Connect with us

Budaya

Steven Valerian dan Agisha Febila Dinobatkan Sebagai Putra Putri Batik Nusantara 2017

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Batik sudah menjadi simbol budaya dan identitas Indonesia yang sudah mendapat pengakuan UNESCO. Sungguh disayangkan bila badan dunia tersebut mencabut kembali pengakuannya karena masyarakat Indonesia tidak melestarikan batik.

Hal ini mendorong Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) didukung Badan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pariwisata terus mengkampanyekan batik kepada kaum muda atau milenial. “Agar batik bisa mempertahankan Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity dan menjadi kebanggaan Indonesia,” ujar Ayu Diah Pasha, Ketua Umum IPBN dalam acara Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2017 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara 2017, adalah  wahana regenerasi untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan di kalangan anak muda sebagai pewaris budaya bangsa. “Melalui acara ini, harapannya para putra putri terpilih dapat menjadi agent of change atau orang-orang yang dapat mengubah pandangan generasi muda terhadap batik. Mereka diharap mampu menularkan kecintaan batik kepada generasi seusia mereka.

Seperti terlihat pada malam puncak Putra Putri Batik Nusantara 2017, beragam corak batik kekinian diperkenalkan oleh Raden Surait dan Danjyo Hijyoji diharapkan bisa menarik perhatian dan minat kaum muda untuk melestarikan batik untuk  diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada puncak acaranya,  Steven Valerian dari Jawa Timur (Putra Batik) dan Agisha Febila dari Jawa Barat (Putri Batik) terpilih sebagai Putra Putri Batik Nusantara 2017. Mereka juara setelah melewati seleksi cukup ketat pada tahap audisi yang diikuti 26 peserta putra dan putri dari penjuru Nusantara.

Terpilihnya Steven Valerian dan Agisha Febila, meyakinkan Ayu Diah Pasha bahwa  batik akan menjadi item fesyen primadona bagi anak-anak muda. “Semoga Putra dan Putri Batik Nusantara 2017 bisa ikut ambil bagian mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia melalui berbagai kegiatan di dalam maupun luar negeri,” sambung Ayu. (Tumpak Sidabutar/KH, Foto Istimewa)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Yayasan Harapan Kita Berharap TMII Tetap Menopang Kelestarian Budaya

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Yayasan Harapan Kita (YHK) angkat bicara perihal pengambilalihan pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) oleh negara.

Yayasan Harapan Kita menilai tema mengambil alih Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita (YHK) oleh Negara, kurang tepat. Mengingat sejak tahun 1977 TMII telah ditetapkan sebagai milik Negara Republik Indonesia.

Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1977, tanggal 10 September 1977. Bahkan, sejak tahun 2010 Pemerintah melalui Sekretariat Negara Republik Indonesia telah melakukan proses balik nama.

“Sertifikat Hak Pakai atas tanah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) seluas 146,7704 Hektare, dari atas nama Yayasan Harapan Kita menjadi atas nama Pemerintah Republik Indonesia Cq. Sekretariat Negara Republik Indonesia,” jelas Tria Sasangka Putra, SH., LLM., selaku Sekretaris Umum Yayasan Harapan Kita (YHK) kepada wartawan, di Gedung Badan Pengelola dan Pengembangan (BPP) TMII, Jakarta, Minggu (11/4).

Tampak hadir di acara Jumpa Pers tersebut antara lain, Direktur Utama Taman Mini Indonesia Indah, Mayjend TNI (Purn); Tanribali Lamo, Manajer Informasi Badan Pelaksana Pengelola TMII; Diah Irawati, serta Kabag Humas Badan Pelaksana Pengelola TMII, Adi Wibowo.

Mereka hadir untuk menanggapi pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara telah mengambilalih pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dari Yayasan Harapan Kita (YHK).

Pengambilalihan tersebut dilakukan melalui Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2021 tentang Pengelolaan TMII, yang intinya menetapkan penguasaan dan pengelolaan TMII dilakukan oleh Kemensetneg RI.

Tria Sasangka menyampaikan, Yayasan Harapan Kita menghormati terbitnya Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2021. Hanya saja, menyayangkan banyak masyarakat mengira pengambilalihan hak kelola tersebut sebagai penyitaan aset TMII oleh Pemerintah.

“Menghormati terbitnya Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2021. Harapan kami pelestarian nilai-nilai budaya yang telah terbina dengan berbagai pemangku kepentingan selama 44 tahun, tetap terjamin, terjaga dan terbina sesuai amanah yang telah dimandatkan kepada Yayasan Harapan Kita,” ujanya.

Tria Sasangka juga menyatakan Yayasan Harapan Kita siap melakukan perundingan untuk membicarakan proses tindak lanjut pengelolaan TMII sesuai amanat Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2021.

Yayasan Harapan Kita selalu siap melaksanakan penugasan dari Negara dalam rangka melanjutkan visi dan misi yang telah diamanatkan oleh Ibu Negara Hj. Tien Soeharto sekaligus merupakan pengabdian kepada Negara.

“Upaya Pemerintah mengambil alih pengelolaan TMII dari Yayasan Harapan Kita, diharapkan juga tak mengganggu berbagai upaya dalam rangka memperkokoh ketahanan budaya bangsa,” ujar Tria Sasangka.

TMII Satukan Ragam Budaya

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) digagas Siti Hartinah Soeharto, yang akrab dipanggil Ibu Tien Soeharto. TMII mulai dibangun oleh Yayasan Harapan Kita pada 30 Juni 1972 dan diresmikan, 20 April 1975.

Prakarsa tersebut diilhami oleh pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan antara bidang fisik-ekonomi dan bidang mental-spiritual.

Dengan mendirikan TMII, Tien Soeharto menyatukan beragam budaya Nusantara. Dilengkapi pengenalan flora, fauna, kuliner dan adat-istiadat leluhur bangsa ke dalam Indonesia kecil yang dibangun secara lengkap dan modern.

Gagasan tersebut dilandasi, antara lain semangat untuk membangkitkan kebanggaan dan rasa cinta tanah air dan bangsa, memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa lain di dunia.

“Memberi kontribusi bagi rakyat, bangsa dan Negara, dalam bentuk warisan nasional (national heritage), budaya bangsa Indonesia untuk dilestarikan,” kata Tria Sasangka.

Sebagai rangkaian peristiwa, lanjut Tria Sasangka, penggagas TMII Ibu Negara Hj. Tien Soeharto, tidak pernah memiliki niat melakukan swakelola TMII. Hal ini dapat dilihat selama rentang waktu tiga tahun sejak pembangunan di tahun 1972 sampai dengan peresmian di tahun 1975, TMII langsung diserahkan ke Negara.

Terkait kontribusi keuangan dari TMII kepada Negara, Tria Sasangka menjelaskan, dalam pelaksanaan pengelolaan TMII ini, Yayasan Harapan Kita sebagai penerima tugas Negara tidak pernah mengajukan atau meminta kebutuhan anggaran kepada Pemerinah.

“Tidak selamanya pemasukan yang diperoleh Badan Pelaksana Pengelola TMII mencukupi kebutuhan operasional. Justru anggaran pengelolaan, pemeliharaan dan pelestarian, ditanggung Yayasan Harapan Kita,” kata Tria Sasangka.

Penatakelolaan TMII di bidang manajemen termasuk bidang keuangan, kata Tria Sasangka, diaudit secara otonom dengan membentuk unit organisasi pengelola, mengurus sumberdaya manusia, melaksanakan operasi menejemen, dan pemeliharaan.

“Audit keuangan juga dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bahkan, kelanjutan pembangunan pendanaannya dibiayai langsung Yayasan Harapan Kita tanpa bantuan Pemerintah,” ungkap Tria Sasangka.

Dukungan Penggiat Budaya di TMII

Pada kesempatan lain, sejumlah penggiat budaya di TMII juga menyayangkan pemberitaan media yang berkembang terkait, ‘TMII Diambil Negara,’ seolah memberi stigma negatif terhadap institusi yang terbukti telah berjasa selama bertahun-tahun mengelola TMII.

Tokoh spiritual dan budayawan, Pangeran Nata Adiguna Mas’ud Thoyib Jayakarta Adiningrat, menyebutkan, menjadi kewajiban Pemerintah memelihara dan melestarikan TMII tanpa istilah mengambil alih.

Dia menambahkan, empat tahun lagi, TMII berusia 50 tahun dan menjadi Benda Cagar Budaya.

“Jadi istilahnya bukan mengambil alih, tapi memang kewajiban Negara untuk memelihara dan membiayai pelestarian dan operasional TMII. Seperti halnya Museum Nasional dan benda cagar budaya lainnya untuk dimasukkan ke APBN,” ujar mantan Manajer Budaya TMII, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Raja dan Sultan Nusantara ini.

Penggiat seni dan budaya, Eddie Karsito, meminta Pemerintah hendaknya dapat berfungsi sebagai pelindung dan pengayom kegiatan budaya, di tengah pergulatan menghadapi arus urbanisasi, kapitalisasi, modernisasi dan pragmatisme birokrasi.

“Kita memang harus beradaptasi. Kegiatan budaya memperoleh tekanan rasionalisasi ekonomi. TMII sebagai lembaga wajib menopang dan mengukuhkan agar budaya tetap terjaga kelestariannya. Jangan sampai budaya sekadar menjadi komoditas ekonomi,” ujar Pendiri Rumah Budaya Satu-Satu (RBSS) ini.

Dibanding Pemerintah Pusat, menurut seniman dan budayawan, Suryandoro,  Pemerintah Daerah lebih peduli dan perhatian menyemarakkan kegiatan budaya di TMII. Terbukti pembangunan sarana dan perawatan Anjungan Daerah, beserta program-programnya hingga kini terus berjalan.

“Kita wajib berterima kasih kepada ibu Siti Hartinah Soeharto berkat ide-idenya yang cemerlang. Peninggalan budaya Nusantara terselamatkan di TMII, seperti rumah-rumah adat, seni tari, seni musik, seni kriya dan sebagainya,” ujar Mantan Manajer Informasi TMII ini.

Bahkan, TMII turut menjaga keharmonisan pemeluk agama dengan membangun berbagai rumah ibadah.

“Rumah Ibadah semua agama dan kepercayaan yang diakui Negara dibangun secara berdampingan di kawasan TMII. Saya berharap Pemerintah dan masyarakat tidak berpikir negatif terhadap YHK,” ujarnya.

Pemerintah Pusat juga dinilai kurang peduli terhadap TMII. TMII dibiarkan jalan sendiri. Padahal hal ini kewajiban Negara terkait dengan perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan budaya bangsa.

“Pemerintah wajib mengucapkan terima kasih kepada YHK yang dengan dedikasinya mengelola TMII selama 44 tahun secara mandiri. Tetap setia membayar pajak dan memenuhi regulasi lain sesuai aturan Pemerintah,” ujar Penggiat Budaya, Sigit Gunarjo. (Rls)

Continue Reading

Budaya

‘Good Friends’ Ajak Pemirsa NET Jelajahi Korea Selatan dan Jumpa Bintang K-Pop

Published

on

By

Kevin Hermanto dan Rafael Tan berjumpa Dita Karang, personel K-Pop di Program Good Friends, kerja sama NET dan SBS Korea Selatan.

Kabarhiburan.com – NET bersinergi dengan SBS TV Korea Selatan, menghadirkan program reality show keseruan perjalanan ke Korea Selatan, bertajuk Good Friends.

Episode perdana Good Friends sudah tayang layar NET sejak 15 November 2020 pukul 09.00 WIB silam. Selanjutnya, Good Friends tayang saban hari Minggu di jam yang sama.

Melalui program terbaru ini,  NET mengajak pemirsa menjelajah negeri ginseng dengan latar visual panorama indah. Termasuk menerobos ke belakang panggung beberapa bintang K-Pop yang mendunia.

Selama menjelajah, pemirsa dipandu oleh lima figur milenial, asal Korea Selatan dan Indonesia. Mereka adalah Jang Han-Sol, Han Yoo Ra, Rafael Tan, Bianca Kartika, dan Kevin Hermanto, saling memperkenalkan budaya dan berbagai cita rasa khas di negara masing-masing.

Dari namanya sudah ketahuan, Jang Han-Sol dan Han Yoo Ra asal Korea Selatan, namun keduanya fasih berbahasa Indonesia.

Youtuber Han Sol sempat tinggal di Malang, Jawa Timur, akan membantu rekan-rekannya mengenalkan kultur dan berbagai hal yang khas di negaranya.

Youtuber Yoo Ra sempat tampil di program Kelas Internasional NET, akan berbagi spontanitas dan keseruan dan kenekatannya mengikuti berbagai tantangan games bersama sejumlah bintang K-Pop.

Keduanya akan berbagi tugas dengan Rafael Tan, Bianca Kartika, dan Kevin Hermanto dari Indonesia.

Penyanyi Rafael Tan dan vlogger Bianca Kartika didapuk menjadi tamu negara yang akan mengikuti jelajah Korea Selatan, sambil memperkenalkan kultur kebiasaan masyarakat di Indonesia, termasuk mengikuti keseruan bersama beberapa bintang K-Pop.

Sementara Kevin yang sempat bermukim di Korea Selatan akan membantu memandu rekan-rekannya saling memahami kebiasaan dan keberagaman yang menarik antara kedua negara tersebut.

Vlogger Bianca Kartika, Kevin Hermanto dan Rafael Tan di program Reality Show Good Friends, NET kerja sama SBS.

Kelima host ini akan mengunjungi beberapa lokasi spesial di Korea Selatan. Mulai dari rumah tradisional Korea hingga bertemu bintang-bintang K-Pop.

Salah satu yang menarik, pertemuan mereka dengan penyanyi asal Yogyakarta, Dita Karang yang berkarir di industri K-Pop Korea Selatan, bersama Secret Number.

Mereka juga bertemu KNK (K-Pop Knock), sebuah Boys-Band terkenal Korea yang beranggotakan Park Seoham, Jeong Inseong, Kim Jihun, Oh Heejun, dan Lee Dongwon.

Bukan itu saja. Kelimanya, bahkan menantang Girls-Band Korea Momoland untuk lomba masak, serta mengajak grup Oh My Girl bertarung dalam wahana permainan khas Korea Selatan.

Pendek kata, pemirsa NET  akan menyaksikan keseruan lima host “Good Friends” NET, yang berhasil menembus ke belakang panggung Boy-Band Wei dan The Boys yang super ketat.

Suasana syuting Reality Show ‘Good Friends’, kerjasama NET dan SBS Korea Selatan.

Tidak tanggung-tanggung. Sebanyak 28 kamera disiapkan untuk mengiringi perjalanan Good Friends menuju berbagai aktivitas wisata dan panggung K-Pop di Korea Selatan.

Meski demikian, perjalanan lima Good Friends sesungguhnya tidak mudah dan penuh kerja keras. Sebelum melakukan syuting, terlebih dulu melakukan karantina mandiri selama 14 hari sesuai protokol kesehatan di Korea Selatan.

“Belum lagi waktu kerja maraton yang membuat kami dan Kru dari SBS TV terpaksa  berisitirahat dalam kendaraan selama melakukan perjalanan. Namun semua terbayarkan oleh kerjasama kreatif penuh persahabatan, dan menyenangkan,” ujar Kevin Hermanto.

“Tak mudah pula menembus ke belakang panggung bintang-bintang K-Pop yang saat ini sedang naik daun, namun kesabaran kami terbayarkan saat merasakan keramahan beberapa bintang K-Pop,  saat berbincang dan bermain bersama menghadapi tantangan games yang diberikan,” kata Kevin menambahkan.

Direktur Programming NET, Yeni Anshar mengatakan bahwa Good Friends telah mengangkat benang merah persahabatan milenial dua negara dalam sebuah kisah perjalanan, yang dipadukan dengan keseruan reality show yang asyik ditonton.

“NET dan SBS TV menghadirkan jelajah negeri gingseng dengan latar visual panorama indah dan interaksi dalam berbagai tantangan games yang melibatkan 5 host Good Friends dengan sejumlah bintang K-Pop Korea,” jelas Yeni Anshar. (Tumpak S)

Continue Reading

Budaya

Padepokan Sangkuraga Ajarkan Silat Sebagai Warisan Budaya Bangsa

Published

on

Pendidikan adalah urat nadi kehidupan generasi masa depan. Terutama di era milenial saat ini, dibutuhkan generasi yang berarakter dan berkepribadian bangsa. Padepokan Sangkuraga sejak awal didirikan memiliki kurikulum pendidikan yang berbasis pendidikan karakter, menanamkan ilmu agama dan ilmu beladiri.

Tinia Budiarti, salah satu penasehat di Padepokan Sangkuraga mengatakan, Padepokan merupakan kata yang berasal dari istilah Jawa, yang artinya Asrama sekaligus tempat sekolah yang menjadi satu kegiatan belajar dan mengajar berbagai macam ilmu. Di jaman kerajaan, padepokan adalah tempat untuk menggembleng ilmu keagamaan dan ilmu kanuragan bagi para Kesatria, sebelum mereka memiliki jabatan tinggi di kerajaan.

“Padepokan lebih terkenal tempat belajar dan tempat penggemblengan juga tempat tinggal para pendekar utamanya dalam dunia persilatan. Pada mulanya kata Padepokan adalah tempat tinggal para Pujangga dalam masyarakat Jawa. Namun seiring perjalanan waktu karena Pujangga juga menguasai Ilmu Kanuragan dan Kebatinan maka sebagian besar masyarakat Jawa beranggapan Padepokan merupakan tempat penggemblengan Para Pendekar,” Jelas Tinia.

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Judi Wahjudin menambahkan, padepokan merupakan lembaga pendidikan non-formal, yang ikut berperan dalam pembentukan karakter bangsa.

“Padepokan, lembaga non formal di masyarakat yang bersifat positif. Ada sifatnya beladiri, olahraga, pengobatan dan sebagainya. Tapi ada juga olah rasa. Siswa ditempa, sabar dan toleransi. Ada juga olah pikir. Namun harus juga ada ketrampilan. Jadi output dari padepokan itu jadi agen perubahan,” ujarnya saat memberikan materi diskusi “Menumbuhkan Peran Padepokan Pembentukan Karakter di Indonesia,” yang digelar di Padepokan Sangkuraga di Desa Sukaraja, Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020).

Padepokan Sangkuraga terletak di Desa Sukaraja, Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat yang didirikan oleh Saepul Milah. Sang guru yang akrab disapa Kang Muh ini sudah sejak usia belia menjadi murid di salah satu padepokan. Setelah sarat ilmu, dia pun berinisiatif mendirikan padepokannya sendiri.

“Tidak semua padepokan yang ada di Nusantara mengajarkan materi pendidikan maupun pelatihan bela diri dengan baik. Banyak padepokan yang mengajarkan hanya materi dasarnya saja, sehingga ketika anak didik keluar dari padepokan, ilmunya tidak bisa terpakai,” kata kang Muh.

Padepokan Sangkuraga mengajarkan seni bela diri (Silat) dan Agama Islam. Untuk silat merupakan gabungan dari silat Cimande, Menpo Cikalong, Singo Demak, Silektuo Sumatra, Karateka, Boxer, Kung Fu, Taekwondo, Muang Thai dan Tinju. Seni bela diri yang di terapkan di padepokan adalah seni bela diri yang selama ini Kang Muh pelajari dari sejak umur 19 tahun.

Padepokan Sangkuraga memberikan pola latihan dua versi, yaitu materi pelatihan yang berbeda dengan silat lainnya. Pencak silat ini sangat agresif, sangat cocok untuk di lapangan.

“Kami menyediakan dua versi, untuk di arena dan di luar arena di lapangan. Bagi yang ingin belajar silahkan datang langsung mulai dari SD, SMP, SMA, mahasiswa, dewasa, tua atau pun muda. Kami siap untuk berbagi ilmu yang kami punya,” ujarnya.

Menurut Kang Muh, selama ini banyak yang berpendapat jika padepokan lebih banyak mengajarkan ilmu beladiri ketimbang ilmu pendidikan lainnya. Pendapatnya tersebut menurutnya salah karena padepokan juga mengajarkan ilmu dan pengetahuan-pengetahuan lain yang menjadi bekal bagi murid-muridnya.

Continue Reading
Advertisement

Trending