Connect with us

News 11

RSTKA Mengarungi Ombak Besar untuk Menjangkau dan Menyembuhkan Beragam Penyakit Warga di Pulau Terpencil

Published

on

Rumah Sakit Terapung Kesatria Airlangga saat sandara di Pulau Alor, NTT.

Sebuah kapal motor phinisi disulap menjadi rumah sakit dan diberi nama Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA). Seperti tiada henti mendatangi masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma alias gratis, di berbagai pulau terpencil di kawasan Indonesia Timur.

RSTKA memang didukung  peralatan kedokteran dan para dokter spesialis yang mumpuni di bidangnya masing-masing, siap memberikan kemampuannya kepada masyarakat banyak.

Mulai dari dokter spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis orthopedi, spesialis bedah, spesialis anestesi, spesialis bedah plastik, spesialis penyakit dalam, spesialis saraf, spesialis THT, spesialis penyakit dalam, dokter umum, perawat serta penyuluh kesehatan masyarakat.

Mereka memulai pelayaran dari  Pulau Nusa Penida  Bali, lalu menyeberang ke Pulau Alor di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di dua lokasi tersebut, RSTKA memberikan pengobatan secara gratis bagi warga yang membutuhkan.

Setelah dari Pulau Alor, mestinya dilanjutkan ke pulau-pulau terluar, seperti Pulau Lirang, Wetar, Kisar, Leti, Moa, Lakor, Luang Barat, Luang Timur, Sermata, Masela, Babar dan Pulau Tepa, lalu ke Pulau Banda dan memasuki perairan Ambon.

“Kemudian berakhir di Wakatobi pada 2 Nopember 2018, sebelum kembali ke Surabaya,” ungkap dr. Agus Harianto, Sp.B selaku Direktur RSTKA.

Namun, apa boleh buat. Haluan RSTKA mendadak harus dibelokkan ke arah utara, tepatnya ke Provinsi Sulawesi Tengah yang masyarakatnya tengah menderita, menyusul bencana gempa bumi yang melanda.

Dua lokasi bencana tersebut dianggap memerlukan pelayanan kesehatan sesegera mungkin, mengingat banyak warga yang sengsara akibat bencana alam.

“Kelak setelah kegiatan pelayanan di Donggala dan Palu selesai, RSTKA akan kembali berlayar menuju kawasan pulau terluar untuk memberi pelayanan yang sempat tertunda,” kata Agus.

RSTKA memiliki fasilitas ruang operasi memadai dan didukung para dokter spesialis.

Selama menjalankan pelayanan kesehatan sejak dari Nusa Penida, Pulau Alor hingga Donggala, RSTKA telah telah menangani 912 pasien orang pasien, dengan 188 pasien diantaranya harus mendapat tindakan operasi.

Tindakan operasi yang dimaksud, di antaranya operasi mata katarak sebagai yang terbanyak. Selain ada juga operasi hernia, tiroid, amandel, persalinan secara caesar, bibir sumbing, tumor jinak. Bahkan, bedah tulang pun ada.

“Pasien operasi mata katarak menjadi yang terbanyak, lantaran kebanyakan mereka tinggal di kawasan pantai yang relatif lebih sering terpapar sinar ultraviolet, yang bisa berdampak munculnya katarak,” kata dr. Agus Harianto, SpB, direktur RSTKA.

Yayasan Baitul Mal PLN

Yang tidak kalah menarik adalah menyoal biaya operasional RSTKA. Sebagian besar merupakan dana yang berasal dari para donator. Salah satunya donasi dari karyawan PLN yang tergabung dalam Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN.

Herry Hasanuddin, Ketua III YBM PLN

Ketua III YBM PLN Herry Hasanuddin, mengatakan bahwa pertimbangan utama YBM PLN menyalurkan dana kepada RSTKA, lantaran dianggap mampu menjangkau pulau terpencil di kawasan Indonesia Bagian Timur. Kawasan ini selama ini belum tersentuh pelayanan kesehatan yang memadai.

Apalagi dalam memberikan pelayanan,  RSTKA bukan lagi sekadar pelayanan kesehatan biasa, melainkan  penanganan oleh dokter spesialis, termasuk tindakan operasi, yang tidak mungkin dilakukan oleh dokter umum.

“Itu menjadi poin penting, ketika kami memutuskan menyalurkan sumbangan yang berasal dari donasi karyawan PLN kepada RSTKA,” imbuh Herry.

Herry menceritakan bahwa masyarakat yang tinggal di pulau terpencil, kalau menderita sakit yang memerlukan penanganan dokter spesialis dan tindakan operasi selalu saja mengalami kesulitan.

“Kesulitan yang paling dirasakan, bukan hanya akibat besarnya biaya yang harus disediakan, melainkan keberadaan mereka yang jauh dan terpencil, juga menjadi masalah tersendiri,” ujar Herry.

Suasana di RSTKA saat memberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat secara gratis.

Herry mencontohkan, penderita sakit katarak akan kesulitan menggapai pengobatan, lantaran di  sekitar tempat tinggal mereka tidak ada dokter mata dan perlengkapan operasinya. Akibatnya, katarak akan berujung pada kebutaan karena tidak segera dioperasi.

“Itu baru soal katarak, padahal masih sederet lagi jenis penyakit yang memerlukan tindakan operasi. Sebut saja hernia, tumor dan sebagainya,” papar Herry.

Harapan Herry kian jadi nyata oleh  kehadiran RSTKA yang melengkapi diri dengan ruang operasi berstandar ruang operasi di rumah sakit pada umumnya.

Dengan demikian, ketika RSTKA menjalankan misi pengobatan di suatu pulau, maka persoalan kesehatan masyarakat setempat relatif terselesaikan.

“Sistem jemput bola yang diterapkan RSTKA dianggap sangat efektif, lantaran bukan pasien yang mendatangi rumah sakit, melainkan rumah sakitlah yang mendatangi lokasi pasien,” papar Herry.

Ia mengaku melihat sendiri kesigapan paramedis di RSTKA saat melakukan misi pelayanan ke Pulau Sapeken, Madura, beberapa bulan silam. Ribuan pasien, termasuk ratusan diantaranya harus mendapat tindakan operasi dari berbagai jenis sakit dapat tertangani dengan baik.

Padahal jumlah pasien yang harus ditangani begitu banyak. Sebagian datang dari pulau sekitar  Pulau Sapeken.

Yang membangkitkan kekaguman bagi Herry adalah tenaga medis dan paramedis RSTKA, lebih dari 90 orang datang dari Surabaya. Mereka  harus menggunakan perahu dan mengarungi laut  dengan ombaknya yang cukup tinggi untuk menjangkau Pulau Sapeken.

“Jadi, bukan sekadar modal kemampuan serta fasilitas yang RSTKA miliki,  tetapi kesungguhan para dokternya bela-belain menerjang kondisi alam yang berat menuju lokasi pelayanan, juga patut diapresiasi,” kenang Herry. (Gandhi Wasono/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending