Connect with us

Kuliner

Sukses di Industri Pernikahan, Eva Bun Melebarkan Sayap ke Bisnis Restoran

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Sejak tahun 1983 berkiprah di di industri pernikahan, nama Eva Bun Wedding Galery sudah berpengalaman memberikan solusi terbaik bagi pasangan yang ingin merencanakan pernikahan.

Gaun-gaun pengantin Eva Bun terkenal dengan desainnya yang manis, simpel, lebih menonjolkan aplikasi serta menggunakan aksesori yang serasi. Ini membuat salah seorang miss universe bangga menyandang gaun bikinan Eva Bun.

Galeri milik Eva Bun yang berada di lokasi strategis, juga memberikan layanan Photografi dan Videografi, Catering, Dekorasi, Eva Bun Academy dan Grand Wedding Hall. Pokoknya lengkap, sesuai konsep one stop wedding.

Pada usianya yang tidak lagi muda, Eva Bun masih terus mengembangkan bisnisnya. Sejak dua bulan silam Eva Bun membuka restoran, di lantai utama Galeri Eva Bun di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat.

“Ini penambahan saja. Kebetulan saya masih memiliki ruangan di dalam gedung ini yang bisa dimanfaatkan menjadi restoran,” ujar Eva Bun yang ditemui di restorannya,  Kamis (28/2).

Lokasinya pun strategis, berada di kawasan ramai perkantoran. Persis di seberang halte Bus Trans Jakarta Harmoni, Jakarta Pusat, yang selalu sibuk, telah menggoda Eva Bun untuk membuka restoran.

“Selain hobi bridal, saya pun suka makan. Kalau jalan-jalan ke mana saja, saya setelah memasuki  butik yang ada, pasti keliling lagi cari restoran. Cicipi makanannya, sehingga ngerti restoran mana yang makanan enak. Ha ha ha,” jelas Eva Bun sambil tertawa.

Berangkat dari hobi makan pula, belakangan Eva Bun mengembangkan sayap bisnisnya berupa restoran. Ia pun mengklaim restoran miliknya menyediakan semua makanan enak seperti yang pernah ia nikmati.

Sebut saja, di antaranya aneka steak, chinnese food, soto, ayam bakar, bakmi, aneka nasi goreng dan aneka minuman ringan. “Coba saja steak ini, enak,” ujar ibu dari anak dan 7 cucu ini berpromosi.

Tidak terlalu sulit bagi Eva Bun untuk mewujudkan restoran impiannya, tanpa harus meninggalkan bisnis bridal yang telah membesarkan namanya.

Apalagi, ia sudah memiliki ruangan nyaman untuk dimanfaatkan menjadi restoran, yang nyaman untuk  menampung sampai 100 tamu untuk bersantai dan menikmati aneka makanan pilihan.

“Semua yang  kami sediakan merupakan makanan halal, jelas Eva Bun yang mempekerjakan 5 juru masak di restorannya.

Eva Bun mengaku optimis bahwa bisnis restoran akan menyusul sukses bisnis pernikahan miliknya.

“Sama seperti dulu saat memulai menangani bridal, saya terlebih dulu meminta khidmat dari Yang Maha Kuasa. Lalu saya mulai bekerja dengan hati yang tulus, melayani dan memberi solusi terbaik bagi para pelanggan,” pungkasnya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kuliner

Sukses Maya NK Bisnis Bakso Rumahan di Tengah Pandemi

Published

on

By

Nurkhasanah raih sukses di masa pandemi.

Kabarhiburan.com – Pandemi Covid-19 belum tahu kapan berakhir, jika disikapi dengan positif justru bisa membangkitkan kreativitas ekonomi untuk menambah pemasukan keluarga.

Maya Nurkhasanah sukses melakukannya. Ibu rumah tangga yang kesehariannya menjadi admin di Klinik pengobatan syaraf Kiki Hendrawan ini membuka usaha kuliner, berupa bakso hygienis tanpa pengawet yang enak dan lezat.

Kisah sukses tersebut dimulai dari jelang perayaan Idul Fitri 1441 H dalam suasana Pandemi Covid-19, beberapa bulan silam. Ketika itu, Maya iseng membuat bakso daging sapi dan daging ayam. Rencananya bakso bikinannya  akan disajikan bagi keluarganya yang datang bersilaturahmi.

Tanpa diduga, dua keluarga adiknya, Tari dan Giarti, memberi kabar akan datang bersilaturahmi sekaligus melaksanakan Sholat Ied bersama keluarga Maya.

Usai Sholat Ied, mereka ramai-ramai menyantap bakso buatan Maya. Pujian pun berdatangan dari keluarga adik-adiknya.

“Baksonya, enak banget dan empuk. Kok bisa bikin bakso kayak gini? Kursus dimana?” Demikian pertanyaan yang bertubi-tubi dari kedua pasang adiknya.

“Ini masih coba coba aja, siapa tau bisa. Eh, ternyata bisa dan enak ya,” jawab Maya mulai merasa bangga. Apalagi, Giarti pun menawarkan diri untuk menjualnya.

“Pasti ada yang mau, apalagi sudah tahu rasanya. Lumayan bisnis baru di tengah situasi corona kayak gini. Nanti aku bantu jualan, deh,” usul Giarti.

Selang 3 pekan lepas lebaran, Maya mulai bergegas membuat bakso. Selain untuk dikonsumsi keluarga, Maya juga berniat untuk menjual bakso, sesuai saran Giarti.

Maya lalu mengabarkan kegiatannya bikin bakso kepada Giarti. Giarti pun datang untuk mengambil beberapa bungkus bakso yang akan ditawarkan kepada teman-temannya.

Hasilnya menggembirakan, bakso yang dibawa Giarti habis dalam hitungan jam, dibarengi pujian tentang nikmatnya bakso bikinan Maya.

Sajian bakso siap kirim dari Nurkhasanah

Berbagai pujian tersebut menguatkan rasa percaya diri Maya untuk memulai bisnis bakso tanpa merek ini untuk ditawarkan kepada teman-temannya. Seperti dugaan, pesanan mulai berdatangan dari teman-temannya sampai sekarang, sampai ada ada yang menawarkan kerjasama untuk membuka gerai bakso siap saji.

Hanya saja, Maya belum menyanggupi lantaran keterbatasan waktu. Apalagi, Maya merasa hanya bisa bikin bakso saja, belum sampai pada membuat kuah dan asesoris siap saji. Maya hanya menjual bakso sapi  tanpa kuah.

Setelah sukses membuat bakso sapi, Maya mulai mencoba varian lain, yakni bakso ayam dan bakso tahu. Kali ini sudah dengan merek dagang, Immev Food.

Untuk bakso sapi, Maya memasang harga Rp 45.000 per pak berisi 50 butir bakso. Sementara bakso ayam Rp.40.000 per pak berisi 50 butir. Adapun bakso tahu dibanderol Rp. 20.000 per pak berisi 10 baso.

Kabar tentang Maya dengan bakso rumahannya, beredar cepat di kalangan pelanggan. Situasi ini sempat membuat Maya kewalahan melayani order pesanan, terutama soal waktu pengantaran.

”Alhamdulillah, sekarang pesanan lumayan  banyak. Selain dari teman-teman, kalangan umum juga banyak, termasuk pengusaha katering,” ujar Maya. Ia juga kerepotan apabila pemesan berdomisili yang jauh dari rumahnya.

“Tetapi, terkadang si pemesan minta di gojekin atau grab. Mereka yang bayar ongkos kirim,” celoteh Maya, lalu memberitahukan tentang cara memesan bakso rumahan bikinannya.

“Cukup melalui whatsapp (WA) atau telpon ke 0812-1112-6565. Tinggal sebut bakso yang dipesan, berapa banyak serta harganya,” jelas Maya. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Kuliner

1000 Pelaku Kuliner Masuk Finalis FoodStartup Indonesia MMXX, Wishnutama Ucapkan Selamat

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta-  Sebanyak 1000 peserta lolos sebagai finalis FoodStartup Indonesia MMXX, salah satu program yang diinisiasi Kemenparekraf.  Jelas Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo, bahwa FoodStartup Indonesia merupakan salah satu program  Kemenparekraf sebagai upaya membantu wirausaha atau pelaku usaha ekonomi kreatif (ekraf) di bidang kuliner, dengan harapan peserta yang nantinya terpilih agar tetap produktif selama pandemi Covid-19.

Sebanyak 1000 peserta tersebut telah dikurasi dari 6.499 peserta FoodStartup Indonesia MMXX yang pendaftarannya telah dibuka pada 20 April-31 Mei 2020. Adapun profil dari 1.000 peserta tersebut terdiri dari 625 peserta pria dan 375 perempuan yang berasal dari 26 provinsi di Indonesia. Para peserta yang lolos ini memiliki jenis badan usaha food service yang jauh lebih banyak dibanding food manufacture dengan perbandingan 640:340.

“Peserta Demoday berkesempatan mengikuti direct mentoring, business coaching, mendapat akses permodalan, sekaligus akses  pemasaran. Bagi peserta FSI, pelaksanaan Demoday saat pandemi ini merupakan tahapan yang sangat dinantikan sebagai ajang unjuk diri untuk memperoleh peluang suntikan pendanaan,” ujar Fadjar Hutomo.

Lebih lanjut, Fajar menjelaskan bahwa 1000 peserta yang lolos telah dikurasi berdasarkan besaran omzet yang dimiliki. Yang di mana peserta dengan pendapatan kurang dari 50 juta mendominasi baik dari jenis badan usaha food service (75%) maupun food manufacture (79%).

Sedangkan omzet terbesar dari kedua jenis badan usaha yaitu lebih dari Rp200 juta yang dimiliki 5-6% pendaftar. Besaran omzet ini dibuktikan dengan pembukuan keuangan usaha yang turut dilaporkan kepada panitia FoodStartup Indonesia.

Secara demografi, 100 finalis FSI MMXX berasal dari 17 provinsi dengan dominasi masih berasal dari provinsi di Pulau Jawa. Lima provinsi terbanyak yaitu Jawa Barat (22 finalis), Jawa Timur (19), DKI Jakarta (18), Banten (12) dan Jawa Tengah (9). Sementara bila dilihat berdasarkan gender, perbandingan antara pria dan wanita yaitu 57:43.

“Angka ini membuktikan bahwa tidak ada dominasi yang terlalu besar antara pelaku sektor kuliner ditinjau dari jenis kelamin,” ungkap Fadjar.

Direktur Akses Pembiayaan  Kemenparekraf/Baparekraf, Hanifah Makarim, menambahkan, situasi pandemi tidak saja berdampak pada jumlah peserta namun juga mengubah komposisi jenis perusahaan yang lolos pada tahap Demoday.

Bila pada empat tahun penyelenggaraan sebelumnya FSI lebih diminati jenis perusahaan food manufacture, tahun ini komposisinya hampir berimbang antara food manufacture dan food service yaitu 57%:43%.

Pada pelaksanaan FSI tahun ini pengajuan pendanaan dari food service lebih besar dibanding food manufacture. Total pengajuan pendanaan dari food service sebesar Rp 66.298.168.647, sementara food manufacture sejumlah Rp 47.317.687.000.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengucapkan selamat kepada para finalis FoodStartup Indonesia MMXX. Melalui program akselerasi ini diharapkan banyak pelaku kuliner dapat bertahan dan melakukan terobosan merespon tantangan yang ada.

“Sektor ekonomi kreatif mempunyai potensi besar menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia ke depan. Dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang dikelola kementerian, subsektor kuliner menjadi salah-satu primadona pelaku usaha maupun konsumen,” ujar Wishnutama.

Continue Reading

Kuliner

Siasat Desainer Eema Assegaf Hadapi Pandemi, Buka ‘69 Street Café’ dan Kursus Desain

Published

on

By

Eema Assegaf

Kabarhiburan.com – Perancang busana pengantin Eema Assegaf, sekaligus pemilik butik ‘Jemima House’ di Jalan Jati Padang Raya No 6 H, Pasar Minggu Jakarta Selatan ini. Di lokasi yang sama, Eema juga melakoni usaha katering ‘Dapur 69’ sudah sejak tiga tahun silam.

Mengantisipasi dampak pandemi, Eema mempertajam jiwa bisnis dalam dirinya. Ia segera putar otak bersiasat dengan meluncurkan produk baru, berupa resto ‘69 Street Café’ sejak 3 bulan silam. Inovasi pun tercipta demi membuka pasar dengan segmen berbeda.

“Pesta pernikahan stop sama sekali, mau tidak mau saya harus putar otak. Saya harus menghidupi 12 karyawan dan keluarga. Tidak ada karyawan yang saya PHK,” ujar Eema Assegaf tentang siasatnya membuka ‘69 Street Café’, Sabtu (5/9).

Kafé yang berada di bangunan dua lantai tersebut, mengusung konsep outdoor layaknya taman, yang mampu menampung 100 pelanggan.

“Bisa untuk nyantai sambil menikmati menu. Bisa juga untuk kegiatan meeting bagi  orang-orang kantor di sekitar sini,” jelas Eema yang menyuguhkan aneka menu di ‘69 Street Café’.

“Mulai dari menu nusantara, arabian hingga menu Italia. Yang pasti, menunya enggak abal-abal. Semua menu disini bisa diadu dengan menu resto di tempat lain,” ujar Eema Assegaf berpromosi.

Menu nusantara berupa nasi ayam goreng krenyes, nasi ayam bakar, nasi ayam bakar madu, nasi ayam bakar rica, nasi goreng kampung, sate kambing, sop kambing dan masih banyak lagi.

Salah satu menu di ’69 Street Cafe’

Adapun menu Arabian food, mulai dari nasi kebuli, kebab, sambosa daging, sambosa keju, maryam, Arabian rice dan menu Arabian food lainnya. Sedangkan menu Italia menyediakan French fried dan sebagainya.

Bukan itu saja. 69 Street Café juga menyediakan aneka camilan penggugah rasa. Mulai dari rotu bakar, pisang bakar cokelat, tape bakar cokelat, donat kentang dan masih banyak lagi.

Eema kemudian melengkapi semua menu tersebut dengan aneka minuman ringan, seperti aneka jenis kopi dan minuman segar lainnya.

Sekolah Desain dan bisnis WO

Sibuk melakukan promosi bagi ‘69 Street Café’ miliknya, Eema tidak begitu saja meninggalkan ‘Jemima House’ yang telah membesarkan namanya. Sebaliknya, Eema justru melakoni dunia fashion lebih jauh lagi. Caranya, membuka kursus desain bagi milenial.

Eema Assegaf berbagi ilmu desain baju dengan para milenial.

Di situ Eema ingin membagi pengetahuannya di bidang busana pengantin kepada kaum milenial.

“Niatnya pengen buka sekolah desain bagi mereka yang enggak mampu. Sekolah desain itu kan mahal, enggak semua mampu. Nanti sistemnya subsidi silang,” jelas Eema, yang juga memasuki bisnis wedding organization (WO).

“Baju pengantin, kan enggak jauh dari catering dan WO. Makanya saya coba aja. Yang penting karyawanku masih bisa kerja,” tandasnya.

Itulah sebabnya, Eema enggan memberi jawaban pasti ketika ditanya tentang kegiatan bisnis yang paling disukainya: fashion, kuliner atau WO.

“Seniman itu tidak bisa memilih mau disini atau disana,” jawab Eema Assegaf singkat. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending