Connect with us

Film

Sambut Festival Film Kemanusiaan dan Kebudayaan, Natasha Dematra Rilis Film Dokumenter, ‘Menari: An Indonesian Dance Legacy’

Published

on

Natasha Dematra (kiri) didampingi Cheryl Halpern, usai pemutaran perdana film dokumenter, ‘Menari: An Indonesian Dance Legacy’.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sutradara muda peraih lebih dari 100 penghargaan dunia, Natasha Dematra (21), bekerja sama dengan sineas senior peraih Emmy Awards, Cheryl Halpern, akhirnya merilis karya terbaru berupa film dokumenter yang diberi judul Menari: An Indonesian Dance Legacy.

Natasha mengatakan, pembuatan film yang berlangsung di Bali, Jogjakarta, Jakarta dan Cirebon tersebut berlangsung selama setahun. Sekaligus merupakan penggarapan film yang sungguh berbeda berbeda dari karya Natasha sebelumnya.

“Terutama sih, pada revisi skrip butuh bolak balik Jakarta – Amerika. Kami ingin hasilnya sempurna, karena film ini akan dibawa keliling dunia,” pungkas putri Founder dan Director World Humanitarian Awards, Damien Dematra.

“Film ini berbeda dari film garapan saya sebelumnya. Hasilnya, terlebih saya kirim kepada Cheryl Halpern untuk revisi. Selanjutnya, saya perbaiki kekurangan yang dianggap perlu,” ujar Natasha didampingi Cheryl Halpern yang ditemui di bioskop Planet Hollywood, Jakarta, Selasa (9/7).

Seperti judulnya, film ini mengetengahkan secara lengkap tentang bagaimana sebuah tari tradisional dilahirkan. Mulai dari sejarah, karakteristik gerak, filosofi, ornamen hiasan busana dan tata rias, hingga rupa-rupa sesaji yang mewakili kedaerahan.

Yang tidak kalah menarik, dalam film berdurasi lebih dari 20 menit ini juga memuat wawancara dengan narasumber yang mumpuni. Mereka adalah para seniman yang tidak saja menjaga tapi sekaligus pelestari. Hidup mereka adalah tari dan pengabdian.

Dari empat tarian klasik yang disajikan dalam film ini, salah satunya adalah tari klasik Bedhaya Semang. Tarian ini adalah salah satu tarian pusaka dari Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,  hasil karya dari Sri Sultan Hamengku Buwono I tahun 1759.

Tari Bedhaya Semang dalam pelembagaannya merupakan tarian sakral dengan usia yang sangat tua. Tarian ini penuh dengan muatan simbolik filosofis yang tinggi, sebagai seni pertunjukan penting di dua keraton Mataram, Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat.

Tarian yang dibawakan oleh sembilan penari perempuan ini adalah reaktualisasi hubungan suci nan mistis antara Sultan Agung dari Mataram dengan Ratu Kidul sebagai penguasa laut selatan atau Samudera Indonesia

Merujuk pada Babad Nitik, Bedhaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan kata Semang diberikan oleh Sultan Agung.

Silatnas Raja Sultan Nusantara

“Terus terang, saya kepincut dengan tarian tradisional atau klasik yang ada di Indonesia, bermula ketika saya berkunjung ke Jogja dan Bali. Entah kenapa tatkala menyaksikan timbul getaran, seolah ada unsur magis untuk saya mengenal lebih dekat dan memvisualkannya,” kenang Cheryl.

Kembali ke Amerika Serikat, Cheryl bergegas membuat skrip, kemudian mengontak sineas muda Natasha Dematra dan dipilih sebagai sutradara,” ujar Cheryl Halpern.

Peluncuran perdana film dokumenter Menari: An Indonesian Dance Legacy ini menjadi puncak acara Festival Film Kemanusiaan & Kebudayaan.

Hadir dalam acara tersebut, para raja dan sultan, anggota Silatnas Raja Sultan Nusantara serta para undangan lainnya.

Damien Dematra selaku  Founder dan Director World Humanitarian Awards menggaungkan  tentang pentingnya setiap individu disadarkan tentang nilai-nilai toleransi dalam membangun kemanusiaan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Acara ini sekaligus memberi penekanan bagi perayaan Hari Dunia untuk Keanekaragaman Budaya, serta Dialog dan Pembangunan (World Day for Cultural Diversity for Dialogue and Development),” ujar Damien Dematra.

Sebelumnya, Damien memutar film documenter berjudul Remembering: The Story of Maurits Kiek. Film dokumenter ini mengambil tema pahlawan Belanda Maurits Kiek yang berjuang bagi kemanusiaan, saat ia melihat adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh Nazi, dimasa kependudukan Jerman selama Perang Dunia II.

Selanjutnya,  diumumkan pula film terbaik festival internasional Asia Pacific International Filmmaker & Awards (APIFA). Para pemenang datang dari mancanegara.

Mereka adalah Miya Wang (The Other Sade of the World), Chen Tianyi Dan Yuan Fan (Miss Petunia), serta Malcolm Tan (The Instde). (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Ikut Meramaikan Kosasih Day 2020, Sri Asih Tayang di LINE Webtoon

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Dalam rangka ikut merayakan Kosasih Day 2020, LINE Webtoon Official dari Bumilangit kembali menghadirkan sosok Sri Asih, lewat komik Sri Asih: Celestial Goddes.

Sri Asih merupakan karakter jagoan pertama yang terbit dalam sejarah komik Indonesia, ciptaan Bapak Komik Indonesia, RA. Kosasih.

Kehadiran Sri Asih: Celestian Goddes diharapkan bakal menyusul sukses Virgo and the Sparklings yang sudah diterjemahkan ke 21 bahasa oleh para fans internasional.

Sri Asih: Celestial Goddess akan diterbitkan mingguan melalui platform baca komik gratis Line Webtoon, menceritakan seorang perempuan bernama Alana yang sedari kecil sering melihat makhluk gaib.

Kehidupannya sebagai remaja biasa mendadak berubah, saat teman-temannya dilanda bahaya. Dia kini menjadi sesosok dewi yang siap menyelamatkan dunia dari energi jahat.

Jagoan perempuan pertama Indonesia ini harus belajar menyesuaikan diri antara tugas sekolah, menguasai selendang ajaib, berlatih terbang dan menghadapi sosok kegelapan yang selalu mengintai.

Cerita digalang oleh Archie the RedCat dan digambar oleh Devita Krisanti,  duo komikus muda bertalenta ini menampilkan Sri Asih  dalam konsep dan desain yang baru dan kekinian.

Is Yuniarto selaku General Manager Bumilangit Comic Media mengatakan, Webtoon Sri Asih: Celestial Goddess hadir pada momentum istimewa, 4 April 2020, yakni perayaan 101 tahun hari kelahiran Sang maestro komik Indonesia, RA. Kosasih.

Tahun lalu, Sri Asih yang diperankan oleh Pevita Pearce muncul pertama kali dalam film Gundala. Film Sri Asih garapan sutradara Upi, saat ini sedang dalam tahap pra produksi. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Film

Putus Hubungan dengan Corona, Bioskop di Jakarta Tutup Sementara

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menutup sementara sejumlah tempat hiburan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Salah satu yang ditutup adalah bioskop, sejak Senin (23/3).

Keputusan penutupan sementara tempat hiburan disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam jumpa pers pada Jumat (20/3/2020).

Anies mengatakan untuk membatasi gerak masyarakat tidak cukup hanya menutup kawasan wisata saja. Menurutnya, penting apabila kegiatan hiburan ditutup.

“Penutupan kegiatan wisata milik pemerintah sudah dilakukan pekan lalu, mulai pekan ini kita harap dunia usaha untuk bersama-bersama, karena kalau hanya dikerjakan sebagian, dan sebagian lain memilih interaksi, maka penyebaran berjalan terus. Mulai Senin kita akan melakukan peniadaan kegiatan hiburan,” kata Anies.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemprov DKI telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 60/SE/2020 yang menyatakan Pemprov DKI akan melakukan penutupan sementara kegiatan operasional usaha hiburan dan rekreasi selama dua pekan.

Bioskop adalah salah satu usaha hiburan yang ditutup sementara oleh Pemprov DKI. Penutupan berlangsung pada 23 Maret-5 April 2020.

Berikut kegiatan usaha yang wajib tutup selama dua pekan:
a. Klab Malam
b. Diskotek
c. Pub/Musik Hidup
d. Karaoke Keluarga
e. Karaoke Executive
f. Bar/Rumah minum
g. Griya Pijat
h. Spa (Sante Par Aqua)
i. Bioskop
j. Bola Gelinding
k. Bola Sodok
l. Mandi Uap
m. Seluncur
n. Area permainan ketangkasan manual,mekanik dan/atau elektronik untuk orang dewasa (***)

Continue Reading

Film

Si Mbok Iyem, Puwaniatun Meninggal Dunia

Published

on

By

Purwaniatun (youtube)

Kabarhiburan.com, Jakarta – Dunia hiburan Indonesia tengah berduka. Aktris sinetron dan FTV, Purwaniatun menghembus nafas terakhir pada usia 67 tahun di Rumah Sakit Mayapada, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Senin (23/3) pagi.

Kabar dukacita ini dibenarkan oleh salah seorang cucunya, Gia yang dihubungi Senin siang.

“Iya, meninggal karena sakit pasca operasi, kanker rahim,” kata Gia.

Gia menambahkan, kondisi Purwaniatun melemah pasca operasi kanker pada akhir Januari 2020 lalu.

Sempat dirawat di ICU, neneknya itu akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada Senin (23/3) sekitar pukul 10.33 WIB.

Semasa hidupnya, Purwaniatun seorang aktrin yang disiplin. Ia sering memainkan sosok Mba Pur atau Mbok Iyem, peran asisten rumah tangga streotipe dari Jawa Tengah.

Sejumlah sinetron yang pernah dibintanginya, antara lain, Monyet Cantik dan Serigala Ganteng, Asisten Rumah Tangga, Hidayah, Kawin Gantung dan sejumlah judul FTV.

Selamat jalan, Mbak Pur. Terima kasih sudah menghibur masyarakat Indonesia selama ini. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending