Connect with us

News 11

Sembuh dari Kebutaan dengan Cara Operasi Lewat Alis Mata

Published

on

Kabar Hiburan, Surabaya – Amelia Genial (50) terlihat bahagia . Selama percakapan dengan ibu dari dua anak dan seorang cucu itu acap kali menebar senyum dan senantiasa mengucapkan syukur kepada Tuhan. Sangat dimaklumi, lantaran dia sudah sembuh dan lolos dari ancaman kebutaan akibat tumor di otaknya.

“Memang kondisinya belum fit sepenuhnya, tetapi kondisi kesehatannya sudah sangat bagus. Saya yakin beberapa hari lagi akan kembali bugar,” kata Amelia yang bekerja sebagai tenaga marketing pada sebuah perusahaan asuransi.

Wanita asal Sampit yang berdomisili di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, layak berbahagia karena sudah terhindar dari kebutaan akibat tumor yang tumbuh di dasar tengkorak kepalanya. Tim dokter berhasil membuang tumor tersebut pada September 2016. Kini Amelia sudah bebas dari penderitaannya dan  sudah bisa menjalani kehidupan sehari-sehari.

“Meski terbilang terlambat,  tapi saya bersyukur masih bisa tertolong. Karena kalau terlambat bisa jadi kedua mata saya rusak. Saya tidak bisa melihat lagi,“ kata Amelia.

Ia menceritakan pengalaman hidupnya selama diganggu oleh penderitaan akibat tumor yang tumbuh di batang tengkoraknya. Gejala sakit sudah dirasakan sejak lima tahun silam.  Belakangan, gangguan dirasakannya semakin bertambah dengan munculnya gangguan penglihatan pada mata kiri. “Seperti ada yang mengganjal di kelopak mata kiri. Tidak terasa sakit sih, tapi rasanya tidak nyaman,” imbuhnya.

Gangguan semula dianggap bukan ancaman serius, sehingga sering diabaikan. “Anak-anak saya sudah menyarankan segera periksa ke dokter mata, tapi saya cuekin. Pikiran saya, paling suatu saat hilang sendirinya,” imbuhnya.

Dugaannya ternyata meleset, penyakitnya justru semakin parah dan mengganggu aktifitasnya. Mulailah Amelia berupaya mencari pertolongan dengan mendatangi  salah seorang dokter spesialis mata di Surabaya. Hanya saja,  dokter tersebut tidak menemukan penyebab gangguan mata Amelia.

Amelia tidak patah semangat. Ia mencari second opinion ke dokter lain di sebuah rumah sakit. Dokter tersebut menyarankan Amelia agar melakukan pemeriksaan dengan bantuan Magnetic Resonance Imaging (MRI).  Hasilnya memperlihatkan  adanya tumor cukup besar  tumbuh di saraf mata yang ada di pangkal tengkorak kepala.  “Saking bearnya benjolan tumor telah menekan saraf di sekitarnya, diduga menjadi pemicu gangguan penglihatan.”

Untuk mengambil tumor, dokternya menganjurkan tindakan operasi. Ameliapun optimis penyakitnya dapat disembuhkan, apa lagi setelah  mendapat informasi tentang keberadaan dokter yang biasa menangani operasi di bagian kepala berada di Surabaya. Dokter yang dimaksud adalah dr. Agus C Anab, SpBS, sejawat dr. M. Sofyanto, SpBS yang tergabung di Comprehensive Brain and Spine Centre (CBSC) Surabaya yang berpraktik di Rumah Sakit National Hospital Surabaya.

Amelia menemui dr.  Aca, panggilan dr. Agus C Anab yang menganjurkan agar tumor diangkat sesegera mungkin.  Kalau terlambat maka tidak hanya sebelah kiri, mata sebelah kanan pun bisa menjadi korban. Rupanya hasil pemeriksaan dengan MRI juga memperlihatkan bahwa sel tumor sudah mulai menjalar ke pangkal saraf mata kanan.  “Kendati demikian, saya tetap tenang karena  gumpalan tumor tersebut bisa diangkat dengan baik,” jelas Amelia.

Apalagi, dikatakan  teknik operasi pengangkatan yang dilakukan tidak perlu dengan cara konvesional, yang dilakukan membuka batok kepala terlebih dulu. Melainkan, menggunakan metode keyhole surgery atau  tindakan operasi melalui sayatan kecil pada alis. Selanjutnya usai operasi,  bekas sayatan di alis ditutup.  Bekasnya nyaris tidak tampak.  “Penjelasan dokter yang rinci membuat saya nyaman dan sepakat untuk segera dilakukan operasi,” papar Amelia.

Operasi yang berlangsung selama enam jam terlaksana dengan baik.  Selain kondisinya membaik, secara kosmetik juga nyaris sempurna sebab tidak terlihat bekas sayatan seperti orang habis operasi pada umumnya.  “Alis mata saya kembali sempurna, nyaris seperti tidak ada sayatan,” katanya sambil tersenyum bahagia.

Kombinasi antara Teknologi Tinggi dan Keterampilan

Dr.  Agus C. Anab, SpBS, dari Comprehensive Brain and Spine Center National Hospital Surabaya mengaku cukup puas dengan hasil operasi terhadap Amelia. Ia mengatakan tindakan pengangkatan tumor di dasar tengkorak kepala Amelia, menggunakan teknik Minimally Invasive Key Hole Surgery: Supra Orbital Approach Eyebrow Incision atau operasi dari lubang atau sayatan kecil pada alis mata. Hanya dengan membuat lubang  1-2 cm tepat di alis mata.

Mengingat  letak tumor bersemayam di dasar tengkorak yang paling dalam, makanya otak terlebih dahulu harus dikempiskan dengan cara mengeluarkan cairannya. Kemudian otak disibak dengan gerakan sangat halus, barulah tumor bisa dijangkau.

Tindakan tersebut bisa dilakukan dengan bantuan mikroskop khusus untuk melihat dengan jelas objek terdalam. “Begitu disibakkan, terlihatlah tumor berdiameter 4 Cm menempel di pangkal saraf mata kiri dan sudah ada tanda-tanda menjalar ke mata kanan,” ungkap Aca.

Temuan tumor tidak bisa begitu saja diangkat sekaligus, melainkan diambil sedikit demi sedikit,  “Harus telaten dan penuh kehatian-hatian karena tidak boleh menyentuh jaringan otak lainnya, membuat proses operasinya  memakan waktu sekitar enam jam lamanya,” jelas Aca.

Menurut dokter lulusan Unversitas Airlangga Surabaya ini menilai metode operasi melalui alis  memberi lebih banyak keuntungan bagi pasien dibanding dengan metode konvensional. Di antaranya   luka sayatan yang hanya 1-2 Cm akan meminimalkan pendarahan  dan risiko infeksi, sehingga proses penyembuhannya pun lebih cepat.  Selain secara kosmetik lebih bagus karena bekas sayatan yang kecil akan tersamar dengan alis. “Setelah hari ketiga, pasien sudah bisa beraktivitas seperti biasa,” kata dr. Aca.

Tim dokter dari Comprehensive Brain and Spine Center National (CBSC) dan pasien memberi testimoni kepada wartawan, Jumat (13/10).

 

Berbeda dari metode konvensional. Demi mencapai skull base, maka tengkorak bagian atas sampai ke depan harus dibuka lebar menganga. Selanjutnya dokter akan menyibak otak sampai ke titik sasaran menuju lokasi tumor. “Karena  dibuka lebar maka dampaknya pasti lebih besar, sebab bagian otak yang sehat bisa saja tersentuh, bahkan ikut mengalami kerusakan,” imbuhnya.

Menurut Aca,  otak berbeda dengan organ tubuh lainnya. Otak merupakan pusat kehidupan, sehingga   dalam sebuah tindakan operasi otak, harus dijaga jangan sampai terjadi kerusakan.  Jika salah satu bagian tersenggol saja, apalagi sampai rusak  maka akan berdampak besar pada bagian tubuh yang lain. Oleh sebab itu untuk melakukan tindakan  Minimally Invasive Key Hole Surgery: Supra Orbital Approach Eyebrow Incision, selain ditunjang peralatan berteknologi tinggi mikroskop khusus, dokternya harus memiliki keterampilan yang mumpuni pula.

Belajar dari Sang Penemu

Metode operasi dengan lubang kecil pada alis mata ini ditemukan oleh Axel Perneczky, seorang profesor bedah saraf dari Jerman pada tahun 1999.  Aca merasa beruntung pernah secara langsung  belajar kepada Axel Perneczky dalam suatu workshop di Singapura tahun 2008.

“Alhamdulillah, saya pernah menimba ilmu pada sang penemu metode ini secara langsung, sehingga sekarang bisa melakukan operasi sesuai dengan metode dari penemunya,” imbuh Aca yang selanjutnya, memperdalam ilmunya pada Profesor Nicolay Hofp, seorang ahli bedah saraf anak didik Axel Pernecky di Stutgart Jerman tahun  2012.

Menurut Aca, teknik ini lebih banyak dikembangkan di Eropa ketimbang di Asia.  Makanya dalam berbagai kesempatan dirinya berusaha menularkan kemampuannya kepada sejawatnya sesama bedah saraf, baik secara langsung maupun di berbagai seminar di dalam dan luar negeri. (Gandhi Wasono/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Humaniora Foundation Rutin Bantu Kaum Dhuafa

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
Syukuran ulang tahun Humaniora Foundation saban tahunnya, ditandai dengan acara berbuka puasa bersama, pemberian santunan bagi anak yatim, kaum dhua’fa, dan janda lanjut usia berprofesi sebagai pemulung. “Namun, karena ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan mencegah penyebaran virus Covid 19, acaranya dilakukan terbatas, jelas Eddie Karsito, selaku pendiri lembaga nirlaba, Humaniora Foundation.

Meski demikian, lanjut Eddie tetap ada pemberian santunan. Selama tiga pekan terakhir, melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, “Kami menyalurkan bantuan untuk masyarakat yang terimbas wabah Covid 19,” terang Eddie dengan senyum yang khasnya itu.

Sumbangan dibagikan khususnya untuk para pemulung, janda lanjut usia, serta para pekerja keras di sektor non-formal. Antara lain, kuli bangunan, pekerja galian tanah, petugas kebersihan angkut sampah, pembantu rumah tangga (PRT), pedagang keliling, pengamen, serta profesi lainnya

Sejak didirikan, ungkap Eddie, Humaniora Foundation tidak memiliki sumber pendanaan dan donatur tetap. Namun bantuan terus mengalir dari masyarakat tanpa diminta, baik sumbangan uang tunai, maupun kebutuhan pokok.

“Selama pandemi Covid 19, lebih dari 25 juta rupiah nilai sumbangan telah disalurkan Humaniora Foundation,” tukasnya. Nilai tersebut, cerita Eddie merupakan akumulasi sumbangan masyarakat, baik sumbangan berbentuk uang tunai, sembako, makanan, minuman, dan alat kesehatan berbentuk masker, dan lain-lain.

“Pelayanan ini adalah anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita. Alhamdulillah, meskipun kita tidak layak (dhoif : lemah) — tidak ada donatur tetap, tetapi Tuhan melayakkan (menolong) kita, untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya,” ujar relawan yang pernah mendapat penghargaan sebagai Pendiri Yayasan Pendukung Karir dan Prestasi “Pembangunan Award 2013” dari Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia ini.

Para volunteer yang terlibat di kerja sosial ini, kata Eddie, sebagian besar adalah anggota, dan pengurus Sanggar Humaniora. Sebagian lainnya adalah para artis yang tergabung di Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH).

_*“Semua relawan kami tidak ada yang menerima upah. Apapun bentuk bantuan dari masyarakat kami sepakat tidak boleh menikmatinya. Bantuan selalu dibagi habis untuk masyarakat yang lebih membutuhkan,” tutup Eddie Karsito. (Zar/ KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending