jadi punya satu, tinggal beli aksesori seperti strap-nya saja,” ujar Kasih yang menambahkan bahwa ragam warna AC DIGI mampu mengakomodasi segala jenis karakter anak muda.

Ia memisalkan karakter pendiam, bisa menggunakan AC DIGI dengan dial berwarna putih dengan nato strap warna merah-putih-biru dongker.

Sementara mereka yang feminin bisa menggunakan AC DIGI dengan nato strap berwarna abu-merah muda yang dipadukan dengan dial case bening. Bagi yang gemar bergaya nyentrik, AC DIGI menyediakan paduan warna biru dan jingga.

“Untuk kasual sih biasanya lebih baik pakai warna netral yang tidak terlalu bertabrakan. Tapi semua kembali lagi pada masing-masing individu,” jelas Kasih menjawab pertanyaan tentang harga.

“Nanti bisa dicek di medsos kami pada Januari 2019 mendatang. Yang jelas, produk ini unisex dengan mengusung trend back to 90’s,” imbuh Kasih.

Seperti diketahui jam tangan berdiameter 38 x 39 mm ini sudah didukung oleh teknologi water resistant, selain memiliki back case dan inner material stainless steel. Fasilitas ini mengisyaratkan bahwa jam  tangan AC DIGI bisa digunakan untuk berbagai kegiatan ekstrim. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Lifestyle

Bisnis Bulu Mata Impor Harga Lokal dari Uci Flowdea

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan menarik. Bulu mata palsu yang merupakan salah satu perangkat kecantikan pun menjadi bisnis yang menggiurkan.

Peluang inilah yang dimanfaatkan Uci Flowdia, seorang pengusaha dan produser film. Ternyata berhasil.

Wanita pengusaha asal Surabaya yang suka dandan ini melebarkan sayap bisnisnya, yakni memasarkan salah satu produk penunjang kecantikan  berupa bulu mata palsu, menggunakan merek dagang: Uci Flowdea.

“Saya kerja sama dengan teman untuk mendatangkan produk bulu mata dari California, Amerika Serikat. Saya pasarkan di Indonesia dengan brand saya sendiri, Uci Flowdea,” kata Uci saat di temui di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, pekan silam.

Sebelum memutuskan bulu mata ini sebagai peluang bisnis, Uci mengaku lebih dulu menggunakan produk tersebut.

“Produk ini enggak bikin capek. Saya sudah pakai selama 24 jam, termasuk saat tidur. Bangun tidur nggak ada masalah dan nggak buat mata merah,” ujar Uci.

Satu lagi kelebihan bulu mata Uci Flowdea adalah memiliki tahan yang lebih lama, sehingga bisa digunakan berulang kali.

Saya sudah pakai sampai enam kali, masih bagus. Biasanya merek lain, kan, hanya sekali pakai sudah harus dibuang karena sudah rusak,” imbuhnya.

Dari beragam jenis bulu mata palsu, Uci memilih hanya memasarkan dua item bulu mata, yakni untuk pesta dan untuk dipakai sehari-hari.

“Saya lebih tertarik pilih dua item biar nggak ribet. Lagi pula dua item itu paling sering dipakai orang,” jelas Uci yang memasang banderol harga Rp 42.000 per lusin bulu mata palsu.Terjangkau, bukan?

“Harga segitu sudah saya pertimbangkan.  Walaupun barang impor, tapi harga lokal.  Yang penting bisnis ini jalan dulu dan bisa meng-cover  biaya kirim barang dan gaji karyawan,” kata Uci yang mempekerjaan lima karyawan.

Mata palsu Uci Flowdea dipasarkan secara daring alias online di wilayah Surabaya, Bali, Jakarta, dan Singapura.

“Pasar saya, masih terbatas teman-teman,  make up artis (MUA) dan salon yang paling banyak memerlukan bulu mata palsu. Saya melihat peluang ini,” kata Uci yang juga dikenal sebagai produser film Perfect Dream (2017).

Film ini dibintangi oleh Wulan Guritno, Ferry Salim, dan Olga Lydia. (Rachmawati AB/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending