Connect with us

Event

Royalty Musik, Membangun Iklim Kesadaran Hukum Bagi Para Musisi

Published

on

Yovie Widianto

Kabarhiburan.com – Presiden Joko Widodo menandatangani PP 56 pada 30 Maret 2021, tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik. PP yang dimaksudkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Faktanya di lapangan, masih bertolak belakang dengan peraturan yang telah diundangkan. Alhasil, ruwet sengkarut tata kelola royalti Hak Cipta Lagu Dan/Atau Musik di Indonesia, belum terurai sebagaimana mestinya.

Seperti terungkap dalam zoom meeting yang digagas Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (Kophi) pada Kamis (2/12) malam. Sengkarut tata kelola royalti itu belum menunjukkan titik terang. Masih sangat kelam, dan masih jauh dari benderang.

Terlalu sulit mengurai persoalannya, bukan semata telah menahun permasalahannya, tapi keterlibatan musisi sebagai bagian aktif dari persoalan ini juga sangat rendah sekali, utuk tidak mengatakan cenderung mengambil posisi apatis. Alhasil, sebagaimana dikatakan Denny MR, selaku pemandu acara, persoalannya sangat berlapis-lapis. Sampai pada taraf sangat sulit sekali mengurainya.

Persoalan pat-gulipat PT LAS selaku pihak ketiga yang ditunjuk LMKN tanpa proses tender, dan tudingan salah satu komisioner LKMN ternyata juga memiliki saham di PT LAS, belum purna. Atau sengaja tidak diselesaikan, bahkan setelah publik mengetahui bobrok dan akal-akalan mereka, kini ada persoalan baru.

Seperti Posan Tobing, selaku musisi menggugat label Warner ke pengadilan, menyusul Musica Studio’s mengajukan gugatan UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tuntutannya, agar royalti produser dinaikkan dari 50 tahun menjadi 70 tahun.

Atau, dalam bahasa Candra Darusman, Musica Studio menginginkan penghilangan pasal 18 dan 30, untuk diganti menjadi Kesepakatan Industri. Turunannya hak kepemilikan master lagu, yang tadinya hanya selama 25 tahun akan kembali menjadi milik musisi, akan bertambah menjadi 70 tahun. Setelah itu, baru kembali ke penciptanya.

Dalam bahasa Cholil Mahmud, vokalis dan gitaris band Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi, sengkarut persoalan royalti harus direspon musisi dengan mengubah cara berpikirnya. Meski pagi-pagi sekali, Cholil Mahmud yang sekarang bermukim di New York AS, mengatakan pendapatnya mewakili dirinya sendiri, bukan musisi secara umum.

“Musisi mesti mempunyai perubahan sikap, sehingga dikotomi musisi mainstream dan sidestream hilang, tidak ada lagi. Karena kita sekarang hidup di era borderless,” kata anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) itu, sembari menambahkan, meski sepemahamannya, musisi sidestream biasanya yang memiliki sendiri master lagunya, dan memiliki sistem hubungan yang berbeda dengan pihak label, jika misalnya dibandingkan dengan musisi mainstream. Saat jaman terlalu berlari seperti sekarang, dengan segala digitalisasinya.

“Mau tidak mau musisi sidestream menjadi bagian dari industri, atau satu kolam dengan musisi mainstream. Karenanya, semua musisi harus mempunyai kesadaran hak-hak yang melekat pada dirinya. Dari hak cipta dan hak terkait yang muncul dari karyanya, termasuk hak mekanikal,” katanya.

Meski dia juga mengakui, banyak musisi yang tidak tahu, ihwal hak cipta dan hak terkait. Atau banyak diantaranya sangat tidak concern tentang persoalan ini.

“Makanya persoalan ini harus dibicarakan terus menerus, agar berdampak pada musisi itu sendiri,” katanya.

Karenanya Cholil Mahmud mengakui sangat membutuhkan bantuan media, untuk terus menyuarakan hal ini. Karena pada saat bersamaan tidak banyak media yang membicarakan, dan menulis persoalan ini dengan baik, karena persoalan royalti memang sangat rumit.

“Kalau media menulis dengan baik (persoalan royalti), akan sangat membantu sekali musisi,” katanya. Sehingga kerumitan seperti conflick of interest antara LMKN dan PT LAS, karena komisioner LMKN menjadi pemilik saham PT LAS, bisa dicegah via suara publik yang disuarakan media. Juga persoalan perseteruan royalti lainnya.

Senada, Candra Darusman mengatakan, meski masih mengaku prematur pendapatnya ihwal persoalan gugatan Musica ke MK, karena dia belum menyelesaikan membaca dan mendalami 58 halaman gugatan Musica Studio ke MK via Otto Hasibuan & Associates, tapi dasarnya ada upaya penghilangan pasal 18 tentang pencipta, dan pasal 30 tentang pelaku atau penyanyi.

“Menghilangkan pasal 18 dan 30 diganti kesepakatan industri. Maknanya, master lagu bisa dihidupkan lagi kalau ada kesepakatan industri antar para pihak. Kalau kesepakatan tidak tercapai, ya ngga jadi apa-apa,” katanya. Meski Candra Darusman juga akhirnya menemu simpulan, gugatan Musica ke MK juga bisa dimaknai sebagai upaya menggairahkan kembali industri musik, agar master master lama bisa dimanfaatkan lagi.

“Saat kali pertama membaca berita gugatan itu, darah saya mendidih. Setelah saya baca, ternyata ada unsur menggairahkan,” katanya sembari menekankan, persoalan gugatan ini jangan sampai membuat kita semua, juga publik, melupakan permasalah LMKN dan pihak terkait, menjadi terbengkalai.

Keprihatinan Mendalam

Candra Darusman bersama Federasi Serikat Musik Indonesia (Fesmi) memang sedang mensiasati persoalan gugatan ini dengan sangat hati-hati. Terutama mendalami dugaan upaya penghilangan pasal 18 dan 30, serta sedang menyusun dokumen, karena melibatkan concerned party.

Atau pihak terkait yang menjadi subjek dugaan atau laporan Pelanggaran berdasarkan Kebijakan tertentu.

Ihwal gugatan kepemilikan master 50 tahun menjadi 70 tahun, atau 25 tahun menjadi 70 tahun, juga disikapi dengan keprihatinan mendalam oleh Yovie Widianto. Karena di satu pihak, sebagai pencipta lagu hits, yang banyak bertebaran dalam khazanah musik Indonesia. Yovie Widianto dari lubuk hati terdalam juga menginginkan pembagian royalti yang adil dari para pihak, atau pencipta dan label.

“Sebagai komposer, kita berbisnis dengan baik-baik dengan semua label rekaman. Meski banyak temen saya yang mengatakan, harusnya saya ‘dapat’ lebih. Karena itu, (persoalan gugatan ini) mendapatkan perhatian saya, sebagai komposer, saya hanya mengatakan, yuk kembali ke hari nurani,” kata Yovie, meski di saat bersamaan dia menyadari dunia bisnis, pasti berpikir untung dan rugi. Makanya dia berharap agar lekas tercapai kesepakatan win win solution.

“25 tahun itu, sudah lama. Tapi ini kok 70 tahun hak master baru kembali. Katakanlah kita mulai terjun di industri ini umur 25 tahun, kalau 70 tahun, kan uda ngga ada (meninggal dunia),” katanya masgul.

Untungnya Yovie Widianto mengaku bukan sebagai pribadi yang mudah terprovokasi. Dan sangat meyakini bahwa rejeki tidak ada yang tertukar. Karenanya, ketika banyak kawan-kawannya — sekali lagi — mengatakan seharusnya dia mendapatkan lebih atas royalti lagunya, dia menyikapi dengan biasa saja.

“Tapi saya tetap berharap seperti teman-teman saya di Korea, Jepang dan lainnya, agar hak saya terpenuhi dengan semestinya,” katanya, sembari berharap ada klausul jika hendak menghidupkan kembali master di masa lalu, bagusnya ada pembicaraan ulang dengan penciptanya. Siapapun itu. Sembari menyorongkan azas transparansi, dan akuntabilitas.

“Saya tetap berharap tetap ada yang baik ke depan di industri musik. Dengan transparansi tetap bisa cuan, kok,” katanya.

Pendampingan Hukum

Diana Silfiani, selaku legal consultant sejumlah musisi di Indonesia mengakui, awareness musisi ihwal royalti memang sangat minim. Atau agak kurang mengoptimalisasi revenue. Turunannya, revenue-nya tidak maksimal. Seperti pemahaman tentang pola kerja LMKN untuk performing berdasarkan square (ukuran) tempat tampil, juga belum diketahui semua musisi.

Karenanya sebagai penasehat hukum, Silfiani mengaku miris atas gugatan Musica ke MK. “Miris. Musisi dan pencipta lagu akan dibawa ke mana? Diam saja, atau bagaimana? Makanya, saya sering heran mengetahui banyak musisi hendak melakukan perikatan apapun, tapi tidak didampingi legal consultant,” katanya.

Dalam semua perikatan, kata Silfiani, harusnya ada pendampingan hukum. “Karena membaca dan memahami perjanjian itu, teknis sekali,” katanya menambahkan.

Karenanya, Silfiani berterima kasih, sejumlah pewarta sudi turut membicarakan persoalan royalti ini. Harapannya, musisi lekas berhimpun dan bergerak, untuk menyelematkan periuk nasinya sendiri, sebelum terlalu lama terlelap tidur, dan terlambat semuanya.

Fenomena sangat lambannya musisi merespon persoalan royalti, juga dirasakan sejumlah pewarta musik. Selain Denny MR, yang sudah lelah mengingatkan musisi untuk bergerak, merumuskan pemikiran, dan memperjuangkan hak-haknya, Irish Blackmore juga mengatakan hal serupa.

“Kalau kita pakai teori terbalik, dalam persoalan ini. Kenapa wartawan yang malah bergerak untuk menghadirkan pertemuan ini, (juga sejumlah pertemuan lainnya yang digagas Lesehan Musik / Lesmus). Musisinya? malah adem ayem,” kata Irish yang juga Ketua PWI Jaya Seksi Musik dan Film, protes.

“Kita belum menemukan gregetnya teman-teman musisi. Yang peduli, cuma nama itu-itu saja. Pertemuan ini terjadi kan, hanya bagian dari tanggung jawab moral kami. Inilah yang kami sayangkan. Harusnya, kawan-kawan musisi bergerak memperjuangkan nasibnya sendiri,” kata Irish menyayangkan.

Lebih lanjut, Irish Blackmore mengatakan, sejatinya pewarta hanya ingin mempersiapkan dan memberikan panggung kepada para musisi. Sebelum akhirnya terus mendukungnya dari segala sisi.

“Tapi apa yang terjadi, yang mau diberikan panggung, enggak nongol-nongol, bahkan seolah-olah masalah ini dibiarkan seperti benang kusut,” katanya.

Kalau musisi terus berdiam diri, menanggapi persoalan itu, maka Irish Blackmore meyakini, goal persoalan ini tidak akan pernah terwujud, yakni memartabatkan musisi pada tempat semestinya.

Peran wartawan hanya sebatas sebagai pendorong diamini sepenuhnya oleh Denny MR. “Mungkin awareness musisi sangat kecil, makanya kita cari solusi agar kawan-kawan (lekas) keluar kandang,” kata Denny MR yang dibenarkan Cholil Mahmud.

Sebagai salah satu pilar demokrasi, kata Cholil Mahmud, peran wartawan memang cenderung tidak terlihat. “Semoga kawan-kawan wartawan tidak lelah mencermati persoalan royalti ini. Sampai ketemu alasan kenapa musisinya tidak mau bergerak. Dan musisi mempunyai keberanian menempuh jalur hukum,” katanya.

Berperkara di pengadilan, di negara hukum seperti Indonesia, menurut Cholil Mahmud adalah keniscayaan, jadi tidak ada yang istimewa. Makanya, tidak ada cara yang lain, selain musisi harus berani.

Meski Candra Darusman tetap mewanti-wanti, bergerak tetap harus. Tapi harus lewat perhitungan terperi. “Saya rasa kita harus bergerak dengan sistematis dan terukur. Dengan mempersiapkan argumen dan pendalaman. Tidak bisa asal bunyi,” kata Candra Darusman.

Chandra Darusman juga sangat tahu, klausul yang digunakan Musica via ke MK adalah, ada 60 negara di dunia yang memberikan hak fiksasi kepada produser selama 70 tahun. Tapi itu bukan berarti menjadi pembenar hal yang sama bisa diterapkan di Indonesia.

Pada akhirnya, dalam zoom meeting yang difasilitasi Kang Iyu dan Arey Arifin itu, seharusnya jika ada persoalan abuse (suatu tindakan dimana ketika seseorang, dengan sengaja menyalahgunakan, memanfaatkan, memperlakukan orang lain secara tidak pantas dan tidak wajar tanpa memikirkan perasaan dan diri orang tersebut), sebagaimana dikatakan Diana Silfiani, bisa dihadapi di muka hukum.

“Bagaimana membangun iklim kesadaran (hukum) kepada kawan-kawan musisi? Tergantung individu masing-masing. Kalau relevan dengan dirinya sendiri, (biasanya) dia akan bergerak membuat gerakan yang relevan juga,” kata Silfiani. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event

Ada Kategori Khusus Wartawan Pada Lomba Karaoke dan Akustik Sambut HPN dan Hari Musik 2022

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 sudah di depan mata. Guna memeriahkan hari bersejarah tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan lomba karaoke dan akustik. Kegiatan ini juga dikaitkan dengan Hari Musik, yang dirayakan pada 9 Maret.

Kick-off Lomba Karaoke dan Akustik berlangsung di Gudang Coffe, kawasan Meruya, Jakarta Barat, yang dihadiri jajaran pengurus PWI Jaya dan panitia pelaksana dari Gudang Coffee, Sabtu (15/1/2022).

Tampak pula sejumlah penyanyi yang sekaligus menjadi juri lomba ini, di antaranya Lina Geboy, Sofie Angel dan Barbie Kumalasari. Mereka berkesempatan melantunkan suara emasnya, termasuk berduet dengan Ketua Dewan Kehormatan (DK) PWI Jaya Diapari Sibatangkayu dan Cak Herry Sarsongko Ludiro.

Kemeriahan tersebut menggenapi acara pemotongan tumpeng oleh Indra Edi Yani selaku owner Gudang Coffee, yang diberikan kepada Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah dan Ketua Panitia, Tubagus Adhi.

Potongan tumpeng juga diberikan kepada Dadang Rahmat dan Supendi, selaku Event Organizer Turnamen Golf.

Sayid Iskandarsyah pada kesempatan menyampaikan tentang adanya kategori khusus wartawan pada lomba nyanyi berhadiah total Rp45 juta ini.

“Dari kalangan media juga banyak yang bisa menyanyi. Lomba ini sekaligus menjadi ajang penyaluran bakat mereka,” jelas Sayid Iskandarsyah, yang juga penanggung jawab acara ini.

Lomba nyanyi menjadi salah satu kegiatan PWI Jaya dalam rangka memeriahkan peringatan HPN 2022 di tingkat DKI Jakarta. Kegiatan lainnya adalah Turnamen Golf dan Anugerah Jurnalistik Muhammad Husni Thamrin (MHT Awards).

Turnamen Golf dilangsungkan pada Minggu, 20 Maret 2022, di Rancamaya Golf & Country Club (JGCC), Bogor. Itu, selang sehari setelah final Lomba Karaoke dan Akustik pada 19 Maret.

Sebagaimana lomba nyanyi, panitia pelaksana turnamen golf juga bekerja keras mempersiapkan penyelenggaraannya.

“Persiapan lomba nyanyi dan turnamen golf sudah on the track,” ujar Tubagus Adhi, ketua panitia lomba nyanyi dan turnamen golf HPN PWI DKI Jaya.

Untuk Turnamen Golf, kata Tubagus  Adhi, panpel secara khusus mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Pangdam Jaya Mayjen TNI Untung Budiharto dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran.

Terkait lomba nyanyi, panpel mengakomodir antusiasme peserta dari luar Jakarta, khususnya Jabar, dengan memberikan kesempatan mendaftar sekaligus audisi awal di Jay Krhesna, dengan alamat: Warkop Kopid Zona Bahagia, Patrol, Indramayu. Atau melalui email:  jay.krhesna@gmail.com.

Untuk peserta dari wilayah Jabodetabek, pendaftaran bisa melalui website: www.gudangcoffee.com. Atau, datang langsung ke Gudang Coffee, di Jalan H. Lebar No 9, RT 04/ RW 0, Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat. Persisnya di belakang kampus Universitas Mercu Buana (UMB).

Biaya pendaftaran Lomba Karaoke dan Akustik sebesar Rp100.000, akustik Rp150.000. (Tumpak S)

Continue Reading

Event

Miss Indonesia 2022 Mencari Perempuan yang “Manner, Impresive, Smart dan Social”

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Yayasan Miss Indonesia bersama RCTI kembali menggelar ajang beauty pageant bergengsi di Indonesia, yakni Miss Indonesia 2022. Audisinya dilakukan secara online melalui aplikasi RCTI+ dan IgetSpot mulai hari ini, 15 Januari 2022.

Sempat tertunda pelaksanaannya selama setahun akibat pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air, perhelatan kembali diadakan.

Liliana Tanoesoedibjo selaku Chairwoman Yayasan Miss Indonesia mengatakan, setiap kegiatan ajang Miss Indonesia selalu memberikan dukungan terhadap pelestarian dan perkembangan budaya Indonesia.

Yayasan Miss Indonesia bersama RCTI selalu berkomitmen menghadirkan ajang bagi para perempuan yang tidak hanya cantik, bertalenta, dan pandai. Selain memiliki rasa sosial dan kepribadian yang baik, disamping dedikasinya yang tinggi dalam mewakili perempuan Indonesia ke ajang International, khususnya Miss World,” ujar Liliana Tanoesoedibjo dalam keterangannya, Sabtu (15/1/2022). Yayasan Miss Indonesia.

Tidak sekadar memiliki paras cantik, namun ajang Miss Indonesia mencari perempuan yang berkharisma yang memenuhi kriteria “MISS” yaitu Manner, Impressive, Smart, serta Social.

Manner, artinya setiap Miss Indonesia harus memiliki kepribadian dan perilaku yang baik sebagai role model.

Impressive, artinya seorang Miss Indonesia tidak hanya cantik tetapi memiliki kharisma yang menarik.

Smart, artinya seorang Miss dituntut tidak hanya sekedar pintar tetapi cerdas dalam segala hal, termasuk dalam menghadapi dan memecahkan masalah, menyesuaikan dan memposisikan diri, berwawasan luas,  dan dapat berkomunikasi dengan baik.

Social, artinya seorang Miss harus memiliki pribadi yang  tulus, suka menolong orang, terutama yang membutuhkan.

Cara mengikuti sebagai berikut:

Audisi online di RCTI+:

1.Mengunduh aplikasi RCTI+

2.Klik banner audisi online Miss Indonesia 2022

3.Unggah dua video yang berisi perkenalan diri dalam bahasa Inggris serta video talenta yang dimiliki

4.Wajib mengisi google form dengan klik link audisi online Miss Indonesia 2022

Audisi online melalui igetSpot:

1.Mengunduh aplikasi igetSpot,

2.Klik banner audisi online Miss Indonesia 2022

3.Isi data di halaman Miss Indonesia 2022

4.Unggah tiga foto close-up atau medium serta foto full body, lalu unggah dua video berisi perkenalan diri dalam Bahasa Inggris dan video talenta yang dimiliki pada halaman audisi online Miss Indonesia 2022.

Informasi selengkapnya, dapat dilihat di instagram: @missindonesia, @officialrcti, facebook: miss indonesia dan twitter: @missindo_rcti. (Tumpak S. Foto-foto: Dok. RCTI)

Continue Reading

Event

New York Indonesia Fashion Week Hadirkan Hijab Fashion Show

Published

on

By

Kabarhiburan.com – New York Indonesia Fashion Week (NYIFW) kembali akan digelar di Venue 48th Wall Events, New York, NY 10005, pada 11 Februari 2022 mendatang.

New York Indonesia Fashion Week mempunyai misi membawa karya desainer Indonesia untuk dapat langsung memasarkan produknya di Amerika Serikat.

Produsernya, Vanny Tousignant, memberikan para desainer kebebasan untuk membawa apa yang menjadi misi mereka melalui desain dan koleksinya asalkan tidak membawa swim wear.

“Kami fokus untuk ready to wear dan cocktail dress. Kami juga membuka pintu untuk couture designers,” tutur Vanny dalam keterangannya pada Jumat (14/1/2022).

Selain memberikan desainer kebebasan dalam membawa karyanya, New York Indonesia Fashion Week juga akan menghadirkan Hijab Fashion Show.

Hijab Fashion Show akan menghadirkan lima desainer dari Indonesia yang akan meluncurkan desain terbarunya.

Kemudian juga menampilkan desainer ready to wear dari Amerika, Berlin  dan Indonesia, sebelum ditutup dengan Couture dan Culture Desainer dari Belgia, India dan Indonesia.

“Total ada 16 desainer untuk New York Indonesia Fashion Week. Tahun ini banyak desainer yang ingin bergabung, tapi kami harus mengkurasi semua sebelum akhirnya memilih hanya 16 untuk Februari 2022,” tutur Vanny.

Tema New York Indonesia Fashion Week selalu mengikuti tema New York Fashion Week untuk bulan February dan September, yaitu  F/W 22 atau Fall Winter 22.  Mulai tahun ini perhelatan akan menggunakan venue yang terbilang high end di New York.

“Harapannya kami nama Indonesia semakin diperhitungkan di dunia fashion internasional,  khususnya di AS dan kami pun dapat memasarkan baju yang dibawa desainer Indonesia ke New York,” imbuh Vanny.

New York Indonesia Fashion Week juga diharapkan dapat membantu perekonomian para desainer dan pelaku UMKM Indonesia dalam memasarkan hasil kreasinya dan juga sebagai jembatan antara desainer Indonesia dengan pembeli internasional yang berada di Amerika khususnya. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending