Connect with us

News 11

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Jakarta Belum Ramah Pada Anak

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Salah satu aktivitas yang sangat disukai anak-anak adalah bermain. Saling kejar, main prosotan dan ayunan, hingga main  petak umpet sungguh menyenangkan bagi dunia mereka. Selain mampu melatih kemampuan motorik dan mengasah kreativitas, bermain  menjadi ajang pelatihan anak bersosialisasi dengan teman-teman sebaya. Semua manfaat tersebut akan menunjang proses tumbuh dan kembang anak sebagai generasi penerus bangsa.,

Sayangnya di kota besar seperti Jakarta, sudah banyak  taman sebagai ruang bermain dan bersosialisasi bagi anak telah tergerus karena disulap menjadi pusat perbelanjaan maupun perkantoran. Seiring makin menipisnya arena bermain bagi anak, sementara kebutuhan ruang untuk bermain tidak mengalami penurunan.

Sebagai ibu kota Indonesia, Jakarta memang sudah memfasilitasi warganya dengan taman dan Ruang Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di beberapa pemukiman. Hanya saja, jumlahnya belum memadai jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Hingga kini, masih lebih banyak lagi wilayah yang tidak memiliki ruang bermain anak. Kalaupun ada, fasilitas RPTRA tersebut tidak memadai, bahkan membahayakan. Tegasnya, ruang publik dan tempat bermain anak yang aman sekarang masih langka.

RPTRA mulai muncul sejak diinisiasi oleh Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Hingga tahun 2017, tidak kurang dari 300 RPTRA sudah berdiri di seantero DKI.  Pengadaan RPTRA menggunakan sumbangan dana Corporate Social Responsibility (CSR), sebagian lagi menggunakan dana APBD.

Dalam hal ini, Pemprov DKI menyediakan lahan, selanjutnya  pembangunan RPTRA  dibiayai dari dana CSR. Adapun  proses pembangunan, pengawasan, dan pemeliharaan RPTRA  melibatkan masyarakat sekitar. Termasuk  perawatan taman juga dilakukan oleh masyarakat di sekitar RPTRA yang  dikoordinir oleh ibu-ibu PKK.

Harapannya, RPTRA bisa ikut membantu kota DKI Jakarta untuk bisa meraih status kota Jakarta layak anak sekaligus menyediakan ruang terbuka hijau bagi publik. Sayangnya, harapan tersebut masih jauh dari jangkauan karena jumlah RPTRA yang masih jauh dari cukup, jika dibanding dengan luas wilayah DKI dan jumlah pemukiman yang membebaninya.

Kenyataannya, di DKI masih lebih banyak lagi wilayah yang tidak memiliki ruang bermain anak. Kalaupun sudah memiliki  fasilitas RPTRA, belum didukung  pengelola RPTRA yang  memiliki Kompetensi Pendidik yang bertugas untuk mengawasi RPTRA secara baik dan benar.

Seperti diungkapkan Arie Arifin,  konsultan Playground bersertifikasi International,  masih banyak  ruang bermain yang dikelola oleh warga, yang belum memenuhi standar baku yang ditetapkan oleh para ahli psikologi anak.

Taman Bermain yang memenuhi ketentuan yang dimaksud, harus berbahan  plastik yang tidak memuai, tidak luntur, tidak beracun,, tidak mudah pecah, tidak menyimpan bakteri dan  bergaransi sesuai standar mutu internasional, baik Eropa dan Amerika.

Bagi Arie,  sebagai sarana  bermain anak RPTRA semestinya melengkapi diri  alat bantu pengawasan berupa  CCTV (Closed Circuit  Television). Tersedia pula di sana ruangan untuk  melayani kepentingan komunitas warga  di sekitar RPTRA tersebut. Sebut saja, ruang perpustakaan, PKK Mart, ruang laktasi, refleksologi, kebun hijau, pendidikan untuk kesehatan, kids mart, ruang belajar seni dan budaya, dan lainnya.

“Artinya, selain didisain sebagai sarana bermain,  RPTRA juga menjadi tempat edukasi. Ketentuan ini sesuai dengan pemenuhan 10 hak anak  seperti yang tercantum di dalam  konvensi PBB,” jelasnya.

Ia mencontohkan negara  tetangga, Malaysia dan Singapura yang  sudah menjadikan ruang bermain anak  yang berstandar sebagai peraturan yang tidak dapat ditawar lagi. Misalnya, untuk satu bangunan apartemen wajib memiliki Taman Bermain Anak atau Playground Kids. Setiap 200 KK idealnya memiliki satu Playground.

“Indonesia belum memiliki regulasi secara sektoral maupun nasional terkait pentingnya membangun karakter bangsa dengan memberikan akses sebesar-besarnya untuk melindungi anak-anak lewat Taman Bermain Anak Berkarakter dan Berstandard International,” ujar Arie menyayangkan.

Arie mencontohkan Taman Bermain Anak Berkarakter dan Berstandard International, yakni   RPTRA Kalijodo yang diinisiasi PT Landscape Indonesia anggota International Play Equipment Manifacture Association. RPTRA  ini telah memenuhi standard ISO, ASTM, dan Tuv Nord.

Bahkan, pihak developer RPTRA Kalijodo memberikan garansi berupa asuransi Rp3 Miliar per anak, jika terjadi kecelakaan akibat kesalahan produk, dan garansi wahana 5 Tahun. Pemilik dan pengelola PT Landscape sendiri memiliki CPSI (Certified Playgrounds Safety Inspector).

Ia berharap Pemda DKI dibawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno kembali melanjutkan pembangunan RPTRA di DKI. “Termasuk juga daerah-daerah lain di Indonesia. Ini harus menjadi gerakan nasional, jika kita memang peduli pada perkembangan kesehatan, fisik dan psikis anak-anak kita di masa yang akan datang,” anjur  Arie. (Tumpak Sidabutar/KH)

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending