Connect with us

News 11

Siap Edar, Suntikan KB Kombinasi yang Lebih Nyaman dan Gunakan Setiap Tiga Bulan

Published

on

Prof. Dr. Delfi Lutan, MSc, SpOG(K).

Kabarhiburan.com, Jakarta – Para dokter di bidang kebidanan terus melakukan penelitian dan inovasi baru untuk memberikan ‘kenyamanan’ bagi akseptor keluarga berencana (KB) di Tanah Air, yang jumlahnya lebih dari 26 juta pasangan.

Salah satunya, para pengguna metode suntik yang biasanya wajib menemui  bidan atau dokter kebidanan langganannya  sekali dalam sebulan untuk meneruskan kontrasepsi. Kini cukup sekali dalam 3 bulan untuk suntik ulangan.

Ungkapan kenyamanan ini mengemuka dalam Sosialisasi Penelitian Suntikan KB Kombinasi Gestin F2 dan Gestin F3. Acara  yang digagas POGI (Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) dan PT Harsen ini menghadirkan puluhan dokter spesialis kebidanan dan BKKBN ini  berlangsung di Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, Senin (4/2).

dr. Ichwanul Adenin, M.Ked(OG), Sp.OG (K) dari RS Adam Malik Medan.

Menurut dr. Ichwanul Adenin, M.Ked(OG), Sp.OG (K) dari RS Adam Malik Medan, obat ini telah menjalani tahapan sosialisasi di lima kota di Indonesia.

“Hasilnya, pasien lebih menyukai suntikan yang lebih lama, selama 3 bulan. Keluhannya pun lebih sedikit bila dibandingkan dengan obat sebelumnya, yakni berupa sedikit spotting (bercak),” ujar Ichwanul,  pembicara yang hadir bersama Prof. Dr. Delfi Lutan, MSc, SpOG(K).

Sementara itu, Ir Dwi Listyawardani selaku Deputy Keluarga Berencana dan dan Kesehatan Reproduksi  BKKBN, memuji bagusnya topik penelitian ini. Ia mengatakan obat ini dibutuhkan BKKBN saat ini.

“Saat ini telah ditemukan metode suntikan dengan ulangan tiga bulan sekali. Ini ‘aman’, artinya cukup ketemu sekali tiga bulan dengan bidannya untuk suntik ulangan. Dengan demikian, semakin hari peserta KB makin mendapat pilihan yang lebih beragam, selain faktor kenyamanan,” ungkap Listyawardani.

Ir. Dwi Listyawardani selaku Deputy Keluarga Berencana dan dan Kesehatan Reproduksi  BKKBN (tengah).

Ia mengingatkan bahwa selama ini yang paling banyak dikeluhkan para akseptor KB adalah adanya bercak, timbulnya jerawat, kenaikan berat badan dan adanya menstruasi. Bahkan, pada metode yang lama sering kali menimbulkan tidak menstruasi tidak muncul.

Hal ini membuahkan kekuatiran, apakah hamil atau tidak? Mengingat pengguna KB kebanyakan tinggal di desa yang tidak mungkin setiap hari memeriksakan kehamilan sebagaimana halnya di kota.

“Jadi, tanda menstruasi menjadi salah satu bentuk “kenyamanan”. Dengan demikian akseptor KB merasa yakin bahwa dirinya tidak dalam keadaan hamil, sehingga bisa meneruskan kontrasepsi,” jelasnya.

Listyawardhani melengkapi penjelasannya dengan data bahwa jumlah pengguna metode suntik di Indonesia mencapai 50 persen dari seluruh peserta aktif, yang berjumlah lebih dari 26 juta pasangan. Sisanya pengguna IUD, implant dan pil.

“Metode suntik menjadi favorit karena factor ‘kenyamanan’, lantaran penggunaannya jauh lebih mudah bila dibandingkan metode IUD maupun Implant yang memerlukan pemasang harus kompeten. Sementara metode pil KB sering gagal karena faktor lupa para akseptor, yang bisa menimbulkan kehamilan tidak diinginkan. Jumlahnya sekitar 40 persen, ini bahaya,” jelas Listyawardhani.

Suntikan KB Kombinasi Gestin F2 dan Gestin F3 buatan PT Harsen ini kelak  akan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat apabila sudah melalui serangkaian tahapan prosedur.

“Setelah melewati uji klinis, selanjutnya ke tahapan forna yang diketuai Kementerian Kesehatan RI, lalu sosialisasi di kalangan profesi, hingga kelak memiliki izin edar,” imbuh Listyawardani. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending