Connect with us

Kuliner

Siasat Desainer Eema Assegaf Hadapi Pandemi, Buka ‘69 Street Café’ dan Kursus Desain

Published

on

Eema Assegaf

Kabarhiburan.com – Perancang busana pengantin Eema Assegaf, sekaligus pemilik butik ‘Jemima House’ di Jalan Jati Padang Raya No 6 H, Pasar Minggu Jakarta Selatan ini. Di lokasi yang sama, Eema juga melakoni usaha katering ‘Dapur 69’ sudah sejak tiga tahun silam.

Mengantisipasi dampak pandemi, Eema mempertajam jiwa bisnis dalam dirinya. Ia segera putar otak bersiasat dengan meluncurkan produk baru, berupa resto ‘69 Street Café’ sejak 3 bulan silam. Inovasi pun tercipta demi membuka pasar dengan segmen berbeda.

“Pesta pernikahan stop sama sekali, mau tidak mau saya harus putar otak. Saya harus menghidupi 12 karyawan dan keluarga. Tidak ada karyawan yang saya PHK,” ujar Eema Assegaf tentang siasatnya membuka ‘69 Street Café’, Sabtu (5/9).

Kafé yang berada di bangunan dua lantai tersebut, mengusung konsep outdoor layaknya taman, yang mampu menampung 100 pelanggan.

“Bisa untuk nyantai sambil menikmati menu. Bisa juga untuk kegiatan meeting bagi  orang-orang kantor di sekitar sini,” jelas Eema yang menyuguhkan aneka menu di ‘69 Street Café’.

“Mulai dari menu nusantara, arabian hingga menu Italia. Yang pasti, menunya enggak abal-abal. Semua menu disini bisa diadu dengan menu resto di tempat lain,” ujar Eema Assegaf berpromosi.

Menu nusantara berupa nasi ayam goreng krenyes, nasi ayam bakar, nasi ayam bakar madu, nasi ayam bakar rica, nasi goreng kampung, sate kambing, sop kambing dan masih banyak lagi.

Salah satu menu di ’69 Street Cafe’

Adapun menu Arabian food, mulai dari nasi kebuli, kebab, sambosa daging, sambosa keju, maryam, Arabian rice dan menu Arabian food lainnya. Sedangkan menu Italia menyediakan French fried dan sebagainya.

Bukan itu saja. 69 Street Café juga menyediakan aneka camilan penggugah rasa. Mulai dari rotu bakar, pisang bakar cokelat, tape bakar cokelat, donat kentang dan masih banyak lagi.

Eema kemudian melengkapi semua menu tersebut dengan aneka minuman ringan, seperti aneka jenis kopi dan minuman segar lainnya.

Sekolah Desain dan bisnis WO

Sibuk melakukan promosi bagi ‘69 Street Café’ miliknya, Eema tidak begitu saja meninggalkan ‘Jemima House’ yang telah membesarkan namanya. Sebaliknya, Eema justru melakoni dunia fashion lebih jauh lagi. Caranya, membuka kursus desain bagi milenial.

Eema Assegaf berbagi ilmu desain baju dengan para milenial.

Di situ Eema ingin membagi pengetahuannya di bidang busana pengantin kepada kaum milenial.

“Niatnya pengen buka sekolah desain bagi mereka yang enggak mampu. Sekolah desain itu kan mahal, enggak semua mampu. Nanti sistemnya subsidi silang,” jelas Eema, yang juga memasuki bisnis wedding organization (WO).

“Baju pengantin, kan enggak jauh dari catering dan WO. Makanya saya coba aja. Yang penting karyawanku masih bisa kerja,” tandasnya.

Itulah sebabnya, Eema enggan memberi jawaban pasti ketika ditanya tentang kegiatan bisnis yang paling disukainya: fashion, kuliner atau WO.

“Seniman itu tidak bisa memilih mau disini atau disana,” jawab Eema Assegaf singkat. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kuliner

Ratu Meta Peluang Lebarkan Sayap Bisnis di Masa Pandemi

Published

on

By

Kabarhiburan.com– Pedangdut Ratu Meta paham betul bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam beraktifitas. Selain dituntut agar menjalankan protokol kesehatan, waktu keseharian pun lebih banyak di dalam rumah.

Situasi ini membuat pelaku usaha kebanyakan menahan diri selama masa pandemi Covid-19. Hanya sedikit yang melihat situasi itu sebagai peluang dan berani melebarkan sayap usahanya, salah satunya Ratu Meta.

Perempuan kelahiran Karawang ini memiliki bisnis kuliner dan kafe yang dinamakan Ratu Seafood dan Shareloc Cafe. Ia pun tetap menerima tawaran nyanyi, meski jadwalnya tidak lagi sepadat dulu sebelum pandemi Covid-19.

“Alhamdulilah di masa pendemi ini aku lebih banyak kumpul keluarga, urus resto dan kafe,” ujar Ratu Meta dalam keterangan resminya, pada Rabu (22/9/2021).

Pelantun Sakitnya Luar Dalam, ini menjelaskan tawaran menyanyi sempat ada beberapa kali.

“Tapi, bersyukur masih bisa bertahan, tidak sampe menjual aset. Kini lebih fokus pada Ratu Seafood dan Shareloc café,” kata Ratu Meta yang belakangan berniat membuka cabang usaha kulinernya.

“Bismillah. Lagi pandemi gini, aku berusaha untuk buka cabang lagi dan buka peluang terus untuk orang lain, yang penting niat lilahi taala,” cetus pelantun Goyang Henpon ini.

“Biasanya disaat pandemi orang jarang ekspansi bisnis, tapi aku berharap dan berani menghadapi ini. Artinya, usaha yang aku geluti ini bisa lebih berkembang lagi,” katanya optimis. (TS)

Continue Reading

Kuliner

Influencer Berry dan Bella Siap Bawa Superames ke Berbagai Kota di Indonesia

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Sepiring nasi dengan variasi lauk yang lengkap, apalagi kalau bukan nasi rames? Sebuah sajian yang mudah didapatkan di Indonesia adalah bukti popularitas nasi rames. Itulah yang menginspirasi pasangan influencer Gerry dan Bella untuk melahirkan bisnis kuliner dengan nama Superames.

Meraih sukses di gerai pertama, yang berlokasi di Jalan Tanjung Duren Barat No. 12 Jakarta Barat. Kini, Gerry dan Bella, ingin membawa nama Superames ke berbagai kota besar Indonesia.

Dilansir dari akun media sosial @superames.id, permintaan berdatangan dari Sobat Super (sebutan pecinta superames) di berbagai kota-kota besar di Indonesia, ingin ikut menikmati Superames. Situasi ini membuat Gerry dan Bella mulai menjalankan konsep bisnis kemitraan untuk Superames.

Belajar dari sukses entrepreneur Martalinda Basuki yang membangun cabang Cokelat Klasik di berbagai kota di seluruh Indonesia dan Ayu Zulia Shafira yang sukses dengan Whatsup Café dan Donuthing, membuat Gerry dan Bella mantap untuk menjalankan konsep bisnis kemitraan Superames ini.

“Dari hari pertama buka, sudah banyak banget emang yang minta. Misalnya, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Bandung, Jogja, Bali sampai NTB juga ada. Kini, kami coba bikin konsep kemitraannya,” ujar Gerry dalam keterangannya, Sabtu (10/7).

“Konsepnya gampang untuk dikelola. Bisa dijalankan semua orang dan harga kemitraan juga relatif terjangkau,“ jelas influencer ternama asal Jakarta ini.

Gerry dan Bella meyakini Superames sangat bisa diterima di kota-kota lain di Indonesia berkat sajian lauk pauk khas. Sebut saja, mie, tumis buncis, sambal goreng kentang, telur crispy dan lauk krengsengan yang akrab di lidah semua orang Indonesia.

Apalagi, saat menikmati sajian superames, nuansanya seperti makan masakan rumah. Harganya pun sangat terjangkau, cukup hanya dengan 15 ribu rupiah sudah bisa mendapatkan satu porsi sajian makanan Superames.

Harga kemitraan yang relatif terjangkau menjadi daya tarik bagi Gerry dan Bella untuk membuat Superames berkembang. Demikian pula kualitas dan kuantitas bahan baku tetap terjaga, sehingga saat mitra yang bergabung sudah banyak, bahan baku juga tetap terjamin.

Selain karena banyaknya permintaan, konsep bisnis kemitraan Superames menjadi motivasi Gerry dan Bella untuk menciptakan lapangan kerja sebanyak mungkin, sekaligus memberi solusi bagi pemerintah dalam membenahi perekonomian Indonesia. (Tumpak S)

Continue Reading

Kuliner

Kiat Sukses Peter Then, Pengusaha Resto Indonesia di USA Raih Michelin Guide

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Kejelian melihat kebutuhan konsumen serta kemampuan menyesuaikan keinginan konsumen di negara multilultural dalam meracik rasa makanan. Di sisi lain, meyakini bahwa industri kuliner di Amerika Serikat akan terus berkembang.

Itulah kunci keberhasilan bisnis kuliner Peter Then, sejak pertama kali membuka restoran di negeri Paman Sam. Terbukti, kejelian dan kerja keras dalam menduniakan makanan Indonesia, Peter Then kini memiliki restoran Borneo Kalimantan Cuisine ditambah tiga restoran lain, bernama Uncle Fung Borneo Eatery.

Pria yang akrab disapa Koh Apung, ini menceritakan bahwa awal mula dirinya berbisnis di Amerika Serikat, berkat dorongan teman-teman dekatnya.

“Awalnya itu saran dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Amerika, teman dan kenalan,” ujar Peter Then, dalam keterangan tertulis, Minggu (27/6).

“Mereka bilang, saya sudah cukup dikenal orang-orang Indonesia yang tinggal di Amerika sini. Menurut mereka kalau buka restoran, pasti restorannya bisa ramai, gitu. Jadi dipikir-pikir, wah boleh juga nih. Ya sudah, dicoba gitu,” kata pria kelahiran Pemangkat, 23 September 1967.

Ia menyebutkan bahwa target awal restorannya adalah orang Amerika, ditambah orang Indonesia yang tinggal di Amerika.

“Karena orang Indonesia kan terbatas, orang sini lebih banyak gitu. Jadi targetnya lebih besar untuk konsumen Asia dan Amerika. Sekalian memperkenalkan ragam makanan Indonesia,” ujar Peter Then kepada pewarta.

Menariknya, sukses Peter Then menjadikan menu makanan Indonesia mendunia, membuat Borneo Kalimantan Cuisine dicatat di Michelin Guide, yakni buku panduan ternama di dunia sebagai standar emas untuk peringkat dan ulasan restoran mewah.

Reputasi sebuah restoran yang mendapat penghargaan Michelin Guide, berarti restoran tersebut layak dijadikan sebagai destinasi makan-makan dan sebagai tempat tujuan melakukan perjalanan khusus, hanya untuk makan di sana.

Borneo Kalimantan Cuisine, melalui menu masakan khas Indonesia, sukses meraih penghargaan Michelin Guide pada tahun 2019.

“Ke depan saya ingin memperjuangkan makanan Indonesia untuk dapat penghargaan yang jauh lebih besar lagi,” ujar Peter Then.

Ia mendasarkan targetnya dari potensi besar kuliner Indonesia di Amerika Serikat masih terbuka lebar.

Peter mengaku fokus dengan bisnisnya yang sekarang, sambil bersiap menjadikan restoran-restoran yang dikelolanya menjadi layanan lebih tinggi dari sekarang dengan standar premium.

“Banyak pelanggan yang kasih saran. Mereka bilang makanannya enak, bisa dikembangkan ke kelas yang lebih tinggi. Dan yang bilang ini orang Amerika, jadi saya yakin konsep dan makanan yang kami kembangkan bisa diterima oleh mereka,” kata Peter Then.

Di restoran yang dikelolanya, Peter Then menyediakan sajian makanan Indonesia, Malaysia dan Singapura.

“Sebenarnya, karena kan saya dari Kalimantan yang dulu namanya Borneo. Kebetulan Kalimantan dan Malaysia dekat tuh, dari segi rasa makanan-makannnya. Jadi sekalian kami masukin sama Malaysia dan Singapura,” pungkasnya. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending